Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9Rahasia di Balik Tas Pink
Seharian itu, pesan misterius tersebut terus membayangi pikiran Hannan. Ia mencoba mengabaikannya, namun rasa penasaran mulai muncul. Sore harinya, saat Amara sedang mandi, Hannan tanpa sengaja melihat tas merah muda milik Amara—tas yang dibawanya saat mereka bertabrakan dulu—terbuka sedikit.
Ada sebuah amplop cokelat tua yang mencuat keluar. Hannan ragu, ia tidak ingin menjadi suami yang lancang. Namun, kalimat "rahasia besar" di pesan tadi terus terngiang.
Baru saja Hannan menyentuh amplop itu, Amara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit kepalanya. Ia terkesiap melihat Hannan memegang tasnya.
"Mas? Sedang apa?" tanya Amara dengan nada yang sedikit bergetar, wajahnya berubah pucat.
"Maaf, Amara. Tadi tasmu terbuka, dan aku melihat ini," Hannan menunjukkan amplop cokelat itu. "Aku mendapat pesan ancaman tadi pagi yang bilang kalau kamu punya rahasia besar. Apa... apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?"
Amara terdiam. Ia merampas amplop itu dengan cepat dan memeluknya erat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ini... ini alasan kenapa Papa ingin menjualku, Mas. Bukan hanya karena hutang judi," bisik Amara.
"Lalu karena apa?" tanya Hannan lembut.
"Karena aku memegang bukti korupsi perusahaan besar yang melibatkan Papa dan orang-orang penting di Indonesia. Rekaman yang kuberikan pada polisi kemarin hanya sebagian kecil. Di dalam amplop ini... ada bukti yang bisa menjatuhkan banyak orang kuat. Itulah kenapa Ryan dan Papa tidak akan pernah berhenti mengejarku, meski kita sudah di Amerika."
Hannan tertegun. Ternyata masalah yang dihadapi istrinya jauh lebih besar dari sekadar urusan keluarga. Ini melibatkan nyawa dan konspirasi besar.
"Mas... kalau Mas takut dan ingin membatalkan pernikahan ini, aku mengerti," ucap Amara sambil terisak.
Hannan melangkah maju, kali ini ia memberanikan diri menggenggam bahu Amara dengan mantap. "Amara, saat aku mengucapkan akad, aku tidak hanya menerima cintamu, tapi juga bebanmu. Kita hadapi ini bersama. Allah tidak akan membiarkan kebenaran kalah."
***
malam pertama yang berbeda
Amara terisak, pundaknya naik turun karena tangis yang pecah. Ia tidak menyangka bahwa Hannan, seorang pria yang hidupnya begitu tenang dan lurus, bersedia masuk ke dalam badai yang begitu mengerikan demi dirinya.
Tanpa sadar, karena rasa haru yang meluap, Amara menubrukkan tubuhnya ke pelukan Hannan. Ia memeluk suaminya dengan erat, seolah-olah Hannan adalah satu-satunya tiang kokoh yang bisa membuatnya tetap berdiri di dunia yang kejam ini.
"Terima kasih, Mas... hiks... Terima kasih karena tidak meninggalkanku," isak Amara di dada Hannan.
Hannan sempat mematung. Ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan sedekat itu sejak sah menjadi suami istri. Detak jantung Hannan berdegup kencang, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap punggung Amara dengan lembut, berusaha menyalurkan ketenangan.
"Sstt... Sudah, jangan menangis lagi," bisik Hannan tepat di telinga Amara. "Seorang istri tidak boleh menanggung beban seberat ini sendirian. Sekarang, bebanmu adalah bebanku juga."
Hannan melepaskan pelukan itu sedikit, lalu menatap mata Amara yang sembap. Ia menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jarinya.
"Amara, dengarkan aku. Kita tidak akan lari lagi. Besok, kita akan membawa amplop ini ke pengacara yang aku kenal di Los Angeles. Kita butuh perlindungan hukum yang resmi, bukan hanya dari polisi, tapi dari kedutaan."
Amara mengangguk, merasa jauh lebih tenang. "Aku percaya padamu, Mas."