NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: KETERANGAN DI UJUNG GANG

Di bawah terik matahari siang hari Selasa tanggal sepuluh, angin hangat berhembus perlahan menyusuri lorong samping rumah kami.

Lampu gantung porselen di ruang tengah mati, digantikan bintik sinar matahari yang menembus celah jendela kayu.

Dini dan Ranti duduk berdampingan di sofa kayu, memandangi cangkir teh hangat yang baru diseduh di atas meja.

Aroma harum teh melati hangat menguap lembut di ruang tengah, memberikan ketenangan singkat di dalam rumah.

Keheningan siang terasa begitu lega setelah tim identifikasi Polsek dan Pak RT menyelesaikan pemeriksaan beberapa jam lalu.

Sinar matahari menembus celah ventilasi, membiaskan garis-garis cahaya tipis di atas ubin semen yang bersih.

"Bu... soal buku catatan utang Tante Maya tadi pagi, Ibu benar-benar mboten tahu kenapa nama Ibu dilingkari?" bisik Dini menatapku.

"Ibu mboten tahu pasti, Din. Catatan tiga puluh ribu itu memang sisa uang belanja yang belum diambil Maya," sahutku pelan.

"Tapi kenapa cuma nama Ibu yang ada lingkaran tinta merah tanggal delapan?" tanya Ranti penasaran.

"Mungkin itu cuma cara Maya menandai janji transaksi belanja biasa, Ran," balasku menenangkan anak bungsu saya.

"Ranti pikir tadinya ada catatan lain yang tersembunyi di dalam kotak kayu itu, Bu," ujar Ranti meremas ujung bajunya.

"Polisi cuma menemukan buku catatan utang itu di dalam kotak kayu," timpal Dini mengingat proses olah TKP tadi pagi.

"Yang penting sekarang buku itu sudah diamankan pihak Polsek sebagai barang bukti resmi," kataku mengusap jemari Ranti.

"Inggih, Bu. Moga-moga polisi segera menemukan petunjuk baru dari buku itu," sahut Dini mengangguk pelan.

Aku menatap kedua putriku yang duduk merapat di sofa kayu, merasakan kehangatan yang mengalir di antara kami.

Pukul satu siang lewat dua puluh menit, bayang-bayang dahan pohon mangga menua bergeser perlahan di pekarangan.

Dini berdiri dari sofa kayu, melangkah menuju dapur kecil untuk menyiapkan piring makan siang kami.

Ranti menyusul kakaknya dari belakang, membawa mangkuk porselen bersih yang tersimpan di lemari kayu.

Langkah kaki kedua anakku terdengar ringan memecah kesunyian rumah yang sempat dihimpit rasa cemas.

"Ibu mau Ranti ambilkan nasi hangat di dapur sekarang?" tawar Ranti mengintip dari ambang pintu.

"Nanti saja, Ran. Kita makan siang bersama setelah Pak RT memberi kabar," jawabku mengulas senyum.

Pukul dua siang kurang seperempat, suara gerbang pagar teras depan berderit perlahan dari arah luar.

Kreeek...

Suara derit engsel besi tua itu memecah kesunyian siang, membuat kami bertiga refleks menoleh ke arah jendela depan.

Aku berdiri dari sofa kayu, melangkah menuju pintu depan untuk memastikan siapa yang datang melintas.

Pak RT melangkah masuk ke halaman teras dengan wajah yang kelihatan lelah namun lebih tenang dari tadi pagi.

Map kertas cokelat tebal terselip kaku di bawah ketiak kemeja batik pendek berwarna cokelat muda yang dikenakannya.

Langkah kaki pengurus RT itu teratur di atas ubin teras, membawa kabar perkembangan dari markas kepolisian.

"Selamat siang, Bu Sari," sapa Pak RT menghentikan langkahnya di ambang teras.

"Selamat siang, Pak RT. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku membukakan pintu pagar besi.

Pak RT mendudukkan diri di kursi rotan teras, melepaskan peci hitamnya dan meletakkannya di atas meja kayu.

Dini bergegas keluar dari ruang tengah sambil membawa segelas air putih hangat untuk pengurus RT kami.

Gelas porselen berisi air hangat itu diletakkan Dini secara perlahan di atas meja kayu teras.

"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ujar Pak RT menerima gelas porselen dari tangan Dini.

Pak RT menyesap air hangat itu beberapa teguk sebelum mengembuskan napas panjang di udara teras yang teduh.

Dada pengurus RT kami naik turun perlahan seiring helaan napas lega setelah menjalani pemeriksaan di Polsek.

"Pripun kabar dari Polsek, Pak RT? Sampun selesai pemeriksaan saksi tukang sayur?" tanyaku mengejar informasi.

"Inggih, Bu Sari. Kulo baru saja kembali dari Polsek mendampingi pemeriksaan Pak Slamet tukang sayur keliling," terang Pak RT.

"Pak Slamet tukang sayur keliling yang biasa lewat gang kita tiap pagi nggih, Pak?" tanya Dini menyimak dari pintu.

