NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Limbah Hitam

Lendir hitam yang pekat melapisi dinding pipa beton saat Li Wei merangkak lebih dalam ke jantung gorong-gorong. Bau amonia yang menyesakkan tidak hanya menyerang paru-parunya, tetapi juga mulai mengikis lapisan filter pada zirah putihnya yang kini kehilangan kilau. Setiap kali ia menyeret kaki kanannya, rasa sakit dari tulang kering yang retak menjalar hingga ke tulang punggung, memaksa giginya terkatup rapat agar tidak mengerang. Di depannya, Chen Xi memandu dengan tangan kanan yang gemetar, sementara bahu kirinya yang dislokasi dibalut kain sisa zirah yang basah oleh rembesan zat kimia.

"Tahan napasmu jika kita melewati persimpangan di depan, Li Wei," bisik Chen Xi. Suaranya terdengar hampa, memantul di antara dinding pipa yang licin. "Uap metana di sini cukup pekat untuk memicu ledakan jika kau mengaktifkan frekuensi pedangmu sembarangan."

Li Wei tidak menjawab. Fokusnya terbagi antara rasa sakit di kaki dan beban berat tubuh Han yang ia sampirkan di bahunya. Sahabatnya itu kini terasa lebih berat, seolah-olah nyawanya telah digantikan oleh logam dingin. "Dia mulai mendingin, Chen Xi. Detak jantungnya tidak beraturan."

Chen Xi berhenti sejenak, menoleh ke arah Han. Pendar merah di tengkuk Han tidak lagi berdenyut perlahan; pendar itu kini statis, memancarkan cahaya merah tajam yang menyinari air limbah di bawah kaki mereka. "Itu bukan karena dia kedinginan. Chip itu sedang melakukan pemetaan ulang pada saraf motoriknya. Zhao Kun sedang mengambil alih kendali secara paksa."

"Dia bukan boneka! Dia Sersan dari Sektor 7!" desis Li Wei dengan nada yang penuh penekanan.

"Di mata mereka, dia adalah paket data yang harus diekstraksi, Li Wei. Sadarlah," balas Chen Xi dingin. Ia meraba dinding, mencari celah udara yang lebih bersih. "Jika kita tidak sampai ke Sektor B sebelum protokolnya selesai, kau akan menggendong seorang algojo, bukan seorang sahabat."

Li Wei menatap wajah Han yang bersimbah darah dan jelaga. Ingatannya melayang pada saat mereka berbagi air hujan di parit Sektor 7 beberapa jam yang lalu. Saat itu, Han masih berbicara tentang kehormatan. Sekarang, martabat itu terasa seperti lelucon yang kejam. "Aku tidak akan meninggalkannya."

"Bagus. Karena jika kau meninggalkannya, aku yang akan menembak kepalanya agar kita tidak terlacak," ucap Chen Xi tanpa ragu.

Tiba-tiba, tubuh Han tersentak. Sebuah suara geraman rendah yang tidak terdengar seperti suara manusia keluar dari tenggorokannya. Li Wei merasakan otot-otot di lengan Han mengeras seperti baja.

"Li Wei, lepaskan dia! Sekarang!" teriak Chen Xi sambil melompat mundur.

Li Wei terlempar saat Han melakukan dorongan kuat dengan punggungnya. Punggung Li Wei menghantam pipa logam yang berkarat, memicu rasa perih yang luar biasa di luka bahu lamanya. Han berdiri tegak di tengah aliran limbah hitam. Matanya terbuka, namun tidak ada bola mata yang terlihat—hanya pendar merah elektrik yang memenuhi seluruh rongganya.

"Status... subjek... stabil," suara Han terdengar parau, dilapisi oleh desis statis dari chip di tengkuknya. "Misi utama: eliminasi aset kedaluwarsa. Target: Perwira Li Wei."

