"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Bersama Si Kembar
Enam tahun telah berlalu akhirnya Liana melangkahkan kakinya kembali ke tanah air. Setelah bekerja keras dan menyelesaikan kuliahnya di luar negeri kini ia kembali dengan pesona barunya. Liana yang dulu cengeng, Liana yang dulu patuh kini berubah lebih tegas semenjak diusir dari rumah orang tua angkatnya. Ia tak lagi sendiri, kehadirannya kini ditemani oleh dua buah hatinya yang kini berusia lima tahun.
"Kenzo! Kenzie! Ayo cepat bangun! Hari ini kalian masuk sekolah. Mommy nggak mau dengar alasan apapun!"
Sebagai single parents mengasuh dan mengurus dua buah hatinya yang begitu aktif ia harus banyak-banyak bersabar. Belum lagi ia harus berangkat kerja di perusahaan yang baru merekrutnya.
"Huft...! Ini masih terlalu pagi mom! Anak TK jam segini masih tidur! Nanti aja, Lina belas menit lagi," celetuk Kenzo sembari memeluk bantal guling dengan matanya terpejam.
Liana mendelik dan menarik selimutnya. "Apa kamu bilang? Lima belas menit lagi? Kau pikir itu sekolah nenek moyangmu, yang bisa kau tawar-menawar?! Ayo cepat bangun atau mommy bakalan guyur pakai air comberan!"
Kenzie, kembaran Kenzo langsung bangun sembari mengucek matanya yang masih sulit terbuka lebar.
"Mommy, aku bangun. Aku mau mandi, tapi nanti pas di sekolah mommy jagain sampai jam pulang ya? Ini kan hari pertama kali kami masuk sekolah, takutnya kami dibully sama teman-teman yang nggak menyukai kami."
"Sayang, mommy sudah menitipkanmu ke pihak sekolah. Kalian di sana pasti baik-baik saja. Kalau ada masalah kalian bisa menghubungi mommy. Hari ini mommy harus bekerja. Kalau mommy nggak masuk kerja mommy bakalan dipecat, memangnya kalian senang kalau mommy kehilangan pekerjaan?"
Kenzo langsung beranjak bangun dan menjitak pelipis kembarannya. "Jadi bocah jangan cengeng! Nggak akan ada orang yang berani membully kita. Kau tahu sendiri kan, aku jago berantem. Kalau ada yang berani macam-macam bakalan kubuat menyesal hidup di dunia!"
Bocah kembar itu memiliki sifat yang berbeda. Kenzo terkesan lebih dingin dan juga tegas, berbeda dengan kembarannya, Kenzie agak cengeng dan cukup lemah.
"Kamu itu baru masuk sekolah baru, jangan buat mommy malu Zo! Sudah cukup kenakalanmu, jangan suka cari masalah!"
"Tapi mom! Kalau kita diam yang ada kita bakalan ditindas! Kami nggak pernah membuat ulah duluan, tapi kalau kami ditindas maka kami berhak untuk membela diri."
Liana diam, menang benar apa yang dikatakan oleh putranya. Semakin diam maka orang bakalan meremehkannya. Seperti masa lalunya, ia selalu diremehkan oleh orang-orang terdekatnya, bahkan ia harus merelakan kekasihnya untuk direbut oleh kakak perempuannya, miris bukan?
"Ya sudah. Lebih baik sekarang cepat kalian mandi, mommy akan siapkan pakaian untuk kalian."
Liana sangat bersyukur masih ada orang yang mempedulikannya. Dion, meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan tapi tetap membantu mengurus kuliahnya, bahkan Dion juga yang menyarankan untuk kuliah di luar negeri, dan tentu semua biaya dia yang tanggung. Berkat Dion juga ia diterima kerja di perusahaan Aditama Group.
***
Setelah mengantar si kembar ke sekolahnya, Liana langsung menuju kantor. Ini hari ke tujuh dia bekerja, masih belum banyak karyawan yang dikenalinya, ia hanya mengenal baik beberapa orang yang tinggal satu ruangan dengannya.
"Hei, tunggu sebentar!"
Seorang wanita muda dengan berpenampilan rapi menghalangi jalannya. Dia melayangkan tatapan sinis yang membuat Liana bingung, dia tak tahu di mana letak kesalahannya.
