NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Sebelum Han Bo sempat memikirkan rencana cadangan, pedang meteor yang berputar itu berhenti karena Han Feng menangkap gagangnya kembali.

Han Feng menatap tiga jarum hitam di lantai, lalu menatap Han Bo. Senyum di wajah Han Feng menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang menjanjikan penderitaan abadi.

"Jarum Pelemah Tulang," kata Han Feng pelan, mengenali bau samar dari jarum itu berkat pengetahuannya sebagai mantan ahli sejarah dan arkeolog yang sering berurusan dengan jebakan makam kuno. "Kau tidak berniat menang. Kau hanya berniat merusak masa depanku."

Han Feng mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah tribun kehormatan, tepat ke mata Tetua Gui dan Han Tian. Tatapan Han Feng seolah berkata: Aku tahu ini ulah kalian.

Lalu, Han Feng kembali menatap Han Bo.

"Karena kau suka jarum," kata Han Feng sambil melangkah maju, kali ini dengan kecepatan kilat.

Langkah Naga Guntur!

BOOM!

Han Feng menghilang dan muncul tepat di depan Han Bo dalam sekejap.

Han Bo menjerit ketakutan, mencoba mundur. Tapi tangan kiri Han Feng sudah mencengkeram leher Han Bo, mengangkat tubuh pemuda itu ke udara seperti mengangkat boneka kain.

"L-Lepaskan..." Han Bo meronta, kakinya menendang-nendang udara.

"Kau suka racun yang melemahkan tulang?" bisik Han Feng. "Mari kita lihat seberapa kuat tulangmu tanpa racun."

Han Feng tidak menggunakan pedangnya. Dia menjatuhkan Han Bo ke lantai, lalu menginjak lutut kanan Han Bo dengan kekuatan yang terkontrol.

KRAK!

"AAAAAAARRGGHHH!"

Jeritan Han Bo memecah keheningan arena. Lutut kanannya hancur total, menekuk ke arah yang salah.

Wasit hendak berlari masuk untuk menghentikan pertandingan. "Hentikan! Pemenangnya sudah je..."

"DIAM!" bentak Han Feng tanpa menoleh. Aura membunuh yang meledak dari tubuh Han Feng membuat wasit itu terpaku di tempat, kakinya gemetar. Ini bukan aura murid biasa. Ini aura seorang pembantai.

Han Feng kembali menatap Han Bo yang menangis meraung-raung di lantai.

"Itu untuk niat membunuhmu," kata Han Feng dingin. "Dan ini... untuk tuanmu yang pengecut."

Han Feng menginjak lutut kiri Han Bo.

KRAK!

Jeritan Han Bo semakin keras, lalu berubah menjadi suara serak karena pita suaranya putus akibat teriakan yang terlalu kuat. Han Bo pingsan karena rasa sakit yang tak tertahankan.

Namun Han Feng belum selesai. Dia menendang tubuh Han Bo yang pingsan itu hingga meluncur keluar arena, mendarat tepat di kaki tangga tribun tempat Han Lie duduk.

Tubuh Han Bo yang lumpuh berguling dan berhenti tepat di depan sepatu bot emas Han Lie.

Seluruh arena sunyi senyap. Kebrutalan Han Feng kali ini jauh lebih sadis daripada saat melawan Han Tie. Melawan Han Tie adalah pertarungan kekuatan vs kekuatan. Tapi ini... ini adalah eksekusi.

Han Feng membungkuk, memungut salah satu jarum hitam dari lantai arena dengan ujung jari yang dilapisi Qi pelindung.

"Milikmu jatuh," kata Han Feng keras, melemparkan jarum kecil itu ke arah wasit.

Wasit menangkap jarum itu dengan gemetar. Dia melihat ujung jarum yang berwarna hitam dan mencium bau amis yang khas. Wajah wasit berubah pucat. Sebagai ahli bela diri senior, dia tahu barang apa ini.

"Jarum... Jarum Racun?" gumam wasit itu, suaranya terdengar jelas oleh penonton di barisan depan.

Kabar itu menyebar seperti api liar.

"Han Bo menggunakan racun?!"

"Pantas saja Han Feng mengamuk!"

"Keluarga Han macam apa ini? Menggunakan racun dalam turnamen terbuka?"

"Curang! Sangat memalukan!"

Teriakan kemarahan mulai terdengar dari penonton. Reputasi Keluarga Han dipertaruhkan. Tamu-tamu dari keluarga lain mulai berbisik-bisik dengan senyum mengejek. Tetua Zhang dari Sekte Pedang Langit mengerutkan kening, menatap tajam ke arah Han Tian.

"Kepala Keluarga Han," suara Tetua Zhang dingin. "Sepertinya disiplin di keluargamu perlu diperbaiki. Senjata racun di arena suci? Jika ini terjadi di Sekte, pelakunya akan dihukum mati."

Wajah Han Tian merah padam menahan malu dan amarah. Rencananya menjadi bumerang telak. Bukan hanya gagal melukai Han Feng, tapi juga mempermalukan klan di depan utusan sekte.