Li Wei berusaha berdiri, namun kaki kanannya yang retak berkhianat. Ia jatuh berlutut di dalam air limbah yang bau. "Han! Ini aku, Li Wei! Lawan pengaruh itu!"

"Dia tidak mendengarmu, bodoh!" Chen Xi menarik Yan-Zuo, bilah pedang ungunya membelah kegelapan. "Kesadarannya sudah berada di bawah lapisan enkripsi tingkat tinggi. Dia sedang dalam mode berserk!"

Han menerjang. Gerakannya tidak lagi memiliki keanggunan seorang prajurit, melainkan kecepatan brutal sebuah mesin. Tangannya menghantam dinding beton hingga retak, nyaris mengenai kepala Li Wei.

"Kenapa kau tidak menarik pedangmu, Li Wei?" seru Chen Xi sambil menangkis hantaman tangan Han dengan gagang pedangnya. "Dia akan membunuhmu!"

"Aku tidak bisa melukainya! Dia menyelamatkanku di menara sinyal!" balas Li Wei, suaranya parau karena emosi yang meluap.

"Jika kau tidak menarik pedangmu, maka semua pengorbanannya di menara itu akan sia-sia!" Chen Xi terdesak ke dinding, napasnya memburu karena bahunya yang cedera tidak mampu menahan kekuatan Han yang telah ditingkatkan secara artifisial.

Li Wei melihat tangan Han mencekik leher Chen Xi. Pendar merah di tengkuk Han berdenyut liar, seolah-olah sedang merayakan kehancuran yang ia ciptakan. Di saku zirah Han yang robek, sebuah foto tim lama yang sudah basah dan lusuh terjatuh ke dalam air limbah. Foto itu menunjukkan mereka berdua sedang tertawa di depan barak.

Rasa panas yang berbeda mulai menjalar di dada Li Wei. Bukan panas dari luka bakar kimia, melainkan kemarahan yang dingin terhadap sistem yang telah mengubah sahabatnya menjadi monster. Ia menarik Bailong-Jian, namun tidak mengaktifkan bilah energinya. Ia menggunakan gagang pedangnya untuk menghantam titik saraf di pergelangan tangan Han, memaksa cekikan itu terlepas.

"Maafkan aku, Han," bisik Li Wei.

"Target... melawan... tingkatkan daya... saraf..." Han menggeram, kepalanya miring dengan sudut yang tidak alami. Ia menarik sebuah pipa besi dari dinding dengan kekuatan L3 yang murni, mengayunkannya dengan kecepatan yang membelah udara.

Li Wei berguling di atas genangan limbah, mengabaikan rasa sakit yang membuat pandangannya memutih sejenak. Ia tahu, di lingkungan gorong-gorong yang dipenuhi gas metana ini, satu percikan dari pedangnya bisa membakar mereka semua hidup-hidup. Ia harus mencari cara lain.

"Chen Xi! Katup uap di belakangmu! Putar sekarang!" perintah Li Wei.

"Kau gila? Itu akan membutakan kita semua!" balas Chen Xi, namun tangannya tetap bergerak menuju tuas berkarat tersebut.

"Lakukan saja!"

Saat Chen Xi memutar tuas, uap panas menyembur keluar dengan suara raungan yang memekakkan telinga. Ruangan sempit itu seketika dipenuhi kabut putih yang tebal. Sensor panas pada chip Han mulai mengalami malfungsi, mengeluarkan suara denging frekuensi tinggi yang menyakitkan.

Han meraung, mengayunkan pipa besinya secara membabi buta ke arah uap. Li Wei menggunakan momen itu untuk merangkak mendekati Chen Xi.

"Kita harus bergerak ke pipa induk di bawah Sektor B. Sinyal Xiao Hu berasal dari sana," bisik Li Wei sambil memegangi dadanya yang sesak.

"Bagaimana dengan dia?" Chen Xi menunjuk bayangan Han yang masih mengamuk di tengah uap.

