NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Kotak berdarah di saat bahagia

...SELAMAT MEMBACA!...

Seperti biasa, Dara dijemput sang suami ketika pulang kerja. Gadis itu melangkah dengan riangnya, menghampiri Dino yang telah menanti di parkiran supermarket. "Nono!" panggil Dara dari kejauhan, kemudian ia melangkah sambil melambaikan tangan.

Tingkah Dara yang seperti itu membuat Dino mengerutkan keningnya, aneh. Dia melihat istrinya terus tersenyum padanya. "Kenapa lo? Sehat?" celetuk Dino.

Dara menepuk pundak lelaki itu hingga Dino melirik tajam. "Makasih banyak! Berkat bantuan promosi kamu, restoran Ayah hari ini ramai," ujar Dara.

Dino menarik kedua sudutnya. Dia kira terjadi sesuatu kepada istrinya. "Gue udah tahu," seloroh Dino, kemudian membuat eskpresi wajah Dara berubah seketika. "Ayah lo tadi telpon gue. Terus dia ngajakin makan malem."

"Beneran?" Dino mengangguk. "Makan malem? Kapan? Di mana?" tanya Dara.

"Hari ini, di rumah." Jawaban yang diberikan Dino sontak membuat Dara membuka lebar mulutnya. "Papa sama Mama gue juga dateng," sambungnya.

Mulut Dara semakin terbuka lebar, begitu juga dengan matanya yang melotot. Dino menahan tawa melihat kelakuan aneh itu. Lalu, Dino menyentil dahi Dara hingga sang istri tersadar dan memalingkan wajah.

"Ayo, kita belanja buat masak!" ajak Dara, ia menarik tangan Dino.

"Gak usah masak, kita bisa pesan," jawab Dino.

"Nggak! Aku mau masak!"

Dino mengangkat lengan jaket panjangnya untuk melihat jam, yang melingkar di pergelangan tangan. "Udah mau Maghrib. Acaranya jam tujuh," katanya.

"Nggak, nggak." Dara menggelengkan kuat kepalanya. Dia menarik tangan Dino, mengenggamnya erat. "Aku mau masak."

Pada akhirnya, Dino mengalah dan menurut kepada istrinya itu. Sebab, Dino merasakan bahwa Dara sedang sensitif sekarang. Lagi pula, Dara keras kepala dan terus memohon untuk memasak makanan sendiri.

Dara kembali memasuki supervisor, sehingga rekannya yang tengah bekerja mempertanyakan hal itu karena Dara seharusnya sudah pulang.

Atas perintah Dara, Dino mendorong troli belanja memutari supermarket untuk membeli bahan masakan yang diinginkan sang istri. "Masak apa lagi, No?" tanya Dara, menghentikan langkahnya di samping Dino.

"Udah, Ra. Udah banyak ini," jawab Dino. "Lagian, lo udah ada rencana tiga makanan."

"Iya. Capcai, cumi asam manis, sama udang krispi."

Dino mengernyitkan dahi. "Temanya seafood?" Dara mengangguk. "Gue kurang suka makanan laut, Ra," kata Dino.

"Terus?"

"Ya kali, lo gak mau masakin makanan kesukaan gue, gitu?"

Dara menggelengkan kepala. "Tamunya bukan kamu ya, Nono." Lalu, gadis itu kembali melangkah kaki. "Memang, kamu mau dimasakin apa?" tanya Dara.

"Rendang!"

Dua insan itu terlihat sangat cocok. Bahkan, beberapa pegawai terus memandang ke arah mereka. Teman-teman Dara hampir tidak percaya melihat gadis tersebut berada di samping pria, yang merupakan anak dari pemilik supermarket. Juga ketampanan Dino, membuat mereka iri karena Dara mendapatkannya.

Tentu saja ada yang tidak suka melihat kedekatan mereka. Amora terus menggerutu karena dirinya harus bekerja, sedangkan Dara malah menjadi pembelinya.

Di sebuah tempat yang berada di tengah gang sempit, terdapat beberapa pria berpenampilan acak dengan pakaian serba hitam. Mereka adalah Wind Blaze.

Tempat itu remang cahaya, lantainya penuh debu, tidak sebersih basecamp anak UP. Mereka berbanding terbalik.

