Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Suara derit pintu tangga darurat basement berderit pelan saat didorong dari luar.
Siska melangkah masuk ke dalam area bawah tanah Rumah Sakit Medika Sentosa dengan langkah ragu-ragu.
Bau khas cairan antiseptik pekat bercampur aroma debu tua langsung menusuk hidungnya.
Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip lemah, memancarkan cahaya temaram yang menciptakan bayangan panjang di dinding koridor.
"Seram sekali tempat ini," gumam Siska sambil merapatkan jaket tipis yang ia kenakan.
Ia membawa sebuah kantong plastik berisi roti lapis dan botol air mineral hangat di tangan kanannya.
Niatnya sederhana, ia hanya ingin memastikan Arka baik-baik saja setelah dijatuhi hukuman tidak masuk akal oleh Dr. Budi.
Siska menyusuri lorong panjang yang sepi, melewati barisan pintu besi penyimpanan limbah medis.
Tidak ada suara sama sekali selain bunyi derap langkah sepatunya sendiri yang memantul di dinding semen.
"Arka... kamu ada di mana?" panggil Siska dengan suara pelan setengah berbisik.
Suasana di area basement itu memang terkenal angker di kalangan perawat baru karena jarang dijamah orang.
Konon, bagian paling ujung dari lorong tersebut terhubung langsung dengan kamar jenazah lama yang sudah ditutup bertahun-tahun lalu.
Siska terus berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tanda-tanda keberadaan pria yang sedang dihukum itu.
Tiba-tiba, dari arah ruangan penyimpanan limbah paling ujung, terdengar suara gesekan benda tumpul di lantai.
Srekk... srekk...
Siska menghentikan langkahnya secara mendadak, jantungnya berdegup lebih kencang karena rasa kaget.
Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum kembali melangkah mendekati sumber suara.
Sesampainya di depan pintu ruangan penyimpanan yang terbuka setengah, Siska mengintip ke dalam.
Di bawah cahaya lampu yang remang-remang, ia melihat sosok Arka sedang berdiri membelakanginya.
Pria itu mengenakan pakaian kerjanya yang sederhana, sedang membersihkan tumpukan kotak kardus tua tanpa ekspresi di wajahnya.
"Arka," panggil Siska dengan suara sedikit lebih keras dari sebelumnya.
Arka menghentikan aktivitasnya, lalu membalikkan badannya secara perlahan ke arah pintu.
Ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi kosong dan polos begitu melihat Siska berdiri di sana.
"Eh, Siska? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Arka dengan nada suara lambat dan terbata-bata.
Siska menghela napas lega, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang berdebu itu.
"Aku mencarimu, bodoh," jawab Siska sambil mendengus pelan.
"Kamu ini malah santai banget padahal baru saja dihukum membersihkan tempat menyeramkan seperti ini."
Arka mengerjap-nerjap lambat, menatap kantong plastik di tangan Siska dengan pandangan bingung.
"Hukuman? Oh, lumayan kok tempatnya tenang, tidak ada yang teriak-teriak marah," jawab Arka polos.
Siska menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat betapa santainya tanggapan pria di depannya ini.
Ia maju beberapa langkah lalu menyodorkan kantong plastik berisi makanan dan minuman hangat kepada Arka.
"Nih, makan dulu. Aku tahu kamu pasti belum sempat makan siang karena langsung disuruh turun ke sini," kata Siska sambil tersimpuh kecil.
Arka menatap kantong plastik itu sejenak sebelum menerimanya dengan kedua tangan secara canggung.
"Terima kasih ya, Siska. Kamu baik banget padahal yang lain takut ngobrol sama aku," ucap Arka dengan senyum kikuk.
"Bukannya baik, aku cuma kasihan saja sama kamu yang sering dijadikan kambing hitam oleh Dr. Budi dan dokter Dimas," bela Siska dengan nada geram.
"Mereka itu cuma pengecut yang takut tersaingi, makanya sengaja menindasmu."
Arka membuka tutup botol air mineral hangat itu lalu meminumnya seteguk.
Di dalam kepalanya, suara sistem berderik pelan memberikan informasi baru yang menarik perhatiannya.
[Sistem Mendeteksi Tingkat Loyalitas Tokoh Siska Meningkat Signifikan]
[Peluang Membuka Jalur Aliansi Rahasia Naik Menjadi 70 Persen]
Arka tersenyum tipis sangat cepat, nyaris tak terlihat oleh Siska yang sedang melihat-lihat sekeliling ruangan.
"Tempat ini kotor sekali, Arka," komentar Siska sambil melangkah mendekati dinding sebelah barat ruangan.
"Bahkan ada pintu besi tua yang terkunci rapat di balik tumpukan lemari arsip itu."
Arka menoleh ke arah dinding yang dimaksud oleh Siska.
Berdasarkan peta transparan yang muncul di dalam penglihatan sistemnya, pintu besi tua itu bukanlah sekadar pintu biasa.
Itu adalah jalur akses rahasia menuju ruang bawah tanah arsip medis lama yang menyimpan rahasia kelam rumah sakit ini.
"Mau coba kita buka?" tanya Arka dengan nada suara polos yang terdengar seperti anak kecil penasaran.
Siska menoleh kaget menatap Arka.
"Mana bisa dibuka, itu kuncinya besar sekali dan pasti digembok dari luar," jawab Siska ragu.
