Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tubuh Keyra rasanya seperti baru saja digilas oleh mesin press raksasa, lalu dilemparkan ke dalam kawah berapi. Efek adrenalin dari pertarungan di dermaga semalam telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh rasa sakit yang menusuk di setiap sendi dan panas yang menjalar di balik kulitnya. Dia menggigil di balik selimut tebalnya, matanya terasa berat dan panas. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi tirai kamarnya masih tertutup rapat, menciptakan kegelapan buatan yang disukai oleh sakit kepalanya.
Sistem imun tubuhnya menyerah. Hujan badai di pelabuhan, angin laut yang menusuk tulang, dan syok mental melihat Julian berubah menjadi 'glitch' hidup adalah kombinasi mematikan yang menumbangkan Keyra dalam hitungan jam setelah dia sampai di rumah. Ponselnya bergetar di atas nakas, tapi dia mengabaikannya. Dia tidak punya tenaga untuk berbicara, apalagi menjelaskan kepada siapa pun mengapa dia merasa seperti mayat hidup.
Namun, ketukan di pintu depan rumahnya tidak memiliki tombol 'snooze'.
"Key! Buka atau gue dobrak!"
Itu suara Raka. Tentu saja. Siapa lagi manusia yang tidak mengenal konsep sopan santun dan privasi di pagi buta seperti ini? Keyra mengerang panjang, memaksakan kakinya menyentuh lantai yang terasa sedingin es. Dengan langkah menyeret dan piyama yang kusut, dia berjalan menuju ruang tamu. Kepalanya berdenyut seirama dengan setiap langkah kakinya.
Saat dia membuka pintu, cahaya matahari pagi langsung menampar wajahnya, membuatnya menyipitkan mata. Di sana, berdiri Raka dengan jaket denim andalannya. Rambut cowok itu sedikit berantakan, dan ada plester luka baru di pipinya—sisa goresan dari kejadian semalam yang baru sempat dia urus.
"Lo kelihatan kayak zombie yang gagal casting di film horor," komentar Raka begitu melihat wajah pucat Keyra.
"Makasih," jawab Keyra serak, suaranya terdengar seperti parutan kasar. "Kalau lo cuma mau ngehina, silakan balik kanan. Gue mau mati sebentar di kasur."
Keyra hendak menutup pintu, tapi Raka menahannya dengan ujung sepatu ketsnya. Tanpa permisi, cowok itu menerobos masuk, membawa aroma hujan dan bensin yang samar, serta dua kantong plastik besar di tangannya.
"Gue nggak ngehina, itu observasi faktual," bantah Raka santai sambil berjalan menuju dapur Keyra seolah itu rumahnya sendiri. "Dan lo nggak boleh mati dulu. Kita belum namatin game ini."
Keyra mendengus, menutup pintu dengan lemas dan menyandarkan punggungnya di sana. "Lo bawa obat? Gue butuh paracetamol, ibuprofen, atau apa pun yang bisa bikin kepala gue berhenti muter."
"Enggak."
Raka menjawab dengan nada datar yang membuat Keyra membuka mata lebar-lebar. Dia berjalan menyusul Raka ke dapur. Cowok itu sedang sibuk mengeluarkan isi kantong plastik di atas meja makan.
"Lo ke sini, lihat gue sekarat, dan nggak bawa obat?" tanya Keyra tidak percaya. Emosinya sedikit naik, tapi itu justru membuat kepalanya makin pening.
"Obat itu buat orang lemah yang percaya sama sugesti kimia," sahut Raka asal-asalan. Dia mengeluarkan styrofoam berisi bubur ayam yang masih mengepulkan asap. Aroma kaldu gurih seketika memenuhi dapur, membuat perut Keyra berbunyi meski mulutnya terasa pahit. "Gue bawa penyembuh yang lebih efektif. Bubur ayam langganan gue di perempatan, tanpa kacang karena gue tahu lo bakal protes kalau ada tekstur keras yang ganggu lo ngunyah."
Keyra menatap bubur itu. Oke, itu poin plus. Tapi dia masih demam tinggi.
"Raka, gue demam. Gue butuh penurun panas, bukan cuma karbohidrat."
"Sabar, Nona Penulis," Raka menyeringai, lalu merogoh kantong plastik yang satu lagi. "Ini 'obat' utamanya."
Bukan botol sirup atau strip tablet yang dia keluarkan. Raka meletakkan lima jilid komik *One Piece* dan tiga jilid *Detektif Conan* edisi terbaru di samping mangkuk bubur.
Keyra melongo. Dia menatap tumpukan komik itu, lalu menatap wajah Raka, mencari tanda-tanda kalau cowok itu sedang bercanda. Tapi Raka terlihat sangat serius, bahkan bangga dengan bawaannya.
"Komik?" tanya Keyra, suaranya meninggi satu oktaf. "Lo pikir gue bisa sembuh dengan baca petualangan bajak laut?"
"Koreksi: Bajak laut yang mau jadi raja," Raka mengoreksi sambil menarik kursi dan mendudukkan Keyra secara paksa—namun cukup lembut agar gadis itu tidak jatuh. Dia membuka tutup styrofoam bubur dan menyodorkan sendok plastik. "Dengerin gue, Key. Sakit fisik itu cuma manifestasi dari mental yang drop. Semalam lo lihat hal gila. Otak lo overload. Kalau gue kasih obat tidur, lo cuma bakal mimpi buruk tentang Julian yang glitching itu."
Raka mencondongkan tubuhnya, menatap Keyra lekat-lekat. Mata elangnya yang biasanya tajam kini terlihat sedikit lebih lunak, meski nada bicaranya tetap tengil.