Ambo duduk di tengah di antara 10 dari mereka. Dia tersenyum miring setelah melihat isi kotak di tangan, kemudian diletakkan di atas meja. "Bagus. Kita lakukan sekarang," ujar Ambo.

"Acara keluarga mereka, gak akan berlangsung sebahagia itu." Ambo menyesap putung rokok yang terselip di jemarinya. "Gue anggap itu semua ajakan buat perang," lanjutnya.

"Gue gak sabar lihat ekspresi mereka, Bos," sahut Wan.

"Marin, Upek, Wan, sama Eran. Kalian bisa pantau mulai sekarang!"

"Siap, Bos," jawab mereka bersamaan.

.....

Gadis cantik itu disibukkan oleh peralatan masak di dapur. Ia bertempur dengan bahan masakan yang dibelinya tadi. Dino hanya duduk di meja makan, melihat istrinya tersebut sangat heboh. "Udah, Ra. Gak usah masak," ujar Dino.

Dara yang telah menumis sayuran, segera menoleh ke arah Dino. "Aku bisa, No," jawabnya. Lalu, dia kembali bermain dengan penggorengan.

Dino menghela napas panjang, kemudian meneguk segelas air dan berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Dara, berdiri di sampingnya. "Sini, gue bantuin."

Dara melirik dan mengembangkan senyumnya. "Kupasin udangnya, No!" pinta Dara.

Dino mengangguk singkat dan segera pergi untuk melakukan perintah pujaan hati.

Sepasang kekasih itu terlihat sangat kompak di senja ini. Langit pun ikut tersenyum melihatnya dengan menampakkan keindahannya. Burung berkicau dan pergi pulang. Awan mengambang di sana, membuat hari menjadi sedikit mendung.

Satu jam berlalu, Dara telah menyelesaikan beberapa menu dengan cepat. Lalu, gadis itu dibantu Dino untuk menyajikan makanan di meja makan. "Selesai!" sorak Dara dengan gembira.

Dino tersenyum tipis melihat istrinya bahagia seperti itu. Lalu, dia berjalan mendekati Dara dan berdiri di depan gadisnya. Dara mendongak untuk menatap wajah Dino, pipinya merah semu dilihat sedekat ini.

Dino mendekatkan wajahnya membuat Dara membulatkan mata. Lalu, kecupan singkat mendarat di kening Dara dari Dino. Setelah melakukan itu, Dino melenggang pergi tanpa dosa. Sang istri dibuat mematung oleh si suami. "Perasaan apa ini?" gumam Dara, menyentuh dada.

Dara tidak bergerak dari sana selama lima menit. Merasakan detak jantungnya berdebar. Kakinya menjadi kaku untuk digerakkan. Kecupan singkat telah mengalihkan seluruh dunianya.

Pukul tujuh akhirnya datang. Gadis dengan blouse dan rok selutut itu menanti kehadiran orang tuanya di ruang tengah. Dia terus tersenyum sambil memandang ke arah pintu. Bahkan, Dino saja sudah geleng-geleng kepala melihatnya. "Ra, lo excited banget, sih," celetuk Dino, ikut duduk di samping istrinya.

"Biarin," jawab Dara, ketus.

Ketukan pintu membuat Dara berdiri dari duduknya. Senyum gadis itu mengembang. Dengan cepat dia berlari untuk membukakan pintu. "Bunda!" sapa Dara, kemudian berhamburan memeluk sang bunda.

Norman tersenyum melihat kehangatan keluarganya. Namun, Tino malah berekspresi sebaliknya. "Kayak gak pernah ketemu aja," seloroh Tino.

"Biarin!" sahut Dara. "Ayo, masuk!" Dara menggandeng tangan sang bunda, membawanya masuk ke rumah.

"Halo, Dino. Kabar baik?" tanya Norman, mengulurkan tangan kepada sang menantu.

Dino menjabat tangan itu, sambil mengulum senyum. "Baik." Lalu, tangan itu saling melepas. "Silakan duduk!" ujar Dino.

Norman tersenyum tipis, kemudian duduk di sofa. "Papamu bisa datang, kan?"

"Bisa, kok. Masih di perjalanan." Norman mengangguk singkat.