"Siapa tahu tidak terkunci rapat," balas Arka sambil berjalan santai mendekati tumpukan lemari arsip berukuran besar.
Tanpa menunggu persetujuan Siska, Arka meletakkan kedua tangan di sisi lemari besi yang berat itu.
Siska terbelalak kaget melihat tindakan nekat tersebut.
"Hei, jangan didorong! Nanti lemari itu menimpamu!" seru Siska panik sambil melangkah maju untuk mencegahnya.
Namun, sebelum tangan Siska sempat menyentuh bahu Arka, pria itu sudah mendorong lemari besi seberat ratusan kilogram itu dengan gerakan yang sangat ringan.
Bruk!
Lemari besar itu bergeser mulus tanpa suara gesekan yang berat, seolah-olah tidak ada isinya sama sekali.
Siska menghentikan langkahnya, matanya melotot lebar menatap pemandangan di hadapannya dengan mulut terbuka.
"A... apa-apaan itu..." gumam Siska dengan suara bergetar karena tidak percaya.
Lemari besi seberat itu berhasil digeser hanya dalam satu dorongan tangan oleh seorang pria yang selama ini dianggap lemah dan idiot?
Arka langsung sadar bahwa ia sedikit kelepasan menunjukkan kekuatan fisiknya di depan Siska.
Ia segera memasang kembali ekspresi wajah bodohnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aduh... ternyata lemarinya tidak berat ya, gampang didorong," ucap Arka dengan nada canggung.
Siska menatap Arka dengan tatapan tajam penuh kecurigaan yang semakin memuncak.
"Arka... kamu ini sebenarnya siapa sih?" tanya Siska dengan nada serius sambil melangkah mendekat.
"Tenaga sebesar itu mustahil dimiliki oleh orang biasa, apalagi oleh seseorang yang dibilang lambat berpikir."
Sebelum Arka sempat menjawab pertanyaan Siska, perhatian mereka berdua langsung teralihkan ke arah pintu besi tua yang kini sudah terlihat jelas di dinding.
Gembok besar yang menggantung di handle pintu tersebut tampak sudah berkarat dimakan usia.
Namun, yang membuat Siska terkejut, rantai besi pengikatnya tampak tidak terkunci dengan benar.
Kring...
Gantungan gembok itu bergeser jatuh ke lantai begitu Arka menyentuhnya secara perlahan dengan jari tangannya.
"Eh? Gemboknya copot sendiri," kata Arka pura-pura terkejut.
Siska menelan ludahnya susah payah, rasa penasaran yang besar kini mengalahkan rasa takut di dalam dadanya.
Ia melangkah maju mendekati pintu besi tua yang mulai mengeluarkan suara decitan pelan tertiup angin dari dalam ruangan gelap itu.
"Di dalam ada apa ya..." bisik Siska dengan bulu kuduk merinding.
"Mari kita lihat," jawab Arka santai sambil mendorong daun pintu besi itu hingga terbuka lebar.
Ckiiit...
Suara engsel berkarat itu menggema di seluruh ruangan basement yang sunyi.
Bau apak bercampur aroma kertas tua langsung mengepul keluar dari balik kegelapan pintu tersebut.
Siska menyalakan lampu senter dari ponsel miliknya lalu mengarahkannya ke dalam ruangan rahasia itu.
Cahaya putih terang menyorot deretan rak arsip tinggi yang dipenuhi oleh tumpukan map-map berwarna cokelat tua.
Di atas meja kayu di tengah ruangan, tergelar sebuah dokumen tebal dengan cap merah besar bertuliskan konfidensial.
Siska berjalan masuk perlahan ke dalam ruangan itu, diikuti oleh Arka di belakangnya dengan langkah tenang.
Ia mendekati meja kayu lalu membaca judul besar yang tertera di sampul dokumen tersebut.
Wajah Siska seketika berubah menjadi pucat pasi dalam hitungan detik.
"Ini... laporan investigasi kasus malpraktik sepuluh tahun lalu..." bisik Siska dengan suara gemetar hebat.
Arka ikut melongok ke atas meja, membaca barisan kalimat di dalam dokumen rahasia tersebut dengan tatapan mata yang menyipit tajam.
Di dalam dokumen itu tertulis jelas bagaimana para pendiri lama Rumah Sakit Medika Sentosa sengaja menutup-nutupi kasus kematian pasien demi keuntungan finansial.
Bahkan nama keluarga besar dari dr. Dimas dan direktur utama saat ini tercantum jelas sebagai pelaku utama di balik penutupan kasus tersebut.
"Jadi... selama ini rumah sakit ini berdiri di atas kebohongan besar..." ucap Siska dengan napas terengah-engah karena syok.
Arka menepuk pelan pundak Siska untuk menenangkan perawat yang mulai gemetar ketakutan itu.
"Tenang saja, Siska," bisik Arka dengan suara rendah yang terdengar sangat tenang dan berwibawa, sama sekali tidak ada kesan bodoh di dalamnya.
"Semua kebohongan busuk ini tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi."
Siska mendongakkan kepalanya, menatap manik mata Arka yang kini tampak sangat tajam, jernih, dan memancarkan aura dingin yang luar biasa.
Untuk sepersekian detik, Siska merasa pria di depannya ini bukanlah Arka si dokter idiot yang sering diejek di koridor.
Melainkan seorang penguasa absolut yang sedang memegang kendali atas segalanya.