NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkara Pengaman

**

"Rey, udah belah duren belum? Penasaran gue," tanya Dion tiba-tiba yang langsung membuat Reyhan yang sedang menuang oli ke motornya hampir saja tumpah.

Saat ini, dia sedang di bengkel Bima untuk men-service motornya Walaupun cuman mengganti oli. Kali ini untuk pertama kalinya dia tidak berhutang tapi tetapi saja Bima teman bangsatnya itu tidak mau melayaninya dan tetap menyuruhnya untuk melakukannya sendiri seperti biasa.

Dasar memang tidak akhlak! Walaupun tetap meminta harga diskon, tapi tetap saja dia sudah membayar dan tidak kasbon lagi. Sebenarnya, ini uang Ayana juga, entah ada angin apa gadis itu memberikan Reyhan uang untuk mengganti oli, katanya memang dia sudah tidak tahan mendorong motor karena lama-lama dia bisa menjadi Hulk, ada-ada saja memang tingkah istrinya itu. Ehem ... istri.

"Tuh Bim, itu tuh ngelamun lagi bayangin adegan jorok pasti atau lagi mikirin gaya apa yah nanti malam," ujar Dion yang mulutnya seperti biasa tidak ada filter.

Reyhan menatap tajam, melempar kain lap oli yang berhasil tepat mendarat di wajah Dion. "Brengsek. Otak mesum gak usah dipakai buat imajinasiin gue, sialan!"

"Aw, jijik Eyke!" teriak Dion dengan gaya bencongnya dibuat-buat.

Bima tertawa. "Kayaknya, kalau dilihat dari emosinya yang selalu menggebu-gebu seperti ledakan gunung Himalaya itu, tandanya belum dapat jatah. Banyak bom yang tertahan di selangkangan itu orang, padahal udah dikasih pemandangan gratis tiap malam tapi sayang gak bisa disentuh."

Reyhan memutarkan kedua bola matanya malas, teori apa lagi itu? Jika Bima sudah berada di satu kapal dengan Dion untuk meledeknya, sudah dia hanya bisa pasrah karena jika dua orang gila disatukan, yang ada malah bencana alam.

"Kita ada sesuatu buat lo," ujar Bima tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Entah kenapa, Reyhan menjadi waspada karena seumur hidup berteman dengan dua orang itu, tidak sekalipun mereka memberikan sesuatu. Ada angin apa ini?

"Nih," ujar Bima menyerahkan sedus kecil sesuatu. "Bukan bom Anj*ng, ambil pegel gue!"

Walaupun merasa curiga, tapi terpaksa Reyhan mengambilnya. Dia melihat kedua temannya aneh, kemudian menjadi semakin tak enak saat melihat senyum menjijikan Dion. 

"Apa nih, lo berdua mau mati apa gimana? Tiba-tiba kasih hadiah gini "

"Itu tuh sengaja kita beli patungan pas tadi ke minimarket beli rokok lihat lagi diskon, terus kita langsung inget lo," jawab Dion masih cengengesan semakin membuat curiga.

"Tunggu .... tunggu! Ini semakin tidak masuk akal. Lo berdua adalah orang yang bakal nyuruh gue makan roti busuk di tempat sampah, daripada beliin gue sesuatu karena lagi inget walaupun itu lagi diskon!" keluh Reyhan yang sudah sangat hafal sifat alamiah dua teman kampretnya.

"Hina sekali kah aku di mata kamu, Beb? Padahal kurang apa aku ke kamu? Semua yang aku punya sudah diberikan, tapi di mata kamu semua itu tidak ada artinya." Dion sudah berpura-pura menangis dengan mengelap air matanya menggunakan kain lap yang tadi dilempar Reyhan.

"Apa sih, bangs*t! Gel--"

"Itu kado ulang tahun buat lo. Besok lo ulang tahun, lupa yah lo!"

Reyhan melirik Bima, jadi ini mereka serius? Lagipula, ulangtahun bagi dia

tidak artinya, memangnya apa artinya bertambah umur tapi sekaligus mengurangi umur hidup kita di dunia? Dia tidak terbiasa merayakan, jangankan saling memberi kado, bagi keluarganya bisa makan sehari dua kali itu sudah sempurna.

