NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: ADRIAN MELINDUNGI IBUNYA

#

Kami sampai di rumah sakit tempat ibu Adrian dirawat pukul empat pagi.

Masih gelap. Langit belum terang. Jalanan sepi.

Adrian turun dari taksi paling duluan. Dia lari masuk ke gedung rumah sakit. Kami semua ikut lari di belakangnya.

Lantai tiga. Ruang 305.

Napas Adrian ngos-ngosan. Mukanya pucat. Keringat dingin di dahi.

Sampai di depan pintu, Adrian langsung buka.

CKLEK.

Di dalam, ibu Adrian lagi tidur di kasur. Napasnya pelan. Damai.

Adrian berhenti di ambang pintu. Dia liat ibunya lama.

Masih aman. Masih hidup. Masih tidur nyenyak.

Adrian jatuh berlutut. Tangannya gemetar. Napasnya tersengal.

"Alhamdulillah... alhamdulillah..."

Bisiknya sambil nangis.

Aku pegang pundak Adrian. "Dri... ibumu aman. Gak papa."

Tapi Adrian geleng. Dia berdiri. Dia liat koridor.

"Sat... liat. Di ujung koridor. Dua orang itu."

Aku liat ke arah yang Adrian tunjuk.

Di ujung koridor, ada dua orang cowok. Pake jaket hitam. Topi hitam. Mondar-mandir. Kayak lagi nunggu sesuatu.

Mereka gak keliatan kayak pengunjung biasa. Gak ada yang sakit. Gak bawa bunga. Gak bawa apa-apa.

Cuma mondar-mandir sambil sesekali liat ke arah ruang 305.

Jantungku berdetak cepat.

"Mereka... mereka orang-orang yang ancam lu..."

Adrian ngepal tangan. "Gue gak akan biarkan mereka ganggu nyokap gue. Gue harus lapor."

Adrian lari ke pos satpam di lantai satu. Kami ikut.

Di pos satpam, ada dua satpam lagi duduk sambil ngobrol.

"PAK! ADA DUA ORANG MENCURIGAKAN DI LANTAI TIGA! MEREKA MONDAR-MANDIR DI DEPAN RUANG RAWAT IBU SAYA! TOLONG CEK!"

Satpam langsung berdiri. "Baik. Kami ke sana sekarang."

Dua satpam itu langsung lari ke tangga. Kami ikut.

Tapi waktu sampai di lantai tiga...

Kosong.

Dua orang itu udah gak ada. Hilang.

Satpam liat sekeliling. "Dimana orangnya?"

Adrian liat ke kanan kiri. "Tadi di sini! Mereka... mereka pasti kabur!"

Satpam satu jalan ke tangga darurat. Dia buka pintunya. "Mereka kabur lewat sini kayaknya. Pintunya masih hangat."

Satpam dua liat kami. "Nak, kalian kenal orang-orang itu?"

Adrian geleng. "Gak kenal. Tapi mereka... mereka ancam keluarga saya. Saya dapet pesan ancaman di hape. Mereka bilang bakal ganggu ibu saya."

Satpam ngangguk. "Baik. Kami akan tingkatkan pengawasan di lantai ini. Dan kami akan lapor ke polisi. Kalian bisa buat laporan juga di kantor polisi terdekat."

Adrian ngangguk. "Terima kasih, Pak."

***

Kami balik ke ruang 305.

Ibu Adrian udah bangun. Dia duduk di kasur sambil bingung.

"Dri? Kenapa kamu dateng pagi-pagi? Jam berapa ini?"

Adrian langsung peluk ibunya. Erat banget. Kayak gak mau lepas.

"Nyokap... nyokap gak papa kan? Gak ada yang ganggu nyokap?"

Ibu Adrian belai rambut Adrian. "Gak ada, Nak. Kenapa emangnya? Kamu kenapa nangis?"

Adrian nangis di pelukan ibunya. "Gue... gue cuma kangen nyokap. Gue cuma... gue cuma pengen pastiin nyokap baik-baik aja."

Ibu Adrian senyum. Meskipun dia bingung, dia tetep peluk anaknya.

Aku liat dari pintu. Vanya di sebelah aku juga nangis.

"Sat... kita... kita udah bikin keluarga mereka jadi sasaran. Gara-gara kita..."

Aku pegang tangan Vanya. "Bukan gara-gara kita. Ini gara-gara mereka yang jahat. Yang korupsi. Kita... kita cuma berjuang buat kebenaran."