Dara dan Bila pergi ke dapur, dua perempuan itu saling melemparkan senyum. "Nih, Bunda bawain roti kukus buat kamu," katanya. Bila menyodorkan paper bag kepada sang putri, dengan senang Dara mengambilnya dan meletakkan di meja.

Bila berbinar melihat makanan di meja makan itu. "Kamu masak ini semua?" tanya Bila. Dia menatap Dara dengan tidak percaya. "Masak sendiri atau beli?"

"Masakan aku sama Dino, Bunda," kata Dara.

Bundanya itu selalu saja tidak percaya jika putrinya mempunyai kemampuan. Dia menganggapnya remeh. Bila kira, Dara akan bersikap tidak baik setelah menikah, apalagi Dara terpaksa menerimanya.

Tidak lama setelah keluarga Dara datang, Papa dan Mama Dino pun hadir meramaikan. Mereka duduk di meja makan, mencoba masakan spesial Dara. Mereka takjud dengan rasanya, sangat enak.

"Enak banget. Mama boleh minta resepnya?" ujar Pavita, mama dari Dino. Wanita itu tidak berhenti menyuapi mulutnya dengan cumi asam manis.

Dara tersenyum dengan malu. "Resepnya dapat dari buku masakan, kok," jawab Dara.

"Beneran? Tapi, rasanya keren," sahut Pamu, yang duduk di samping Dino.

"Ya keren, lah! Kan masakan Dino," celetuk Dino.

Dara langsung menatap tajam lelaki di depannya itu. "Enak aja!" tegurnya.

"Iya, iya. Masakan istrinya Dino," kata Dino, kemudian menyuapi mulutnya dengan udang krispi. "Tapi, gue juga bantuin loh, Ra."

Tawa pun menyelimuti keluarga tersebut di malam itu.

Rembulan bersinar di tengah langit gelap. Bintang kelap-kelip meramaikan. Angin berhembus menggoyangkan pepohonan, beberapa daun yang jatuh ikut terbang dibawanya.

Para lelaki itu duduk lesehan melihat televisi yang menyiarkan acara bola. Mereka menonton sambil memakan kacang dan roti kukus buatan Bila. Sedangkan para perempuan, duduk di sofa sambil bergosip dan bercanda tawa.

Kebahagiaan terpampang jelas di ruang tengah rumah Dino dan Dara.

Ketukan pintu di tengah keramaian, lantas membuat pandangan tertuju ke arahnya. "Biar Dara yang buka," ujarnya, kemudian melenggang dari sana. Namun, ketika Dara datang dan membuka daun pintu, tidak terdapat siapapun di sana.

Dara celingukan, tetapi tidak mendapati siapapun di sana. Hanya udara yang berhembus melaluinya. Namun, sebuah benda persegi tergeletak di lantai, tepat di depan kaki Dara. Lalu, gadis itu mengambilnya dan mengerutkan dahi karena bingung.

Tangan kanan Dara bergerak membuka tutup kotak yang seperti kado itu. Namun, mendadak seluruh tubuhnya bergetar dan kotak tersebut ia jatuhkan ke lantai. "DINO!" teriak Dara.

Suara teriakan Dara lantas membuat semua orang di dalam terkejut. Mereka bergegas untuk menyusul Dara.

Tangan Dara bergetar hebat, dia mundur selangkah sambil menutupi mulutnya karena begitu terkejut.

Begitu sampai, Dino bingung melihat kondisi istrinya yang bergetar hebat. "Kenapa, Ra?" tanya Dino. Lalu, dia mengikuti arah pandang Dara menuju ke arah kotak berisi dua tikus besar mati. Dino langsung menarik Dara ke pelukannya.

Bukan hanya Dara dan Dino. Tino, Bila, Norman, Pavita, dan Pamu terkejut melihat tikus mati yang masih terdapat darah di sana.

Bila menutup mulutnya, kemudian melihat ke arah sang putri yang menangis sesenggukan di dalam pelukan Dino. Sesekali Dino mengelus punggung gadis itu agar tenang.

"Siapa, Ra?" tanya Dino.

Dara menggelengkan pelan kepalanya. "Nggak tahu," jawabnya, begitu pelan.

...Siapa yaa kira-kira?...

...Ada yang tau?...

...〜(꒪꒳꒪)〜...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!