Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN JASMINE
"Bagus! Ethan, bagikan jadwal latihan mereka, mulai besok, tidak ada waktu untuk tidur nyenyak! Kita punya Duke yang harus diselamatkan!" perintah Jasmine, tegas.
"Baik Yang Mulia," jawab Ethan, mengangguk kan kepala nya.
Malam itu, di bawah rembulan yang mulai menua menuju purnama merah tiga bulan mendatang, Jasmine berdiri di jendela kamarnya. Dia menyentuh lencana perak di lehernya yang terasa dingin.
"Tunggu aku, Lucas, pasukanku sudah berkumpul, anak-anakmu sudah mulai bertaring, dan istrimu sedang menyiapkan ledakan yang tidak akan pernah dilupakan dunia ini," batin Jasmine sambil menatap kegelapan utara.
Jasmine bangkit dari sana, berjalan keluar dari ruang bawah tanah.
Langkah Jasmine terasa ringan namun mantap saat ia menaiki tangga dari ruang bawah tanah.
Bau belerang dan reaksi kimia masih samar menempel di ujung jubahnya, namun pikirannya sudah tertuju pada janji yang dia buat sore, yaitu menemani Lucian dan Leo tidur.
Ceklekk
Saat Jasmine membuka pintu kamar nya suasana hangat langsung menyambutnya.
Perapian menyala kecil, memberikan pendar oranye yang lembut di ruangan itu.
"Ibu datang!" bisik Leo, yang sebenarnya sudah setengah mengantuk di pelukan kakaknya.
Lucian, yang sedang mencoba membacakan buku sejarah untuk adiknya, segera menutup buku itu, mata bulatnya menatap Jasmine dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Ibu, apa kejutan untuk para penyihir itu sudah siap?" tanya Lucian, menatap Jasmine.
"Hampir, Sayang, Ibu baru saja menunjukkan sedikit kekuatannya pada para ksatria Serigala Hitam. Mereka akan mulai berlatih besok," jawab Jasmine duduk di tepi ranjang besar mereka, menarik selimut hingga ke dada kedua putranya.
"Apakah mereka hebat, Bu? Seperti Ayah?" tanya Leo dengan suara serak khas anak kecil yang hampir terlelap.
"Mereka kuat, Leo, tapi dengan bantuan ilmu pengetahuan dari Ibu, mereka akan menjadi tak terkalahkan," jawab Jasmine sambil mengecup kening Leo.
"Sekarang, tidurlah, ibu akan di sini sampai kalian bermimpi indah," lanjut Jasmine, mengusap lembut rambut kedua Putranya.
Setelah Leo terlelap, Lucian masih terjaga, dia meraih tangan ibunya, meraba telapak tangan Jasmine yang kini terasa lebih kasar karena bekerja dengan bahan kimia.
"Ibu tidak takut?" bisik Lucian pelan.
"Kakek bilang penyihir bisa menghentikan jantung seseorang hanya dengan kata-kata," lanjut Lucian, khawatir.
Jasmine tersenyum, tatapannya berubah tajam namun penuh kasih.
"Ilmu pengetahuan adalah bahasa alam semesta, Lucian, dan sihir hanyalah cara lain untuk memanipulasi energi, jika kita mengerti rumusnya, kita bisa mematahkannya. Ibu tidak takut, karena Ibu punya alasan untuk menang, yaitu kalian dan Ayah," jawab Jasmine, tegas sambil mengusap kepala Lucian.
"Sekarang jagoan ibu harus tidur, besok kita akan memiliki hari yang panjang, Sayang," lanjut Jasmine.
Lucian mengangguk, merasa tenang dengan jawaban itu, hingga akhirnya dia pun menyusul adiknya ke alam mimpi.
Jasmine tersenyum kecil, melihat kedua putra nya sudah terlelap.
Cup
Cup
"Maaf, ibu belum bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian," gumam Jasmine, mencium kening anak-anak nya.
Setelah memastikan anak-anaknya tertidur lelap dan para ksatria Serigala Hitam mulai berlatih taktik di bawah pengawasan Ethan, Jasmine tidak langsung beristirahat.
Jasmine tahu, untuk memimpin sebuah pasukan menuju neraka, dia tidak bisa hanya mengandalkan kecerdasan otaknya.
Dia butuh kekuatan fisik dan insting yang setajam silet.
Malam itu, di aula latihan rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga inti, Jasmine berdiri berhadapan dengan Nyonya Kimberly.