"Inggih, Mbak Dini. Bripka Haryono tadi siang minta keterangan langsung dari Pak Slamet di ruang penyidik," jawab Pak RT.

"Punapa yang disampaikan Pak Slamet ke polisi, Pak RT?" tanyaku menatap raut wajah pengurus RT kami.

"Pak Slamet membenarkan bahwa hari Sabtu sore tanggal tujuh, dia sempat berpapasan sama Rian di jalan raya," ungkap Pak RT.

"Waktu itu Pak Slamet baru selesai keliling jual sayur di permukiman bagian bawah," sambung Pak RT menjelaskan.

"Rian kelihatan mengendarai sepeda motor matik hitam dengan terburu-buru ke arah jalan raya selatan," lanjut Pak RT.

"Rian membawa karung goni besar yang diikat kencang di boncengan belakang motornya," tambah Pak RT menatap kami.

Keterangan itu mencatat fakta fisik penting tentang keberadaan Rian pada Sabtu sore sebelum rumah sebelah kosong.

"Karung goni yang sama seperti yang dibawa polisi tadi pagi, Pak?" tanya Ranti yang berdiri di balik bahu Dini.

"Pak Slamet mboten bisa memastikan apa itu karung goni yang sama atau mboten, Ran," sahut Pak RT pelan.

"Tapi Pak Slamet bilang karung goni itu kelihatan berat banget sampai boncengan motor Rian miring ke kiri," jelas Pak RT.

"Pak Slamet sempat menyapa Rian waktu berpapasan di jalan raya mboten, Pak?" tanya Dini penasaran.

"Mboten sempat, Mbak Dini. Pak Slamet bilang Rian memasang wajah tegang dan mboten menengok sama sekali," jawab Pak RT.

"Apakah Pak Slamet lihat Tante Maya ikut bonceng di belakang Rian, Pak RT?" bisik Dini menahan napasnya.

"Mboten, Mbak Dini. Pak Slamet menegaskan Rian sendirian naik motor matik itu," jawab Pak RT tegas.

Aku mengelus dada perlahan, mencerna fakta resmi yang disampaikan Pak RT di teras depan rumah kami.

Keterangan saksi itu setidaknya memberi dasar fakta yang lebih jelas di tengah berbagai prasangka yang sempat beredar di kalangan warga gang.

"Lalu langkah Polsek selanjutnya pripun, Pak RT?" tanyaku mengejar kejelasan prosedur kepolisian.

"Bripka Haryono bilang Polsek bakal memeriksa rekaman kamera pengawas di persimpangan jalan raya selatan," terang Pak RT.

"Kamera pengawas di persimpangan itu bisa merekam pelat nomor dan arah tujuan sepeda motor," tambah Pak RT.

"Polisi mau menelusuri arah pergerakan Rian dari sepeda motor matik hitam itu," sambung Pak RT menjelaskan.

"Langkah polisi sudah sangat terarah dan terstruktur nggih, Pak," sahutku lega mendengar kejelasan itu.

"Inggih, Bu Sari. Kita warga gang tinggal menunggu perkembangan resmi dari hasil penelusuran tim penyidik," ujar Pak RT.

"Masyarakat di gang juga perlu diimbau supaya tetap tenang dan mboten menyebar gosip liar," timpalku mengingatkan.

"Pasti, Bu Sari. Warga di warung tadi siang sudah kulo ingatkan supaya mboten membuat spekulasi sendiri," balas Pak RT.

"Oh inggih, Pak RT. Garis polisi di rumah sebelah tetap kami awasi dari teras depan," timpal Dini.

"Matur nuwun sanget, Mbak Dini, Bu Sari. Kerja sama warga dan pengurus RT sangat membantu," pesan Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Kami bertiga mboten bakal menyebarkan kabar yang mboten pasti ke warga lain," janjiku mantap.

"Matur nuwun sanget. Kulo pamit dulu mau kembali ke rumah mengecek laporan warga," ujar Pak RT berdiri.

Pak RT merapikan map kertas cokelat di bawah ketiaknya, lalu melangkah keluar dari halaman teras rumah kami.

Langkah kaki pengurus RT itu terdengar kaku menyusuri jalan aspal gang yang mulai lengang di bawah terik siang.

Aku, Dini, dan Ranti kembali masuk ke dalam ruang tengah, memutar kunci kayu pintu depan dari dalam.

Pukul tiga sore lewat sepuluh menit, kami bertiga duduk melingkar di meja makan porselen untuk makan siang bersama.

Sepiring nasi hangat, sayur bening bayam segar, dan tempe goreng garing tersaji sederhana di atas meja makan.

Uap gurih dari mangkuk sayur bening membumbung tipis, menyebarkan aroma segar di dalam ruang tengah rumah.

Suasana makan siang terasa lebih tenang setelah mendengar penjelasan resmi Pak RT mengenai pemeriksaan saksi di Polsek.

Dini menyendokkan nasi hangat dan sayur bayam ke piringku dengan gerakan lembut dan telaten.

Ranti mengambilkan tempe goreng garing dan menyusunnya rapi di piring kecil di tengah meja makan.