"Buka! Buka! Buka!" Dion sudah berseru sambil bertepuk tangan heboh.

"Apaan dah, gak jelas."

"Buka!" Kali ini titah Bima semakin membuat Reyhan curiga.

Walau begitu curiga, akhirnya Reyhan memberanikan diri untuk membuka. Dia bergerak mendekat duduk diantara kedua temannya.

"Takut bom, jadi kita harus meledak bersama," ujar Reyhan sebelum kedua temannya bertanya.

"Sialan!"

"Bangsat emang dia!"

Reyhan mengabaikan umpatan kedua temannya, dia mulai merobek dus itu dan di dalamnya ternyata ada sekotak dus yang sepertinya familiar buat dia. Dia akhirnya tahu itu apa, memang sialan temannya itu.

"Anjir kond*m! Kenapa lo berdua kasih ini ke gue?" Reyhan tak habis pikir. Ini temannya mau mengejeknya apa bagaimana?

"Ada tiga alasan kenapa kita kasih itu ke lo," seru Dion. Kemudian menunjukkan angka satu dengan jarinya. "Pertama, karena diskon tentunya. Kedua, supaya lo gak kebobolan punya anak karena masih banyak utang dan ke tiga. Apa Bim?"

Rasanya, Reyhan ingin kembali menimpuk muka tengil Dion dengan knalpot sekalian.

Bima tertawa. "Ketiga, supaya bisa lo coba minta besok pas hari ultah lo, anggap aja kado kalau lo emang belum dapat jatah."

"Sialan!" maki Reyhan menjadi olok-olokan mereka berdua.

Memang apa salahnya jika dia belum having s*x dengan Ayana? Otak dia tidak sepenuhnya berisi tentang selangkangan seperti mereka berdua. Beda cerita jika Ayana mau, yah mana mungkin dia menolak. Ehemmmm.

Hidup itu ibarat sebuah kaca, jika salah bergerak sedikit bisa langsung pecah. Ibaratnya, sekarang dia sudah merasa nyaman dengan hubungan mereka, walaupun tidak tahu ini akan dibawa kemana ujungnya, tapi satu hal yang membuat Reyhan yakin, dia mau bersama Ayana selama yang dia bisa.

Gadis itu pernah menjadi korban pelecehan, walaupun belum ketahap inti jadi apapun bentuk sentuhan tanpa persetujuan satu orang, itu tetap pelecehan, bahkan pelecehan bukan hanya berupa tindakan, sekalipun itu ucapan kotor, itu bisa juga disebut pelecehan. Reyhan tidak tahu, apakah gadis itu masih menyimpan trauma atau tidak, tapi dia sebisa mungkin sudah tidak mau membuat luka bagi gadis itu. Dia benar-benar ingin menjaga Ayana dari apapun, termasuk dari nafsu dirinya sekalipun.

"Nanti gue minta review, kalau lo udah pake, gimana gitu rasanya. Mantap gak?" Dion bahkan menunjukan dua jempolnya sembari meledek.

"Kalau gue sih gak muluk-muluk, bisa ada video sepuluh detik juga gak papa," ujar Bima sama saja sedang meledeknya.

"Anj*ng lo berdua!"

Reyhan berdiri melempar kotak dus tadi ke arah mereka berdua, kemudian pergi masuk ke dalam rumah dengan perasaan dongkol.

"Mau kemana lo?"

"WC," jawab Reyhan sengak membalas Bima.

"Anj*ng, udah gak tahan lo, udah mau ngocok aja? Gak bisa nunggu pulang gitu?" Kalimat kotor kembali keluar dari mulut Dion yang tidak ada filternya itu.

"Brengsek! Jangan jadikan gue fantasi kotor lo berdua!"

Setelah mengatakan itu, Reyhan benar-benar masuk tanpa memperdulikan ocehan mereka berdua yang semakin tidak ada filter itu.

Heran, kok dia bisa bertahan lama berteman dengan mereka? Ini dia masih waras saja, sudah harus bersyukur sepertinya.

*

"Rey, kotak bekal tadi ada dimana? Aku sekalian mau cuci piring ini?" teriak Ayana dibarengi suara perabotan berbenturan.

Reyhan yang melihat ponsel, kemudian melihat jamnya. "Ini udah jam sepuluh Ay, gak besok aja. Ada di tas kerja aku, tuh!"

