Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - Juara Satu Sekota
Awalnya Intan mengira baru akan mengecek nilai nanti malam. Tetapi melihat wajah Bapak yang tegang sepanjang sore itu, ia memutuskan tidak menunda lagi.
Ia mengambil ponsel milik Bapak, lalu tetap membisu sambil menyelesaikan makan.
Sebenarnya ada dua angka yang berkecamuk di kepalanya: angka yang diingatnya sejak dulu, dan angka yang mungkin saja meleset kali ini.
Tetapi berdiam diri sambil menatap Bapak yang mengaduk-aduk sendok tanpa menyuap membuatnya akhirnya menyerah.
Lebih baik ia pastikan sekarang daripada menunda kebahagiaan lebih lama lagi.
Begitu sambungan terbuka, suara perempuan yang terdengar mekanis keluar dari dalam.
"Nilai ujian masuk saudara: Bahasa Indonesia seratus empat puluh tiga, Matematika seratus lima puluh, Bahasa Inggris seratus empat puluh delapan. Jumlah nilai mata pelajaran: empat ratus empat puluh satu. PPKn A, Sejarah A, Fisika A, Kimia A, Geografi A, Biologi A. Diputar ulang."
Sampai telepon ditutupnya, Intan masih agak tidak sadar. Meskipun saat ujian ia sangat percaya diri, tetap saja ada rasa yang berbeda begitu mendengar angka itu dengan telinga sendiri.
Angka itu kini terdengar begitu dekat dan nyata, tidak lagi seperti takdir yang ditulisnya sendiri di dalam kepala.
Empat ratus empat puluh satu. Untuk beberapa lama, serasa dunia berhenti di sekeliling gerobak mereka yang ramai itu.
Bapak yang berdiri di sampingnya melihat perubahan wajah Intan, dan jantungnya seakan jatuh.
"Kamu gagal?"
Bapak berhenti sebentar, lalu bertanya pelan.
"Kalau begitu, apakah saya bisa menyekolahkan kakakmu?"
Mata Bapak berkaca-kaca, siap menerima kenyataan apa pun.
Intan menoleh lurus menghadap kening Bapak yang berkerut itu, lalu menjawab dengan datar.
"Pak, pihak di seberang berkata aku dapat empat ratus empat puluh satu. Apa Bapak ingin kutelepon sekali lagi untuk memastikan?"
"Apa?" Bapak terkejut. "Berapa nilai ujianmu, katamu?"
Ragu-ragu tadi berubah menjadi keterkejutan. Dia sampai lupa melayani es campur yang sejak tadi menunggu di depan gerobak.
Seorang dewasa yang sedang duduk di bangku sebelah langsung menggerutu.
"Astaga! Kamu ini monster belajarnya, ya! Nilai penuh saja kan empat ratus lima puluh, kamu dapat empat ratus empat puluh satu, hanya sembilan poin yang hilang. Betulan?"
Gerutu itu mendapat anggukan-anggukan dari beberapa orang. Untuk kehilangan hanya sembilan poin saja, orang biasa bisa bersorak sampai sore.
Namun Intan tahu persis bagian mana yang sengaja ia tinggalkan; ada beberapa soal yang tidak ia biarkan terjawab begitu saja di garis batas.
Kerumunan di sekitar gerobak sontak bergemuruh. Beberapa karyawan kantor yang sedang membeli minuman ikut terkejut oleh hasil ujian Intan.
Ada yang lupa membayar, ada yang menatapnya dengan mata terbelalak.
Bapak akhirnya sadar sepenuhnya. Dia melangkah gembira mendekat, dengan sigap merebut ponsel yang masih ada di tangan Intan; begitu ponsel itu berpindah tangan, dia malah tertegun sejenak, lalu mengembalikannya lagi kepadanya.
"Cepat, telepon sekali lagi. Aku mau ikut mendengarkan, ikut memastikan!"
Dia kelihatan seperti orang yang baru saja memenangkan undian tetapi masih tidak percaya tiketnya sendiri.
Tangan kanannya menunjuk-nunjuk ponsel, tangan kirinya menggaruk dadanya, dan samar-samar Intan melihat ada butir kecil di sudut matanya yang buru-buru ia seka.
"Pak! Ini butuh pulsa! Kalau butuh pulsa, bayar! Berhenti bicara macam-macam, cepat telepon!" Bapak mendesak, cemas ingin bertindak sendiri menggantikan Intan.
Intan pasrah. Ia memutar nomor itu lagi, lalu menyalakan mode pengeras suara. Setelah memasukkan nomor peserta ujian, pengumuman itu berbunyi lagi. Kebisingan di sekeliling tiba-tiba melenyap; semua orang menahan napas.
Kali ini Bapak benar-benar mendengarnya dengan telinganya sendiri.
Bapak-bapak yang barusan menggerutu itu meloncat seketika tidak percaya.
"Ya ampun! Nilai empat ratus empat puluh satu sekaligus A semua? Ini naik ke langit! Tuhanku, aku mau memeluk pahamu! Aku kan baru saja ikut ujian masuk SMA! Sebelum berangkat tadi pagi kuhitung-hitung nilainya dan sudah bangga sekali; sekarang kalau kubandingkan dengan kamu, aku jadi tidak tahu malu total!"
Orang-orang di kerumunan mulai bercerita satu sama lain: menyebut nama Intan, menyebut gerobak, menyebut juara baru se-kota Cilacap.
Di antara suara itu, seorang ibu yang sedang menggandeng anaknya berbisik agar anaknya meniru cara belajar si pemilik gerobak.
Kini giliran orang-orang di pinggir yang heran.
"Anak muda, kamu baru selesai ujian masuk SMA? Benar-benar tidak bisa dinilai dari wajah!"
Intan mengangguk sambil menyela.
"Betul. Wajahnya memang tidak seperti anak yang baru saja ujian masuk SMA; lebih mirip orang yang sudah lulus ujian masuk perguruan tinggi."
Anak muda itu terhuyung-huyung hampir jatuh, sedih sekaligus gemas.
"Apa salahnya wajahku cepat tua? Kamu ini menyebalkan sekali!"
Kendati begitu, dia tetap memesan segelas es campur untuk dirinya sendiri, dengan alasan untuk menyemangati sesama pejuang ujian.
Intan diam-diam menambahkan lebih banyak mutiara pada gelasnya sebagai balasan atas kebaikan hatinya.
Bapak sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Meskipun mulutnya mencoba menggurui, nada di balik kata-katanya sama sekali tidak ada daya paksa.
"Intan, kamu bicara apa!"
Dia menoleh ke anak muda itu, sementara senyumnya nyaris melebar sampai ke belakang telinga.
"Maaf ya, Nak. Biar Om traktir segelas es campur!"
"Bos! Kalau ditraktir, ya harus kami semua! Semua yang lihat kamu harus dapat bagian, jangan pilih kasih!"
Bapak langsung terdiam sejenak. Dia terlalu gembira sampai bicara tanpa dipikir, lupa bahwa gerobak ini milik anaknya, dan dengan mudahnya keluarlah tawaran traktir.
Dia menoleh ke arah Intan dengan wajah serba salah.
Intan maju selangkah dan berkata.
"Kalau begitu, segelas itu sama-sama kita potong lima puluh persen."
Mereka segera girang. Dengan orang sebanyak itu, mana mungkin diberi traktir semua; mereka juga tahu dagangan ini harus cari untung.
Potongan lima puluh persen saja sudah membuat mereka puas setengah mati.
Antrean itu tak kelihatan mau berkurang, dan untuk pertama kalinya Intan merasakan lelah yang menyenangkan.
Setiap tangan yang menyodorkan uang berarti satu lagi cerita yang terbawa pulang. Malam ini, angka empat ratus empat puluh satu itu akan diulang-ulang dari mulut ke mulut seperti kabar gembira yang tak mau surut. Sesuatu yang dulu hanya diperjuangkan dengan keringat, kini perlahan mengganti namanya: dari harapan menjadi kenyataan.
Setelah melayani sampai gelombang pelanggan itu pergi, Bapak akhirnya menghela napas lega.
"Nak, Bapak bikin rugi dagangan kamu tidak?"
Intan tertawa.
"Tidak, Pak. Bapak barusan memberi hadiah iklan terbaik untuk gerobak kami, iklan dari mulut ke mulut. Besok antrean pasti tambah panjang."
Bapak tertawa keras-keras, dan Intan turut menikmati sore itu. Di seluruh Plaza Cendrawasih, orang-orang berbisik dari satu telinga ke telinga lain: bahwa anak penjual es campur itu baru saja menaklukkan ujian masuk SMA se-kota.