IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mimpi
Setelah pertengkaran yang begitu menyakitkan itu, Helena tidak lagi keluar dari kamarnya sepanjang malam. Namun keesokan paginya, ketika Liam terbangun dan mencarinya, ia mendapati kamar tidur mereka telah kosong, beberapa pakaian dan barang pribadi Helena telah dikemas dan dibawa pergi. Sepucuk catatan singkat tergeletak di atas meja rias, tulisan tangan Helena yang biasanya rapi kini terlihat begitu tergesa-gesa dan penuh emosi.
"Aku butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua ini. Aku akan menginap di apartemen temanku untuk sementara waktu. Jangan mencariku, Liam."
Liam membaca catatan itu berulang kali, mencoba mencerna perasaannya sendiri terhadap kepergian Helena yang begitu tiba-tiba. Anehnya, alih-alih merasakan kepanikan atau keinginan mendesak untuk segera mengejar dan membujuknya kembali seperti yang mungkin diharapkan seseorang yang benar-benar mencintai pasangannya, Liam justru merasakan sesuatu yang jauh lebih rumit—sebuah kelegaan aneh yang bercampur dengan kebingungan yang begitu mendalam.
Ia tidak mengejar Helena hari itu. Tidak pula keesokan harinya. Sebagai gantinya, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian penthouse yang kini terasa begitu lapang tanpa kehadiran wanita yang selama beberapa bulan terakhir selalu memenuhi setiap sudut ruangan dengan drama dan tuntutan yang tidak pernah berkesudahan.
...***...
Malam itu, Liam duduk sendirian di ruang kerja pribadinya, segelas scotch tergenggam di tangannya namun tidak benar-benar ia minum, hanya diputar-putar perlahan sambil pikirannya melayang jauh, menelusuri kembali setiap kejadian yang telah membawanya sampai pada titik kekacauan yang begitu mendalam ini.
Ia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar berani ia pertanyakan dengan jujur—apakah Helena yang ia kenal sekarang benar-benar sosok yang sama dengan wanita lembut dan penuh kasih sayang yang selalu ia kenang dari masa kuliah mereka dulu, ataukah kenangan itu telah lama ia idealkan secara berlebihan, dibumbui oleh romantisme masa muda dan kerinduan yang telah lama terpendam selama bertahun-tahun perpisahan mereka.
Helena yang dulu, yang ia kenal semasa kuliah di Columbia, memang selalu ceria dan penuh semangat, namun Liam mulai menyadari bahwa keceriaan itu selalu disertai dengan kebutuhan konstan akan perhatian dan validasi dari orang-orang di sekitarnya. Ia mengingat kembali bagaimana Helena dulu sering kali merajuk ketika tidak menjadi pusat perhatian, bagaimana ia selalu membutuhkan hadiah dan kejutan untuk merasa dicintai, sebuah pola yang dulu ia anggap sebagai keimutan seorang kekasih muda, namun kini ia sadari sebagai fondasi dari sifat yang jauh lebih rumit dan menuntut.
"Apakah dia memang selalu seperti ini," gumam Liam pelan pada dirinya sendiri, menatap cairan amber dalam gelasnya yang berkilau ditimpa cahaya lampu ruang kerja, "atau akulah yang selama ini terlalu membutakan diri terhadap kenyataan yang sesungguhnya?"
Pikirannya kemudian, tanpa bisa ia hindari, mulai beralih kepada Brooklyn—wanita yang selama bertahun-tahun pernikahan mereka selalu ia anggap sebagai simbol dari kesepakatan bisnis yang dingin, seorang wanita kaya raya yang menurutnya hanya memanfaatkan status pernikahan untuk menjaga posisi sosialnya, tanpa pernah benar-benar mencintainya sebagai individu.
Namun ketika ia mulai menyusuri kembali kenangan-kenangan yang telah lama ia abaikan, sebuah gambaran yang jauh berbeda mulai terbentuk dengan jelas dalam benaknya. Ia teringat bagaimana Brooklyn selalu bangun lebih pagi untuk memastikan pakaiannya telah disiapkan dengan sempurna, bagaimana ia selalu mengingat preferensi makanannya tanpa pernah perlu diberi tahu berulang kali, bagaimana ia tetap merawatnya dengan penuh kesabaran bahkan ketika Liam sendiri memperlakukannya dengan begitu kasar dan tidak berperikemanusiaan.