"Dia akan terus mengikuti aroma panas zirah kita. Kita tidak lari darinya, Chen Xi. Kita membawanya ke tempat di mana aku bisa memutus koneksi itu tanpa membunuhnya," ucap Li Wei, meski di dalam hatinya ia tahu bahwa peluang itu sangat kecil.

Mereka terus merayap di dalam kegelapan, melewati pipa-pipa yang membisikkan desis kematian. Di belakang mereka, suara langkah kaki logam Han yang berat mulai terdengar kembali, berirama dan tak kenal lelah. Setiap dentuman sepatu bot itu seolah menghitung sisa waktu kemanusiaan yang dimiliki Li Wei.

"Apakah kau benar-benar percaya ada jalan kembali untuknya?" tanya Chen Xi pelan saat mereka beristirahat sejenak di sebuah celah yang lebih kering.

Li Wei menatap foto tim yang berhasil ia ambil dari air limbah. "Dunia ini sudah memberi kita salinan yang salah tentang kesetiaan. Aku hanya ingin mencoba menulis ulang satu baris saja."

Chen Xi menatapnya lama, lalu memberikan sepotong biskuit ransum yang sudah keras dan sedikit berjamur. "Makanlah. Kau butuh energi untuk menghadapi hantumu."

Li Wei mengambil biskuit itu, merasakannya hancur di mulutnya dengan rasa hambar yang menyiksa. Di kejauhan, sebuah suara parau kembali bergema di terowongan, membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"Perwira... Li Wei... keluar... target... terdeteksi..."

Langkah kaki Han tidak lagi terdengar seperti manusia; setiap hantaman sepatu botnya pada genangan limbah menghasilkan bunyi logam yang beresonansi dengan dinding pipa, sebuah dentuman statis yang menandakan hilangnya kendali biologis. Li Wei dan Chen Xi bergerak dalam ritme yang menyiksa. Setiap beberapa meter, Li Wei harus berhenti untuk menyesuaikan tumpuan kakinya yang retak, sementara Chen Xi terus memantau indikator pada pergelangan tangannya.

"Dia berjarak lima puluh meter di belakang kita," bisik Chen Xi. Wajahnya yang biasanya tajam kini tampak kuyu, diperparah oleh rona kehijauan dari cahaya lumut kimia yang tumbuh di langit-langit terowongan. "Kecepatannya stabil. Dia tidak mengejar, Li Wei. Dia sedang menggiring kita menuju area buntu."

"Dia bukan lagi Han yang sedang berpikir, Chen Xi. Itu adalah algoritma pengejaran Kekaisaran," jawab Li Wei parau. Ia menyeka keringat yang bercampur debu semen dari dahinya. "Lihat ke depan. Pipa induk Sektor B seharusnya ada di balik katup tekanan tinggi itu."

Di hadapan mereka, sebuah gerbang melingkar raksasa dengan deretan katup kuno berdiri menghalangi jalan. Air limbah di sini lebih dalam, mencapai lutut, dan mengeluarkan uap amonia yang lebih pekat. Li Wei meraba sakunya, memastikan foto tim yang ia selamatkan tadi masih ada. Jemarinya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena kengerian saat melihat bayangan Han muncul di ujung lorong yang lurus.

Han berhenti tepat di bawah pendar lampu darurat yang berkedip. Senapan pulsa standarnya terangkat dengan presisi mekanis. Pendar merah di tengkuknya kini menyebar melalui pembuluh darah di lehernya, menciptakan pola jaring laba-laba berwarna kirmizi yang mengerikan.

"Target... terkunci," suara Han menggema, datar dan tanpa emosi. "Protokol pembersihan dimulai."

"Han, hentikan!" Li Wei berteriak, suaranya parau memantul di dinding beton. "Ingat sumpah kita di akademi! Kita berjanji untuk melindungi rakyat, bukan menjadi algojo bagi mereka yang memberi kita perintah salah!"

