NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:696k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Mobil berhenti di halaman rumah Pak Kades menjelang magrib. Langit desa mulai berwarna jingga keabu-abuan, angin sejuk menyapu pepohonan di sekitar rumah.

Begitu Kiara turun, Bu Sulastri langsung menghampiri dengan wajah penuh cemas.

“Kiara, gimana kondisimu, Nak? Masih pusing? Gatalnya sudah mendingan?”

Namun, sebelum Kiara sempat menjawab, Alvar lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan kantong obat di atas meja makan dengan bunyi cukup keras.

“Habis makan malam, minum obat lagi,” katanya singkat, tanpa menoleh.

Nada itu membuat Kiara langsung tahu, sikap Alvar kembali dingin. Bahkan, lebih dingin dari sebelumnya. Pak Yono dan Bu Sulastri saling pandang, jelas terlihat khawatir. Bu Sulastri menggenggam tangan Kiara lembut.

“Kamu mandi dulu ya, biar segar. Habis itu makan malam. Ibu masakin yang aman buat kamu.”

Kiara mengangguk pelan. Ia menoleh sekilas, mencari sosok Alvar, tapi pria itu sudah tak terlihat, entah pergi ke mana.

Kiara melangkah menuju kamar dengan langkah berat. Begitu pintu kamar dibuka, ia langsung menuju kamar mandi. Tanpa banyak pikir, ia mulai membuka pakaian, tubuhnya masih terasa lengket dan tak nyaman.

Namun, baru saja baju atasnya terlepas,

“Aah!” Jeritan Kiara memecah keheningan rumah.

Bu Sulastri dan Pak Yono yang sedang di dapur langsung tersentak.

“Kiara?! Kenapa?!” teriak Bu Sulastri panik.

Pintu kamar mandi mendadak terbuka lebih lebar. Alvar berdiri di ambang pintu, wajahnya sama terkejutnya.

“Kamu kenapa sih?!” Kiara berteriak histeris sambil refleks menutup tubuhnya.

“Kenapa masuk kamar nggak ada suara?!"

Alvar tersadar, lalu dengan cepat menutup pintu kamar dari dalam. Ia berbalik ke arah pintu dan berteriak keluar,

“Bu! Pak! Nggak apa-apa!”

Di luar, Bu Sulastri dan Pak Yono masih terdengar cemas, tapi akhirnya menjauh.

Kiara menatap Alvar dengan mata menyala. “Kamu kalau mau masuk kamar orang itu ketuk dulu pintunya! Ini aku lagi mau ganti baju!”

Alvar tak kalah marah.

“Ini kamar kita, Kiara!”

“Justru karena itu kamu harusnya lebih tahu diri!” balas Kiara sengit.

 “Aku belum siap satu kamar sama kamu!”

Alvar menghela napas keras, emosinya nyaris meledak.

 “Harusnya kamu yang kunci pintu kamar mandi atau bilang kalau lagi ganti baju! Bukan teriak kayak orang kesurupan!”

Kiara mendengus, wajahnya memerah, antara marah, malu, dan terhina.

“Jangan balik-balik nyalahin aku! Kamu yang masuk sembarangan!”

Alvar menatapnya tajam. “Mulai sekarang, biasakan hidup di rumah orang, Kiara. Bukan di apartemen kota yang semua serba bebas.”

Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.

“Dan kamu biasakan juga,” balas Kiara dingin, “kalau istrimu ini bukan gadis desa yang bisa kamu atur seenaknya.”

Hening jatuh di antara mereka, udara kamar terasa panas meski malam mulai turun.

"Pak, Bapak dengar kan? Sampai kapan coba mereka bertengkar terus. Kalau seperti ini sampai tua ibu nggak akan pernah gendong cucu," ujar Bu Sulastri.

"Sabar toh, Bu. Namanya pengantin baru, mereka baru belajar, Bu. Kita sebagai orang tua harus sering-sering nasehatin mereka berdua," kata Pak Yono, seraya membantu Bu Sulastri.

