NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: tamat
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Limbah Hitam

Lendir hitam yang pekat melapisi dinding pipa beton saat Li Wei merangkak lebih dalam ke jantung gorong-gorong. Bau amonia yang menyesakkan tidak hanya menyerang paru-parunya, tetapi juga mulai mengikis lapisan filter pada zirah putihnya yang kini kehilangan kilau martabat. Setiap kali ia menyeret kaki kanannya, rasa sakit dari tulang tibia yang retak menjalar hingga ke tulang punggung, memaksa giginya terkatup rapat agar tidak mengerang di tengah keheningan pipa yang mengancam. Di depannya, Chen Xi memandu dengan tangan kanan yang gemetar, sementara bahu kirinya yang dislokasi dibalut kain sisa zirah yang basah oleh rembesan zat kimia korosif.

"Tahan napasmu jika kita melewati persimpangan di depan, Li Wei," bisik Chen Xi. Suaranya terdengar hampa, memantul di antara dinding pipa yang licin oleh lumut sintetis. "Uap metana di sini cukup pekat untuk memicu ledakan atomik jika kau mengaktifkan frekuensi Bailong-Jian sembarangan. Satu percikan, dan kita semua akan menjadi abu di saluran limbah ini."

Li Wei tidak menjawab secara verbal. Fokusnya terbagi antara rasa sakit yang berdenyut dan beban berat tubuh Han yang ia sampirkan di bahunya. Sahabatnya itu kini terasa lebih berat, seolah-olah nyawanya telah digantikan oleh mesin logam yang dingin dan mati. "Dia mulai mendingin, Chen Xi. Detak jantungnya melalui antarmuka sarafku terasa kacau, seperti kode yang rusak."

Chen Xi berhenti sejenak, menoleh ke arah Han. Pendar merah di tengkuk Han tidak lagi berdenyut perlahan; pendar itu kini statis dan memancarkan cahaya merah tajam yang menyinari air limbah hitam di bawah kaki mereka. "Itu bukan karena dia kedinginan secara biologis. Chip itu sedang melakukan pemetaan ulang paksa pada saraf motoriknya. Zhao Kun sedang melakukan override total. Dia sedang mengambil alih kendali subjek."

"Dia bukan subjek! Dia Sersan dari Sektor 7, manusia yang memiliki nama!" desis Li Wei dengan nada yang penuh penekanan, matanya berkilat di balik kegelapan.

"Di mata mereka, dia adalah paket data berjalan yang harus diekstraksi sebelum jatuh ke tangan Naga Laut, Li Wei. Sadarlah!" balas Chen Xi dingin. Ia meraba dinding, mencari celah udara yang tidak terkontaminasi gas buang industri. "Jika kita tidak sampai ke Sektor B sebelum protokol sinkronisasi itu mencapai seratus persen, kau tidak lagi sedang menggendong seorang sahabat, melainkan seorang algojo yang diprogram untuk menguliti lehermu sendiri."

Li Wei menatap wajah Han yang kini penuh noda jelaga. Ingatannya melayang pada momen mereka berbagi air hujan di parit Sektor 7 hanya beberapa jam yang lalu. Saat itu, Han masih berbicara tentang kehormatan klan. Sekarang, martabat itu terasa seperti lelucon paling kejam yang pernah diciptakan Kekaisaran. "Aku tidak akan meninggalkannya menjadi sampah logam."

"Bagus. Karena jika kau mulai ragu dan membiarkannya membahayakan kita, aku yang akan menembak kepalanya agar kita tidak terlacak oleh radar biosensor," ucap Chen Xi tanpa ragu, suaranya tajam seperti belati.

Tiba-tiba, tubuh Han tersentak hebat. Sebuah suara geraman rendah yang tidak terdengar seperti pita suara manusia keluar dari tenggorokannya. Li Wei merasakan otot-otot di lengan Han mengeras seperti baja dingin, dan pendar merah di tengkuknya meledak dalam frekuensi tinggi.

"Li Wei, lepaskan dia! Sekarang!" teriak Chen Xi sambil melompat mundur dengan insting tempur yang terasah.

Li Wei terlempar saat Han melakukan dorongan kinetik luar biasa dengan punggungnya. Punggung Li Wei menghantam pipa logam yang berkarat, memicu rasa perih yang luar biasa di bahunya yang cedera. Han berdiri tegak di tengah aliran limbah hitam. Matanya terbuka, namun bola matanya tidak lagi terlihat—hanya pendar merah elektrik yang memenuhi seluruh rongga optiknya, tanda bahwa kesadarannya telah tergeser oleh sistem.

