NovelToon NovelToon
Dendam Putri Yang Tertukar

Dendam Putri Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu, Ruoxi duduk sendirian di kamarnya, cahaya lilin bergoyang pelan menerangi wajahnya yang sudah tidak lagi menyimpan sisa-sisa senyum manis yang biasa dia pertontonkan di depan keluarga.

Sejak teguran ayahnya sore tadi, dia memilih diam. Tidak merengek, tidak membela diri lagi, bahkan sengaja tersenyum tipis pada Yuxin saat makan malam, seolah benar-benar menerima nasihat itu dengan lapang dada. Nyonya Su bahkan sempat memuji perubahan sikapnya, tidak menyadari bahwa ketenangan itu hanyalah topeng baru yang jauh lebih berbahaya dari amarah yang biasa dia tunjukkan.

Besok pagi, Yuxin akan berangkat ke istana. Malam ini adalah satu-satunya kesempatan yang tersisa.

Dia menunggu sampai seisi rumah benar-benar sunyi, sampai suara langkah penjaga malam terdengar menjauh ke sisi lain kediaman. Lalu dia berganti pakaian sederhana, menutupi wajahnya dengan kerudung tipis, dan menyelinap keluar lewat pintu belakang yang jarang dijaga ketat.

Jalanan kota masih cukup ramai meski malam sudah larut, lentera-lentera kedai menerangi sudut-sudut gang sempit. Ruoxi melangkah cepat, menjaga jarak dari cahaya utama, sampai akhirnya sampai di depan kedai arak dekat pasar barat, tempat yang sudah dia ketahui betul jadi persinggahan kakaknya sendiri hampir setiap malam.

Chen Muyang duduk di sudut ruangan, cangkir arak sudah kosong beberapa kali di depannya. Ruoxi melangkah mendekat, menarik kerudungnya sedikit, lalu duduk di seberangnya tanpa menunggu diundang.

Chen Muyang mendongak, agak terkejut melihat siapa yang datang. Dia menyeringai lebar, jelas menikmati momen yang jarang terjadi ini. "Wah, wah. Nona besar keluarga Lin, sudi juga menginjakkan kaki di tempat kumuh seperti ini. Tumben sekali kau menemuiku, biasanya kau paling risih kalau ada yang menyebut hubungan kita di depan orang lain."

"Jangan bicara sembarangan," desis Ruoxi, matanya melirik sekeliling kedai yang temaram, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka terlalu lama.

"Kenapa? Takut ketahuan kalau ternyata masih punya kakak kandung tukang mabuk seperti aku?" Chen Muyang menyesap araknya, terkekeh pelan. "Selama ini kau selalu pura-pura tidak mengenaliku kalau kita berpapasan di jalan, Ruoxi. Sekarang malah repot-repot mencariku sendiri, tengah malam pula. Dunia benar-benar sudah terbalik."

Ruoxi menahan diri untuk tidak membalas sindiran itu dengan amarah. Dia butuh Chen Muyang tetap kooperatif malam ini, bukan tersinggung dan memilih pergi begitu saja hanya karena harga dirinya terusik.

"Aku punya tawaran," ucapnya akhirnya, memaksakan nada suaranya tetap tenang. "Jauh lebih menguntungkan daripada sekadar uang recehan yang biasa kau kejar dari Yuxin."

Chen Muyang mengangkat alis, tertarik meski matanya masih setengah sayu karena arak. "Menarik. Kau tidak pernah semurah hati ini sebelumnya, apalagi sampai turun tangan sendiri. Ada apa sebenarnya, Ruoxi?"

"Aku ingin kau melakukan sesuatu," Ruoxi mencondongkan tubuhnya sedikit, matanya berkilat tajam, "sebelum matahari terbit besok pagi."

Chen Muyang meletakkan cangkirnya, kini menatap Ruoxi lebih serius, meski masih ada seringai tipis tersisa di sudut bibirnya. "Sebelum matahari terbit? Kau benar-benar terburu-buru rupanya. Apa yang membuat adikku yang sempurna ini begitu panik?"