"Ibu memanggil saya?" tanya Liana.
"Memangnya ada orang lain di sini?"
Liana menoleh dan tak mendapati siapapun, berarti benar, ia yang sedang dipanggil oleh wanita tersebut.
"Maaf Bu, kalau boleh tahu apa yang membuat ibu menghadang jalan saya?" tanya Liana dengan sopan, meskipun ia tak begitu menyukai sikapnya yang dianggap cukup arogan.
"Kamu rekrutan pegawai baru kan? Di sini aku hanya menyarankan agar kamu tidak terlalu dekat dengan pak Direktur. Aku akan selalu memantau gerak-gerikmu selama bekerja di sini, kalau kerjamu tak becus atau kau berniat untuk menggoda pak direktur maka dengan sangat terpaksa aku bakalan memecatmu! Apa kau paham?"
Liana mengangguk diam. Ia masih belum tahu di mana letak kesalahannya hingga membuat wanita itu nampak begitu kesal dengan keberadaannya.
Setelah kepergian wanita itu Liana kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan di mana ada beberapa orang tengah menunggunya.
"Ana! Kupikir kamu nggak datang?"
Saskia, yang tak lain teman yang cukup dekat dengan Liana khawatir saat teman barunya itu tak kunjung datang, apalagi hari itu CEO hendak berkunjung ke tempat kerjanya.
"Datang dong! Baru juga masih seminggu masa harus bolos," jawab Liana. "Selama aku nggak ada halangan akan kuusahan untuk datang tepat waktu. Makhlum lah, aku sudah emak-emak yang harus mengurus dua bocah."
"Tapi seriusan kamu sudah memiliki anak An? Kalau dilihat dari postur tubuhmu sepertinya kamu masih perawan."
"Hah? Perawan?" Liana tertawa kecil. "Yang bener aja aku masih kayak perawan. Anakku sudah berusia lima tahun, dan umurku sudah lebih dari dua puluh tahun. Bisa-bisanya kau bilang aku masih perawan?"
"Ya kan aku ngomong sesuai fakta! Meskipun nyatanya kamu sudah menjadi janda. Tapi jandanya kamu sudah pasti akan banyak yang ngantri An, secara kamu cantik paripurna."
Liana mengibaskan tangannya, ia paling tak suka dipuji-puji yang pada akhirnya hanya akan membuatnya kecewa.
"Ini sudah waktunya jam kerja! Kalian masih ngobrol aja!"
Seseorang tiba-tiba mengejutkan seisi ruangan. Mereka semua menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang wanita berdiri tegas tanpa ekspresi.
"Sebentar lagi CEO kita bakalan berkunjung ke sini. Saya berharap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Buat para cewek jangan sampai kegatelan. Apa bisa dimengerti?"
"Siap dimengerti Bu," jawab mereka kompak.
"Hm..., bagus! Sekarang kembali bekerja, ingat! Jangan sampai ada yang berusik! Kalau nggak niat bekerja bisa pulang sekarang juga!"
Tidak ada jawaban, ruangan itu seketika sunyi tanpa suara. Wanita itu langsung pergi begitu saja setelah memberi teguran, dan kembalilah mereka ke kubikel masing-masing.
Liana masih ingat betul sosok wanita itu, hanya saja ia tak mengenali namanya.
"Saskia, perempuan tadi itu siapa?" tanya Liana.
"Dia itu mamanya Bu Mega, manager di perusahaan ini," jawab Saskia.
"Oh..., jadi dia itu manager? Tadi aku sempat dihadang waktu mau menuju ruangan ini. Dia bilang aku nggak boleh terlalu dekat dengan CEO, aku juga nggak boleh kecentilan. Aku bingung dengan ucapannya. Bahkan aku belum pernah sekalipun bertemu dengan pimpinan perusahaan ini. Kalaupun bertemu apa masalahnya buat aku, toh niatku ke sini buat bekerja, bukan cari perhatian bos!"
"Dia emang gitu, An! Kayaknya dia suka sama bos kita. Makhlum..., perawan tua."
Liana terkekeh dengan memukul pelan pundak Saskia. "Ngaco kamu! Kedengaran dia urusannya bakalan panjang. Tapi ngomong-ngomong, bos kita itu seperti apa sih?"