NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Di luar lembah

Ye Chan menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang tertutup lumut. Ia memejamkan mata, membiarkan napasnya teratur.

Meridian di dalam tubuhnya masih terasa seperti disayat belati setiap kali ia mencoba mengalirkan energi. Ia membuka catatan resep pemulihan yang tersimpan di balik jubahnya. Kertas itu sudah agak kekuningan, tetapi tulisannya masih terbaca jelas.

Dua inti energi monster tingkat menengah sudah ada di tangan, begitu pula beberapa herba yang ia ambil dengan susah payah. Namun, kolom bahan terakhir masih kosong.

'Tanpa pemulihan total, kultivasiku akan macet di tahap ini selamanya,' batinnya.

Ia tidak bisa kembali ke lembah itu dalam waktu dekat. Risiko terlampau tinggi. Ye Chan bangkit berdiri, menahan nyeri di tulang rusuknya. Ia harus mencari peradaban, atau setidaknya pasar kultivator kecil di mana ia bisa bertukar sumber daya.

Perjalanan menuruni lereng ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Hutan di kaki gunung ini lebih hidup dibandingkan lorong sunyi yang baru saja ia tinggalkan.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gesekan daun yang tidak alami. Ia segera merendahkan tubuh di balik semak tebal. Di depannya, seekor macan tutul bertanduk mengendus tanaman obat yang tumbuh di sela batu.

Itu adalah bahan tambahan untuk menstabilkan ramuan pemulihannya. Monster itu berada di tingkat Pengumpulan Qi Menengah. Jika ia dalam kondisi prima, ini hanyalah mangsa empuk. Namun sekarang, Ye Chan harus berhati-hati.

Ia tidak membuang tenaga untuk konfrontasi langsung. Ye Chan menunggu saat macan itu memutar tubuh. Dengan satu hentakan, ia melompat dari balik bebatuan, tidak langsung menebas tubuh macan itu, melainkan menghantam area bebatuan yang tidak stabil tepat di atas kepala hewan itu.

Batu-batu besar runtuh, menimpa kaki belakang macan tersebut. Monster itu merintih, kehilangan keseimbangan. Tidak memberikan kesempatan, Ye Chan melesat, bilah pedangnya menembus mata kanan lalu menyabet tenggorokan macan tersebut dalam satu gerakan cepat.

Darah segar memercik ke tanah. Ia segera memungut herba itu dan mengambil inti energi monster.

'Efisien,' pikirnya singkat. Ia tidak berhenti berlama-lama untuk membersihkan jejak.

Jejak roda kereta kayu di tanah berlumpur menjadi tanda yang ia cari. Ia mengikuti alur bekas roda itu hingga menembus celah bukit yang lebih landai. Suara bising dari kejauhan—kegaduhan khas pasar dan tawar-menawar—mulai terdengar.

Ye Chan menyarungkan pedangnya, menyembunyikan sebagian besar auranya agar terlihat seperti kultivator Pengumpulan Qi Awal yang kelelahan. Ia tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengincar barang jarahannya.

Gerbang kota kecil itu tidak dijaga ketat. Para pedagang lalu-lalang membawa keranjang rempah, sementara beberapa kultivator dengan pakaian seragam klan minor berjalan dengan dagu terangkat.

Ye Chan menyusuri gang-gang samping, menghindari tatapan mata yang terlalu penasaran. Ia singgah di sebuah kedai obat yang tampak ramai. Di sana, ia mengeluarkan beberapa bagian tubuh monster yang telah ia bersihkan.

Sang pedagang, seorang pria tua dengan kacamata berlensa tebal, melirik barang-barang itu dengan acuh tak acuh. Namun, begitu ia menyentuh kulit macan bertanduk yang Ye Chan letakkan, alisnya terangkat.

"Kualitasnya sangat murni," gumam pedagang itu, memandang Ye Chan dengan tatapan menilai. "Kau berburu di area terlarang, ya?"

"Aku hanya beruntung menemukan bangkai monster yang baru mati," jawab Ye Chan tenang. Ia tidak ingin membongkar asal-usul barangnya.

Pedagang itu tidak bertanya lebih jauh. Uang batu energi pun berpindah tangan. Dengan modal itu, Ye Chan segera mencari daftar bahan yang ia butuhkan. Sisa bahannya berhasil dibeli, kecuali satu hal: Akar Bintang Pucat.

"Kami tidak memilikinya," jawab seorang penjaga toko di ujung pasar. "Itu bahan kelas tinggi. Biasanya hanya tersedia di rumah lelang besar atau dimiliki oleh monster tingkat Pembentukan Inti."

Ye Chan menatap catatan di tangannya. Bahan itu adalah kunci terakhir. Tanpa itu, meridiannya hanya akan pulih separuh, dan kekuatan aslinya tidak akan pernah kembali.

"Di mana tempat yang paling mungkin memilikinya?" tanya Ye Chan.

Penjaga itu menunjuk ke arah peta di dinding, ke sebuah wilayah hutan terlarang di utara. "Monster Penjaga Hutan di sana melindunginya. Tapi, dengar, anak muda, itu monster Pembentukan Inti. Bahkan ketua klan kota ini pun tidak berani mendekatinya."

Ye Chan mengucapkan terima kasih dan berlalu.

***

Malam itu, di sebuah penginapan murah, ia menatap bahan-bahan yang telah terkumpul di atas meja kayu. Cahaya lilin yang berkedip-kedip menyoroti wajahnya yang pucat.

Ia menatap kosong ke arah catatan tentang monster Pembentukan Inti. Jika ia mencoba bertarung, itu sama saja dengan bunuh diri. Kekuatannya sekarang belum cukup untuk menahan satu serangan dari entitas sekuat itu.

'Jika aku tidak bisa mengalahkannya, aku tidak perlu mengalahkannya,' pikirnya.

Ia mengambil pena, menggambar sketsa topografi hutan terlarang itu berdasarkan informasi yang ia dengar dari para pemburu di pasar tadi. Ada pola pergerakan, jam makan, dan zona wilayah kekuasaan monster itu.

Ye Chan tersenyum tipis. Ia tidak butuh otot untuk mendapatkan bahan itu. Ia hanya butuh celah. Dan setiap monster, tidak peduli seberapa kuat, pasti memiliki celah dalam rutinitasnya.

Ia menutup buku catatannya, lalu mematikan lilin. Kegelapan merayap masuk ke dalam kamar, menyisakan keheningan yang pekat. Besok, ia akan menyusun rencana untuk mencuri tanpa harus bertarung.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!