"Kau tidak perlu tahu alasannya kenapa," jawab Ruoxi tajam. "Yang perlu kau tahu, besok pagi Yuxin akan berangkat ke istana untuk upacara penerimaan gelar calon permaisuri."

Seringai Chen Muyang memudar sedikit, digantikan raut penasaran yang lebih tulus. "Calon putri mahkota? Yuxin menjadi calon putri mahkota?"

"Ya," Ruoxi menahan getir di suaranya sendiri saat mengucapkan kata itu. "Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."

Chen Muyang bersandar, menyilangkan tangan di dada, menatap Ruoxi dengan tatapan menilai. "Jadi kau ingin aku menggagalkannya. Bagaimana caranya? Aku cuma pemabuk biasa, Ruoxi, bukan pembunuh bayaran."

"Aku tidak memintamu membunuhnya," Ruoxi buru-buru menjawab, suaranya turun jadi bisikan. "Aku hanya perlu kau melakukan satu hal sederhana. Sesuatu yang akan membuat namanya tercoreng, cukup untuk membatalkan seluruh rencana pertunangan itu."

"Sederhana katamu," Chen Muyang mendengus, menuangkan lagi araknya. "Kalau semudah itu, kenapa kau tidak lakukan sendiri?"

"Karena aku tidak boleh terlihat terlibat," jawab Ruoxi, matanya menajam. "Kalau sampai ketahuan aku yang mendalangi, aku yang akan diusir dari keluarga Lin, bukan Yuxin. Tapi kau, seorang pria yang bahkan tidak dikenal siapapun di ibu kota, bisa bergerak tanpa dicurigai."

Chen Muyang terdiam sejenak, mempertimbangkan tawaran itu dengan mata yang mulai sedikit lebih jernih dari sebelumnya, seolah rasa penasaran mengalahkan pengaruh arak yang sudah mengalir di tubuhnya.

"Katakan dulu," ucapnya akhirnya, "apa untungnya buatku kalau aku membantumu?"

Ruoxi mengeluarkan sebuah kantung kecil dari balik bajunya, meletakkannya di atas meja dengan suara denting logam yang jelas. "Uang ini hanya permulaan. Kalau rencana ini berhasil, dan Yuxin gagal menghadap istana besok, aku akan memberimu tiga kali lipat dari yang biasa kau peras selama ini. Setiap bulan, tanpa perlu kau repot-repot mengancamku lagi."

Mata Chen Muyang berkilat melihat kantung uang itu, tapi dia belum menyentuhnya. "Tiga kali lipat, setiap bulan? Kau serius?"

"Aku serius," jawab Ruoxi tegas. "Tapi hanya kalau rencana ini berhasil."

Chen Muyang akhirnya meraih kantung uang itu, menimbangnya sejenak di tangan sebelum menyelipkannya ke balik jubahnya. Seringai licik kembali muncul di wajahnya, kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya.

"Baiklah, Ruoxi," ucapnya pelan, mencondongkan tubuhnya mendekat. "Katakan apa yang harus kulakukan malam ini."

Ruoxi mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya turun jadi bisikan agar tidak terdengar siapapun di sekitar kedai itu.

"Besok pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, rombongan akan mempersiapkan kereta kuda Yuxin di halaman depan. Ada jeda waktu, sekitar seperempat jam, saat kereta sudah disiapkan tapi Yuxin akan berpamitan pada Ayah dan Ibunya."

"Lalu?" Chen Muyang menyipitkan mata, menunggu inti dari rencana itu.

"Kau akan menyelinap masuk ke dalam kereta itu," lanjut Ruoxi, matanya berkilat licik, "Ancam sjaa dia pakai belati agar dia tidak berteriak sampai kereta mulai berjalan. Begitu rombongan sudah cukup jauh dari gerbang rumah, tapi masih di jalan utama yang ramai, kau tunjukkan dirimu. Buat keributan seolah kau baru saja melakukan hubungan intim bersamanya di dalam kereta."

Chen Muyang mengangkat alis, mulai tertarik. "Hubungan intim? Maksudmu..."

