NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Sabtu pagi di kompleks perumahan itu biasanya tenang, namun tidak bagi telinga Alano Dirgantara. Sejak matahari baru saja mengintip, ia sudah disuguhi "pertunjukan teater" gratis dari balik pagar sebelah rumahnya.

Ayra berdiri di taman depan rumahnya, memegang selang air dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa. Ia mengenakan kaus rumahan santai dan celana pendek, namun ekspresinya seolah sedang bersiap untuk berperang. Begitu melihat Alano keluar ke teras rumahnya untuk mengambil handuk yang dijemur, Ayra langsung beraksi.

"Lano sini! Gue kangen tau!" seru Ayra dengan nada yang dibuat melengking, manja, dan sangat dibuat-buat.

Alano menghentikan gerakannya. Ia memijat pangkal hidungnya. "Ay, itu udah sepuluh kali lo niruin suara Siska sejak tadi Papa Johan buka pintu depan."

"Oh, sepuluh ya? Aku kira baru sembilan. Mau aku ulang lagi biar genap?" balas Ayra ketus. Ia mengarahkan moncong selang ke arah tanaman mawar, namun matanya tetap melirik tajam ke arah rumah Alano. "Lano siniii... Temenin aku jaaalannn..."

Alano melompati pagar pembatas rendah yang memisahkan rumah mereka. Ia berjalan mendekati Ayra yang masih asyik menyemprotkan air dengan penuh emosi.

"Duh, Ay. Cemburunya Sekretaris OSIS itu serem ya, pake metode parodi segala," goda Alano, mencoba meredakan suasana.

"Siapa yang cemburu? Aku cuma lagi latihan vokal. Siapa tahu nanti ada pementasan drama di sekolah tentang 'Gadis Manja dan Sepupu yang Tebar Pesona'," sahut Ayra. Ia sengaja mengayunkan selangnya hingga beberapa tetes air mengenai ujung kaos Alano.

Belum sempat Alano membela diri, pintu depan rumah Alano terbuka. Siska muncul dengan pakaian yang sudah rapi, kacamata hitam bertengger di kepalanya, dan aroma parfum yang menyengat hingga ke taman sebelah.

"Lano! Kok malah di situ? Katanya mau temenin aku cari sarapan bubur ayam yang enak?" Siska berteriak dari teras, melambaikan tangan dengan gaya yang sama seperti semalam.

Ayra langsung mendengus keras. Ia mematikan keran air dengan putaran yang sangat kuat, seolah ingin mematahkan kepalanya.

"Tuh, disuruh cari bubur ayam. Sana berangkat, ntar Tuan Putrinya kelaperan terus kangennya nambah dua kali lipat," sindir Ayra tajam.

Alano menoleh ke arah Siska, lalu kembali menatap Ayra. Ia bisa melihat mata Ayra yang berkaca-kaca karena kesal bercampur cemburu, meskipun gadis itu berusaha menutupinya dengan sikap galak.

"Siska! Lo pergi sama sopir Om Ryan aja ya? Gue ada urusan mendadak sama Ayra!" teriak Alano pada Siska.

"Urusan apa?! Kan tadi malem janjinya sama aku!" Siska merengut, melipat tangan di depan dada.

"Urusan negara! Penting banget!" balas Alano asal.

Alano menarik tangan Ayra, menuntunnya duduk di bangku taman di bawah pohon mangga yang rindang. Ayra sempat menepis, namun Alano memegang tangannya lebih erat.

"Dengerin gue dulu, Ayrania Johan," ucap Alano dengan nada serius yang membuat Ayra terdiam. "Siska itu emang sepupu gue, beneran sepupu kandung dari pihak nyokap. Dia emang manja dari kecil karena dia anak tunggal Om Ryan. Gue nggak ada rasa apa-apa sama dia, selain ngerasa dia itu adek yang berisik."

"Tapi dia kangen sama kamu. Dia rangkul lengan kamu. Kamu juga diem aja tadi malem," ucap Ayra, suaranya mulai mengecil, hilang sudah nada sindiran mautnya.

"Gue kaget, Ay. Gue nggak enak mau lepasin kasar karena ada Om Ryan di situ. Tapi demi Tuhan, di otak gue tadi malem cuma mikir gimana caranya jelasin ke lo biar lo nggak salah paham," Alano menangkup wajah Ayra dengan kedua tangannya. "Lo liat mata gue. Ada nggak tampang gue pengen jalan sama Siska?"

Ayra menatap mata cokelat Alano. Yang ia lihat hanyalah pantulan dirinya sendiri dan binar kejujuran yang selalu berhasil meluluhkan hatinya.

"Tapi dia cantik. Dia nggak kaku kayak aku. Dia berani panggil kamu 'Lano sini' di depan semua orang," bisik Ayra lirih.

Alano tertawa pelan, ia menyentil dahi Ayra gemas. "Justru karena lo kaku itu yang bikin gue penasaran setiap hari. Gue nggak butuh cewek yang manggil gue 'Lano sini', gue butuhnya cewek yang berani hukum gue push-up di tengah lapangan dan tetep bawain gue minum setelahnya."

Ayra mulai merasa sedikit malu karena tingkahnya yang kekanak-kanakan tadi. "Maaf ya... aku jadi aneh tadi."

"Nggak apa-apa. Gue malah seneng. Itu artinya lo beneran sayang sama gue," Alano nyengir lebar. "Nah, sekarang daripada lo dengerin suara Siska lagi, mending kita pergi. Gue yang traktir bubur ayam, tapi bukan sama dia. Cuma kita berdua."

"Terus Siska gimana?" tanya Ayra, melirik ke arah rumah sebelah di mana Siska tampak masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut.

"Biarin aja, ntar gue beliin martabak malemnya buat sogokan. Yang penting sekarang prioritas gue itu 'Ayang' gue yang satu ini," Alano berdiri dan mengulurkan tangannya.

Ayra tersenyum, kali ini senyum tulus yang membuat wajahnya jauh lebih cantik dari Siska mana pun. Ia menyambut tangan Alano. "Bentar, aku mau ganti baju dulu. Masa pake baju rumahan gini."

"Gini aja udah cantik, Ay. Tapi ya udah, cepetan ya. Lima menit telat, gue panggil pake suara Siska nih!" ancam Alano jahil.

"Lano siniiii!" Ayra menirukan suara itu sekali lagi, tapi kali ini sambil tertawa lepas dan berlari masuk ke dalam rumah.

Alano berdiri di taman, menatap punggung Ayra yang menghilang di balik pintu. Ia tahu, perjalanan cintanya dengan Ayra memang penuh rintangan—dari status sepupu sampai kehadiran pihak ketiga—tapi selama Ayra masih bisa cemburu dan menirukan suara saingannya, Alano tahu bahwa hati gadis itu sudah terkunci rapat untuknya.

Malam nanti, Alano bertekad untuk menghapus semua postingan di "Fans Ayrania" yang mungkin membuat Ayra tidak nyaman, dan menggantinya dengan satu foto baru: tangan mereka yang saling bertautan di bawah pohon mangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!