NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Menyalahkan Orang Lain

Kamar itu sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar pelan di dinding. Kamil duduk di tepi ranjang, menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Pikirannya melayang jauh—kembali ke masa ketika semuanya masih terasa hangat… ketika mamanya masih ada.

Wajah lembut Bu Aida seakan hadir di hadapannya. Senyum itu… senyum yang tak pernah berubah, bahkan saat Kamil bersikap kasar sekalipun.

Ia mengembuskan napas panjang. Dulu, mamanya tak pernah benar-benar marah.

Selalu saja… dirangkul. Selalu saja… dinasihati dengan lembut.

Ingatan itu datang begitu jelas.

Waktu itu, sepulang dari rumah Bu Rahma.

Mamnya terlihat begitu bersemangat. Matanya berbinar, seperti menemukan sesuatu yang sangat ia sukai.

"Gimana Nak, cantik kan wanita yang mama kenalkan barusan?”Bu Aida bertanya sambil berbalik ke arah Kamil yang duduk di jok belakang.

Kamil hanya mengangkat bahu, wajahnya datar, bahkan cenderung meremehkan.

"Biasa aja, Ma. Jauh lah kalau dibandingkan sama gebetan Kamil yang modern.”

Tak ada raut tersinggung di wajah Bu Aida. Ia justru tersenyum, penuh kesabaran.

"Kamu jangan gitu ah, Nak. Biasa aja itu karena dia memang polos. Coba aja kalau pakai make up, pasti cantik.”

Kamil mendecak pelan, sedikit kesal.

"Ah Mama bilang gitu, karena Mama sudah jatuh cinta sama dia.”

"Iya,” jawab Bu Aida ringan, tanpa ragu. "Memang mama jatuh cinta pada pandangan pertama. Mama yakin dia anak baik, yang bisa membawamu lebih baik lagi.”

Jawaban itu justru membuat Kamil naik pitam.

"Kalau gitu, Mama aja yang nikahin dia!”

Suasana sempat menegang.

Pak Hasan yang sejak tadi mendengar langsung menegur dengan nada kesal, “Jaga mulutmu, Mil. Gak sopan kamu bilang gitu sama mamamu!”

Namun yang terjadi setelahnya… justru sesuatu yang kini menghantui hati Kamil.

Bu Aida tidak marah. Tidak tersinggung. Ia malah terkekeh pelan, matanya penuh kehangatan.

"Mama juga kalau laki-laki sepantaran kamu pasti langsung jatuh cinta, Nak.”

Begitu ringan. Begitu tulus. Tanpa luka. Tanpa dendam. Dan justru itulah yang sekarang terasa paling menyakitkan.

Kamil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya sesak. Dulu… ia menganggap semua itu biasa. Sekarang… ia baru sadar, betapa besar cinta yang ia abaikan.

"Ma…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Penyesalan itu datang terlambat.

Dan kehangatan yang dulu selalu ada… kini hanya tinggal kenangan.

Ketukan di pintu kamar itu memecah lamunan Kamil yang masih dipenuhi bayangan wajah ibunya.

"Mas, ada teman-teman kantornya melayat,” suara Bi Esih terdengar dari luar.

"Iya, Bi,” jawab Kamil datar, nyaris tanpa tenaga.

Dengan langkah malas, ia bangkit. Rambutnya dirapikan sekadarnya, tapi wajahnya masih kusut—bukan karena kurang rapi, melainkan karena hatinya yang belum selesai berantakan.

Saat pintu dibuka, suasana rumah terasa berbeda. Lebih ramai, tapi juga lebih menyesakkan.

Di ruang luar, papanya duduk bersama kedua kakaknya. Beberapa rekan kantor Kamil juga ada di sana, berbincang pelan, menjaga sopan santun suasana duka.

Namun, begitu mata Kamil menangkap wajah-wajah itu…

Seketika darahnya mendidih.

Langkahnya yang tadinya berat berubah cepat dan penuh amarah.

"Kalian…!” suaranya meninggi, memecah suasana. "Kalian mau apa ke sini, hah?!”

Semua orang menoleh. Suasana yang tadinya tenang langsung berubah tegang.

"Mama pergi gegara kalian!” Kamil menunjuk dengan tangan bergetar. “Kalian yang upload pembicaraan tadi ke media sosial!”

Iqbal langsung berdiri, wajahnya mengeras.

"Kamil! Apa-apaan kamu? Jangan bikin malu!”

Tapi Kamil seperti tak mendengar.

"Bang, karena mereka mama pergi.” suaranya makin keras, nyaris berteriak histeris. “Mereka yang nyebarin semua itu.”

Hakim mencoba mendekat, tapi Kamil mundur, matanya tajam penuh emosi.

"Itu bukan sepenuhnya salah mereka, Mil,” ucap Iqbal tegas. “Udah! Jangan bikin ribut!”

Namun amarah Kamil sudah terlalu penuh untuk dibendung.

Dari kerumunan, Alika akhirnya berdiri. Wajahnya tegang, tapi ia berani bicara.

"Iya… maaf. Saya yang upload video itu,” ucapnya jujur. “Saya kesal lihat kamu yang nggak merasa bersalah sama sekali atas kejadian kemarin.”