"Tanggung sekalian basah habis nyuci," jawab Ayana mode ibu-ibu mengomel. "Kebiasaan."

"Apaan?"

"Aku selalu bilang, bekel makan kalau di rumah langsung simpan di baskom cucian jadi pas aku mau cuci piring gak usah cari-cari lagi. Jangan kaya kemarin, pas mau berangkat belum dicuci," omel Ayana lagi yang kesekian kalinya.

"Iya, maaf lupa," balas Reyhan tidak mau semakin terjadi huru-hara.

Reyhan sudah mulai pandai menghafal mood Ayana, jika sedang mode ibu senggol bacok begini, tinggal setujui saja apa yang dibicarakan karena penyangkalan apapun yang dia berikan hanya akan menambah kadar panjang omelan Ayana.

"Tadi aja sepatu ditaruh sembarangan!"

"Iya-iya, maaf," jawab Reyhan asal lagi sembari bermain game.

"Itu juga baju kotor, udah aku bilangin langsung disimpan di keranjang cucian," omel Ayana lagi sudah pusing dengan kelakuan Reyhan.

"Iya-iya, maaf," jawab Reyhan memang selalu mencari aman.

"Kamu itu iya-iya terus, tapi diulang ter--" Tangan Ayana menyentuh sebuah kotak dus kecil di dalam tas Reyhan. "Apaan nih?"

"Menurut kamu emang apaan?" tanya balik Reyhan yang masih asyik bermain game di ponsel. Tiba-tiba dia jadi tersadar tapi telat karena Ayana sedang membaca bacaan di dusnya.

"Ini ... kond*m ... Hah?"

"Kond*m?" Reyhan syok. "Bukan punya aku!" teriak Reyhan panik, bahkan langsung melempar ponselnya sembarangan.

Dia mendekati Ayana, hendak merebut bungkusan itu tapi Ayana langsung menyembunyikannya dengan tatapan menyelidik.

"Aku gak bodoh itu apaan!" Ayana menyentak kesal. "Kamu beli ginian?jadi kamu gini tuh, sama aja sama kaya cowok lain suka jajan cewek gitu."

Reyhan menggeleng kencang. "Enggak. Itu bukan punya aku! Ta-di itu katanya hadiah dari dua kucrut itu karena ada diskon, udah aku lempar tadi, aku gak tahu kenapa ada dalam tas, pasti itu ulah mereka juga. Sialan emang mereka!"

Ayana masih menatap tak percaya. "Yakin?"

"Ay, aku masih perjaka, sumpah!"

"Terus?"

"Yah, mana mungkin orang suci perjaka kaya aku punya barang gituan. Mustahil!" teriak Reyhan frustasi. Dia merasa seperti seorang penjahat kelamin yang sedang diinterogasi.

"Ya udah," jawab gadis itu, kemudian menyimpan bungkusan dus itu sembarangan. Ayana mengambil kotak bekal Reyhan, kemudian menyimpannya di baskom berisi wadah kotor.

"Ay, percaya kan?" Reyhan masih menatap Ayana penuh harap memandang gadis itu yang akan pergi ke kamar mandi membawa baskom tadi.

"Iya Rey, percaya," jawab Ayana asal, sangat tidak menyakinkan untuk. Reyhan.

"Ay, sumpah bukan punya aku!" Reyhan terlihat frustrasi.

"Iya, Rey."

Reyhan yang frustrasi, kemudian menyusul langkah Ayana, menggenggam lengannya yang membuat gadis itu berbalik melihat ke arah Reyhan.

"Kenapa, Rey?"

"Masih gak percaya?"

Ayana menghela napas. "Iya Rey, aku percaya."

"Jawaban kamu gak menyakinkan!"

"Emang jawaban kamu tadi meyakinkan," balas Ayana sembari terkekeh.

"Tuh kan, aku udah bilang bukan punya aku." Reyhan semakin frustrasi. "Ayo, kita buktikan!"

"Buktikan gimana?" Ayana bertanya dengan sangat bingung.

Reyhan menarik lengan gadis itu sehingga kembali masuk ke kamar, dia menyimpan baskom tadi asal.

"Ayo kita buktikan, aku masih perjaka atau enggak!"

"Hah?"

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!