"Maksudku," potong Ruoxi tajam, "kau robek sedikit bagian kerah bajunya, lalu buat rambutmu berantakan, seolah kau baru saja melakukan sesuatu yang tidak pantas di dalam sana. Buatlah suara desahan atau apa pun itu, seolah kau dan dia sedang memadu kasih, atau buatlah seilah kalian berdua memang sudah lama punya hubungan secara diam-diam. Biarkan orang-orang di jalan menyaksikan sendiri, menarik kesimpulan mereka sendiri."

Seringai Chen Muyang melebar perlahan, mulai memahami kedalaman rencana itu. "Jadi kau ingin semua orang mengira dia sudah tidak murni lagi. Calon permaisuri yang kedapatan berduaan dengan pria asing di dalam keretanya sendiri, tepat sebelum menghadap istana."

"Tepat sekali," Ruoxi mengangguk, matanya menyala. "Tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan kebenarannya nanti, kecurigaan itu sudah cukup. Istana tidak akan mau menerima calon permaisuri yang reputasinya sudah dipertanyakan publik, bahkan sebelum upacara dimulai. Dan Ayah pasti akan menunda keberangkatannya, kalaupun tidak membatalkannya sepenuhnya."

Chen Muyang bersandar, menggosok dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot tipis, mempertimbangkan risikonya. "Berbahaya juga. Kalau sampai penjaga rombongan menangkapku di tempat, aku bisa langsung dihukum mati karena berani menyentuh calon permaisuri."

"Karena itu kau harus cepat," Ruoxi menegaskan. "Begitu keributan itu cukup ramai disaksikan orang, langsung lari secepat mungkin. Aku sudah menyiapkan kuda di ujung gang belakang pasar, dekat titik yang sudah kutandai di peta itu. Pakai untuk kabur secepatnya sebelum penjaga sempat mengejarmu."

Chen Muyang terdiam sejenak, matanya berkilat mempertimbangkan besarnya risiko dibanding besarnya bayaran yang dijanjikan. Akhirnya dia mengangguk pelan, seringai liciknya kembali muncul, kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya.

"Baiklah, Ruoxi. Rencana gilamu ini, aku suka."

"Jangan sebut namaku sama sekali kalau kau tertangkap," Ruoxi mengingatkan sekali lagi, berdiri dari duduknya. "Kalau sampai kau membocorkannya, aku akan pastikan kau membusuk di penjara sebelum sempat menikmati uang itu."

Chen Muyang mengangkat cangkirnya, menyesap sisa araknya dengan santai. "Tenang saja. Aku bukan orang bodoh yang mau menggantung diriku sendiri."

Ruoxi menarik kembali kerudungnya, menutupi wajahnya, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan Chen Muyang yang masih menyeringai sendiri di sudut kedai, menyelipkan kertas catatan rute itu ke balik jubahnya bersama kantung uang yang baru saja dia terima.

Di luar kedai, malam semakin larut, dan langkah Ruoxi terdengar semakin cepat menyusuri gang sempit menuju kediaman Lin, seolah ingin secepat mungkin kembali ke kamarnya sebelum ada yang menyadari kepergiannya.

1
Yeni Astriani
saya kecewa sama Li cen sbg Putra Mahkota yang tidak mampu melindungi Putri Mahkota dr persengkokolan jahat Permaisuri Xuan terlalu mudah kena tipu daya Gu Yueran
kymlove...
selalu diam dan mengamati, sehingga telat untuk membela diri.... entah kenapa yuxin ini mengamati situasi terlalu lama, seakan berhati-hati sekali, tapi dengan selalu lama dalam mengambil tindakan terkesan membiarkan masalah terlalu terlambat untuk di selesaikan!
Adi Sudiro
perkumpulan wanita culas.... 🤭🤭🤭
Adi Sudiro
lah kan memang bukan putri keluarga lin... lawak nih tuan besar... 🤭🤭
Dessy C: makasih akak komemn nya 🙏🫰
total 1 replies
kymlove...
bagus!! jika ruoxi masih tak tau diri.. dan tetap gak sadar diri...!! emang bener 2 benalu abadi sih ini!!
kymlove...
bilang aja jujur yuxin kalau ruoxi memberi mu hanfu sampah!!!
kymlove...: semangat trz kk🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!