Han Tian berdiri, memukul sandaran kursinya hingga hancur.

"Han Bo telah melanggar aturan suci turnamen!" teriak Han Tian, mengkambinghitamkan pionnya demi menyelamatkan wajah klan. "Dia didiskualifikasi dan akan dihukum kurungan lima tahun! Pemenangnya adalah Han Feng!"

Han Feng berdiri di tengah arena, mendengarkan sandiwara munafik itu dengan wajah datar. Dia tahu Han Tian tidak punya pilihan lain.

Han Feng menatap Han Lie di tribun.

"Satu lagi," kata Han Feng pelan, tapi gerak bibirnya terbaca jelas oleh Han Lie. "Tinggal kau satu-satunya sampah yang tersisa."

Han Lie menatap tubuh Han Bo yang lumpuh di kakinya, lalu menatap Han Feng. Kebencian di mata Han Lie kini bercampur dengan sesuatu yang baru: Ketakutan murni. Dia menyadari bahwa racun, trik, dan pembunuh bayaran tidak akan bekerja.

Han Feng adalah monster yang tidak bisa dihentikan dengan cara curang.

Pertandingan Semifinal Kedua berlangsung cepat dan hambar.

Han Lie melawan Han Chen. Han Lie melampiaskan kemarahan dan ketakutannya pada lawannya. Dia tidak menggunakan teknik pedang yang indah lagi. Dia bertarung dengan brutal, menebas tombak Han Chen hingga patah, lalu memukuli Han Chen hingga babak belur sebelum menendangnya keluar arena.

Han Lie menang.

Tapi tidak ada sorak-sorai meriah untuknya. Penonton masih terbayang akan jarum beracun dan kebrutalan Han Feng. Aura "Pahlawan Muda" Han Lie telah ternoda oleh kecurigaan bahwa dia terlibat dalam insiden racun itu.

Akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu tiba.

Matahari tepat di atas kepala. Panas terik membakar kulit.

Wasit senior, yang kini tampak jauh lebih tua dan lelah dari pagi tadi, berdiri di tengah arena yang retak-retak.

"Pertandingan Final!"

"Penentuan Juara Turnamen Keluarga Han!"

"Han Feng... melawan... Han Lie!"

Han Feng dan Han Lie naik ke panggung dari sisi berlawanan.

Mereka berdiri berhadapan. Jarak sepuluh meter terasa seperti jurang kematian.

Han Lie menghunus pedang emasnya—Pedang Sinar Matahari, senjata roh tingkat rendah. Cahaya pedang itu menyilaukan mata.

Han Feng perlahan menurunkan Pedang Meteor Hitam dari bahunya. Dia memegang gagangnya dengan kedua tangan, posisi siap tempur yang serius. Ini pertama kalinya Han Feng menggunakan dua tangan sejak turnamen dimulai.

"Han Feng," desis Han Lie, suaranya penuh racun. "Aku akui, kau mengejutkanku. Tapi kau membuat satu kesalahan fatal."

"Oh?"

"Kau membuatku marah," kata Han Lie. "Dan saat aku marah, aku tidak peduli lagi dengan aturan. Aku akan membunuhmu di sini, dan Ayahku akan melindungiku."

Han Lie mengeluarkan sebuah pil merah kecil dari balik lengan bajunya dan menelannya dengan cepat sebelum wasit sempat melihat.

Seketika, aura Han Lie meledak.

Angin berputar di sekitar tubuh Han Lie. Rambutnya berkibar ke atas. Tekanan Qi yang dipancarkannya melonjak drastis, menembus batas Pembentukan Tubuh Tingkat 8, terus naik... Tingkat 9... dan akhirnya berhenti di ambang batas Pengumpulan Qi.

"Pil Darah Iblis!" seru Tetua Zhang di tribun, terkejut. "Dia menggunakan obat terlarang!"

Tapi Han Tian diam saja, membiarkan hal itu terjadi. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kehormatan. Dia hanya ingin Han Feng mati.

"Rasakan kekuatan setengah langkah Pengumpulan Qi!" teriak Han Lie gila. "Mati kau, Sampah!"

Han Feng merasakan tekanan itu. Tapi bukannya takut, Han Feng justru tertawa.

Tawa yang keras, lepas, dan menggema.

"Hahahaha! Obat? Kau butuh obat untuk melawanku?"

Han Feng berhenti tertawa. Matanya berubah menjadi mata naga yang mengerikan.

"Baiklah. Karena kau ingin bermain dengan kekuatan penuh..."

Di dalam tubuh Han Feng, Gerbang Naga Api terbuka lebar.

"Aku akan menunjukkan padamu apa itu kekuatan yang sebenarnya. Tanpa obat. Tanpa trik. Hanya... Kiamat."

Suhu di sekitar Han Feng mendadak naik drastis. Pedang Meteor Hitam di tangannya mulai memerah seperti besi yang baru ditempa.

Pertarungan terakhir dimulai.

1
Gege
mantabbb...gass thorrr lagee
Bambang Purwanto
👍bagus sekali ceritanya
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!