Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Mama, Lihat Aku
Acara kelulusan berhenti mendadak.
Clara masih berdiri di atas panggung.
Piala di tangan kanan.
Map ijazah di tangan kiri.
Mikrofon masih menyala di depannya.
Sementara di bawah sana, semua perhatian tertuju pada Thea.
Clara cuma bisa melihat dari jauh bagaimana Papa Faizan menopang Thea dan Mama Vania berusaha memanggil guru.
Kakinya mulai lemas.
"Udah, Sayang."
Nenek Kamila naik ke panggung dan langsung memeluknya dari belakang.
"Turun dulu."
Clara mengangguk.
Dia nggak sanggup menjawab.
Seokjin yang masih berdiri di bawah panggung buru-buru melipat spanduknya. Mutiara ikut naik membantu Nenek.
"Pelan-pelan, Cla."
Mereka membawa Clara turun.
Begitu sampai bawah, kursi roda sudah menunggu.
Clara duduk.
Piala diletakkan di pangkuannya.
Berat.
Entah kenapa benda yang beberapa menit lalu terasa seperti hadiah paling indah sekarang justru terasa seperti beban.
Di ujung aula, Papa membawa Thea ke UKS.
Mama Vania mengikuti sambil membawa tas obat.
Nggak ada satu pun dari mereka yang sempat menoleh ke Clara.
Clara menunduk.
Nenek jongkok di depannya.
"Maafin Mama ya, Sayang."
Clara menggeleng.
"Gapapa, Nek."
Senyumnya muncul.
Senyum yang sudah terlalu dia kenal.
Senyum yang sama yang selalu dia pakai setiap kali ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Clara ngerti."
Padahal sebenarnya dia nggak ngerti.
---
Sepuluh menit kemudian, kepala sekolah memutuskan acara dilanjutkan.
Musik kembali terdengar.
Nama siswa lain dipanggil.
Tepuk tangan kembali memenuhi aula.
Seolah-olah beberapa menit sebelumnya nggak pernah terjadi apa-apa.
Clara tetap duduk di kursi roda.
Di bawah panggung.
Dia melihat teman-temannya naik satu per satu.
Ada yang menerima penghargaan.
Ada yang berfoto dengan kepala sekolah.
Ada yang menangis karena akhirnya lulus.
Sementara Clara?
Dia sudah menerima semuanya.
Piala.
Ijazah.
Penghargaan.
Tapi rasanya seperti belum mendapatkan apa-apa.
Seokjin duduk di sampingnya.
Spanduk yang tadi dia siapkan sekarang terlipat di pangkuannya.
Dia nggak banyak bicara.
Cuma sesekali melihat Clara.
"Lo capek?"
Clara menggeleng.
"Enggak."
Seokjin tahu Clara bohong.
Tapi dia nggak membongkarnya.
Dia cuma mengambil botol minum dan membukanya.
"Kalau butuh apa-apa bilang."
Clara mengangguk.
"Makasih."
---
Sesi foto angkatan akhirnya dimulai.
Semua siswa dipanggil ke panggung.
Mutiara mendorong kursi roda Clara ke tengah.
"Ayo. Lo harus ada di depan."
Clara tertawa kecil.
"Gue malah jadi pusat perhatian."
"Ya emang."
Diana menyahut.
"Juara umum, woy."
Safira ikut tertawa.
Seokjin berdiri di belakang kursi roda Clara.
Tangannya memegang pegangan kursi.
Fotografer mengangkat kamera.
"Siap!"
Semua tersenyum.
"1... 2... 3!"
Jepret.
Clara ikut tersenyum.
Tapi setelah kamera turun, matanya langsung mencari barisan orang tua.
Kursi Mama kosong.
Kursi Papa kosong.
Kursi Thea juga kosong.
Cuma Nenek yang masih ada.
Nenek melambaikan tangan sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Clara membalas lambaian itu.
Setidaknya ada satu orang yang masih menunggunya.
---
Setengah jam berlalu.
Aula mulai sepi.
Sebagian orang tua sudah pulang.
Sebagian siswa sibuk berfoto di halaman.
Tapi Clara masih menunggu.
Mutiara akhirnya duduk di sampingnya.
"Cla, lo mau kita antar ke UKS?"