Wanita paruh baya yang biasanya terlihat lembut dan anggun itu kini mengenakan pakaian latihan ringkas, rambutnya diikat tinggi, dan tatapan matanya berubah menjadi kuning keemasan yang berpendar, ciri khas darah serigala murni.
"Jasmine, kau cerdas, tapi di medan perang melawan sihir hitam, otakmu akan melambat jika tubuhmu tidak bisa mengikuti," ucap Nyonya Kimberly, suaranya kini lebih berat dan berwibawa.
"Aku tahu, Ibu, itulah sebabnya aku memintamu melatihku," jawab Jasmine, memasang kuda-kuda meski tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian ini.
Nyonya Kimberly berjalan melingkari Jasmine seperti seekor predator yang mengincar mangsa.
"Steven, suamiku, adalah seorang Alistair, manusia dengan sejarah militer paling agung di kekaisaran ini! Tapi Lucas, dan kedua cucuku, mereka memiliki sesuatu yang lebih karena darahku! Aku adalah keturunan terakhir dari klan serigala utara yang telah punah," jelas Nyonya Kimberly, tegas dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Darah serigala tidak bisa ditransfer, Jasmine, kau adalah manusia biasa. Namun, kau memiliki ikatan jiwa dengan Lucas. Itulah celahmu," lanjut Nyonya Kimberly.
Tiba-tiba, Nyonya Kimberly bergerak secepat kilat.
Wushh
Sebuah tendangan mengarah ke bahu Jasmine, jasmine refleks menghindar, namun ujung kaki Nyonya Kimberly masih sempat menyerempet lengannya.
Kecepatan Bianca Kingston, tidak sebanding dengan kecepatan manusia serigala seperti Nyonya Kimberly, karena bagimana pun mereka berbeda, tapi bukan berarti Jasmine akan menyerah, justru dia merasa tertantang dan jiwa membunuh nya yang ada di dalam tubuh nya ikut berkobar.
"Lambat! Jika aku adalah penyihir hitam itu, kepalamu sudah terpisah sekarang!" bentak Nyonya Kimberly.
Jasmine menyeringai, sebuah ekspresi yang jarang ia perlihatkan di depan ibu mertuanya.
Rasa perih di lengannya bukan memicu ketakutan, melainkan memacu adrenalin yang selama ini terpendam.
"Aku bukan mangsa, Ibu," desis Jasmine, dingin.
Jasmine merendahkan titik berat tubuhnya, memutar otak secepat ia menghitung reaksi kimia.
Nyonya Kimberly tidak memberi ruang untuk Jasmine bernapas, dia kembali menerjang lagi, gerakannya bukan sekadar kecepatan, melainkan insting murni.
Wush
Wush
Wush
Serangan demi serangan, pukulan lurus, sapuan kaki, dan hantaman siku, datang bertubi-tubi.
Jasmine dipaksa untuk terus menghindar, tubuh manusianya mulai berteriak karena kelelahan, namun matanya tetap fokus mengamati pola gerakan sang klan serigala terakhir.
Brak
Punggung Jasmine menghantam pilar kayu aula, Nyonya Kimberly sudah berada di depannya, dan tangan kanannya siap mencengkeram leher Jasmine.
"Hanya segini?" pancing Nyonya Kimberly dengan mata kuning yang berkilat.
"Bagaimana kau akan menarik Lucas dari kegelapan jika kau bahkan tidak bisa melihat gerakanku?" tanya Nyonya Kimberly, dingin.
Tepat sebelum tangan itu mengunci, Jasmine merosot ke bawah, memanfaatkan momentum jatuhnya untuk menendang tumpuan kaki Nyonya Kimberly, itu adalah gerakan kotor yang efektif.
Bhuk
Nyonya Kimberly sedikit goyah, dan Jasmine tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat dia kembali bangkit, bukan untuk menjauh, melainkan untuk menerjang masuk ke ruang gerak Nyonya Kimberly.
Hap
Jasmine menangkap pergelangan tangan mertuanya, menggunakan berat tubuhnya sendiri sebagai beban untuk membanting wanita itu.
BRAK
Lantai kayu bergetar, untuk sesaat, keheningan menyelimuti aula.
Jasmine berdiri terengah-engah, peluh membasahi wajahnya, sementara Nyonya Kimberly terbaring di lantai.
Namun, dalam hitungan detik, Nyonya Kimberly tertawa pelan, dia bangkit seolah bantingan tadi hanyalah tepukan ringan.