Lengan Han bergetar sejenak. Ujung senapannya sedikit turun, dan untuk satu detik yang singkat, pendar merah di matanya meredup, memperlihatkan sorot mata Han yang penuh ketakutan dan penderitaan. "Ko-mander... lari..." rintihnya, sebelum sebuah lonjakan listrik dari chip sarafnya memaksa kepalanya tersentak kembali.

"Sial, enkripsinya menguat!" Chen Xi menarik tangan Li Wei. "Kita tidak punya pilihan. Bantu aku memutar katup ini atau kita akan mati di sini!"

Li Wei menatap Han, lalu menatap katup besar di depannya. Ia menyadari Third Option yang harus diambil. Jika ia menyerang Han, ia akan membunuh sahabatnya. Jika ia diam, mereka berdua mati. Ia harus mengubah lingkungan tempur mereka.

"Chen Xi, jangan tutup katupnya. Buka saluran pembuangan darurat di bawah kita!" perintah Li Wei.

"Itu akan membanjiri seluruh terowongan ini dengan metana!" seru Chen Xi.

"Percayalah padaku! Han menggunakan sensor panas. Metana dingin akan mengacaukan penglihatannya!"

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berdua menghantam tuas pengunci saluran bawah. Suara gemuruh air yang meluap terdengar seperti raungan binatang buas. Cairan kimia yang jauh lebih dingin dan pekat menyembur keluar, memenuhi ruangan dengan kabut gas yang tebal dan mematikan. Pandangan menjadi nol dalam sekejap.

Li Wei menggunakan Neural Resonance bukan untuk menyerang, melainkan untuk mempertajam indra pendengarannya di tengah kabut. Ia mendengar Han melepaskan tembakan pulsa secara membabi butu. Cahaya biru tembakan itu membelah kabut uap, nyaris mengenai bahu Chen Xi.

"Ke sini!" Li Wei menarik Chen Xi masuk ke dalam celah pipa pembuangan yang lebih kecil, tepat saat Han menerjang posisi terakhir mereka dengan kecepatan berserk.

Mereka merangkak dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani suara desis gas dan geraman mekanis Han yang menjauh seiring kegagalan sensornya. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, mereka sampai di sebuah ruang kontrol pompa yang lebih tinggi dan kering.

Li Wei jatuh terduduk, napasnya memburu, parunya terasa seperti terbakar. Ia mengeluarkan foto tim itu lagi, menatap wajah Han yang tersenyum di sana. "Dia masih di dalam sana, Chen Xi. Dia memintaku untuk lari."

Chen Xi berjongkok di sampingnya, meletakkan tangannya yang gemetar di bahu Li Wei. Tidak ada sinisme di wajahnya kali ini. "Aku tahu. Tapi kau harus siap, Li Wei. Lain kali kita bertemu dengannya, chip itu mungkin sudah menghapus semua ingatan yang tersisa. Dia dikirim sebagai algojo, dan Zhao Kun tidak akan berhenti sampai algojonya menyelesaikan tugas."

Li Wei menutup matanya, membiarkan keheningan ruang pompa itu menyelimutinya sejenak. Di dinding ruangan, sebuah layar monitor tua yang berkerlip menampilkan koordinat Sektor B. Simbol kepala harimau kecil—sinyal SOS Xiao Hu—masih berkedip di sana, seolah-olah memanggil mereka untuk terus bergerak menuju kebenaran yang lebih pahit.

"Aku tidak akan menjadi monster yang mereka inginkan," bisik Li Wei pada kegelapan. "Jika aku harus menjadi algojo, aku akan menjadi algojo bagi sistem yang menciptakan semua ini."

Di kejauhan, dari arah pipa induk yang gelap, terdengar suara serakan logam yang tajam. Suara Han yang kembali memanggil namanya dengan nada datar yang mengerikan, menandakan bahwa pengejaran ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!