Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Ayara
Tubuh Ayara yang masih terbaring lemah mendadak bergetar hebat bahkan di dalam alam bawah sadarnya. Melihat kondisi sang istri yang tampak tersiksa dan ketakutan setengah mati, kepanikan Guzelar mencapai puncaknya. Tanpa memedulikan lagi kehadiran Sorana, Frederic, Hera, maupun Dokter Josh yang masih berdiri di dalam kamar, Guzelar langsung menerjang maju dan merengkuh tubuh istrinya erat-erat ke dalam dekapannya.
Air mata penyesalan seketika tumpah begitu saja membasahi pipi pria bermartabat itu. Guzelar sama sekali tidak malu menangis histeris di depan keluarganya sendiri.
"Sayang! Bangun, Ayara..." panggil Guzelar dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan.
"Ayara, kumohon jangan seperti ini lagi, Sayang... Maafkan aku, ini semua salahku..." isapnya pilu, mengeratkan pelukannya seolah ingin melindungi istrinya dari bayang-bayang masa lalu yang kejam.
Tak berselang lama, kelopak mata Ayara terbuka lebar secara mendadak. Napas wanita itu terengah-engah hebat, tersenggal-senggal layaknya seseorang yang baru saja tenggelam dan kehabisan oksigen. Tanpa melontarkan sepatah kata pun atau menoleh ke sekitar, Ayara langsung menerjang leher suaminya, memeluk tubuh Guzelar dengan cengkeraman yang begitu kuat seolah pria itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai mengerikan.
"Aku tidak melakukan itu, Pa! Sumpah demi Tuhan aku tidak melakukannya!" isak Ayara pecah, menangis histeris di dada bidang suaminya.
Guzelar langsung mengelus lembut punggung bergetar istrinya, berusaha menyalurkan ketenangan dengan suara bergetar.
"Iya, Sayang... Aku tahu, kamu tidak melakukannya. Tenang ya, ada aku di sini bersamamu," balas Guzelar lembut, mengecupi puncak kepala Ayara berulang kali penuh rasa bersalah.
"Aku bukan wanita jalang! Kenapa mereka semua jahat padaku?!" teriak Ayara histeris di sela-sela tangisannya, sama sekali tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan di hadapan orang banyak.
"Iya, Sayang... Kamu bukan jalang, kamu adalah istriku. Kamu wanita berharga milikku. Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku karena sudah membuatmu mengingatnya lagi," ucap Guzelar sambil terus menghujani kening dan pipi istrinya dengan kecupan penenang.
Berbagai meracau dan ucapan pilu terus menerus keluar dari mulut Ayara akibat trauma mendalam yang baru saja tersulut kembali. Mendengar racauan itu, gelombang amarah yang luar biasa besar bergemuruh di dada Guzelar.
Ia sangat tahu persis akar dari semua penderitaan ini. Amarahnya membuncah membayangkan bagaimana ibu tiri dan saudara tiri yang keparat itu tega memfitnah Ayara sedemikian rupa, bagaimana wanita yang dicintainya dilecehkan secara keji, dan yang paling membuat darahnya mendidih adalah ketidakpercayaan ayah kandung sendiri yang justru menghardik, menendang, lalu membuang Ayara keluar pagar di tengah malam buta dalam kondisi yang begitu memprihatinkan.
Guzelar sama sekali tidak tinggal diam ketika peristiwa biadab itu terjadi beberapa tahun lalu. Begitu ia mengetahui alasan sebenarnya mengapa Ayara malam itu datang mengetuk pintu apartemennya dalam keadaan hancur, amarah Guzelar meledak. Dengan menggunakan seluruh kekayaan, relasi, dan kekuasaan keluarga Maximilian, Guzelar tidak butuh waktu lama untuk menjebloskan Mike ke dalam jeruji besi penjara.
Vina dan Duanda sempat datang memohon-mohon dan mencoba mengajak berdamai secara kekeluargaan untuk menyelamatkan anak lelaki mereka, tetapi Guzelar menolak mentah-mentah. Bagi Guzelar, tidak ada kata damai untuk para bajingan yang sudah menghancurkan mental istrinya.
Namun, perjuangan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Luka fisik mungkin bisa sembuh dalam hitungan minggu, tetapi trauma mental yang menghantam jiwa Ayara jauh lebih mematikan. Kejadian malam itu meninggalkan bekas luka psikologis yang begitu parah.
Bahkan, hampir setahun lamanya Ayara harus menjalani masa-masa kelam dengan pengawasan dan perawatan medis ekstra ketat, mengonsumsi berbagai obat penenang demi bisa melewati hari-harinya. Hingga akhirnya, perlahan-lahan Guzelar mengajak Ayara menikah dan membawanya terbang dengan dalih berlibur bulan madu ke Kanada. Di negeri orang itulah, dengan kesabaran luar biasa dan cinta tanpa syarat, Guzelar perlahan-lahan merawat jiwa istrinya yang hancur hingga akhirnya Ayara merasa tenang, pulih, dan jatuh cinta padanya.
Kisah cinta mereka bukanlah kisah romantis yang mulus, itu adalah perjuangan panjang yang sangat menguras tenaga, air mata, dan emosi jiwa.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, ketegangan menyelimuti tatapan keluarga Maximilian.
"Bagaimana kondisi menantuku sekarang, Dokter Josh?" tanya Sorana dengan nada cemas, sengaja mengabaikan putra dan menantunya yang masih sibuk saling menenangkan di atas ranjang.
Dokter paruh baya itu membereskan peralatan medisnya dengan wajah muram. "Maafkan saya, Nyonya Sorana. Untuk saat ini, kondisi psikologis Nyonya Ayara sangat mengkhawatirkan dan tidak stabil," jawab Dokter Josh dengan nada sopan namun serius.
"Sepertinya... Nyonya Ayara harus kembali mendapatkan sesi perawatan intensif dan penanganan medis secepatnya."
"Apa benar-benar harus separah itu, Dokter?" tanya Hera dengan suara bergetar, air matanya menetes berlinang di pipi. Sebagai ipar, Hera adalah saksi hidup bagaimana dulu iparnya itu harus berjuang menelan berbagai obat penenang dosis tinggi yang membuat Ayara kerap terlihat kosong dan tidak berdaya, sebuah pemandangan yang membuat Hera tidak sanggup melihatnya lagi.
Dokter Josh menghela napas berat. "Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik agar Nyonya Ayara diberi kekuatan untuk melawan dan menyembuhkan traumanya sendiri dari dalam," ucap sang dokter menenangkan.
Frederic menatap tajam ke arah menantunya yang masih merancau ketakutan dalam dekapan sang putra. Pria paruh baya itu mengangguk tegas.
"Baiklah, Dokter. Tolong atur jadwal pertemuannya segera. Kami akan membawa Ayara kembali untuk menjalani pengobatan medis yang lebih intensif agar dia bisa pulih seutuhnya," balas Frederic penuh wibawa.
Bersambung...
Sumpah ihh... Ngetik dua part terakhir author nangis, entahlah seolah ikut merasakan penderitaan Ayara.
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama