NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bimbang

Dreven selain muda dan berkuasa, koneksinya juga berasal dari mana-mana. Berkat dari kecil dia sudah dikenal publik, mendapatkan rumah sakit terbaik dan pelayanan utama dalam waktu singkat, itu termasuk privilege berkat dua marga yang melekat di dalam dirinya.

Ketika mobil Dreven berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit, para tenaga medis sudah berkumpul, mereka bersiap untuk bergerak, mengambil tandu dan membawa Shahinaz ke dalam dengan langkah cepat. Dreven juga mengikuti mereka, tidak peduli dengan peraturan atau apapun, dia hanya ingin tetap dekat dengan Shahinaz.

"Obati dengan cepat! Pastikan gadis saya tidak kenapa-napa!" perintah Dreven dengan wajah datar. Meskipun dia dilanda panik dan ketakutan, ekspresinya tetap tenang. Dreven tau dia tidak bisa mempercepat proses medis, tetapi menunggu dalam ketidakpastian sangat menyiksa.

Shahinaz dibawa ke unit gawat darurat, dan Dreven tetap mengikutinya dengan setia. Tidak peduli wajah-wajah yang mengenalnya langsung memancarkan rasa hormat dan kewaspadaan kepadanya. Mereka tau siapa Dreven dan pengaruh besar yang dibawanya, sehingga mereka tidak ingin melakukan kesalahan sedikit pun di hadapan laki-laki itu.

Seorang dokter berpengalaman mendekat, dia bisa merasakan tekanan yang dipancarkan oleh Dreven saat ini. "Tuan Muda Dreven, kami akan melakukan yang terbaik. Kami perlu melakukan serangkaian tes untuk memastikan sejauh mana luka Nona Shahinaz. Namun, Anda perlu memberi kami waktu untuk bekerja. Apalagi, pendarahan dari kepala Nona Shahinaz cukup signifikan. Kami harus bertindak cepat."

Dreven mendengar kata-kata dokter itu dengan penuh perhatian, meski hatinya dilanda kegelisahan, ekspresinya tetap tak ada yang berubah. Tapi dia tau bahwa dia tidak bisa mempercepat proses medis, meski menunggu dalam ketidakpastian adalah hal yang paling menyiksa bagi dirinya.

"Saya tidak peduli seberapa lama, asalkan kalian bisa menyelamatkan gadis saya. Jangan buat saya menyesal telah membawa Shahinaz ke sini." balas Dreven dengan nada yang tegas, meski hatinya penuh dengan kecemasan.

Dokter itu mengangguk hormat dan segera bergerak menuju ruangan di mana tim medis sudah siap menangani Shahinaz. Sebelum dokter tersebut pergi, Dreven menarik napas dalam-dalam dan berbicara dengan nada yang sedikit lebih lembut, "Tolong, selamatkan dia. Dia berarti untuk saya."

Ketika pintu ruang gawat darurat tertutup, Dreven merasakan beban berat menghimpit dadanya. Dia berdiri di luar ruangan, tanpa bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Kaendra dan Arsenio yang tiba sesaat kemudian, melihat sahabat mereka dengan cemas. Mereka tau betapa pentingnya Shahinaz bagi Dreven, dan bagaimana situasi ini bisa menjadi titik balik dalam hidupnya.

Karena mereka tau, seorang Dreven Veir Kingsley, meski dia punya segalanya, keluarga kecilnya sudah hancur. Hadirnya Shahinaz dalam hidup Dreven, mungkin satu-satunya penyemangat hidup Dreven untuk saat ini!

"Bro, Shahinaz pasti selamat, percaya sama omongan gue." ujar Arsenio mencoba memberi dukungan. Kaendra, yang biasanya penuh canda, kali ini hanya diam, memberikan pelukan singkat kepada Dreven untuk menunjukkan solidaritas persahabatan mereka.

"Vincent di sekolah?" tanya Dreven dan dijawab anggukan mantap oleh keduanya.

Kaendra menambahkan, "Vincent katanya mau nyari dalang dibalik cewek lo yang terluka parah katanya. Dia lagi di ruang CCTV sekarang, gue jamin nggak lama lagi pasti dia juga bakalan ngeretas data orang."

Dreven mengangguk kecil. Bahkan belum sempat Dreven memberikan perintah kepada Vincent untuk mencari dalang dibalik ini semua, sahabat yang paling dekat dengan dirinya sudah ada inisiatif untuk membantu. Dia sangat bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada untuk dirinya.

