Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Soal berikutnya, bidang kimia organik," suara juri kembali terdengar menggema di dalam gedung konvensi.
Teng!
Leo langsung menekan bel bahkan sebelum pertanyaannya selesai dibacakan seutuhnya.
"Senyawa turunan benzena yang digunakan sebagai bahan peledak adalah Trinitrotoluena!" jawab Leo dengan napas memburu.
"Benar, sepuluh poin untuk SMA Nusantara," sahut juri membenarkan.
Leo menoleh tajam ke arah meja Tommy dan Nadin dengan tatapan menantang.
Ia tidak terima kecepatan menghitungnya sejak tadi dipotong dan dikalahkan oleh anak berwajah linglung tersebut.
"Gue gak akan biarin lo nebak lagi, anak udik," gumam Leo pelan dari mejanya.
Nadin semakin panik melihat jarak poin yang kembali melebar dengan cepat.
"Tom, lo masih punya tebakan toren air lagi gak?" bisik Nadin dengan nada yang sudah pasrah sepenuhnya.
"Toren airnya udah penuh, Din, tapi aku coba cari tebakan lain ya," balas Tommy dengan wajah polos tanpa dosa.
Pertandingan berlanjut dengan ketegangan yang semakin mencekik leher seluruh peserta.
"Soal bidang biologi, bernilai dua puluh poin karena kerumitannya."
"Sebutkan tahapan secara berurutan dari proses respirasi aerob pada sel manusia!"
Teng!
Kali ini tangan Tommy sendiri yang menekan bel di mejanya dengan gaya sangat santai.
Layar hijau kembali menyala terang di depan meja nomor tujuh belas milik SMA Garuda.
"Silakan, SMA Garuda," ucap juri yang sudah mulai hafal dengan wajah konyol Tommy.
Nadin hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tidak sanggup melihat kebodohan apa lagi yang akan keluar di depan publik.
"Glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transpor elektron, Pak," jawab Tommy dengan sangat lancar.
Hening sejenak melanda seluruh isi aula kompetisi tersebut.
Bahkan Leo dari SMA Nusantara terlihat ternganga lebar mendengar rentetan jawaban ilmiah yang sangat panjang itu.
"Tepat sekali! Dua puluh poin untuk SMA Garuda!" seru dewan juri dengan nada penuh semangat.
Sorakan penonton kembali pecah mengguncang gedung, bersorak untuk si kuda hitam yang aneh ini.
Nadin menurunkan tangannya dan menatap Tommy dengan mata terbelalak sempurna.
"Lo... lo tahu dari mana istilah biologi tingkat dewa sesulit itu?!" tanya Nadin tidak percaya sama sekali.
"Tadi pagi pas aku nonton kartun robot, ada robot yang namanya mirip-mirip gitu, Din," jawab Tommy nyengir lebar.
"Robotnya berubah wujud jadi Glikolisis, terus ngeluarin jurus pamungkas namanya transpor elektron."
Nadin memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut sangat keras mendengar alasan ajaib itu.
Logika gadis itu benar-benar sudah mati rasa dan hancur berantakan menghadapi semua kebetulan gila dari mulut Tommy.
"Terserah lo aja deh, Tom, gue udah capek mikir," ucap Nadin menyerah sepenuhnya pada kewarasannya.
Berkat tebakan-tebakan absurd yang dilontarkan Tommy secara berkala, poin SMA Garuda merangkak naik dengan pasti.
Setiap kali Leo mencoba mempercepat ritme permainan, Tommy selalu memotongnya di detik-detik krusial yang menyebalkan.
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda berakhirnya babak penyisihan beregu akhirnya berbunyi sangat panjang.
"Waktu habis! Babak penyisihan resmi ditutup hari ini!" umumkan kepala juri.
Semua peserta langsung menyandarkan tubuh mereka ke kursi dengan napas lega dan keringat yang bercucuran.
Layar besar di belakang panggung langsung menampilkan peringkat sepuluh besar yang lolos ke babak final besok.
Di peringkat pertama, SMA Nusantara masih berdiri kokoh dengan raihan tiga ratus poin mutlak.
Namun yang membuat semua orang terkejut dan saling berbisik adalah nama sekolah yang berada di peringkat keenam.
SMA Garuda berhasil lolos dari zona bahaya dengan perolehan aman seratus empat puluh poin.
"Kita lolos, Din!" seru Tommy pura-pura girang kegirangan sambil bertepuk tangan sendiri seperti anak kecil.
Nadin hanya bisa menghembuskan napas panjang, merasa setengah bahagia dan setengah gila menghadapi partnernya ini.
"Iya, Tom, kita lolos," jawab Nadin tersenyum sangat tipis.
