Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jake yang Asli
Suara Takara di seberang telepon terdengar jernih, kontras dengan kebisingan di dalam kepala Jake. Saat itu, Jake sedang berada di ruang ganti setelah live berakhir. Ia masih mengenakan kostum panggung, namun dasinya sudah dilonggarkan, persis seperti pertahanannya yang mulai runtuh.
"Halo, lo kenapa Jake? Itu penggemar lo sampe berspekulasi aneh-aneh loh! Kendaliin dirilah kalau lagi live," omel Takara tanpa basa-basi.
Takara selalu menjadi orang yang paling jujur pada Jake. Di dunia di mana semua orang berkata "ya" padanya, hanya Takara yang berani menegurnya saat ia bersikap tidak profesional.
"Ya lo sih! Kan udah janji sama gue ke Zaanse Schans, malah pergi sama orang lain," ungkap Jake, suaranya terdengar serak. Ia tidak peduli jika ada staf atau member lain yang lewat dan mendengar. Ia merasa seperti anak kecil yang mainannya direbut.
"Yaelah! Kan bisa lain kali pergi sama lo nya. Masih ada banyak waktu, lo harus fokus," balas Takara, nadanya melunak tapi tetap tegas.
"Ingat ya seberapa banyak yang udah lo korbanin untuk ada di posisi sekarang, Jake. Jangan hancurin semuanya cuma karena lo nggak bisa nahan rasa takut gue punya sahabat yang nggak masuk akal itu."
Jake terdiam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Bayangan seorang bintang yang bersinar, namun di baliknya ada ribuan jam latihan yang menyiksa, air mata saat masa trainee, dan keputusan berat untuk meninggalkan keluarga di Australia.
"Gue nggak takut," dusta Jake, meski hatinya perih.
"Bohong," potong Takara cepat. "Gue tahu lo, Jake. Dari kecil lo selalu pengen jadi nomor satu buat gue. Tapi sekarang lo bukan cuma milik gue atau milik keluarga lo. Lo milik jutaan fans. Dan gue? Gue juga harus punya hidup gue sendiri di sini."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Jake duga. Takara harus punya hidupnya sendiri. Itu berarti hidup yang mungkin tidak melibatkan Jake di dalamnya setiap saat.
"Apa dia... apa William itu baik sama lo?" tanya Jake akhirnya, suaranya mengecil.
Takara menghela napas di Amsterdam sana. Ia bersandar pada salah satu tiang kincir angin yang besar, menatap William yang sedang mengambil foto dari kejauhan. "Dia baik, Jake. Dia dengerin cerita gue soal desain tanpa harus curi-curi waktu di sela jadwal latihan. Dia... ada di sini."
Keheningan menyelimuti panggilan itu. "Dia ada di sini" adalah kenyataan yang tidak bisa Jake lawan dengan popularitas atau kekayaan sehebat apa pun.
"Fokus ke konser lo minggu depan, Jake. Gue bakal nonton dari sini, kayak biasanya. Jangan bikin gue malu karena lo tampil nggak maksimal gara-gara mikirin kincir angin," tutup Takara dengan tawa kecil yang dipaksakan untuk mencairkan suasana.
Setelah telepon tertutup, Jake melempar ponselnya ke sofa. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di luar, suara manajer memanggilnya untuk sesi pemotretan berikutnya.
Jake bangkit, memperbaiki rambutnya, dan memasang senyum idol-nya kembali. Tapi di dalam hatinya, ia membuat satu janji: Suatu hari nanti, ia tidak akan lagi menjadi orang yang hanya menonton hidup Takara lewat layar ponsel.
———
"Aku ada pesan dari atasan, kita harus melakukan gimmick untuk menaikkan rookie girl grup di agensi. Jake diminta melakukan interaksi gemas dengan salah satu member agar diliput oleh media," pinta sang manajer dengan nada datar, seolah sedang memesan menu makan siang.
"Hah? Gimmick terus! Perasaan kita ini penyanyi deh bukan orang bayaran untuk buat skandal," gerutu Jake. Suaranya terdengar tajam karena frustrasinya sudah mencapai puncak.
Manajer itu menghela napas, menatap Jake dengan tatapan yang seolah berkata 'selamat datang di dunia nyata'. "Kita bisa apa lagi selain mendukung nama grup itu naik? Toh akan menjadi gosip belaka, kamu tidak beneran suka atau pacaran sama dia. Ini cuma soal algoritma dan engagement media sosial, Jake."
Jake hanya bisa menghela napas panjang, menatap kosong ke arah deretan piala yang berjajar di ruangan itu. Kehidupan menjadi idol memang tidak sepenuhnya menyenangkan. Semakin tinggi ia terbang, semakin erat tali yang mengikat sayapnya. Ia menyadari bahwa ia lebih sering menjadi "produk" daripada manusia; lebih banyak menjadi orang lain daripada menjadi dirinya sendiri.
Pikirannya melayang kembali ke Amsterdam. Bagaimana reaksi Takara jika melihat foto-foto Jake sedang "berinteraksi gemas" dengan idol wanita lain di seluruh portal berita Korea?
Takara adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai Jake, bukan sebagai "Jake ENHYPEN". Jika berita ini meledak, apakah Takara akan cemburu? Atau justru, Takara akan merasa itu adalah bukti bahwa dunia mereka memang sudah tidak bisa lagi bersatu?