Ia mengingat bubur yang berkali-kali ia banting, sweater rajut yang ia gunting dengan kejam, hadiah-hadiah yang ia buang begitu saja ke tempat sampah tanpa sedikit pun rasa hormat terhadap usaha yang telah Brooklyn curahkan. Setiap kenangan itu kini terasa begitu berat menghantam kesadarannya, sebuah realisasi pahit yang datang terlambat bertahun-tahun setelah semuanya telah berakhir.
"Dia tidak pernah sekali pun mengeluh," bisik Liam pada dirinya sendiri, suaranya bergetar oleh emosi yang begitu sulit ia definisikan. "Bahkan ketika aku menyakitinya secara fisik, bahkan ketika aku memfitnahnya karena kebohongan Helena, dia tetap bertahan dengan begitu tenang dan penuh martabat."
Kesadaran itu membuat dadanya terasa begitu sesak, sebuah beban yang telah lama tersembunyi jauh di bawah kesombongan dan romantisme masa lalu yang selama bertahun-tahun membutakan penilaiannya terhadap kenyataan yang sesungguhnya begitu jelas terlihat.
Ia menyadari, dengan begitu pahit dan terlambat, bahwa Brooklyn Hartley—wanita yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai beban dalam hidupnya, sebagai pengingat konstan akan pernikahan yang tidak pernah ia inginkan—sesungguhnya telah menjalankan perannya sebagai istri dengan dedikasi dan ketulusan yang begitu luar biasa, jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan mungkin dimiliki oleh seorang wanita yang tumbuh dalam kemewahan dan kekayaan seperti dirinya.
Malam semakin larut, dan pikiran Liam terus dipenuhi oleh perbandingan yang begitu jelas dan menyakitkan antara dua wanita yang telah mengisi babak berbeda dalam hidupnya—satu yang selalu ia idealkan namun kini terbukti begitu jauh dari kesempurnaan yang ia bayangkan, dan satu lagi yang selalu ia remehkan namun kini terungkap sebagai sosok yang jauh lebih berharga dari yang pernah ia sadari.
Kelelahan emosional yang telah menumpuk sepanjang hari, ditambah dengan berbagai kesadaran menyakitkan yang terus menghantuinya malam itu, akhirnya membuat tubuh Liam menyerah pada kelelahan yang begitu mendalam. Ia tertidur di kursi ruang kerjanya, gelas scotch yang masih setengah penuh tergeletak di meja terdekat, pikirannya yang kacau perlahan tenggelam ke dalam alam mimpi yang tidak pernah ia duga akan begitu jelas dan menyakitkan.
...***...
Dalam mimpinya, Liam mendapati dirinya berdiri di sebuah jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang, cahaya matahari sore menyusup lembut melalui celah-celah dedaunan, menciptakan suasana yang begitu tenang dan damai—sebuah pemandangan yang begitu berbeda dari kekacauan yang selama ini memenuhi kehidupan nyatanya.
Di kejauhan, ia melihat sosok yang begitu familiar—Brooklyn, mengenakan gaun musim panas berwarna putih sederhana, rambut pirangnya tergerai lembut tertiup angin sepoi-sepoi. Namun yang membuat dadanya terasa begitu sesak adalah sosok pria yang berjalan di sampingnya, tangan mereka saling bertautan dengan begitu erat, tawa Brooklyn yang begitu lepas dan bahagia menggema lembut terbawa angin, sebuah kebahagiaan yang tidak pernah sekali pun Liam saksikan sepanjang pernikahan mereka.
"Brooklyn!" seru Liam, mencoba memanggil namanya, namun suaranya terdengar begitu jauh dan teredam, seolah tertelan oleh jarak yang begitu luas di antara mereka.
Ia mencoba berlari mendekat, namun kakinya terasa begitu berat, seolah tertanam dalam lumpur tak kasat mata yang menahan setiap langkahnya. Semakin keras ia berusaha berlari, semakin jauh pula jarak antara dirinya dan sosok Brooklyn yang terus berjalan menjauh bersama pria asing tersebut, tawa bahagia mereka semakin menggema dengan jelas, sebuah kontras yang begitu menyakitkan dengan kesunyian dan keputusasaan yang menyelimuti dirinya sendiri.