Sejenak hening.

Lalu—

Kamil tertawa sinis. Dingin. Menyakitkan.

"Aku memang nggak merasa bersalah,” katanya tajam. “Terus? Mau apa kamu?”

Matanya menatap Alika tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Mau maksa aku? Maksa aku minta maaf?” suaranya meninggi lagi. “Nggak akan, sampai kapanpun.”

"Kamil, cukup!” suara Pak Hasan menggelegar, membuat semua orang terdiam.

Wajah beliau memerah, antara marah dan malu.

"Seret dia ke kamarnya! Malu-maluin aja!”

Tanpa banyak bicara, Iqbal dan Hakim langsung bergerak. Mereka memegang lengan Kamil, berusaha menahannya.

"Lepasin gue!” Kamil memberontak, suaranya pecah. “Kalian semua munafik.”

Ia masih berusaha melawan saat diseret menjauh.

"Alika! Puas lo?! Puas?!” teriaknya, penuh amarah dan luka yang tak mau ia akui.

Suasana ruang tamu kembali hening. Tapi bukan hening yang damai. Melainkan hening yang dipenuhi rasa canggung, malu… dan luka yang semakin melebar.

Iqbal dan Hakim menyeret Kamil tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk memberontak lebih jauh. Langkah mereka cepat, keras, penuh emosi yang sudah lama tertahan.

Begitu sampai di kamar—

Brak!

Pintu ditutup dengan kasar. Hakim langsung menguncinya.

Belum sempat Kamil berdiri tegak, tubuhnya sudah didorong keras hingga jatuh terduduk di atas tempat tidur.

"Kamu mau bikin gara-gara lagi, hah?!” suara Hakim meledak. “Gak cukup kemarin dua kali viral, mau nambah lagi?!”

Kamil mengangkat wajahnya, napasnya memburu, tapi sorot matanya masih penuh amarah yang belum padam.

"Gegara Alika mama pergi," balasnya tak kalah keras. “Abang ngerti gak sih?! Mereka gak seharusnya upload semua pembicaraan kita ke medsos!”

"Bukan karena mereka mama pergi!” potong Hakim tajam, matanya memerah menahan emosi. "Justru karena kamu, Kamil.”

Sejenak hening.

Lalu—

"Gara-gara aku?” Kamil terkekeh pelan. Tawa yang terdengar aneh… dingin… dan menusuk.

Iqbal yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju satu langkah.

"Sampai sekarang kamu belum sadar juga?” bentaknya. “Kamulah penyebab semua kekacauan ini. Otakmu di mana, Kamil?”

Kamil menatap lurus, tanpa rasa gentar.

"Sadar,” jawabnya santai. “Dari kemarin aku sadar semua yang aku lakuin.”

"Iya, dan semuanya salah, Tolol!” bentak Iqbal, emosinya memuncak.

Kamil justru mengangkat alis, seolah menantang.

"Salahnya di mana?”

Pertanyaan itu seperti menyulut api yang sudah nyaris meledak.

"Masih nanya salahnya di mana?!”

Bugh!

Tinju Iqbal mendarat keras di wajah Kamil.

Suara benturan itu terdengar jelas di dalam kamar yang tak begitu besar.

Kepala Kamil terlempar ke samping, tapi anehnya… ia malah tertawa kecil. Bibirnya berdarah, tapi egonya masih tegak.

"Dengar ya, Bang…” ucapnya pelan namun tajam. "Hak aku mau nikahin cewek manapun… dan hak aku juga buat menceraikannya kapanpun.”

Ia menatap Iqbal lurus-lurus, tanpa takut.

"Hak talak itu ada di laki-laki. Di suami.” suaranya makin dingin. “Jadi salahnya di mana?”

Senyum sinis terukir di wajahnya.

"Kayaknya otak Abang yang tolol… bukan aku.”

Iqbal nyaris kembali menghantamnya, tapi Hakim cepat menahan.

"Bal…!” suaranya tegas, meski napasnya berat menahan emosi.

Hakim menatap Kamil lama. Tatapan yang bukan hanya marah… tapi juga kecewa.

"Udah,” ucapnya dingin. “Otak dia emang udah korslet.”

Ia menarik napas panjang, lalu memalingkan wajah.

"Kita tinggalin aja.”

Iqbal masih mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Tapi akhirnya ia mundur juga.

"Iya…” gumamnya getir. “Gak ngerti lagi… mama sama papa punya anak kayak gini.”

Sebelum keluar, ia melirik Kamil sekali lagi.

"Dididik sama… disekolahkan sama… tapi otaknya segini.”

Pintu dibuka.

Lalu ditutup kembali.

Kali ini lebih pelan… tapi justru terasa lebih berat.

Kamil kini sendirian.

Duduk di tepi ranjang, dengan bibir berdarah dan dada yang naik turun.

Namun entah kenapa… untuk pertama kalinya sejak tadi—Tawa itu perlahan menghilang. Dan yang tersisa… hanya sunyi.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Salsa Billa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 biar prosesnya gk ribet ya thor
total 2 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!