Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Inspeksi Sang CEO
Aroma tanah basah dan debu semen memenuhi udara di tapak konstruksi Grand Dirgantara Tower. Pagi itu, sinar matahari Jakarta tertutup tipis oleh awan mendung. Di tengah riuk rendah suara alat berat dan lalu lalang para pekerja proyek yang mengenakan rompi keselamatan kuning, Dania berdiri memegang papan jalan berisi lembar cetak biru terbaru.
Ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga siku, celana kain hitam, dan helm keselamatan putih yang membingkai sempurna wajah cantiknya.
"Sistem pilar di sektor timur sudah disesuaikan dengan perhitungan daya dukung tanah yang kita revisi minggu lalu," ujar Erlangga seraya menunjuk ke arah fondasi utama di hadapan mereka. Pria itu berdiri cukup dekat di sebelah Dania, menyesuaikan posisi helm keselamatannya sendiri. "Kalau kita mempertahankan sudut pencahayaan alami sesuai draf awalmu, kita butuh tambahan dua penopang baja di sisi atrium."
Dania memperhatikan struktur fondasi dengan cermat, lalu mengangguk pelan. "Perhitunganmu masuk akal, Erlangga. Coba kita cek ketebalan pelat lantai di zona tiga."
Dania melangkah mendekati tepi zona tiga, jemarinya lincah mencatat beberapa koordinat di papan jalan. Karena fokus pada lembaran kertas di tangannya, Dania tidak menyadari sebuah celah kerikil licin di dekat kakinya.
Srett!
"Hati-hati, Dania!" seru Erlangga refleks. Dengan cepat, Erlangga mengulurkan tangannya dan memegang lengan Dania untuk menyeimbangkan tubuh wanita itu agar tidak terpeleset.
"Terima kasih, Erlangga. Aku kurang memperhatikan pijakan," kata Dania seraya tersenyum tipis dan menarik lengannya perlahan dengan sopan.
Namun, sebelum Erlangga sempat membalas ucapan Dania, deru suara mesin mobil-mobil mewah yang melintas memasuki area tapak proyek mengalihkan perhatian seluruh pekerja.
Tiga unit SUV hitam mengkilap berhenti berjejer di dekat tenda posko utama. Pengawal berjas gelap dengan cepat keluar dan membuka pintu penumpang belakang unit tengah.
Arvin Dirgantara melangkah keluar.
Pria tegap itu mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, dengan kemeja abu-abu gelap yang dua kancing teratasnya terbuka santai. Seseorang menyodorkan helm keselamatan putih padanya, dan Arvin memakainya tanpa mengalihkan pandangan mata pekatnya dari area di mana Dania dan Erlangga berdiri.
Aura dominan dan wibawa dingin yang dipancarkan sang CEO seketika membuat suasana riuh di lokasi proyek berubah hening. Rian melangkah siaga dua pijakan di belakang Arvin.
"Pak CEO?" gumam Erlangga kaget, tidak menyangka pimpinan tertinggi Dirgantara Group turun langsung ke lapangan tanpa pemberitahuan jadwal sebelumnya.
Dania menatap Arvin yang sedang melangkah tegap mendekati mereka. Sudut bibir Dania terangkat tipis. Ia tahu betul tidak ada jadwal inspeksi CEO dalam agenda harian yang disiapkan Rian pagi ini.
Arvin menghentikan langkahnya tepat di depan Dania dan Erlangga. Manik matanya yang pekat melirik sekilas ke arah tangan Erlangga yang tadi sempat memegang lengan Dania, sebelum akhirnya terkunci rapat pada wajah istrinya.
"Selamat pagi, Tuan Arvin," sapa Dania dengan nada suara formal yang profesional, meski mata beningnya memancarkan binar kehangatan yang terselubung. "Suatu kehormatan melihat Anda melakukan inspeksi mendadak ke tapak proyek."
Arvin berdehem kaku, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya.