Clara menggeleng.
"Gue tunggu Mama."
Seokjin yang duduk di lantai langsung menoleh.
"Yakin?"
Clara mengangguk.
"Siapa tahu Mama balik."
Seokjin diam.
Kemudian mengangguk.
"Oke."
"Gue tunggu sama lo."
---
Hampir satu jam setelah kejadian tadi, pintu UKS akhirnya terbuka.
Papa Faizan keluar.
Thea ada dalam gendongannya.
Wajah Thea masih pucat, tapi sudah sadar.
Di belakangnya, Mama Vania berjalan sambil membawa tas obat.
Wajahnya terlihat lelah.
Mereka berjalan menuju pintu keluar.
Bukan ke arah Clara.
Nenek yang melihat mereka langsung memanggil.
"Faizan!"
Papa berhenti.
"Vania! Clara masih di sini!"
Papa menoleh.
Seolah baru ingat.
"Oh."
Mereka akhirnya berjalan mendekat.
Clara langsung duduk lebih tegak.
Jantungnya berdebar.
Ini momennya.
Sejak pagi dia menunggu.
Bahkan mungkin sejak bertahun-tahun lalu.
Dia ingin mendengar satu kalimat sederhana dari Mama.
Mama bangga sama kamu.
Mama berhenti di depan kursi roda.
Matanya turun ke piala.
Kemudian ke map ijazah.
"Clara."
Clara menatapnya.
"Mama..."
Mama menarik napas.
"Selamat ya."
Clara diam.
Cuma itu?
Dia menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Nggak ada kelanjutan.
Papa malah berkata,
"Pialanya taruh di rumah Nenek aja. Di rumah nggak ada tempat."
Clara mengangguk pelan.
"Iya, Pa."
Thea yang masih digendong Papa tersenyum kecil.
"Selamat ya, Kak Clara."
Clara langsung menatap adiknya.
Senyumnya kali ini lebih tulus.
"Makasih, Thea."
Mama melihat jam.
"Udah siang. Kita pulang dulu. Thea harus istirahat."
Mereka mulai berbalik.
Clara langsung merasa panik.
Kalau mereka pergi sekarang...
kapan lagi?
"Mama."
Mama berhenti.
Clara menggenggam pegangan kursi roda.
"Mama, lihat aku."
Mama menoleh.
"Apa?"
Suara Clara kecil.
Tapi jelas.
"Jangan lihat piala dulu."
Mama diam.
"Jangan lihat Thea dulu."
Clara menelan ludah.
"Jangan lihat nilai gue. Jangan lihat penghargaan gue."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Lihat aku."
Aula yang hampir kosong mendadak terasa sangat sunyi.
Mutiara menunduk.
Diana dan Safira saling pandang.
Seokjin berdiri beberapa langkah dari Clara.
Nggak ada yang menyela.
Clara menatap langsung ke mata Mamanya.
"Clara."
Suaranya pecah.
"Yang berdiri di depan Mama ini Clara."
Mama Vania terdiam.
Untuk beberapa detik, nggak ada lagi piala.
Nggak ada lagi nilai.
Nggak ada lagi Thea.
Cuma seorang ibu dan anak perempuannya.
Mama akhirnya benar-benar melihat Clara.
Kebaya biru muda.
Wajah pucat.
Mata sembap.
Tangan yang diperban.
Tubuh yang terlihat jauh lebih lelah daripada seharusnya seorang anak yang baru saja lulus.
Mama membuka mulut.
"Clara..."
Tapi belum sempat melanjutkan—
Ponselnya berdering.
Mama melihat layar.
Wajahnya langsung berubah.
"RS."
Dia mengangkat telepon.
"Halo?"
Semua orang diam.
"Iya, saya mamanya Thea."
Mama mendengarkan beberapa detik.
"Apa?"
Wajahnya semakin panik.
"Iya, Dok. Kami segera ke sana."
Telepon ditutup.
Mama langsung menoleh ke Papa.
"Faizan, kita harus ke rumah sakit sekarang."
Papa mengangguk.
Thea harus segera dibawa kembali untuk pemeriksaan.
Mama kemudian menatap Clara.
Ada rasa bersalah di matanya.
"Clara..."
Clara sudah tahu.
Mama akan pergi lagi.
"Nanti kita ngobrol di rumah, ya."
Clara tersenyum kecil.
"Iya, Ma."
Mama pergi.
Papa menyusul.
Thea sempat melambaikan tangan.
Clara membalas.
Sampai akhirnya mereka menghilang di balik pintu aula.
Nenek berdiri diam.
Tangannya mengepal.
"Vania..."
Suaranya bergetar.
"Anak kamu juga butuh kamu."
Tapi nggak ada yang mendengar.
---
Clara menunduk.
Piala masih ada di pangkuannya.
Pantulan wajahnya terlihat samar di permukaan piala.
Pucat.
Mata merah.
Air mata jatuh satu per satu.
Seokjin berjalan mendekat.
Dia jongkok di depan Clara.
Nggak bertanya.
Nggak memberi nasihat.
Cuma mengambil tisu dan mengusap air matanya pelan.
Clara tertawa kecil di sela tangis.
"Lucu ya."
Seokjin menggeleng.
"Apanya?"
"Gue juara umum."
Clara menatap pialanya.
"Harusnya hari ini gue seneng banget."
Seokjin diam.
"Tapi gue malah pengin pulang."
Mutiara langsung memeluk Clara dari belakang.
"Ya udah. Pulang."
Diana mengusap matanya sendiri.
"Besok kalau mau nangis, nangis lagi."
Safira menyahut,
"Hari ini juga boleh."
Clara tertawa kecil.
"Berisik."
Nenek tersenyum sambil menahan tangis.
"Ayo pulang, Sayang."
Clara mengangguk.
"Iya, Nek."
---
Sebelum keluar aula, ponsel Clara bergetar.
Pesan dari Mama.
«Clara, Mama ke rumah sakit dulu sama Thea. Piala dan ijazah titip Nenek dulu. Nanti malam kita rayain di rumah ya. Mama janji.»
Clara membaca pesan itu lama.
Jempolnya sempat mengetik.
Iya, Ma.
Tapi dia menghapusnya.
Ponselnya dimasukkan kembali ke tas.
Dia nggak tahu kenapa.
Mungkin karena hari ini dia sudah terlalu banyak menunggu.
---
Matahari siang terasa terik ketika mereka keluar aula.
Mutiara mendorong kursi roda Clara.
Seokjin berjalan di sampingnya sambil memegang payung kecil.
Nenek berjalan di sisi lainnya.
Diana dan Safira mengikuti dari belakang.
Lima langkah.
Sepuluh langkah.
Mereka hampir sampai parkiran ketika terdengar suara mesin kendaraan dari sisi lain halaman.
Seokjin spontan menoleh.
Sebuah mobil bergerak mundur dari area parkir.
Terlalu dekat.
"AWAS!"
Mutiara langsung menghentikan kursi roda.
Seokjin bergerak cepat mendekat.
Mobil itu berhenti mendadak sebelum akhirnya maju kembali.
Semua terdiam beberapa detik.
Nenek langsung menarik napas panjang.
"Astaghfirullah..."
Mutiara memegang bahu Clara.
"Lo gapapa?"
Clara mengangguk.
Tapi tangannya masih gemetar.
Piala di pangkuannya hampir terlepas.
Seokjin memandang mobil yang menjauh itu dengan rahang mengeras.
"Lo yakin nggak kenapa-kenapa?"
Clara mengangguk lagi.
"Iya."
Tapi napasnya masih belum teratur.
Dia menatap halaman sekolah.
Tempat yang sejak pagi seharusnya menjadi tempat paling bahagia dalam hidupnya.
Hari kelulusan.
Hari yang dia tunggu selama tiga tahun.
Hari ketika dia akhirnya bisa berkata bahwa semua perjuangannya berhasil.
Tapi entah kenapa...
hari itu justru terasa seperti hari yang nggak akan pernah dia lupakan.
Clara memeluk pialanya lebih erat.
"Jin."
"Hm?"
"Anterin gue pulang."
Seokjin mengangguk.
"Iya."
Dan kali ini, Clara nggak tersenyum.
Dia cuma menatap lurus ke depan.
Berharap setelah sampai rumah, setidaknya malam nanti Mama benar-benar menepati janjinya.