NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: tamat
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika / Tamat
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Yang Tertunda

Lantai eksekutif masih diselimuti keheningan yang kaku saat jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca besar seolah enggan menghangatkan ruangan yang didominasi warna monokrom itu. Di depan pintu jati besar ruang kerja CEO, Vino berdiri dengan kedua tangan terkubur di saku celananya. Wajahnya yang biasanya ramah dan penuh senyum kini tampak keras, dengan guratan kelelahan dan rasa penasaran yang sudah mencapai puncaknya.

Suara langkah kaki yang ritmis dan mantap mulai menggema dari ujung lorong. Arash berjalan dengan dagu terangkat, membawa aura otoritas yang membuat udara di sekitarnya seolah membeku. Di belakangnya, Raisa berjalan dengan langkah yang kini jauh lebih stabil, meski ia masih tampak sedikit canggung mengenakan sepatu hak tingginya kembali.

Langkah Arash terhenti tepat tiga langkah di depan Vino. Ia tidak tampak terkejut, namun sorot matanya yang dingin menunjukkan ketidaksukaan yang nyata.

"Kau punya waktu luang yang banyak rupanya, Vino. Sampai harus menunggu di depan pintuku bahkan sebelum jam kantor dimulai," suara Arash datar, namun tajam seperti sembilu.

Vino tidak mundur. Ia justru menegakkan punggungnya, menatap langsung ke mata Arash—sesuatu yang jarang berani dilakukan oleh karyawan lain. "Saya hanya butuh jawaban singkat, Pak. Sebuah jawaban yang tertunda sejak Raisa jatuh sakit."

Raisa, yang berdiri sedikit di belakang Arash, merasa jantungnya berdegup kencang. Ia melirik Vino, lalu melirik punggung tegap Arash. "Vino, ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah begini?"

Vino mengalihkan pandangannya ke arah Raisa sebentar, sorot matanya melembut namun tetap penuh selidik. "Aku mengkhawatirkanmu, Raisa. Tapi saat aku meneleponmu waktu itu, bukan suaramu yang kudengar. Melainkan suara pria yang sangat aku kenal suaranya ... pria yang sekarang berdiri di depanmu."

Arash mengabaikan ketegangan itu dengan gerakan elegan. Ia mengeluarkan kunci kartu, membuka pintu ruangannya, dan melangkah masuk tanpa mempersilakan. "Masuklah. Aku tidak suka berdebat di lorong seperti orang rendahan."

Vino dan Raisa mengikuti masuk. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang dalam, seolah mengunci mereka dalam sebuah arena interogasi. Arash meletakkan tas kantornya di meja, lalu duduk di kursi kebesarannya, menyilangkan kaki dengan tenang.

"Jadi," Arash membuka suara sembari menautkan jemarinya di atas meja. "Kau ingin bertanya kenapa aku memegang ponsel asistenku?"

"Tepat," sahut Vino ketus. "Saat itu malam hari. Raisa seharusnya sedang beristirahat karena sakit. Tapi saat aku menelepon untuk memastikan keadaannya, Bapak yang mengangkatnya. Dengan nada yang sangat ... posesif. Apa yang Bapak lakukan dengan ponsel asisten pribadi Bapak di luar jam kerja?"

Raisa merasa lidahnya kelu. Ia ingin menjelaskan bahwa saat itu ia sedang pingsan dan Arash menolongnya, namun ia teringat peringatan Arash di apartemen: lupakan soal semalam, kita adalah orang asing di kantor.

Arash sedikit memiringkan kepalanya. Ia tidak tampak gugup. Sebaliknya, ia justru terlihat sedang menikmati permainan ini. "Vino, kau adalah kepala departemen pemasaran yang cerdas. Tapi sepertinya kau terlalu banyak menonton drama picisan."

"Saya hanya menggunakan logika," balas Vino, suaranya naik satu oktav. "Seorang CEO tidak akan mengangkat telepon pribadi bawahannya kecuali ada hubungan yang sangat mendalam atau ... mereka sedang berada di tempat yang sama."