“Aku mau mandi,” kata Kiara ketus, memalingkan wajah.

Alvar menoleh sekilas. “Kamar mandi dalam lagi rusak. Kerannya bocor, kamu mandi di luar saja, besok aku perbaiki.”

“Apa?” Kiara langsung mendengus kesal. “Serius?”

“Serius,” jawab Alvar datar.

Tanpa menunggu balasan lagi, Kiara mengambil handuk dan melangkah keluar kamar dengan langkah berat. Begitu sampai di kamar mandi luar, langkahnya melambat.

Suasana sudah lumayan gelap. Lampu teras redup, sementara suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun belakang. Udara dingin desa merambat masuk ke kulitnya, membuat bulu kuduk Kiara sedikit meremang.

Dia menekan sakelar lampu kamar mandi tetapi tidak menyala.

“Ya ampun…” gumam Kiara kesal sekaligus cemas.

Tak lama, Alvar keluar menyusul. Ia berhenti saat melihat Kiara berdiri kaku di depan kamar mandi luar, handuk digenggam erat.

“Kenapa?” tanyanya.

“Lampunya nggak nyala,” jawab Kiara singkat, nada suaranya sedikit berubah, tidak setajam sebelumnya.

Alvar mendengus pelan. “Sebentar.”

Ia melangkah masuk ke kamar mandi luar, membuka penutup lampu dan memeriksanya. “Lampunya putus.”

Kiara berdiri agak menjauh, menatap sekeliling yang sunyi. Alvar keluar membawa bohlam lama.

 “Aku ambil lampu ganti.”

Beberapa menit kemudian ia kembali, memasang lampu baru. Cahaya kuning temaram akhirnya menyala, menerangi kamar mandi sederhana itu.

“Nah, sudah.” kata Alvar.

Kiara menatap lampu itu sejenak, lalu mengangguk pelan.

 “Makasih.”

Satu kata itu keluar tanpa gengsi, bahkan tanpa sadar. Alvar menoleh, sedikit terkejut, tapi tak berkomentar apa pun. Dia hanya berkata singkat, “Cepat mandi, udara malam dingin.”

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan Kiara sendirian di depan kamar mandi. Kiara menarik napas panjang sebelum masuk.

Makan malam terhidang sederhana di meja kayu panjang. Nasi hangat mengepul, sayur bening, tahu tempe goreng, dan lauk lain yang aman bagi Kiara. Lampu ruang makan menyala temaram, menghadirkan suasana hangat yang kontras dengan dinginnya hubungan dua insan di ujung meja.

Bu Sulastri tersenyum, memulai cerita.

“Dulu, pertama kali bapak sama ibu makan bareng setelah nikah … rasanya deg-degan. Bapak sampai salah pegang sendok,” katanya terkekeh.

Pak Yono ikut tertawa kecil. “Ibumu malu-malu tapi perhatian. Teh manisnya selalu pas.”

Sulastri melirik Kiara dengan mata berbinar. “Nanti juga kalian—”

“Ibu harus mengerti,” potong Kiara tiba-tiba. Sendoknya berhenti di udara.

“Aku sama Alvar itu dijodohkan. Bukan menikah karena cinta. Kami nggak akan seperti kisah ibu dan bapak.”

Kalimat itu jatuh berat di meja makan.

Bu Sulastri terdiam, senyum di wajahnya memudar perlahan. Tangannya yang semula merapikan piring berhenti, jemarinya saling menggenggam.

Pak Yono menghela napas, lalu berbicara tenang.

“Bapak paham, Kiara. Nggak semua pernikahan dimulai dari cinta. Kadang … cinta itu tumbuh belakangan.”

Kiara menunduk, tak menjawab.

Alvar yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat wajah. Sorot matanya dingin, dia tidak suka Kiara menyela ucapan ibunya, terlebih dengan nada setegas itu.

“Ucapkan dengan cara yang lebih sopan,” katanya pelan namun tegas.

Kiara menoleh, tersenyum tipis dan tajam. “Aku hanya jujur.”

