NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Bima mengangkat bahunya santai lalu menyeruput teh hangatnya dengan nikmat.

"Hanya mencari pengalaman baru untuk mengisi waktu luang saja."

"Daripada aku membusuk di kantor menjadi manajer, lebih baik posisi itu kamu berikan pada orang yang benar-benar pantas."

Nadhira mengerutkan keningnya, mencoba mencerna jalan pikiran Bima yang selalu sulit ditebak.

"Orang yang pantas? Maksudmu siapa?" tanya Nadhira penasaran.

"Kamu tahu Dika, kan?"

"Staf senior di divisi penjualan yang mejanya berada tepat di sebelah dispenser air."

Nadhira mencoba mengingat-ingat wajah karyawan yang disebutkan oleh Bima.

"Maksudmu pria berkacamata yang selalu pulang paling malam itu?"

"Tepat sekali."

Bima meletakkan cangkirnya dan menatap Nadhira dengan serius.

"Dika itu orang yang jujur, pekerja keras, dan sangat menguasai lapangan."

"Selama ini kinerjanya selalu ditutupi oleh Pak Hendra agar Dika tidak bisa naik jabatan."

"Kalau kamu mau divisi penjualanmu kembali sehat, angkat Dika menjadi manajer menggantikan Hendra."

Nadhira terdiam mendengar rekomendasi yang sangat tulus dari Bima tersebut.

Dia merasa kagum karena Bima sama sekali tidak menggunakan kekuasaannya untuk menuntut balas atau meminta hak istimewa.

Bima justru menggunakan kesempatan ini untuk membantu mantan rekan kerjanya yang masih berjuang di bawah.

"Baiklah, aku akan meminta HRD untuk mengevaluasi kinerja Dika siang ini juga," putus Nadhira akhirnya.

"Kalau catatannya memang bersih seperti katamu, dia akan duduk di kursi manajer besok pagi."

Bima tersenyum lebar mendengar keputusan cepat dari wanita tegas di depannya ini.

Tepat pada saat itu, dua orang pelayan masuk ke dalam paviliun membawa nampan berisi berbagai macam hidangan mewah.

Aroma gurih dari ikan bakar bumbu rempah dan tumis sayuran segar langsung mengundang selera makan Bima.

"Ayo kita makan, berdebat soal pekerjaan membuat perutku jauh lebih lapar dari biasanya," ucap Bima sambil mengambil sendoknya.

Nadhira tertawa pelan dan ikut menikmati hidangan makan siang mereka dengan suasana yang sangat cair.

Namun, kehangatan dan tawa di paviliun privat itu tidak berlangsung lama.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki yang sangat berat dan berwibawa terdengar mendekat dari arah jalan setapak berbatu.

Seorang pria paruh baya berusia sekitar enam puluh tahun berjalan memasuki area paviliun tanpa diantar oleh pelayan.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu tua yang dipesan khusus dari penjahit ternama luar negeri.

Rambutnya sudah banyak memutih, namun postur tubuhnya masih sangat tegap dengan aura kekuasaan yang luar biasa pekat.

Sepasang matanya yang tajam bagaikan mata elang langsung mengunci pandangannya ke arah Nadhira yang sedang tertawa.

"Nadhira."

Suara berat dan dalam dari pria itu menggema memecah suasana hangat di dalam paviliun.

Nadhira yang baru saja menyuapkan makanan ke mulutnya mendadak tersedak pelan.

Wajahnya seketika berubah pucat pasi saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu paviliun tersebut.

"P-papa?" panggil Nadhira dengan suara bergetar dan langsung meletakkan sendoknya.

Bima yang duduk membelakangi pintu perlahan menolehkan kepalanya untuk melihat sang tamu tak diundang.

'Jadi ini ayah Nadhira,' batin Bima sambil menilai pria tua di depannya dengan tenang.

'Pantas saja sifat Nadhira sangat dingin dan tegas di kantor, ternyata itu adalah turunan langsung dari ayahnya.'

Pak Surya, konglomerat tua yang merupakan salah satu pendiri perusahaan raksasa di negara ini, melangkah masuk perlahan.

Tatapan matanya berpindah dari Nadhira menuju Bima, menelisik pemuda asing itu dari ujung rambut hingga ujung sepatu.

Kemeja flanel pudar, kaus oblong, dan celana jins kusam.