"Lo butuh eskapisme. Lo butuh ketawa atau mikir kasus pembunuhan fiksi yang nggak ada hubungannya sama hidup lo yang berantakan. Hormon endorfin, Key. Itu obat paling manjur. Makan buburnya selagi panas, terus baca ini."
Keyra ingin membantah. Dia ingin menceramahi Raka tentang biologi dasar dan fungsi antipiretik. Tapi aroma bubur itu terlalu menggoda, dan sejujurnya, melihat sampul komik yang berwarna-warni itu memang memberikan sedikit percikan semangat yang aneh di dadanya. Jauh lebih menarik daripada menatap langit-langit kamar sambil meratapi nasib.
"Lo gila," gumam Keyra, akhirnya menerima sendok itu. Dia menyuapkan bubur hangat ke mulutnya. Rasanya enak. Sangat enak. Kehangatan bubur itu menjalar ke kerongkongannya, sedikit meredakan gigil di tubuhnya.
"Gila itu relatif. Julian yang lompat ke laut sambil teriak 'error', itu baru definisi gila yang valid," sahut Raka. Dia mengambil satu komik *Detektif Conan*, membuka plastiknya dengan gigi, lalu mulai membacanya sendiri sambil duduk di kursi seberang Keyra. "Lagian, gue nggak mau lo tewas cuma gara-gara demam. Siapa yang bakal bantuin gue ngelawan takdir kalau lo KO?"
Keyra mengunyah pelan. Dia menatap Raka yang kini asyik membolak-balik halaman komik. Sinar matahari menyinari sisi wajah cowok itu, mempertegas garis rahangnya yang keras. Raka tidak bertanya "apa kabar" atau "gimana perasaan lo" dengan nada mendayu-dayu. Dia tidak memperlakukan Keyra seperti kaca pecah. Dia datang, membawa solusi konyol versinya sendiri, dan entah bagaimana... itu bekerja.
"Gue masih kepikiran Julian," kata Keyra tiba-tiba, memecah keheningan yang hanya diisi suara denting sendok dan kertas dibalik. "Cara dia bergerak... itu bukan manusia, Ka. Gue ngerasa bersalah. Apa karena gue maksa ngubah alur, dia jadi rusak?"
Raka tidak langsung menjawab. Dia membalik satu halaman lagi, matanya masih terpaku pada panel gambar Conan yang sedang membius Kogoro Mouri.
"Jangan geer," kata Raka akhirnya, tanpa menatap Keyra. "Dunia ini emang udah rusak dari sananya. Lo cuma orang pertama yang berani nendang mesinnya biar jalan bener lagi. Kalau ada komponen yang lepas kayak Julian, itu bukan salah lo. Itu tandanya sistemnya emang bobrok."
Raka menurunkan komiknya, menatap Keyra lurus. "Makan. Habisin. Terus baca jilid 99. Ada trik pembunuhan di ruang tertutup yang menurut gue agak maksa, gue butuh opini lo."
Keyra tertawa kecil, tawa yang berakhir dengan batuk pelan. "Lo bener-bener nggak punya empati ya?"
"Empati gue udah habis dikonversi jadi bubur ayam," balas Raka santai.
Suasana dapur yang tadinya suram dan dingin perlahan berubah. Kehadiran Raka yang 'berisik' dan tidak konvensional mengisi kekosongan yang membuat Keyra cemas. Keyra menyadari satu hal: Raka tidak memberinya obat karena dia tahu Keyra sudah terlalu banyak menelan pil pahit kehidupan belakangan ini. Dia tidak butuh ditenangkan; dia butuh dialihkan.
Satu suap demi satu suap, bubur itu habis. Keringat dingin mulai keluar di pelipis Keyra, tanda demamnya mulai bereaksi terhadap asupan energi—dan mungkin sedikit efek plasebo dari kehadiran Raka.
"Nih," Raka menyodorkan komik *One Piece*. "Luffy nggak pernah nyerah walo dipukulin satu pulau. Lo baru kena ujan dikit masa udah lembek?"
Keyra mengambil komik itu, melempar tatapan tajam yang tidak bertenaga. "Gue demam, bukan lembek. Awas ya kalau gue sembuh, gue banting lo."
"Ditunggu partisipasinya," Raka menyeringai lebar, lalu kembali tenggelam dalam bacaannya.
Di luar, matahari semakin tinggi, mengeringkan sisa-sisa badai semalam. Di dalam dapur kecil itu, tidak ada pembicaraan berat tentang anomali waktu, glitch, atau bahaya yang mengintai. Hanya ada dua orang yang terjebak dalam skenario yang mereka tulis ulang sendiri, berbagi keheningan yang nyaman, ditemani bubur ayam dan tumpukan komik.
Untuk sesaat, Keyra lupa bahwa dia adalah target alam semesta. Dia hanya seorang gadis yang sedang sakit, ditemani oleh cowok menyebalkan yang, anehnya, selalu tahu persis apa yang dia butuhkan. Dan mungkin, hanya mungkin, Raka benar. Terkadang, obat terbaik bukanlah zat kimia, melainkan distraksi yang tepat dan seseorang yang mau duduk diam menemani tanpa banyak menuntut.
Keyra membuka halaman pertama komik itu. Gambar Luffy tersenyum lebar menyapanya. Tanpa sadar, sudut bibir Keyra ikut terangkat. Pertempuran melawan Julian bisa menunggu besok. Hari ini, dia akan membiarkan Raka dan komik-komik bodoh ini menyelamatkannya.
"Ka," panggil Keyra pelan.
"Hm?" gumam Raka tanpa menoleh.
"Makasih."
"Bayar pake tenaga pas kita lawan Julian nanti. Udah, baca aja. Jangan berisik."
Keyra menggelengkan kepala, tersenyum tipis, dan mulai membaca. Demamnya belum turun, tapi rasa takutnya perlahan menghilang.