"Ada penyesuaian alokasi dana struktur di laporan mingguan," kata Arvin dengan alasan bisnis yang meluncur sangat lancar dari bibirnya. "Aku hanya ingin memastikan secara langsung bahwa pekerjaan di lapangan berjalan sesuai efisiensi yang diharapkan."
Erlangga membungkuk hormat. "Semua struktur fondasi berjalan sesuai draf revisi Nyonya Dania, Pak Arvin. Kami baru saja selesai mengecek zona tiga."
Arvin menatap Erlangga lurus-lurus dengan pandangan mata yang begitu dalam dan dingin. "Bagus. Tapi kurasa staf arsitek senior bisa melanjutkan pengecekan detail zona empat bersama manajer lapangan."
Erlangga mengernyit bingung sejenak, namun sebagai bawahan yang sigap, ia langsung menangkap sinyal tersebut. "Baik, Pak CEO. Saya akan memeriksa zona empat sekarang."
Erlangga memberi gestur pamit pada Dania lalu melangkah pergi menuju area barat posko.
Kini, hanya tersisa Arvin dan Dania di sudut posko zona tiga, sementara Rian dan para pengawal berdiri menjaga jarak lima meter dari mereka untuk memberikan privasi.
Dania menyilangkan tangannya di dada, menatap wajah kaku Arvin seraya menahan tawa.
"Inspeksi efisiensi lapangan, Tuan CEO?" goda Dania pelan, nada suaranya berbisik manis agar tidak terdengar oleh pekerja lain. "Atau ada alasan lain yang membuat Anda sengaja datang memakai helm proyek pagi-pagi begini?"
Arvin melangkah satu pijakan lebih dekat, mengikis jarak hingga aroma parfum woody-nya berbaur dengan angin dingin lokasi konstruksi.
"Aku membaca laporan Rian bahwa kamu berangkat ke tapak proyek hanya didampingi Erlangga," kata Arvin datar, namun gurat cemburu posesif terpancar sangat jelas dari cara pria itu menatap Dania.
Dania mendongak, matanya berbinar jenaka. "Dia adalah arsitek pendamping di timku, Arvin. Dan kami sedang bekerja."
"Aku tidak suka cara dia memegang lenganmu tadi," potong Arvin cepat, suaranya merendah penuh ketegasan yang tak tertahankan.
Dania terkekeh halus, matanya memancarkan rasa sayang yang teramat dalam melihat betapa posesifnya sang suami di balik topeng kaku sang CEO. Dania mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kain tipis, merapikan tali helm keselamatan Arvin yang agak miring.
"Saya hampir terpeleset kerikil licin, Tuan Dirgantara," bisik Dania lembut seraya menatap mata Arvin. "Dan satu-satunya pria yang berhak memegang tangan saya tanpa sarung tangan adalah suami saya sendiri."
Penjelasan sederhana dan jujur dari Dania seketika meruntuhkan gurat kekakuan di wajah Arvin. Sudut bibir Arvin terangkat tipis dalam sebuah senyuman halus yang amat tampan.
Arvin meraih telapak tangan Dania yang berada di dekat dadanya, mengusapnya dengan lembut di balik sarung tangan tipis itu.
"Selesai dari sini, kamu pulang denganku," perintah Arvin kaku, kembali menggunakan nada bicara otoriter yang menjadi ciri khasnya—namun kali ini sarat akan perhatian. "Aku tidak menerima penolakan."
Dania menyunggingkan senyum manis yang paling menawan, mengangguk pelan. "Siap, Tuan CEO. Saya akan menyelesaikan catatannya dalam sepuluh menit."
Arvin berdiri memperhatikan Dania yang kembali berjalan memeriksa denah dengan ketelitian tinggi. Di tengah bisingnya alat berat dan dinginnya angin lokasi proyek, Arvin menyadari satu hal: memiliki Dania di sisinya—baik sebagai rekan profesional yang cerdas maupun sebagai istri yang dicintainya—adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.