Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Acara pesta yang penuh dengan kemewahan dan bisik-bisik kepalsuan itu akhirnya mendekati penghujung malam. Aura, yang tenggorokannya masih terasa agak panas setelah aksi debat tiga bahasa dan insiden tersandung gaun konyolnya, memutuskan untuk menyelinap keluar menuju lorong sepi yang mengarah ke taman belakang hotel.
Ia butuh udara segar. Berada di dalam ruangan yang penuh dengan manusia bermuka dua membuat naluri agen rahasianya merasa sesak.
"Huh, gaun ini memang cantik, tapi benar-benar menyiksa saat bergerak," gumam Aura sambil menyenderkan tubuhnya ke pilar marmer yang dingin. Ia meraba lehernya, menarik napas dalam-dalam.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Suara langkah sepatu yang agak diseret dan berat mendekat dari arah lorong yang gelap.
Aura menyipitkan mata. Pendengarannya yang tajam langsung menangkap detak napas seseorang yang penuh dengan amarah dan pengaruh alkohol. Dari balik kegelapan, muncul seorang pria berusia akhir dua puluhan dengan pakaian yang sedikit berantakan. Wajahnya yang tampan terlihat lusuh, dengan tatapan mata yang penuh obsesi dan ketamakan.
Itu adalah Julian. Mantan kekasih pemilik tubuh ini—seorang pria parasit yang dulu memanfaatkan sifat lugu Aura untuk memeras harta, sebelum akhirnya ditinggalkan saat Aura dijodohkan dengan Adrian.
"Aura..." panggil Julian dengan suara serak, melangkah maju dengan terhuyung-huyung. "Ternyata benar itu kamu. Aku sampai tidak mengenali kamu di ballroom tadi."
Aura melipat kedua tangannya di dada. Mengakses memori di otaknya, ia bisa melihat betapa menyedihkannya Aura yang dulu di hadapan pria ini. Dulu, Aura akan membiarkan dirinya dimaki, dimanfaatkan, bahkan menyerahkan tabungannya demi pria tak tahu diri ini.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Aura dingin, suaranya lugas tanpa ada sedikit pun getaran kelemahan.
Julian terkekeh sinis, melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua meter. "Hebat ya kamu sekarang. Sudah jadi istri CEO Vane Group, bicaranya jadi sok tinggi. Dulu kamu berlutut di depanku sambil menangis supaya aku tidak meninggalkanmu, ingat?"
"Memori sampah seperti itu tidak layak disimpan di otakku," jawab Aura secepat senapan mesin. "Kalau tidak ada hal penting yang mau disampaikan, mending kamu angkat kaki sekarang sebelum aku kehilangan kesabaran."
"Jangan berlagak sombong, Aura!" bentak Julian, wajahnya mengeras karena harga dirinya terluka. "Kamu pikir aku tidak tahu kamu itu cuma pajangan buat Adrian Vane? Keluarga Valeria cuma memanfaatkanmu, dan Adrian pasti membencimu! Kamu itu tetap cewek lemah penakut yang sama!"
Julian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kilat foto cetak dan menunjukkannya di depan wajah Aura. Foto-foto itu memperlihatkan rekayasa momen masa lalu saat Aura yang asli dipeluk oleh Julian dari belakang secara paksa.
"Aku butuh lima ratus juta malam ini," ujar Julian dengan nada mengancam yang menggelikan di mata Aura. "Kirim ke rekeningku sebelum besok pagi. Kalau tidak, foto-foto manis kita ini bakal tersebar ke seluruh media dan hancur sudah reputasi suami kaya rayamu itu!"
Aura menatap foto-foto itu, lalu beralih menatap wajah Julian. Bukannya takut atau panik seperti yang diharapkan Julian, Aura justru menahan tawa sampai bahunya berguncang pelan.
"Lima ratus juta? Untuk foto rekayasa bersudut pengambilan amatir begini?" Aura menggelengkan kepala heran, bicaranya meluncur deras seperti peluru. "Pencahayaannya jelek, resolusinya rendah, dan posisi tanganmu di foto ini kelihatan jelas diedit menggunakan *software* murah. Kamu memeras agen—maksudku, memeras orang pakai sampah beginian? Bikin malu dunia kejahatan saja!"
Julian melotot kaget melihat reaksi Aura yang di luar prediksinya. "K-kamu... kamu jangan main-main ya! Aku bisa hancurkan kamu!"
Dengan emosi yang meluap, Julian maju dan mengulurkan tangannya yang kasar, berniat mencengkeram bahu Aura dan memojokkannya ke dinding.
*Big mistake.*
Dalam mode bertarung, refleks Vanya yang bersemayam dalam tubuh Aura bekerja secara instan. Matanya berkilat dingin. Sebelum jemari Julian sempat menyentuh kain gaunnya, Aura sudah memiringkan badan secara efisien.
*Greb!*
Tangan kanan Aura menyambar pergelangan tangan Julian dengan cengkeraman baja, memutarnya ke belakang dalam satu gerakan terukur.
"Arghhh! Tanganku!" jerit Julian kesakitan saat tubuhnya dipaksa membungkuk drastis.