"Status... subjek... stabil," suara Han terdengar parau, dilapisi oleh desis statis dari chip saraf yang bekerja melampaui batas. "Misi utama: eliminasi aset kedaluwarsa. Target: Perwira Pengkhianat Li Wei."

Li Wei berusaha berdiri, namun kaki kanannya yang retak berkhianat. Ia jatuh berlutut di dalam air limbah yang bau amonia. "Han! Ini aku, Li Wei! Lawan pengaruh Zhao Kun! Kau lebih kuat dari sekadar potongan sirkuit!"

"Dia tidak mendengarmu, bodoh! Sarafnya sudah dibakar oleh enkripsi tingkat tinggi!" Chen Xi menarik Yan-Zuo, bilah pedang ungunya membelah kegelapan pipa, menciptakan pendar ultraviolet yang kontras dengan warna merah Han. "Dia sedang dalam mode Berserk Level 3!"

Han menerjang. Gerakannya tidak lagi memiliki keanggunan seorang prajurit Kekaisaran, melainkan kecepatan brutal sebuah mesin penghancur. Tangannya menghantam dinding beton hingga retak, nyaris mengenai kepala Li Wei.

"Kenapa kau tidak menarik pedangmu, Li Wei?" seru Chen Xi sambil menangkis hantaman tangan Han yang sekeras palu besi. "Dia akan menghancurkan tengkorakmu!"

"Aku tidak bisa melukainya! Dia menyelamatkanku di menara sinyal!" balas Li Wei, suaranya parau karena emosi yang meluap, menunjukkan irasionalitas manusiawi di tengah situasi logis yang mematikan.

"Jika kau tidak menarik pedangmu sekarang, maka semua pengorbanannya di menara itu hanya akan menjadi kesia-siaan yang konyol!" Chen Xi terdesak ke dinding, napasnya memburu karena bahunya yang dislokasi tidak mampu menahan kekuatan fisik Han yang telah ditingkatkan secara artifisial melalui Neural Overclock.

Li Wei melihat tangan Han mencekik leher Chen Xi dengan tenaga yang mampu meremukkan beton. Pendar merah di tengkuk Han berdenyut liar. Di saku zirah Han yang robek, sebuah foto tim lama yang sudah basah dan lusuh terjatuh ke dalam air limbah. Foto itu menunjukkan mereka berdua sedang tertawa di depan barak sebelum perang abadi ini merampas segalanya.

Rasa panas yang berbeda mulai menjalar di dada Li Wei—sebuah Jangkar Emosi yang dingin terhadap sistem yang telah mengubah sahabatnya menjadi monster. Ia menarik Bailong-Jian, namun ia tidak mengaktifkan bilah energinya untuk menghindari ledakan metana. Ia menggunakan gagang pedangnya yang berat untuk menghantam titik saraf di pergelangan tangan Han, menggunakan teknik mekanis murni untuk memaksa cekikan itu terlepas.

"Maafkan aku, Han," bisik Li Wei, suaranya bergetar oleh duka.

"Target... melawan... tingkatkan daya... transmisi saraf..." Han menggeram, kepalanya miring dengan sudut yang tidak alami hingga terdengar bunyi tulang leher yang berderak. Ia menarik sebuah pipa besi dari dinding dengan kekuatan fisik murni, mengayunkannya dengan kecepatan yang membelah udara.

Li Wei berguling di atas genangan limbah, mengabaikan rasa sakit yang membuat pandangannya memutih sejenak. Ia harus mencari Third Option. Di lingkungan yang dipenuhi gas metana ini, percikan energi dari pedang adalah bunuh diri. Ia harus memanipulasi lingkungan.

"Chen Xi! Katup uap di belakangmu! Putar searah jarum jam, sekarang!" perintah Li Wei.

"Kau gila? Itu akan membutakan kita semua dan memicu alarm tekanan!" balas Chen Xi, namun tangannya tetap bergerak menuju tuas berkarat tersebut.

"Lakukan saja! Percayalah pada instingku!"

Saat Chen Xi memutar tuas, uap panas menyembur keluar dengan suara raungan yang memekakkan telinga. Ruangan pipa yang sempit itu seketika dipenuhi kabut putih yang sangat tebal. Sensor panas pada chip saraf Han mulai mengalami malfungsi (glitch) karena perubahan suhu mendadak, mengeluarkan suara denging frekuensi tinggi yang menyakitkan.

Han meraung, mengayunkan pipa besinya secara membabi butu ke arah uap, kehilangan koordinat targetnya. Li Wei menggunakan momen itu untuk merangkak mendekati Chen Xi, napasnya tersengal di balik kabut.