Keheningan kembali menyelimuti meja. Suara sendok yang menyentuh piring terdengar lebih keras dari biasanya.

Bu Sulastri memaksakan senyum. “Makan dulu, Nak. Nasinya keburu dingin.”

Mereka kembali menyantap makanan, masing-masing tenggelam dalam pikiran.

Di meja yang sama, di bawah atap yang sama, empat hati berdetak dengan irama berbeda.

Makan malam pertama itu berakhir tanpa tawa namun menjadi penanda, perjalanan mereka sebagai suami istri baru saja dimulai, dengan kejujuran yang pahit dan harapan yang masih samar.

1
Angga Gati
bagus ceritanya sukses selalu kak utk karyanya🥰🥰🥰🥰
LENY
SIAPA YG BANTU SI JURAGAN IBLIS INI SMG PAK YONO SELAMAT DAN BAHRUL MEMBUSUK DI PENJARA😡😡
LENY
SEMOGA PAK YONO DAN KEL BAIK2 AJA SELALU DLM LINDUNGAN TUHAN 🙏
LENY
SI IBL8S JURAGAN BAHRUL DATANG LAGI PASTI ADA PREMAN2 YG DUKUNG😡😡
LENY
AKHIRNYA DOKTER BRAM SADAR SYUKURLAH HUBUNGAN MEMBAIK
LENY
DUH MASALAH LG KERJAAN DOKTER SENIOR YG IRI GAK MAU NGAKU DAN MAU MENJATUHKAN ALVAR😥
LENY
RUMAH ORANG KAYA BIASA ADA LIFT NYA YA KASIHAN KIARA TURUN NAIK TANGGA HAMIL SDH BESAR BAHAYA JG.🙏🙏
LENY
PASTI BIKIN MASALAH INI ADA YG IRI DAN TDK SENANG PASTI DOKTER LAMA 🙈
LENY
DUH MUSTI HATI2 INI DOKTER HESTI MSH DENDAM TAKUT BERBUAT NEKAD SEREM HATINYA PENUH IRI DENGKI DAN BALAS DENDAM GAK SADAR DIRI ATAS PERVUATAN DIA SENDIRI
LENY
ORANG TUA KIARA DAN ORANG TUA ALVAR SEMUA ORANG BAIK COCOK BESAN HATI NYA TULUS SEMUA❤🙏
LENY
OASTI IBLIS YOGA INI
LENY
SEMOGA LALA SADAR DAN BISA BICARA SAMA POLISI. YOGA MANUSIA DURJANA SMG MEMBUSUK DI PENJARA 😡😡
LENY
BENAR2 IBLIS YOGA INI UNTUNG KIARA GAK JODOH SAMA IBLIS INI. DUH LALA ISTRINYA APA MATI YA SMG YOGA DIHUKUM BERLAPIS KORUPSI PENIPUAN DAN PEMBUNUHAN 😡😡
LENY
SEMOGA MEMBUSUK DI PENJARA KAMU YOGA IBLIS😡😡
LENY
PASTI IBLIS YOGA INI KERJAAN NYA😡
LENY
MUSTI HATI2 ALVAR TERHADAP YOGA INI DIA SANGAT LICIK DAN JUGA JAHAT SMG KEBUSUKAN & KECURANGAN YOGA TERKUAK NNT SEHINGGA BUSA DIPECAT YOGA INI 😡😡
LENY
WAH PENGKHIANAT YOGA PUNYA MAKSUD JELEK KAYAKNYA HATI2 ALVAR SAMA PENGKHIANAT INI😡
LENY
YA AMPUN DIDESA GAK AMAN EH PINDAH JE KOTA ADA LG IBLIS LALA DAN YOGA. KAPAN TENANGNYA INI🙈
LENY
BAHAYA MSH MENGINTAI NIH JURAGAN BAHRUL MSH BERKELIARAN 😡
LENY
RASAKAN KAMU JURAGAN IBLIS DURJANA TEMANI HESTI DI PENJARA 😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!