"Brooklyn, tunggu!" jeritnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih putus asa, namun sosok itu tidak pernah menoleh sedikit pun ke arahnya, seolah keberadaannya benar-benar tidak lagi berarti bagi wanita yang dulu selalu ia abaikan dengan begitu kejam.
Liam mencoba sekuat tenaga untuk mempercepat langkahnya, namun sesuatu yang tidak terlihat terus menahan pergelangan kakinya, seolah akar-akar tak kasat mata dari masa lalunya sendiri—dari setiap kata kasar yang pernah ia ucapkan, setiap pukulan yang pernah ia layangkan, setiap penghinaan yang pernah ia lontarkan—kini mengikat kakinya dengan begitu kuat, menahannya untuk selamanya dari kesempatan mengejar kebahagiaan yang telah lama ia sia-siakan.
"Ini semua salahmu sendiri," terdengar sebuah bisikan lembut namun begitu tajam, seolah datang dari udara sekitarnya, entah dari dalam pikirannya sendiri atau dari suatu tempat yang lebih dalam. "Kau telah kehilangan hak untuk mengejarnya."
"Tidak," bisik Liam dalam mimpinya, air mata mulai mengalir di pipinya meski ia tidak sepenuhnya menyadari kapan tepatnya emosi itu mulai muncul. "Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin mengatakan betapa menyesalnya aku."
Namun sosok Brooklyn dan pria asing itu terus berjalan menjauh, semakin lama semakin mengecil di kejauhan, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya di balik lengkungan jalan setapak yang dikelilingi pepohonan, meninggalkan Liam sendirian dalam kesunyian yang begitu mencekam, kakinya masih tertahan di tempat yang sama, tidak mampu bergerak selangkah pun lebih jauh.
Ia jatuh berlutut di tanah, tangannya mencengkeram rerumputan di bawahnya dengan begitu erat, isak tangis yang telah lama ia tahan akhirnya pecah dengan begitu deras dalam mimpi itu, sebuah pelepasan emosi yang begitu murni dan jujur, jauh dari kesombongan dan pertahanan diri yang selalu ia tunjukkan dalam kehidupan nyatanya.
...***...
Liam terbangun dengan tersentak, tubuhnya bermandikan keringat dingin meski suhu ruang kerjanya tidak terlalu panas. Jantungnya berdebar kencang, napasnya memburu seolah ia benar-benar baru saja berusaha berlari mengejar sesuatu yang begitu penting namun selalu berada di luar jangkauannya.
Ia menatap sekeliling ruang kerjanya yang sunyi, jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari, gelas scotch yang tadi ia tinggalkan masih tergeletak di meja dengan cairan yang telah kehilangan sebagian besar esnya. Wajahnya masih terasa basah, dan ketika ia menyentuh pipinya, ia menyadari dengan penuh keterkejutan bahwa air mata sungguhan telah mengalir di sana, bukti nyata dari kepedihan yang baru saja ia rasakan dalam mimpinya.
"Apa artinya semua ini," gumamnya pelan, suaranya masih bergetar oleh sisa-sisa emosi yang begitu intens dari mimpi tersebut, menatap tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar.
Ia duduk diam untuk waktu yang cukup lama, mencoba mencerna makna dari mimpi yang begitu jelas dan menyakitkan itu. Sosok pria asing yang berjalan bersama Brooklyn, tawa bahagia yang tidak pernah ia dengar sepanjang pernikahan mereka, dan perasaan tertahan yang begitu kuat ketika ia mencoba mengejarnya—semua itu terasa seperti sebuah pesan yang begitu jelas dari alam bawah sadarnya sendiri, sebuah pengakuan jujur yang selama ini terus ia sangkal dalam kehidupan nyatanya.
Liam merasakan sesuatu yang begitu mengerikan—penyesalan yang mendalam, bukan hanya atas bagaimana ia telah memperlakukan wanita yang dulu menjadi istrinya, melainkan juga kesadaran pahit bahwa mungkin, jauh di lubuk hatinya yang selama ini ia sangkal dengan begitu keras kepala, ia telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dibandingkan yang pernah ia sadari—sesuatu yang kini mungkin telah pergi selamanya, jauh di luar jangkauannya untuk selama-lamanya.