"Bu... kalau Rian pergi hari Sabtu membawa karung goni besar, berarti Rian kabur dari rumah nggih?" tanya Ranti pelan.

"Ibu mboten berani menyimpulkan hal itu, Ran. Kita tunggu keterangan resmi dari kepolisian saja," jawabku mengusap kepalanya.

"Tapi setidaknya sekarang polisi sudah tahu arah penelusuran sepeda motor Rian," ujar Dini menyendok nasi hangat.

"Iya, Din. Polisi tentu punya cara dan peralatan untuk menelusuri keberadaan Rian dan Maya," balasku setuju.

"Tiga puluh ribu uang belanja di buku catatan tadi... apa Rian tahu soal uang itu, Bu?" tanya Ranti lagi.

"Mboten usah menebak-nebak hal yang belum pasti, Ran," potongku menenangan pikiran anak bungsu saya.

"Yang penting kita fokus menjaga keamanan rumah kita sendiri dan mboten usah keluar gang," tambahku menegaskan.

"Selesai makan siang, Ranti mau bantu menyapu koridor samping nggih, Bu," tawar Ranti tersenyum kecil.

"Jangan ke luar lorong samping dulu, Ran. Sapu bagian dalam koridor rumah saja," pesanku mengingatkan.

"Inggih, Bu. Ranti cuma menyapu ubin koridor dalam kok," sahut Ranti mengangguk mengerti.

"Mbak Dini yang bantu cuci piring sama cangkir di dapur belakang nggih," timpal Dini berdiri dari kursi makan.

"Iya, Din. Terima kasih banyak nggih, anak-anakku," balasku merasa luluh oleh perhatian dan kehangatan mereka.

Pukul empat sore lewat dua puluh menit, hembusan angin dingin khas lereng gunung mulai menyapu pekarangan rumah.

Dinding semen lorong samping membiaskan hawa lembap dingin yang perlahan merayap masuk lewat celah ventilasi.

Aroma tanah basah yang tipis dan amis kusam kembali tercium samar melintasi koridor samping rumah kami.

Dini yang sedang mengeringkan piring seng di dapur kecil mendadak menghentikan gerak tangannya di udara.

Dini memandangi sudut pintu lorong samping dengan raut tegang, lalu menoleh pelan ke arahku.

"Bu... aroma tanah basah dari luar tercium tipis lagi," bisik Dini melangkah mendekatiku.

Aku menajamkan penciumanku, meresapi hawa dingin lembap yang berhembus perlahan di sekitar pintu samping.

Aroma tanah basah itu terasa begitu tipis, mengendap lembut di atas ubin semen koridor dalam.

"Iya, Din. Aromanya tercium tipis dari arah pekarangan belakang rumah sebelah," sahutku berbisik pelan.

"Padahal sore ini terang dan mboten ada hujan sama sekali di luar," gumam Dini heran.

"Ibu mau periksa pintu samping sekarang?" tanya Ranti cemas memegang sapu lidi di tangan.

"Iya, Ran. Ibu cuma mau memastikan ganjal kayu jati dan selot besi tetap terkunci rapat," jawabku mantap.

Aku melangkah menuju pintu samping, memegang selot besi dingin yang terpasang kokoh di ambang kayu.

Selot besi terpasang dua putaran penuh, dan ganjal kayu jati tebal tertancap presisi di bawah ambang pintu.

Melalui celah kecil di sudut bawah daun pintu kayu, aku mengintip sebentar ke arah ubin lorong samping.

Di bawah garis polisi yang menutupi pekarangan belakang Maya, ubin semen tampak bersih dari butiran tanah baru.

Namun, di dekat dasar dinding semen batas pekarangan belakang, sepotong plastik pembungkus kusam terselip.

Potongan plastik kusam itu ternoda kerak tanah merah mengering, terselip di bawah terali kayu selokan pembuangan.

Bercak tanah merah pada plastik itu tampak serupa dengan warna kerak tanah pada karung goni yang diamankan polisi.

Aku menarik pandanganku perlahan dari celah pintu, memilih mboten menyentuh atau menggeser pintu samping sama sekali.

Ganjal kayu jati tebal kupastikan kembali tertancap presisi di ambang pintu lorong samping dari dalam.

"Pintu samping aman terkunci rapat kok, Din, Ran," ujarku berbalik menatap kedua putriku.

"Alhamdulillah... moga-moga malam ini suasana gang tetap tenang nggih, Bu," bisik Dini bernapas lega.

"Inggih, Din. Ayo kita masuk ke ruang tengah dan bersiap untuk solat magrib," ajakku mengusap bahu mereka.

Sinar matahari sore perlahan meredup di balik bukit, membiaskan bayang-bayang panjang di atas jalan aspal gang.

Garis polisi kuning hitam di teras rumah Maya membentang kaku di bawah temaram senja yang mulai membeku.

Keheningan senja merayap masuk ke dalam rumah kami, membawa hawa dingin lereng gunung yang pekat.

Kami bertiga duduk berdampingan di sofa ruang tengah, menantikan malam Selasa tanggal sepuluh dalam ketenangan rumah.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!