Seluruh peserta mulai merapikan meja dan turun dari atas panggung menuju area istirahat di lobi gedung.
Pak Darmawan sudah menunggu di sana dengan menyodorkan sebotol air mineral dan senyum yang sangat bangga.
"Kerja bagus kalian berdua, bapak sangat bangga melihat perjuangan kalian," puji Pak Darmawan menepuk pundak mereka.
"Ini semua murni berkat tebakan gila Tommy, Pak," lapor Nadin sambil melirik sinis ke arah temannya itu.
"Yang penting kita masuk final, Nadin, besok di ujian tertulis kalian harus lebih fokus lagi," balas Pak Darmawan menenangkan situasi.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki yang keras dan berirama cepat terdengar mendekati posisi mereka bertiga dari arah belakang.
Leo berjalan menghampiri meja istirahat SMA Garuda dengan wajah merah padam menahan amarah yang meletup-letup.
Di belakangnya, guru pembimbing SMA Nusantara mengikuti dengan wajah yang sama ketus dan angkuhnya.
"Heh, anak udik," panggil Leo kasar sambil menunjuk tepat ke depan wajah Tommy.
Tommy sengaja memasang wajah kaget dan mundur selangkah berlindung di balik punggung kecil Nadin.
"Ada apa, Kak Leo?" tanya Tommy dengan suara bergetar yang dibuat-buat ketakutan.
"Jangan pura-pura polos lo di depan gue!" bentak Leo tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Lo pikir gue orang bodoh yang percaya lo jawab soal fisika dan biologi tadi pakai alasan kartun sama toren air?!"
Nadin langsung membusungkan dada dan berdiri tegak di depan Tommy, menghalangi pandangan Leo.
"Jaga omongan lo, Leo, kita di sini bersaing secara sehat di atas panggung," ucap Nadin membela teman setimnya.
"Sehat dari mana? Anak ini pasti pakai alat komunikasi tersembunyi di kupingnya atau nyontek!" tuduh Leo dengan suara keras yang menarik perhatian sekolah lain.
Pak Darmawan langsung melangkah maju dan menatap tajam ke arah guru pembimbing SMA Nusantara tersebut.
"Pak Lukas, tolong ajari murid Anda sopan santun dalam menerima kekalahan kecil," tegur Pak Darmawan dengan nada suara yang sangat dingin.
"Sebelum menuduh murid saya berbuat curang, buktikan dulu ada panitia juri yang menangkapnya berbuat salah."
Pak Lukas berdeham pelan sambil memalingkan wajah, merasa sedikit malu karena muridnya membuat keributan di lobi terbuka.
"Sudah, Leo, jangan buang energimu yang berharga untuk sekolah pinggiran seperti mereka," ucap Pak Lukas sambil menarik pundak Leo.
"Besok di babak final ujian tertulis individu, keberuntungan konyolnya itu tidak akan berguna lagi."
Leo meludah pelan ke lantai dan menatap Tommy dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam.
"Awas aja lo besok, gue bakal bikin lo nangis darah ngerjain soal di depan semua orang," ancam Leo sebelum akhirnya berbalik pergi.
Tommy mengintip dari balik bahu Nadin dan membalas ancaman itu dengan senyuman idiot yang sangat lebar.
"Dadaaah, Kak Leo, sampai ketemu besok pagi ya!" teriak Tommy melambaikan tangannya dengan riang.
Leo nyaris tersandung kakinya sendiri karena saking kesalnya mendengar sapaan bodoh yang sangat menghina harga dirinya itu.
Setelah rombongan arogan SMA Nusantara menjauh, Nadin langsung mencubit lengan Tommy dengan sangat keras.
"Aw! Sakit banget, Din!" keluh Tommy sambil mengusap-usap lengannya yang memerah.
"Lo itu bisa diam gak sih? Gak usah sengaja mancing-mancing emosi anak singa begitu," omel Nadin terlihat sangat kesal.
"Aku kan cuma mau ramah dan sopan, Din," jawab Tommy nyengir tanpa rasa berdosa sedikit pun.
Pak Darmawan hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan absurd kedua muridnya itu.
"Ayo kita kembali ke sekolah sekarang, kalian butuh istirahat untuk pertarungan tertulis yang sesungguhnya besok," ajak Pak Darmawan membimbing mereka menuju mobil.
Perjalanan pulang ke sekolah terasa jauh lebih santai dibandingkan saat ketegangan berangkat tadi pagi.
Setibanya di rumah kontrakan pada sore hari menjelang magrib, Tommy langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Ia tidak merasa lelah sedikit pun secara mental berkat efek pemrosesan otak dari IQ seratus dua puluh satunya.