"Kalian balik ke sekolah. Bantu Vincent cari dalangnya, dan tangkap dia secara hidup-hidup." kata Dreven setelah lama terdiam.

Kaendra dan Vincent saling pandang untuk kesekian kali. Kaendra menatap Dreven dengan banyak pertimbangan, "Lo yakin mau ditinggal sendirian di sini? Gue nggak mau lo kenapa-napa disaat kita nggak ada di sisi lo."

Dreven mengangkat alis, "Maksud?"

Kaendra terkekeh kecil, dia sedang membayangkan yang tidak-tidak sebenarnya. Dia hanya takut Shahinaz tidak selamat, lalu Dreven yang merasa frustasi akhirnya mengakhiri diri sendiri. Mungkin jika Kaendra mengatakan imajinasinya kepada Dreven sekarang, justru hidupnya yang berakhir tidak lama lagi!

"Oke, kita balik ke sekolah, dan ikut mencari tau siapa yang udah berani nyakitin Shahinaz. Kalau ada apa-apa di sini, langsung hubungin kita aja. Kita pasti bakalan langsung datang buat lo, untuk ngedukung lo bagaimanapun caranya." balas Arsenio yang paham dengan maksud Dreven.

Selepas kedua sahabatnya pergi, waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik terasa seperti menit, dan setiap menit seperti jam. Bayangan-bayangan buruk terus menghantui pikiran Dreven, tetapi dia berusaha menenangkan diri dengan berpikir positif. Shahinaz adalah pejuang, dia selalu kuat dalam menghadapi apapun meskipun hidup sendirian.

Setelah waktu yang terasa seperti keabadian, pintu ruang gawat darurat terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius, ada sedikit kekhawatiran yang terpantul dari matanya.

"Bagaimana kondisinya?" Dreven langsung bertanya, suaranya terdengar lebih lemah daripada yang ia harapkan. Dalam hati, dia memohon untuk mendengar kabar baik.

Dokter tersebut menghela napas pelan sebelum menjawab. "Nona Shahinaz saat ini dalam kondisi stabil, namun lukanya cukup serius. Ada sedikit pendarahan di otaknya yang sudah kami tangani, namun kami masih perlu memantau kondisinya secara intensif selama beberapa hari ke depan. Yang terpenting sekarang, dia butuh waktu untuk pulih dan beristirahat."

Dreven merasa lega mendengar bahwa Shahinaz masih memiliki peluang untuk sembuh, tetapi kekhawatiran masih menggantung di hatinya.

"Apakah ada kemungkinan komplikasi lebih lanjut?" tanya Dreven, ingin tahu seberapa besar risiko yang masih mengancam gadisnya.

"Selalu ada kemungkinan, Tuan Muda Dreven, terutama dengan cedera kepala seperti ini. Apalagi saya menemukan beberapa informasi dari Dokter Psikiatri di sini, dalam riwayat pengecekannya, Nona Shahinaz mengalami gangguan memori yang cukup riskan akibat trauma yang dimilikinya. Saya sedikit takut, jika nantinya ada efek lain dari cedera ini, dan gangguan memori dari Nona Shahinaz semakin berantakan."

Dreven mengatupkan rahangnya mendengar penjelasan dokter. Dia baru tau jika Shahinaz memiliki riwayat rawat jalan dengan Dokter Psikiatri di sini. Mungkin informasi dari Vincent waktu itu sepertinya belum lengkap seratus persen, banyak yang belum dia ketahui soal gadisnya itu.

Dan kekhawatiran yang menggantung di hatinya semakin dalam, tetapi dia tahu bahwa ini bukan saatnya untuk panik atau menyalahkan dirinya yang datang terlambat. Dia harus tetap tenang demi Shahinaz!

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan, untuk memastikan kondisi gadis saya stabil sepenuhnya?" tanya Dreven, mencoba untuk tetap rasional meski emosinya berkecamuk.

Dokter tersebut berpikir sejenak sebelum menjawab, "Mungkin beberapa hari ke depan kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Kami akan terus memantau perkembangannya setiap jam. Mengenai gangguan memorinya, kita lihat progresnya setelah Nona Shahinaz bangun nanti, semoga tidak terjadi apa-apa dan berangsur-angsur membaik."