Arjuna di belakang kami bisik. "Tapi Sat... keluarga kita dalam bahaya. Ayah ibumu. Ibu Adrian. Keluarga Vanya. Keluarga Nares. Bahkan keluarga gue. Kita... kita harus lindungin mereka."

Aku ngangguk. "Kita akan lindungin. Kita gak akan biarkan mereka ganggu keluarga kita."

***

Jam enam pagi, kami semua duduk di taman rumah sakit.

Taman kecil di belakang gedung. Ada bangku-bangku kayu. Ada pohon-pohon. Udara pagi dingin.

Adrian masih gemetar. Mukanya pucat. Tangannya gak bisa diem.

"Gue... gue gak nyangka mereka sejahat ini. Mereka... mereka bahkan gak segan ancam keluarga kita. Ancam nyokap gue yang lagi sakit..."

Vanya pegang tangan Adrian. "Dri... nyokap lu aman sekarang. Satpam udah jaga ketat. Gak akan ada yang bisa ganggu dia."

Adrian geleng. "Tapi Van... selama kita lanjutin ini... selama kita gak berhenti... nyokap gue akan terus dalam bahaya. Keluarga kita semua dalam bahaya."

Nareswari yang duduk di sebelahnya bisik. Suaranya masih lemah. "Terus kita harus gimana, Dri? Kita berhenti? Kita nyerah?"

Adrian diem. Dia liat tanah.

Aku berdiri. Aku liat mereka semua.

"Kita gak akan berhenti. Kita gak akan nyerah. Tapi... tapi kita harus lebih hati-hati. Kita harus lindungin keluarga kita. Kita... kita harus jaga satu sama lain."

Arjuna berdiri juga. Dia liat kami semua. "Sat bener. Kita udah kayak keluarga sekarang. Kita gak cuma temen. Kita saudara. Saudara yang terluka bareng. Yang berjuang bareng. Dan kita... kita harus jaga satu sama lain sampai akhir."

Vanya berdiri. Nareswari juga. Adrian juga.

Kami berlima berdiri melingkar.

Arjuna ulurin tangan ke tengah. "Kita jaga satu sama lain sampai akhir. Setuju?"

Aku taro tangan aku di atas tangan Arjuna. "Setuju."

Vanya taro tangannya. "Setuju."

Nareswari taro tangan kirinya yang gak digips. "Setuju."

Adrian taro tangannya. Meskipun masih gemetar. "Setuju."

Kami berlima berdiri di taman rumah sakit.

Lelah. Luka. Takut.

Tapi tetep bersama.

Tetep kuat.

Karena kami tau... sendirian kami lemah. Tapi bareng-bareng... kami gak bisa dikalahkan.

***

Siang itu, kami jaga ibu Adrian bergantian.

Aku sama Arjuna jaga jam siang sampe sore. Vanya sama Adrian jaga jam sore sampe malam. Nareswari istirahat di rumah sakit karena kondisinya masih lemah.

Kami gak ninggalin ibu Adrian sendirian. Gak sedetik pun.

Satpam juga nambah patroli. Tiap tiga puluh menit ada yang lewat ngecek.

Kami pastiin gak ada yang bisa ganggu lagi.

Jam lima sore, aku sama Arjuna duduk di kursi ruang tunggu lantai tiga. Deket banget sama ruang 305.

Arjuna liat hapenya. Dia buka berita.

"Sat... liat ini."

Dia kasih hapenya ke aku.

Di layar ada berita dari Kompas.

**KPK RESMI TETAPKAN H. BAMBANG SUTRISNO DAN JULIAN MAHENDRA SEBAGAI TERSANGKA KORUPSI DANA PENDIDIKAN**

Jantungku berhenti.

Aku baca cepat.

"Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini resmi menetapkan H. Bambang Sutrisno, Kepala Yayasan SMA Negeri 3 Jakarta, dan Julian Mahendra, Wakil Kepala Sekolah, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana beasiswa dan dana BOS. Penetapan ini berdasarkan bukti-bukti yang diserahkan oleh lima siswa berani yang membongkar kejahatan ini. KPK akan segera melakukan pemanggilan untuk pemeriksaan lebih lanjut."

Aku liat Arjuna. Mataku berkaca-kaca.

"Jun... mereka... mereka udah jadi tersangka..."

Arjuna senyum. Senyum lega. "Kita... kita berhasil, Sat. Kita beneran berhasil..."

Aku peluk Arjuna. Kami berdua nangis.

Nangis lega. Nangis seneng. Nangis karena... karena perjuangan kami gak sia-sia.

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!