NovelToon NovelToon
Pewaris Dosa Sang Mafia

Pewaris Dosa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: Yamila22

Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.

Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.

"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."

Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.

Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pakta dengan Iblis

Dinginnya udara malam bukan apa-apa dibandingkan es yang menggumpal di dadaku setelah kata-kata ibuku. Aku tetap berdiri di sana, terjebak di antara mobilku dan tubuh Damian Smirnov, merasakan bagaimana panas yang menguar darinya melelehkan pertahananku. Tangannya masih menutupi tanganku, tekanan penuh kepemilikan yang mengingatkanku bahwa, meski keluargaku memandangku hina, bagi pria ini aku adalah pusat semesta pada saat ini.

"Lepaskan aku, Damian. Malam ini sudah cukup drama untukku," bisikku, meski kakiku sama sekali tak berusaha melangkah pergi.

Dia sedikit membungkuk lebih dekat, mempersempit jarak sampai aku bisa merasakan embusan napasnya menyapu telingaku. Getar dingin menjalari tulang punggungku, dan itu bukan karena takut. Ini sesuatu yang jauh lebih berbahaya: lapar.

"Cukup? Tidak, Alessandra. Kamu baru saja mulai terbangun." Suaranya dengkuran kelam. "Aku melihat cara mereka memperlakukanmu di dalam sana. Aku melihat perempuan yang kaupanggil ibu itu menatapmu seolah kamu salah hitung. Dan aku melihat adikmu... bayangan yang iri, berusaha memadamkan kobaran api."

Aku berputar menghadapinya, hanya beberapa sentimeter dari dadanya. Cahaya bulan membasuh wajahnya, mempertegas bekas luka di alisnya dan tatapan pemburu yang tak pernah berkedip itu.

"Aku tak butuh belas kasihanmu, Smirnov. Aku tahu betul siapa aku dan berapa nilaiku bagi mereka. Tidak ada. Aku cuma alat tukar yang keluar cacat karena tak mau menuruti aturan mereka."

Damian tertawa rendah, bergetar, sampai kurasakan tawa itu menembus tulangku. Dia memasukkan sebelah tangan ke saku celananya dan mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan keanggunan yang mematikan. Asapnya membanjiri ruang di antara kami.

"Belas kasihan adalah hal terakhir yang kurasakan padamu, sayang." Dia melangkah maju lagi, menyudutkanku ke logam dingin mobil. "Yang kurasakan adalah rasa penasaran. Aku bertanya-tanya berapa lama lagi kamu sanggup hidup dalam sangkar emas ini, tempat orang-orang menentukan apa yang harus kaumakan, cara berpakaianmu, dan pada siapa kamu harus tersenyum. Kamu sungguh mau dikawinkan dengan seorang bodoh cuma demi menyelamatkan bisnis ayahmu?"

"Aku tak punya pilihan," ucapku, meski kata itu terasa seperti abu di mulutku. "Aku seorang Valente. Nama keluargaku adalah penjaraku."

"Penjara punya kunci, Alessandra. Dan aku memegang kuncimu." Dia mengulurkan tangannya yang bebas dan menyentuh pipiku, tepat di tempat Bianca menamparku tadi. Sentuhannya mengejutkan, begitu lembut, tetapi matanya menjanjikan badai. "Ikut aku malam ini. Tinggalkan pesta para munafik ini. Biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana rasanya menjadi pemilik dosa-dosamu sendiri."

Jantungku menghantam tulang rusukku. Ini gila. Dia musuh bisnis ayahku, pria yang reputasinya bernoda mesiu dan rahasia. Namun pada saat itu, gagasan untuk kabur bersama iblis terasa jauh lebih menggoda daripada kembali masuk ke aula itu dan meminta maaf hanya karena aku ada.

"Ke mana?" tanyaku, suaraku nyaris tak lebih dari seutas napas.

Damian tersenyum, dan itulah pertama kalinya aku melihat sesuatu yang menyerupai kejujuran di wajahnya. Kejujuran yang liar.

"Ke tempat yang tak mengenal ukuran baju, label, atau kontrak. Ke tempat yang hanya ada kamu dan aku, dan apa pun yang ingin kita lakukan satu sama lain. Keluargamu ingin kamu kecil, tunduk, tak kasat mata. Aku ingin kamu seperti ini, meledak-ledak dan nyata."

Dia mendekat begitu rapat sampai napas kami berbaur. Pandangannya turun ke bibirku, dan aku merasakan tarikan seperti aliran listrik di perut bawahku. Dia sedang mempermainkanku, aku tahu itu. Dia menggodaku dengan kebebasan hanya untuk menjeratku dalam jaringnya sendiri, tetapi racun ibuku masih membakar begitu perih sampai aku rela meneguk penawar apa pun, bahkan yang mematikan sekalipun.

"Kalau aku pergi denganmu... ayahku akan mencoret hakku dari warisan. Ibuku tak akan pernah lagi mengajakku bicara," ucapku, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri ketimbang dia.

"Jiwamu sudah dicoret dari warisan sejak lama, Alessandra. Tinggal menunggu selembar kertas menegaskannya." Dia membuka pintu penumpang mobil sport hitamnya, monster logam yang meraung dalam kegelapan. "Masuklah. Ayo bunuh rasa penasaran ini, tentang apa yang terjadi kalau seorang putri memutuskan bahwa ia lebih memilih neraka."

Aku menoleh ke arah mansion yang benderang. Aku bisa melihat Bianca lewat jendela besar, berpura-pura menangis sementara para tamu menghiburnya. Aku bisa melihat ibuku, sempurna dan sedingin es, menarik benang-benang sebuah kehidupan yang sudah tak ingin lagi kujalani.

Lalu, aku menatap Damian Smirnov. Matanya menawarkan bahaya, tetapi juga sebuah kebenaran yang tak pernah diberikan orang lain padaku: dia melihatku. Dia tak memandang lekuk tubuhku sebagai "masalah", tak memandang wataku sebagai "cacat". Dia memandangku sebagai sebuah tantangan.

Aku melangkahkan satu kaki ke dalam mobil.

"Jangan hancurkan hatiku, Smirnov," bisikku sembari duduk di atas jok kulit mewah itu.

Damian menutup pintu, memutari mobil, lalu duduk di belakang kemudi. Sebelum menyalakan mesin, dia mencondongkan tubuh ke arahku untuk memasangkan sabuk pengamanku, membiarkan wajahnya hanya beberapa milimeter dari wajahku.

"Aku tak bisa menghancurkan sesuatu yang sudah berkeping-keping, sayang," gumamnya di bibirku, menyentuhnya sekilas dengan bibirnya. "Tapi aku bisa mengajarimu memakai kepingan-kepingan itu untuk mengiris siapa pun yang berani mempermalukanmu lagi."

Mesin meraung dan kami melesat ke dalam kegelapan, meninggalkan sangkar kaca itu dan memulai jalan yang, tiga tahun kemudian, membuatku terdampar dengan seorang anak dalam gendongan dan jiwa yang berperang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!