Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 — Pertempuran Eldermere
Pertempuran di Eldermere semakin intensif seiring kedatangan Kael dan rombongannya, kehadiran mereka membalikkan momentum yang sebelumnya tampak putus asa bagi pasukan pertahanan kota.
Aldric, meski sudah tidak muda lagi, menunjukkan mengapa dia layak menjadi Sect Master Heavenly Sword Sect, teknik pedangnya yang telah disempurnakan selama tiga abad memotong melalui barisan Demon dengan presisi mematikan yang membuat bahkan prajurit paling berpengalaman di antara pasukan musuh mundur dengan waspada.
"Mereka terlalu banyak untuk ditangani satu per satu," Aria berteriak di tengah pertempuran, menangkis serangan seorang Demon bertanduk sambil mencari celah untuk membalas. "Kita perlu strategi yang lebih terkoordinasi!"
Kael, merasakan energi tiga fragmen yang kini bersatu dalam dirinya, mulai bereksperimen dengan kombinasi kekuatan yang belum pernah dia coba sebelumnya dalam pertarungan nyata. Dia memusatkan kesadarannya, membiarkan Fragmen Kehendak membantu mengoordinasikan Naluri Primal dan Api Murni dengan cara yang lebih strategis.
[Kombinasi Fragmen Terdeteksi: Kesadaran Taktis Ditingkatkan.]
Tiba-tiba, dia bisa "melihat" medan pertempuran dengan cara yang berbeda—bukan hanya ancaman langsung di depannya, tetapi pola keseluruhan pergerakan pasukan Demon, titik-titik lemah dalam formasi mereka, dan yang paling penting, di mana bantuan paling dibutuhkan.
"Selene, ke sisi timur!" dia berteriak, menggunakan pemahaman barunya untuk mengoordinasikan sekutu-sekutunya. "Mereka mencoba mengepung pasukan pertahanan di sana! Lyra, gunakan sihir alam untuk menciptakan penghalang di jalan utama, cegah mereka mendapatkan bala bantuan tambahan!"
Sekutu-sekutunya, terkejut namun mempercayai instingnya, segera mengikuti arahan itu, dan hasilnya langsung terlihat—pertempuran yang sebelumnya kacau mulai menunjukkan pola yang lebih terorganisir, dengan pasukan pertahanan Valtherion mulai mendapatkan kembali momentum mereka.
Seraphina bertarung di sisi Kael, kecepatan dan kekuatan vampirnya yang telah pulih signifikan sejak awal perjalanan mereka kini menunjukkan kekuatan sesungguhnya dari status Domain Realm yang pernah dia miliki. Setiap gerakannya anggun namun mematikan, menebas melalui pasukan Demon dengan efisiensi yang mengesankan bahkan bagi standar pertarungan tingkat tinggi.
"Kau semakin kuat," Kael berkata di sela-sela pertarungan, kagum menyaksikan kekuatan kekasihnya yang terus berkembang.
"Aku punya alasan kuat untuk menjadi lebih kuat," Seraphina menjawab dengan senyum tipis di tengah pertempuran sengit, menebas tiga Demon sekaligus dengan satu gerakan anggun.
Mereka terus bertarung, mendorong mundur pasukan Demon sedikit demi sedikit, namun jumlah musuh yang begitu besar membuat setiap kemajuan terasa lambat dan melelahkan. Di tengah pertempuran, Kael melihat seorang komandan Demon—sosok yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari pasukan biasa, dengan tanduk ganda dan sayap yang jauh lebih lebar—mulai bergerak maju dengan tujuan jelas untuk menantangnya secara langsung.
[Komandan Legiun Malrik — Demon Tingkat Tinggi.]
[Perkiraan kekuatan: Spirit Core Realm tingkat tinggi hingga Soul Formation.]
"Jadi kau manusia yang membuat Tuan Dravos begitu tertarik," Malrik berkata dengan suara berat yang menggetarkan udara di sekitarnya, matanya yang merah menyala menatap Kael dengan campuran penghinaan dan rasa ingin tahu. "Mari kita lihat apakah reputasimu sepadan dengan kenyataan."
Dia menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh melampaui pasukan Demon biasa, cakarnya yang besar menyambar dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu, dilengkapi dengan semburan api gelap dari mulutnya yang membawa energi kegelapan yang familiar—mirip dengan yang pernah Kael rasakan dari Theron ketika masih di bawah kendali Dravos.