Malam itu, Jake kembali ke dorm dengan langkah gontai. Ia ingin menelepon Takara, ingin mengadu tentang betapa konyolnya rencana agensi kali ini. Namun, jemarinya berhenti di atas layar ponsel.
Bagaimana jika Takara justru mendukungnya? Bagaimana jika Takara berkata, "Bagus dong, itu profesionalisme kerja"?
Jake lebih takut pada ketidakpedulian Takara daripada kemarahannya.
Ia akhirnya hanya mengirim pesan singkat tanpa menyebutkan soal gimmick tersebut.
Jake: Ra, besok mungkin bakal ada berita aneh soal gue. Jangan langsung percaya ya. Gue cuma mau lo tahu kalau semuanya cuma... urusan kerjaan.
Di Amsterdam, Takara membaca pesan itu saat sedang menikmati cokelat hangat buatan William di sebuah kafe pinggir jalan. Ia mengernyitkan dahi. "Berita aneh apa lagi?" pikirnya.
Takara menatap William yang sedang asyik menjelaskan tentang teknik pengolahan kayu pada kincir angin. Di satu sisi, ada kehidupan nyata yang hangat dan stabil di depannya. Di sisi lain, ada kehidupan Jake yang penuh drama, kamera, dan kepura-puraan.
"Sahabat kamu ya?" tanya William lembut, menyadari Takara mulai melamun lagi.
"Iya. Dia bilang bakal ada berita aneh besok," jawab Takara lirih.
William tersenyum simpul, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Hidupnya memang penuh cahaya lampu, Ra. Tapi terkadang, cahaya yang terlalu terang itu malah bikin kita nggak bisa lihat apa yang sebenarnya ada di depan mata."
———
Pikiran Takara melayang pada libur semester musim panas lalu. Di bawah pohon jacaranda yang menggugurkan bunga-bunga ungu di halaman belakang rumah Jake, mereka sempat duduk bersisian. Jake pulang dengan pengawalan ketat, hanya punya waktu dua hari sebelum harus terbang ke Jepang.
Takara ingat betul bagaimana ia memperhatikan wajah sahabatnya itu dari samping. Garis senyum Jake yang dulu selalu merekah hingga ke mata, kini terlihat seperti sebuah otot yang dipaksa bekerja. Ada keletihan yang menetap di sudut bibirnya, sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh istirahat satu malam.
"Jake, lo masih bahagia kan?" tanya Takara saat itu.
Jake hanya tertawa kecil, tapi suaranya hampa. "Bahagia itu kata yang mewah sekarang, Ra. Gue cuma... jalanin apa yang harus dijalani."
Kenangan itu membuat dada Takara sesak. Ia tahu, di balik kemegahan panggung dan teriakan jutaan penggemar, Jake sedang kehilangan dirinya sendiri sepotong demi sepotong.
———
Kembali ke Amsterdam, Takara menatap layar ponselnya. Pesan Jake tentang "berita aneh" yang akan muncul besok terasa seperti alarm peringatan.
Takara tahu Jake sedang dipaksa masuk ke dalam sandiwara lain. Ia mengerti bahwa gimmick dan skandal buatan adalah bagian dari kontrak yang Jake tandatangani. Tapi yang paling menyakitkan bagi Takara bukanlah melihat Jake bersama wanita lain, melainkan menyadari bahwa Jake harus terus-menerus membohongi dunia, dan dirinya sendiri.
"Ra? Kok jadi sedih gitu mukanya?" suara William memecah lamunan Takara.
Takara memaksakan senyum, namun tangannya meremas cangkir cokelat yang sudah mendingin.
"Gue cuma lagi mikir... kadang, kesuksesan itu harganya mahal banget ya, Will? Sampai-sampai lo nggak punya hak lagi atas wajah lo sendiri."
William menatap Takara dalam, seolah mencoba membaca kerumitan perasaan gadis itu. "Kalau harganya adalah kehilangan diri sendiri, menurut gue itu bukan sukses, Ra. Itu namanya pengabdian yang keliru."
Takara tidak membalas. Ia sibuk mengetik pesan balasan untuk Jake. Ia tidak ingin menambah beban mental sahabatnya dengan omelan atau pertanyaan penuh selidik.
Takara: Apapun berita yang keluar besok, gue nggak bakal kemakan omongan media. Fokus aja sama apa yang perlu lo lakuin, Jake. Tapi ingat pesan gue: kalau lo udah capek banget jadi 'idol', jangan lupa lo masih punya tempat buat jadi 'Jake' yang asli.
Di Seoul, Jake membaca pesan itu di dalam van yang membawanya menuju lokasi syuting untuk gimmick. Air matanya hampir luruh. Takara selalu tahu apa yang ia butuhkan tanpa perlu ia minta.
Namun, di saat yang sama, Jake merasa semakin bersalah. Takara begitu tulus menjaganya, sementara ia hanya bisa memberikan ketidakpastian dan kabar-kabar bohong yang harus Takara telan demi menjaga kariernya.
"Siap, Jake? Kita sampai di lokasi," ucap manajer sambil melirik Jake dari kaca spion.
Jake menarik napas panjang, memperbaiki ekspresi wajahnya menjadi lebih cerah secara instan. "Siap, Hyung."
Sandiwara dimulai. Sementara di belahan dunia lain, Takara hanya bisa berdoa agar mental sahabatnya itu tidak hancur di bawah lampu sorot yang terlalu terang.