"Kita harus bergerak ke pipa induk di bawah Sektor B. Sinyal dari Xiao Hu adalah satu-satunya koordinat yang masuk akal sekarang," bisik Li Wei sambil memegangi dadanya yang sesak.

"Bagaimana dengan dia? Dia tidak akan berhenti mengejar," Chen Xi menunjuk bayangan Han yang masih mengamuk seperti binatang buas di tengah uap.

"Dia akan terus mengikuti aroma panas zirah kita. Kita tidak lari darinya, Chen Xi. Kita sedang membawanya ke tempat di mana ada peralatan mekanis yang cukup kuat untuk memutus koneksi saraf itu tanpa membunuh inangnya," ucap Li Wei, meski di dalam hatinya ia tahu peluang itu sangat tipis.

Mereka terus merayap dalam kegelapan yang kental, melewati pipa-pipa yang membisikkan desis kematian dari kebocoran gas. Di belakang mereka, suara langkah kaki logam Han yang berat mulai terdengar kembali—berirama, mekanis, dan tak kenal lelah. Setiap dentuman sepatu bot itu seolah menghitung sisa waktu kemanusiaan yang dimiliki Li Wei.

"Apakah kau benar-benar percaya ada jalan kembali untuknya? Sistem Kekaisaran tidak pernah melepaskan mangsanya," tanya Chen Xi pelan saat mereka beristirahat sejenak di sebuah celah dinding yang lebih kering.

Li Wei menatap foto tim yang berhasil ia ambil dari air limbah, memandangi wajah Han yang masih "manusia". "Dunia ini sudah memberi kita salinan yang salah tentang kesetiaan. Aku hanya ingin mencoba menulis ulang satu baris saja dalam takdir ini."

Chen Xi menatapnya lama, lalu memberikan sepotong biskuit ransum militer yang sudah keras dan terasa pahit. "Makanlah. Kau butuh energi untuk menghadapi hantu masa lalumu yang sekarang ingin memakanmu hidup-hidup."

Li Wei mengambil biskuit itu, merasakannya hancur di mulutnya dengan rasa hambar yang menyiksa. Di kejauhan terowongan, sebuah suara parau kembali bergema, membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"Perwira... Li Wei... keluar... target... terdeteksi... eliminasi... wajib..."

Langkah kaki Han tidak lagi terdengar seperti manusia; setiap hantaman sepatu botnya pada genangan limbah menghasilkan bunyi logam yang beresonansi dengan dinding pipa, sebuah dentuman statis yang menandakan hilangnya kendali biologis total. Li Wei dan Chen Xi bergerak dalam ritme yang menyiksa. Setiap beberapa meter, Li Wei harus berhenti untuk menyesuaikan tumpuan kakinya yang fraktur, sementara Chen Xi terus memantau indikator pada pergelangan tangannya.

"Dia berjarak lima puluh meter di belakang kita," bisik Chen Xi. Wajahnya yang tajam kini tampak kuyu, diperparah oleh rona kehijauan dari cahaya lumut kimia korosif. "Kecepatannya stabil. Dia tidak sedang mengejar, Li Wei. Dia sedang menggiring kita menuju area buntu di ujung Sektor B."

"Dia bukan lagi Han yang sedang berpikir secara taktis, Chen Xi. Itu adalah algoritma pengejaran Tian-Ming," jawab Li Wei parau. Ia menyeka keringat yang bercampur debu semen dari dahinya. "Lihat ke depan. Pipa induk Sektor B seharusnya ada di balik katup tekanan tinggi itu."

Di hadapan mereka, sebuah gerbang melingkar raksasa dengan deretan katup kuno berdiri menghalangi jalan. Air limbah di sini lebih dalam, mencapai lutut, dan mengeluarkan uap amonia yang lebih pekat hingga perih di mata. Li Wei meraba sakunya, memastikan foto tim itu masih aman. Jemarinya gemetar bukan karena kedinginan, melainkan karena kengerian saat melihat bayangan Han muncul di ujung lorong yang lurus sempurna.

Han berhenti tepat di bawah pendar lampu darurat yang berkedip sekarat. Senapan pulsa standarnya terangkat dengan presisi mekanis seratus persen. Pendar merah di tengkuknya kini menyebar melalui pembuluh darah di lehernya, menciptakan pola jaring laba-laba berwarna kirmizi yang mengerikan—tanda bahwa tingkat sinkronisasi sarafnya sudah di zona merah yang fatal.

"Target... terkunci," suara Han menggema, datar dan tanpa emosi sedikit pun. "Protokol pembersihan unit desersi dimulai."