"Dia sakit karena kelelahan mengerjakan proyek merger yang ditangani, Vino," Arash memotong dengan suara yang tiba-tiba menggelegar, memenuhi ruangan. Ia berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah meja. "Sore itu, Raisa pingsan di ruang rapat. Aku membawanya ke rumah sakit. Lalu aku mengirimkan tim medis untuk mengantarkan Raisa ke alamatnya. Saat itu, ponselnya tertinggal di nakas rumah sakit karena ia terburu-buru pulang dalam kondisi lemah. Aku yang mengambilnya dari meja nakas rumah sakit untuk memastikan tidak ada data perusahaan yang bocor."

Raisa terpaku mendengar kebohongan Arash yang begitu lancar dan sistematis. Arash bahkan tidak berkedip. Ia menatap Vino dengan tatapan merendahkan, seolah Vino adalah anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan fatal.

"Jadi ... Bapak memegang ponselnya karena alasan keamanan data?" tanya Vino ragu. "Tapi suara Bapak saat itu ... Bapak bilang 'jangan ganggu dia lagi'. Itu tidak terdengar seperti bicara soal data."

Arash tertawa kecil, tawa yang dingin dan menusuk. "Aku bicara padamu karena kau mengganggu waktu istirahat stafku yang sedang aku pantau pemulihannya. Aku butuh dia segera sembuh agar pekerjaan di kantor tidak terbengkalai. Jika kau terus meneleponnya dengan hal-hal tidak penting, pemulihannya akan lambat. Dan itu merugikan perusahaanku."

Arash beralih menatap Raisa. "Benar begitu, Raisa? Bukankah ponselmu masih aman di tas saat rapat itu?"

Raisa menelan ludah. Ia merasakan tekanan yang luar biasa dari dua arah. Di satu sisi, ada Vino yang terlihat menyukainya dengan tulus dan penuh kecurigaan. Di sisi lain, ada Arash—suaminya yang sah, yang kini sedang memainkan peran bos yang tak berperasaan.

"I-iya, Vino," jawab Raisa lirih, menghindari kontak mata. "Ponselku tertinggal. Arash ... maksudku, Pak Arash menemukannya dan menyimpannya demi keamanan berkas proyek kita."

Vino terdiam lama. Matanya beralih antara Raisa yang tampak tertekan dan Arash yang tampak sangat berkuasa. Ada sesuatu yang tidak sinkron, sebuah intuisi di dalam dada Vino yang meneriakkan bahwa ada yang salah.

"Hanya itu?" tanya Vino akhirnya.

"Hanya itu," tegas Arash. "Sekarang, kembalilah ke mejamu. Dan jangan biarkan aku melihatmu berkeliaran di lantai ini tanpa keperluan bisnis lagi. Raisa adalah asisten pribadiku, keselamatannya dan kinerjanya adalah tanggung jawab mutlakku demi kelancaran operasional. Kau tidak punya hak untuk ikut campur."

Vino mengangguk pelan, meski rahangnya masih mengeras. "Baik, Pak. Saya minta maaf jika kelancangan saya mengganggu. Tapi satu hal, Pak ... saya melakukan ini karena saya peduli pada Raisa. Sesuatu yang mungkin Bapak tidak pahami karena bagi Bapak, orang hanyalah aset."

Vino berbalik untuk keluar. Namun, saat ia melewati meja kecil di dekat sofa tamu tempat Raisa meletakkan tas darurat, mata Vino menangkap sesuatu yang berkilau di celah tas yang terbuka sedikit.

Vino sengaja memperlambat langkahnya. Dengan gerakan yang sangat cepat dan halus seolah-olah sedang merapikan letak tas yang nyaris jatuh, ia melihat benda itu.

Sebuah jam tangan pria. Merk Patek Philippe edisi terbatas.

Vino tahu persis siapa pemilik jam tangan itu. Ia pernah melihat Arash memakainya saat penandatanganan kontrak besar bulan lalu. Jam tangan itu tidak mungkin ada di dalam tas pribadi Raisa kecuali ....

Vino tidak mengambilnya. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang penuh dengan ancaman tersembunyi. Ia terus berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Di dalam ruangan, Arash mengembuskan napas panjang dan kembali duduk. "Singkirkan tas itu dari pandanganku, Raisa. Kau ceroboh."