Bukan jenis pakaian yang pantas dipakai untuk makan siang di restoran semahal ini, apalagi makan siang berdua dengan putrinya.

"Papa sedang makan siang dengan beberapa klien di depan tadi," ucap Pak Surya tanpa melepaskan tatapannya dari Bima.

"Lalu manajer restoran bilang kalau putriku juga ada di sini sedang makan berdua dengan seorang pemuda."

Pak Surya berjalan mendekati meja dan berdiri tepat di samping kursi Nadhira.

"Papa kira kamu sedang makan siang dengan anak dari Keluarga Mahendra atau direktur dari perusahaan rekanan kita."

"Tapi sepertinya Papa salah besar."

Nada suara Pak Surya tidak meninggi sama sekali, namun setiap kata yang keluar terasa seperti beban berton-ton yang menekan ruangan.

Nadhira buru-buru berdiri dari kursinya dengan wajah yang terlihat sangat salah tingkah.

"Papa, ini tidak seperti yang Papa pikirkan," sangkal Nadhira mencoba meredakan situasi.

"Kami hanya sedang membicarakan masalah pekerjaan, tidak ada yang spesial."

Pak Surya mendengus pelan, sebuah suara yang sangat meremehkan alasan putrinya tersebut.

"Membicarakan pekerjaan sampai kamu bisa tertawa selepas tadi?"

"Seumur hidupmu, Papa tidak pernah melihatmu tertawa santai seperti itu di depan rekan bisnis laki-laki."

Nadhira langsung terdiam seribu bahasa, wajahnya kini memerah karena malu rahasianya dibongkar tepat di depan Bima.

Memang benar bahwa dia merasa sangat nyaman dan bebas setiap kali berada di dekat pemuda ini.

Pak Surya akhirnya mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepada Bima yang masih duduk santai di kursinya.

Bima sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh kedatangan konglomerat tua tersebut.

Dia justru sedang menyeka mulutnya menggunakan tisu dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang.

"Anak muda, siapa namamu?" tanya Pak Surya dengan nada menuntut yang tidak bisa dibantah.

Bima meletakkan tisunya di atas meja lalu berdiri dengan gerakan yang sangat sopan namun tidak berlebihan.

"Nama saya Bima, Pak," jawab Bima singkat dan padat.

"Hanya Bima? Tidak ada nama keluarga di belakangnya?" cecar Pak Surya mencari tahu latar belakang silsilah pemuda itu.

"Bima Aditama. Saya orang biasa, jadi saya tidak punya nama keluarga besar yang bisa dipamerkan seperti yang Bapak harapkan."

Jawaban Bima itu sangat tenang, namun mengandung sindiran halus yang membuat alis Pak Surya sedikit berkerut.

Konglomerat tua itu sudah puluhan tahun malang melintang di dunia bisnis yang kejam.

Dia terbiasa melihat pria-pria muda yang langsung gemetar, berkeringat dingin, atau menjilat mencari muka saat berhadapan dengannya.

Namun pemuda berkemeja lusuh di depannya ini menatap tepat ke dalam matanya tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa takut.

'Menarik, tatapan matanya tajam dan dia bisa menahan tekanan auraku dengan sangat natural,' batin Pak Surya menilai.

'Tapi keberanian saja tidak cukup untuk bisa bersanding dengan putriku.'

"Nadhira bilang kalian membicarakan pekerjaan."

Pak Surya melipat kedua tangannya di belakang punggung.

"Di perusahaan mana kamu bekerja sekarang, Anak Muda?"

"Dan posisi apa yang kamu pegang sampai putriku harus repot-repot menemuimu di jam kerja?"

Nadhira langsung panik mendengar rentetan pertanyaan interogasi dari ayahnya.

Dia tahu Bima tidak suka memamerkan kekayaannya sebagai pemilik hotel kepada orang asing.

Dan jika Bima jujur mengatakan dia adalah dosen pengganti, ayahnya pasti akan semakin merendahkan pemuda itu.

"Papa, tolong hentikan interogasi ini, Bima adalah teman baikku," sela Nadhira mencoba menyelamatkan situasi.

Pak Surya mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat mutlak agar Nadhira diam.

"Papa sedang bertanya pada teman lelakimu ini, Nadhira, bukan padamu."

Mata tua itu kembali menatap tajam ke arah Bima, menunggu jawaban yang akan menentukan nasib pemuda tersebut di matanya.

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!