Wunggg.
Komputer rakitannya kembali menyala berdengung menemani kesunyian kamarnya yang mulai gelap.
Tommy langsung mengaktifkan dinding api berlapisnya dan masuk ke dalam jaringan forum gelap anonim andalannya.
Ia mengecek kotak masuk di akun Blank miliknya dengan gerakan kursor yang sangat cepat.
Biasanya, kotak masuk itu sangat sepi, namun hari ini ada sebuah pesan masuk dengan label prioritas warna hitam pekat.
Label hitam di forum ini menandakan pesan eksklusif dari pengguna dengan tingkat keamanan, kekuasaan, dan kekayaan tertinggi.
"Sangat menarik," gumam Tommy pelan menatap layar monitornya.
Ia membuka enkripsi pesan rahasia tersebut dengan beberapa ketukan sandi cepat di keyboard.
"Kepada Tuan Blank yang terhormat."
"Kami telah mengamati pekerjaan rapi Anda yang menghancurkan PT Bangun Persada tanpa jejak sama sekali."
"Keahlian peretasan Anda sangat berbahaya, sekaligus sangat berharga bagi organisasi kami."
"Kami memiliki penawaran kerja eksklusif untuk Anda malam ini dengan bayaran tunai dua ratus juta rupiah."
Mata Tommy sedikit melebar melihat nominal angka raksasa yang ditawarkan dengan begitu mudahnya.
Itu adalah jumlah uang yang sangat besar, cukup untuk membelikan ibunya rumah yang jauh lebih layak dari kontrakan bocor ini.
Tommy terus membaca baris demi baris pesan tersebut dengan teliti.
"Target peretasannya adalah pangkalan data server Kepolisian Kota yang menyimpan barang bukti digital kasus korupsi."
"Kami ingin Anda masuk ke sana secara diam-diam dan menghapus tiga buah berkas video rekaman CCTV sebelum persidangan dimulai minggu depan."
"Jika Anda menolak tawaran ini, kami tahu persis bahwa Anda mengalihkan pelacakan polisi siber ke Rusia kemarin malam."
"Kami punya sumber daya untuk mengarahkan pelacakan mereka kembali ke kota kecil tempat Anda tinggal sekarang."
Tommy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan raut wajah yang seketika berubah menjadi sangat dingin dan tanpa emosi.
Pesan ini bukanlah sekadar tawaran pekerjaan dengan bayaran tinggi, melainkan sebuah ancaman pemerasan secara langsung.
Klien misterius ini ternyata memantau pergerakan pelacakan polisi siber kemarin dan menggunakan celah informasi itu untuk menekan Tommy.
"Berani sekali tikus tanah ini mengancam seorang monster di kandangnya sendiri," batin Tommy dengan mata menyipit tajam.
Suhu di dalam kamarnya seakan ikut turun merespons aura membunuh yang dipancarkan oleh otak super jeniusnya.
Ting!
Layar biru transparan sistem langsung menyala memancarkan cahaya tepat di depan layar monitornya.
[MISI UTAMA TERSEDIA.]
[Misi: Hadapi ancaman dari klien misterius ini. Retas balik sistem mereka dan cari tahu identitas asli si pengirim pesan.]
[Hadiah: +5 Poin IQ dan +100 Poin Sistem.]
[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -20 poin dan identitas Blank akan terbongkar ke publik.]
Tommy tersenyum menyeringai layaknya predator melihat taruhan misi yang sangat besar dan berbahaya ini.
Ia tidak pernah suka diancam, apalagi oleh pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik layar komputer.
"Mereka pikir mereka sedang berhadapan dengan peretas bayaran biasa yang gila uang," gumam Tommy.
Tak! Tak! Tak!
Tangan Tommy mulai memukul papan tik dengan kecepatan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya seumur hidupnya.
"Sistem, aktifkan semua keahlian jaringan dan kriptografiku ke tingkat maksimal sekarang juga," perintah Tommy di dalam kepalanya.
Ting!
[Semua skill pasif dan aktif telah diselaraskan dengan potensi kapasitas IQ 121.]
Mata Tommy kini terlihat sangat fokus memindai baris-baris kode metadata yang tersembunyi jauh di balik enkripsi pesan ancaman tersebut.
Ia sama sekali tidak berniat menerima pekerjaan kotor menghapus barang bukti di server kepolisian yang akan membuatnya menjadi penjahat negara.
Ia justru akan melacak balik tanpa ampun siapa bajingan berduit yang berani menantangnya bermain api malam ini.
"Mari kita lihat, siapa yang akan terbakar habis malam ini," bisik Tommy di tengah kegelapan kamarnya yang hanya diterangi cahaya monitor.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