Kael menghindar dengan Teknik Langkah Bayangan Angin, merasakan panas dari semburan api gelap itu bahkan tanpa kontak langsung. Dia membalas dengan kombinasi tiga fragmennya, pedang kuno Aldwin berkilau dengan energi gabungan yang menciptakan tebasan yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah dia hasilkan sebelumnya.
[Adaptation terhadap Energi Kegelapan Demon: 11%.]
Pertarungan antara mereka berdua segera menjadi fokus utama di satu sudut medan pertempuran, keduanya bertukar serangan dengan kekuatan yang membuat prajurit biasa di sekitar mereka menjaga jarak, menyadari bahwa mereka telah memasuki level pertarungan yang jauh melampaui kemampuan mereka untuk ikut campur.
"Kau cukup kuat," Malrik mengakui setelah beberapa pertukaran serangan, darah gelap menetes dari luka yang berhasil Kael berikan pada lengannya. "Tapi Tuan Dravos sudah memperkirakan hal ini. Dia memberiku sesuatu yang spesial untuk memastikan aku bisa menahanmu cukup lama."
Dia mengaum, dan tubuhnya mulai berubah, otot-ototnya membengkak dengan energi gelap yang jelas berasal dari sumber eksternal, bukan kekuatan alaminya sendiri.
[Peringatan: Peningkatan Kekuatan Buatan Terdeteksi. Sumber: Ritual Gelap Eksternal.]
Kael merasakan perubahan signifikan dalam kekuatan lawannya, menyadari bahwa pertarungan ini baru saja memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dari yang dia perkirakan sebelumnya.
Peningkatan kekuatan Malrik yang tiba-tiba membuat pertarungan semakin sengit, setiap serangannya kini membawa kekuatan yang jauh melampaui sebelumnya, dan Kael harus mengerahkan seluruh kombinasi kemampuannya hanya untuk bertahan dari rentetan serangan yang semakin brutal.
[Peringatan: Cadangan Qi menurun signifikan.]
Di tengah pertarungan yang semakin intens itu, suara tepuk tangan pelan terdengar dari atap bangunan terdekat, membuat sebagian pertempuran di sekitar area itu terhenti sesaat, semua mata tertuju ke arah sumber suara.
Dravos berdiri di sana, mengenakan jubah hitam elegan yang kontras dengan kekacauan pertempuran di sekelilingnya, tepuk tangannya yang pelan namun jelas penuh dengan nada mengejek.
"Pertunjukan yang menarik," katanya, suaranya entah bagaimana terdengar jelas meski jarak yang memisahkan mereka cukup jauh, seolah kekuatannya memungkinkan suaranya menembus kebisingan pertempuran. "Kau sudah berkembang jauh sejak pertemuan terakhir kita, Kael. Tiga fragmen sekaligus, luar biasa."
"Dravos," Kael mendesis, kemarahan jelas terdengar dalam suaranya melihat dalang di balik serangan yang telah menghancurkan sebagian Eldermere.
"Kau mengenali kekuatanku bahkan dari jarak ini," Dravos melanjutkan dengan nada puas. "Itu bukti bagus bahwa integrasimu berjalan dengan sempurna sejauh ini."
"Kenapa kau menyerang Eldermere?" Kael bertanya, mencoba mengulur waktu sambil memulihkan sedikit energi, meski matanya tidak pernah lepas dari sosok Dravos yang mengamati dari kejauhan.
"Untuk melihat perkembanganmu secara langsung, tentu saja," Dravos menjawab dengan seringai yang mengerikan. "Dan juga untuk mengingatkanmu bahwa aku masih memegang kendali atas kapan dan bagaimana konfrontasi sejati kita akan terjadi. Kota ini hanyalah... demonstrasi kecil."
"Demonstrasi?" Seraphina, yang telah bergabung di samping Kael setelah menyelesaikan lawannya sendiri, berteriak dengan kemarahan yang jelas terdengar. "Kau menghancurkan rumah orang-orang tak bersalah hanya untuk 'demonstrasi'?"
"Korban kecil untuk tujuan yang lebih besar," Dravos menjawab tanpa penyesalan sedikit pun. "Sesuatu yang seharusnya sudah kau pahami, Seraphina, mengingat berapa banyak yang telah dikorbankan sepanjang sejarah untuk tujuan-tujuan besar."