Aura tidak berhenti di situ. Dengan memanfaatkan momentum dan tumpuan kaki yang kokoh, ia mengangkat lutut kanannya, menghantam dada Julian dengan keras!
*Brak!*
"Ugh!" Julian tersedak udara, napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat tubuhnya terlempar ke lantai marmer yang dingin.
Foto-foto di tangannya terlepas dan berserakan di tanah. Aura melangkah mendekat, menginjak dada Julian dengan tumit sepatu *heels*-nya yang tajam, memberikan tekanan yang cukup untuk membuat pria itu tidak bisa bergerak.
"Dengar ya, parasit," Aura menunduk, menatap Julian dengan pandangan penuh penghinaan yang begitu pekat, bicaranya kembali mengalir secepat senapan mesin. "Dulu kamu bisa menginjak-injak Aura karena dia terlalu polos. Tapi sekarang, jangankan lima ratus juta, satu rupiah pun tidak akan aku berikan untuk sampah seperti kamu. Kalau kamu berani memunculkan wajahmu atau foto-foto sampah ini lagi di depanku, aku pastikan pergelangan tanganmu tidak cuma terkilir, tapi patah jadi dua bagian. Paham?"
Julian mengangguk-angguk cepat dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin bercucuran. Ia benar-benar ketakutan setengah mati. Wanita di depannya ini sama sekali bukan Aura yang ia kenal—ini adalah sesosok monster berdarah dingin!
"P-paham! Paham!" ratap Julian gemetar.
"Bagus. Sekarang pergi dari pandanganku," Aura mengangkat kakinya dari dada Julian.
Julian dengan terburu-buru merangkak bangun, bahkan meninggalkan foto-fotonya di lantai, lalu lari terbirit-birit menembus kegelapan lorong taman bak dikejar setan.
Aura mendengus puas, merapikan gaunnya yang sedikit kusut. "Dasar benalu tidak tahu diri," gumamnya.
Ia menunduk untuk memungut foto-foto yang berserakan di lantai, bersiap untuk membakarnya agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Namun, saat ia membungkuk terlalu cepat, tumit sepatu *heels*-nya lagi-lagi tersangkut di celah antar ubin marmer taman!
"Eh! Sial, kenapa lagi sih—!"
Aura kehilangan keseimbangan secara konyol, tubuhnya limbung dan siap terjatuh telungkup ke lantai!
*Greb!*
Sebuah lengan kokoh yang sangat akrab menangkap pinggangnya dari samping tepat pada waktunya, menahan tubuh Aura sebelum dahinya mencium lantai.
Aura mendongak dan mendapati Adrian berdiri di sana. Pria itu tampaknya sudah berdiri di kegelapan lorong sejak tadi. Matanya yang tajam dan gelap menatap Aura dengan bauran ekspresi yang sangat kompleks: takjub, berbahaya, dan kekehan tipis yang tertahan di bibirnya.
"Menghajar mantan pacar benalu dalam waktu sepuluh detik tanpa cacat..." suara Adrian bergetar pelan, dalam dan sangat seksi. "...lalu hampir tumbang dicium lantai cuma gara-gara ubin marmer. Istriku ini benar-benar tidak pernah berhenti membuatku terkejut."
Aura buru-buru menapakkan kakinya kembali, mukanya mendadak memerah panas akibat kepergok bertingkah konyol lagi.
"I-itu karena ubinnya licin! Kenapa sih semua lantai di kota ini tidak ada yang benar pembangunannya?!" elak Aura secepat kilat, bicaranya yang serba cepat kembali keluar sebagai tameng rasa malu. "Lagipula kamu ngapain berdiri di sana seperti hantu?! Mengintip orang itu tidak sopan tahu!"
Adrian tidak menjawab tuduhan itu. Ia menunduk, mengambil salah satu foto yang jatuh di dekat kakinya, meliriknya sekilas, lalu meremas kertas foto itu hingga hancur dalam genggamannya.
"Pria tadi..." kata Adrian dingin, aura membunuh yang sangat pekat perlahan menguar dari tubuhnya. "...perlu kubuat menghilang dari kota ini besok pagi?"
Aura tertegun sejenak melihat reaksi dingin sang Raja Mafia. Meski bicaranya santai, Aura tahu Adrian sama sekali tidak main-main.
"Tidak usah," jawab Aura cepat sambil merampas sisa foto di lantai dan mengibaskan tangannya santai. "Urusan sampah begitu tidak usah pakai tanganmu. Kalau dia berani ganggu lagi, biar aku sendiri yang patahkan kakinya. Sekarang ayo pulang, aku sudah lapar dan mau ganti sepatu konyol ini!"
Aura melangkah mendahului Adrian dengan cepat, mencoba menutupi rasa canggungnya.
Adrian menatap punggung wanita itu. Hawa membunuh di matanya perlahan berganti menjadi senyuman tipis yang sarat akan rasa posesif.
"Patahkan kaki, ya?" gumam Adrian pelan pada dirinya sendiri. "Makin hari, kamu makin mirip denganku, Aura."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