"Maaf, Arash. Aku terburu-buru tadi pagi," bisik Raisa sembari meraih tasnya. Ia tidak menyadari apa yang dilihat Vino.

"Berhentilah bersikap lunak pada pria itu. Dia akan menghancurkan karirmu jika dia tahu yang sebenarnya," ucap Arash sembari kembali membuka dokumennya, kembali ke mode mesin.

Raisa hanya terdiam, memeluk tasnya erat-erat. Ia merasa bahwa meskipun kebohongan Arash sangat rapi, benang-benang rahasia mereka mulai terurai satu per satu.

Satu jam kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Raisa dari nomor Vino.

"Kebohongan Pak Arash sangat hebat, Raisa. Tapi dia lupa kalau barang mewah selalu meninggalkan jejak. Aku menemukan 'sesuatu' milik bos kita di tasmu. Pulang kantor nanti, kita harus bicara jujur. Atau aku yang akan bertanya langsung pada dewan direksi tentang apa yang sebenarnya terjadi di apartemennya."

Tangan Raisa gemetar hebat hingga ponselnya nyaris jatuh ke lantai marmer yang dingin. Di depannya, Arash sedang sibuk menelepon klien besar, sama sekali tidak menyadari bahwa bom waktu yang mereka tanam baru saja mulai berdetak.

Apakah Raisa akan memberitahu Arash tentang pesan ancaman Vino, atau ia akan mencoba menyelesaikan masalah ini sendirian demi melindungi pernikahan rahasia mereka?

1
Marini Suhendar
Bagus Ceritanya Thor...Semangat Berkarya💪
EsKobok: terima kasih banyak atas supportnya 😊🤩🙏
total 1 replies
Marini Suhendar
Huuh...Good Job Arash
Marini Suhendar
mampooos pàk tua & ulat bulu
Zakia Ulfa
hadehhh selain Selin ,Mr Tan orang paling jahat di crita ini
Zakia Ulfa
naaaahhhh kaaaannnnn😄😄😄
Zakia Ulfa
dan ahirnya arash sadar dan Raisa pergi dalam keadaan hamidun.surat Raisa tidak di baca arash karna ketahuan Selin.selin akan memanipulasi seolah olah Raisa berkhianat..eaaaaaa🤭
Idha Rahman: hahahaha sepertinya crita nya akan seperti itu sista sudah biasa jalan cerita dalam novel seperti itu jalan ceritanya
total 1 replies
Zakia Ulfa
di bab bab awal padahal sudah di jelaskan bahwa arash hanya peduli pada Raisa,tak lagi peduli pada perusahaan.daan jika perusahaan bangkit bukankah yg menang kakek peot itu
Zakia Ulfa
knapa tiap nge like slalu eror ya,padahal critanya bagus lo.sepi pulang yg komentar.semangat thooorrrr
EsKobok: terima kasih 🙇🙏
total 2 replies
Zakia Ulfa
knapa kakek arash semengeerikan itu
Marini Suhendar
Raisa....kenapa kmu percya k selin sih
Zakia Ulfa
oh Raisa malang sekali nasipmu,kuatlah raisa.jangan biarkan monster itu menang,kau harus kuat kuat kuat
Zakia Ulfa
plissss Raisa aku menangisi mu yg di perlakukan tidak manusiawi oleh suamimu.jadiiiiii jangan mudah luluh plisss..biar air mataku tak sia sia🤭
Zakia Ulfa
plissss Raisa jangan mudah goyah oke,,orang seperti arash ini musti di kasih kejut jantung
Zakia Ulfa
Halah arassss,,,gegayaan banget sok jual mahal,padahal mlehoy
Zakia Ulfa
awal bab tiap katanya mudah di pahami,, kayaknya seruuuu💪💪💪
Marini Suhendar
Raisa..bisa gila lama" dlm tekanan begini
Marini Suhendar
lanjut thor💪
falea sezi
raisa kebanyakan drama
Morince Moren
terbaik cerita ini
Marini Suhendar
Thor..jangan terlalu lama Raisa d sakiti/Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!