Dreven mengangguk, berusaha mencerna informasi tersebut. "Terimakasih, saya berharap banyak dari anda. Tolong beritahu saya, mengenai perkembangan gadis saya sekecil apapun itu."

"Pastinya, Tuan Muda Dreven. Saya undur diri untuk memeriksa pasien lain dulu." jawab dokter tersebut sebelum beranjak pergi untuk melanjutkan tugasnya.

Setelah dokter pergi, Dreven mendekati tempat tidur Shahinaz dan melihatnya dengan perasaan campur aduk. Gadis itu tampak begitu rapuh, berbeda dari citra kuat yang biasanya ia tampilkan. Dreven duduk di sampingnya, menggenggam tangan Shahinaz yang dingin selembut mungkin.

"Aku di sini, Shahinaz. Aku akan selalu di sini, tidak peduli apa yang akan terjadi ke depannya. Kamu adalah satu-satunya alasan aku masih bisa berdiri tegak. Jadi, kumohon, lawanlah semua ini. Pulihlah dan kembali padaku."

Shahinaz tetap diam, tenggelam dalam ketidaksadaran yang damai. Dreven hanya bisa menunggu dan berharap, meski hatinya terasa seperti diremas-remas saat ini. Dia tau, untuk menjaga Shahinaz tetap aman, dia harus kuat. Sebentar lagi Selana pasti akan siuman dan tersenyum kepadanya bukan?

Lalu di tempat lain, Vincent, Kaendra, dan Arsenio sedang bekerja keras menyusun potongan-potongan teka-teki yang mereka temukan. Vincent yang fokus pada layar komputernya, akhirnya menemukan sesuatu yang penting.

"Gue nemu data lengkapnya!" seru Vincent tiba-tiba, membuat Kaendra dan Arsenio yang sedang berdiskusi langsung menghampirinya tanda ingin tahu.

"Apa yang lo dapetin?" tanya Kaendra dengan penuh antusias.

Vincent menunjukkan sebuah video yang telah ia edit, memperbesar bagian tertentu yang menampilkan sosok gadis yang benar-benar ia curigai sekarang. "Lo inget sama pertikaian lo dan Shahinaz karena geng tukang tindas itu?"

Kaendra menerawang jauh, jelas saja dia masih mengingatnya. Karena sekali dalam sepanjang sejarah, dia akhirnya kalah debat karena Shahinaz yang cukup cerdas dalam membalikkan keadaan. Mereka berdebat, karena Shahinaz terciduk berangkat dengan salah satu anak dari geng pem-bully itu.

"Meski nggak ada CCTV di rooftop langsung karena jarang ada yang ke sana. Pantauan CCTV terdekat dari tempat kejadian, ada dua orang yang datang bersamaan, persis setelah Shahinaz dateng ke rooftop. Tapi kita belum bisa mastiin siapa tersangkanya, karena kita nggak bisa nuduh tanpa bukti bukan?" kata Vincent menjelaskan.

Arsenio menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "Kalau ada dua, terus satunya siapa? Kita perlu konfirmasi apakah mereka terlibat atau cuma kebetulan aja ada di sana."

"Yang satunya ketos sekolah ini, tapi dia pergi setelah beberapa menit kemudian tanpa ada yang mencurgikan. Dan dia pergi sendiri, nggak bareng sama cewek penindas itu lagi." jelas Vincent lagi.

"Berarti yang lebih mendekati sebagai pelaku, si cewek penindas itu? Lo udah dapet datanya?" tanya Kaendra penasaran.

Vincent menganggukkan kepalanya. Meski identitas cewek penindas itu bukan cewek sembarangan, Vincent tentu saja bisa mendapatkan data cewek itu dalam satu kali pencarian. Karena itu, Vincent selalu diandalkan Dreven disaat Dreven membutuhkannya.

"Auretheil Verya Roswyn, dia sudah bersahabat lama dengan Shahinaz semenjak sekolah dasar. Posisi Auretheilini dulunya cukup prihatin, dia cewek yang ditindas oleh banyak murid di sekolah, karena postur tubuhnya yang gendut dan cara bicaranya yang gagap." jelas Vincent sambil memperlihatkan pesan yang dia dapat dari seseorang, untuk mengetahui lebih lanjut soal Leena dalam kehidupan sehari-hari.