Malrik, yang sempat terhenti mendengarkan percakapan antara tuannya dan Kael, kembali menyerang dengan kekuatan penuh, mencoba memanfaatkan momen distraksi itu. Namun kali ini, Kael sudah siap, menggunakan kombinasi Fragmen Kehendak untuk membaca niat serangan itu bahkan sebelum benar-benar dimulai.
[Adaptation terhadap Komandan Legiun Malrik: 42%.]
Dia menghindar dengan presisi sempurna, dan membalas dengan tebasan yang akhirnya menembus pertahanan Malrik yang telah melemah akibat pertarungan panjang, pedang kuno Aldwin menembus dada Demon itu dengan kekuatan gabungan tiga fragmen yang menciptakan ledakan energi keemasan-merah yang spektakuler.
Malrik terhuyung, matanya melebar dengan keterkejutan sebelum tubuhnya mulai terurai menjadi partikel kegelapan yang kembali ke tempat asalnya.
"Komandanmu telah kalah," Kael berkata, menatap langsung ke arah Dravos dengan tekad yang jelas terlihat meski napasnya terengah-engah akibat pertarungan yang menguras energi.
Dravos tidak tampak terganggu sedikit pun dengan kekalahan bawahannya. "Satu komandan bukanlah kerugian besar dalam skema yang lebih besar. Tapi aku sudah melihat cukup untuk hari ini."
Dia mengangkat tangannya, dan seketika, seluruh pasukan Demon yang tersisa mulai mundur dengan koordinasi yang menunjukkan perintah jelas, meninggalkan medan pertempuran yang telah hancur namun akhirnya berhasil dipertahankan.
"Sampai jumpa lagi, Kael," Dravos berkata dengan senyum yang mengerikan sebelum tubuhnya mulai larut ke dalam bayangan, menghilang bersama sisa pasukannya yang mundur. "Aku menantikan perkembanganmu selanjutnya dengan penuh minat."
Ketika ancaman langsung telah berlalu, Kael jatuh berlutut, kelelahan dari pertarungan intensif dan penggunaan kombinasi fragmen yang belum sepenuhnya dia kuasai mulai terasa sepenuhnya. Seraphina segera mendekat, membantu menstabilkannya dengan kekhawatiran yang jelas terlihat di wajahnya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya, memeriksa kondisinya dengan seksama.
"Lelah," Kael mengakui, "tapi baik-baik saja. Kita berhasil mempertahankan kota."
Di sekeliling mereka, penduduk Eldermere yang selamat mulai keluar dari tempat persembunyian mereka, menatap kehancuran yang telah terjadi namun juga rasa syukur yang jelas terlihat melihat serangan itu akhirnya berakhir berkat kedatangan mereka yang tepat waktu.
Aldric, meski lelah dari pertarungan panjang, mulai mengorganisir upaya pemulihan kota, memberikan instruksi kepada pasukan pertahanan yang tersisa untuk membantu memadamkan kebakaran dan merawat yang terluka.
"Kita berhasil menyelamatkan kota," Lyra berkata, mendekati Kael dengan ekspresi campuran kelegaan dan kekhawatiran. "Tapi Dravos jelas masih punya kendali penuh atas kapan dan bagaimana dia memilih untuk menyerang."
"Dia bermain-main dengan kita," Kael berkata dengan nada frustrasi, menyadari bahwa meski mereka berhasil memenangkan pertempuran ini, perang sesungguhnya baru saja dimulai. "Menggunakan serangan seperti ini hanya untuk menguji perkembanganku, tanpa benar-benar mempertaruhkan kekuatan utamanya."
"Yang berarti," Selene menambahkan dengan nada serius, "kita perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan serangan yang jauh lebih besar di masa depan, ketika dia akhirnya memutuskan kau sudah cukup berkembang untuk konfrontasi yang sesungguhnya dia inginkan."
Malam itu, ketika mereka membantu proses pemulihan awal Eldermere dan merawat para korban yang terluka, Kael merenungkan kembali kata-kata Dravos—bahwa ini hanyalah demonstrasi, pengingat tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali atas waktu dan tempat konfrontasi besar yang akan datang.
"Kita perlu mengubah itu," katanya pelan kepada Seraphina saat mereka beristirahat sejenak di antara reruntuhan kota. "Kita tidak bisa terus bereaksi terhadap pergerakannya. Kita perlu mulai mengambil inisiatif sendiri."
"Bagaimana?" Seraphina bertanya.
"Dengan menyerang basis kekuatannya langsung," Kael menjawab dengan tekad baru yang jelas terdengar. "Di Netherys."