"Han, hentikan!" Li Wei berteriak, suaranya parau memantul di dinding beton yang lembap. "Ingat sumpah kita di akademi! Kita berjanji untuk melindungi rakyat, bukan menjadi algojo bagi mereka yang hanya memberi kita perintah dari balik meja nyaman!"

Lengan Han bergetar sejenak secara involunter. Ujung senapannya sedikit turun, dan untuk satu detik yang sangat singkat, pendar merah di mata Han meredup, memperlihatkan sorot mata asli Han yang penuh ketakutan dan penderitaan luar biasa. "Ko... mander... la... ri..." rintihnya, sebelum sebuah lonjakan listrik biru dari chip saraf di tengkuknya memaksa kepalanya tersentak kembali ke posisi mesin.

"Sial, enkripsinya melakukan rebooting paksa!" Chen Xi menarik tangan Li Wei. "Kita tidak punya pilihan. Bantu aku memutar katup ini atau kita akan menjadi sisa organik di sini!"

Li Wei menatap Han, lalu menatap katup besar di depannya. Ia menyadari Third Option yang sesungguhnya. Jika ia menyerang Han, ia akan membunuh sahabatnya. Jika ia diam, mereka mati. Ia harus mengubah parameter medan tempur.

"Chen Xi, jangan tutup katupnya. Buka saluran pembuangan darurat di bawah kita, sekarang!" perintah Li Wei.

"Itu akan membanjiri seluruh terowongan ini dengan metana dingin dan air limbah industri!" seru Chen Xi.

"Percayalah padaku! Han menggunakan sensor panas infra-merah dari chip-nya. Metana dingin akan mengacaukan pemetaan suhunya!"

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berdua menghantam tuas pengunci saluran bawah. Suara gemuruh air yang meluap terdengar seperti raungan binatang buas dari perut bumi. Cairan kimia yang jauh lebih dingin dan pekat menyembur keluar, memenuhi ruangan dengan kabut gas metana yang tebal dan mematikan. Pandangan menjadi nol dalam sekejap.

Li Wei menggunakan Neural Resonance miliknya bukan untuk menyerang, melainkan untuk mempertajam indra pendengarannya di tengah kabut gas. Ia mendengar Han melepaskan tembakan pulsa secara membabi butu. Cahaya biru tembakan itu membelah kabut uap, nyaris mengenai bahu Chen Xi yang terluka.

"Ke sini! Ikuti suaraku!" Li Wei menarik Chen Xi masuk ke dalam celah pipa pembuangan yang lebih kecil, tepat saat Han menerjang posisi terakhir mereka dengan kecepatan Berserk yang menghancurkan dinding pipa utama.

Mereka merangkak dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani suara desis gas dan geraman mekanis Han yang perlahan menjauh seiring kegagalan sensor pelacaknya. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam melewati lorong sempit, mereka sampai di sebuah ruang kontrol pompa tua yang lebih tinggi dan kering.

Li Wei jatuh terduduk, napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar oleh amonia. Ia mengeluarkan foto tim itu lagi, menatap wajah Han yang tersenyum di sana di bawah pendar lampu terminal yang sekarat. "Dia masih di dalam sana, Chen Xi. Dia memintaku untuk lari. Dia masih hidup."

Chen Xi berjongkok di sampingnya, meletakkan tangannya yang gemetar di bahu Li Wei—sebuah gestur yang sangat tidak lazim bagi seorang pragmatis Naga Laut. "Aku tahu. Tapi kau harus siap, Li Wei. Lain kali kita bertemu dengannya, chip itu mungkin sudah menghapus semua data emosional yang tersisa. Dia dikirim sebagai algojo tanpa memori, dan Zhao Kun tidak akan berhenti sampai algojonya menyelesaikan laporan kematianmu."

Li Wei menutup matanya, membiarkan keheningan ruang pompa itu menyelimutinya sejenak. Di dinding ruangan, sebuah layar monitor tua yang berkerlip menampilkan koordinat Sektor B. Simbol kepala harimau kecil—sinyal SOS dari Xiao Hu—masih berkedip di sana, seolah-olah sebuah mercusuar di tengah badai.

"Aku tidak akan menjadi monster yang mereka inginkan," bisik Li Wei pada kegelapan. "Jika dunia ini memaksa seseorang menjadi algojo, maka aku akan menjadi algojo bagi sistem yang menciptakan kegilaan ini."

Di kejauhan, dari arah pipa induk yang gelap, terdengar suara serakan logam yang tajam dan berat. Suara Han yang kembali memanggil namanya dengan nada datar yang mengerikan—sebuah panggilan yang menandakan bahwa pengejaran ini baru saja memasuki fase yang lebih mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!