Arsenio mengangguk menyimpulkan, "Jadi posisi Shahinaz di sini, dia ngebantu Auretheildari perundungan dan menjalin pertemanan dengan Auretheiltanpa pandang fisik? Keren juga, Dreven beruntung ngedapetin cewek sebaik dan serendah hati Shahinaz."

Sedangkan Vincent mengangguk singkat, "Harusnya gitu, tapi ada yang aneh dengan masa SMP mereka. Tiba-tiba Shahinaz dikucilkan, dan si Auretheil ini mendadak menjadi primadona sekolah menggantikan Shahinaz. Apalagi tranformasi dari gemuk ke kurus cewek itu nggak main-main perubahannya, pasti ada sebab-akibat yang terlewati bukan?"

Kaendra menatap layar dengan serius, mengangguk menyetujui, "Auretheil tampaknya kunci dari kasus ini. Sebab-akibatnya perlu di selidiki, kita perlu menyelidiki lebih dalam tentang motivasi sebenarnya setelah akibat itu diketahui."

"Kita juga perlu tau apakah ada yang mendukung perubahan drastis Auretheil, selain dari fakta bahwa dia menjadi korban perundungan. Bisa jadi ada pihak ketiga yang terlibat atau bahkan ada pengaruh eksternal yang membuat Auretheil beralih." kata Arsenio menambahkah, wajahnya benar-benar serius memecahkan masalah ini.

"Betul, kita juga harus mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang orang-orang yang ada di sekitar Auretheil. Jika dia ada yang mendukung atau mungkin ada pihak yang memanipulasi situasi, itu bisa memberi kita petunjuk lebih lanjut." lanjut Vincent lagi.

Kaendra memeriksa jam tangannya dan berkata, "Tapi biar nggak terlalu pusing, mending nunggu Shahinaz sadar aja kali ya. Kita nggak punya cukup bukti buat nangkap si Auretheil. Kita nunggu keterangan jujur dari Shahinaz dulu, baru kita bertindak lanjut setelah itu."

Vincent mematikan laptopnya, mau bagaimanapun bukti tidak seratus persen mereka dapatkan. Dia cukup menyayangkan rooftop yang tidak diberi akses CCTV oleh pihak sekolah, tidak ada saksi yang bisa dia tanyai termasuk Ketua OSIS sok kegantengan itu. Jadi dia tidak bisa membantu untuk kejadian ini, mungkin benar kata Kaendra, lebih baik menunggu Shahinaz siuman dulu dari pingsannya.

"Shahinaz itu, seperti apa?" tanya Vincent yang sebenarnya sudah cukup penasaran dengan gadis yang berhasil merebut hati Dreven.

"Vincent balik lagi ke setelan awal rupanya. Jujur gue lebih suka sama lo yang lagi banyak omong kayak tadi, lebih bernyawa aja gitu gue lihatnya." balas Arsenio sedikit terkekeh, "Gimana menurut lo Dra, soal cewek yang berhasil ngedapetin hati si Dreven itu?"

"Bagi gue, dia cewek kuat sih. Orang tuanya udah meninggal, dia hidup dengan penuh kerja keras dan kemandirian," jawab Kaendra sambil menerawang jauh, "Dia nggak mau ngebebanin siapapun, bahkan Dreven ngasih blackcard aja ditolak mentah-mentah sama tuh cewek. Setelah dipikir-pikir, disaat cewek lain pada ngejar-ngejar kita, dia kayaknya sama sekali nggak tertarik dan memilih ngehindar dari jangkauan kita. Dia bahkan nggak ingin dikenal oleh siapapun, bukannya itu terlalu aneh ya?"

Arsenio mengetuk-ketuk jarinya dibawah dagu, "Apa akibat nggak ingin dikenal siapapun ini, ada sangkut pautnya sama dia yang tiba-tiba dikucilkan oleh semua orang? Makanya dia trauma dan nggak mau dekat sama siapapun lagi termasuk Dreven sendiri?"

Semuanya langsung terdiam. Arsenio memang pakarnya menyangkut pautkan permasalahan dengan logika. Dia terkadang bisa jenius disaat waktu yang tepat. Apa mereka akan melanjutkan penyelidikan, atau pergi menyusul Dreven dan menunggu gadis itu terbangun dari pingsannya.

Entahlah, mereka bimbang di tengah jalan sekarang!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!