Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tabernakel Obsesi Sang Pewaris
Langkah kaki Valerie menggema di lorong yang jauh lebih dingin dan sunyi daripada bagian mansion lainnya. Jerome membawanya ke sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik rak buku perpustakaan pribadi—sebuah tempat yang bahkan Raka, orang kepercayaannya, tidak pernah diizinkan masuk.
Begitu pintu baja itu terbuka dengan suara dentum halus, Valerie tidak menemukan kemewahan yang ia harapkan. Sebaliknya, ia menemukan sebuah Tabernakel Obsesi. Ruangan itu melingkar, dengan dinding yang tertutup rapat oleh ribuan lembar sketsa wajah Valerie, foto-foto candid yang diambil dari kejauhan, hingga catatan jadwal harian Valerie yang sangat detail dari tahun-tahun sebelumnya.
"Ini bukan sekadar tempat pemujaan, Val," suara Jerome terdengar berat dan serak, bergema di ruangan kedap suara itu. "Ini adalah sel penjara yang kubangun untuk kewarasanku sendiri selama puluhan tahun."
Jerome melangkah mendekati salah satu dinding yang berisi foto Valerie saat masih bersama Aiden. Ia menyentuh permukaan foto itu dengan jemari yang gemetar.
"Kau tahu apa yang kulakukan setiap malam di sini?" Jerome berbalik, menatap Valerie dengan mata gelap yang memancarkan kegilaan sekaligus pengabdian yang murni. "Aku berdiri di depan fotomu, meluapkan seluruh gairah yang tak tersalurkan. Aku memejamkan mata, membayangkan kau ada di sini, bukan di pelukan keponakanku yang tak berguna itu. Aku menutup diri dari semua wanita di dunia ini karena bagiku, menyentuh orang lain adalah pengkhianatan terhadap jiwamu yang sudah kukunci di dalam peti mati di masa lalu."
Valerie melangkah mendekat, hatinya terasa sesak. "Jerome... kau menyiksa dirimu sendiri."
"Menyiksa diri?" Jerome terkekeh rendah, suara tawanya terdengar masokis. "Siksaan terberat adalah melihatmu dibentak oleh Aiden dan aku harus berpura-pura tidak peduli demi rencana besarku. Aku memberikan proyek besar pada Aiden hanya agar dia punya uang untuk membelikanmu makanan enak dan gaun mewah, meski hatiku hancur karena bukan aku yang memasangkan gaun itu di tubuhmu. Aku memelihara musuhku sendiri... hanya demi memastikan kau tidak menderita, Val."
Jerome menarik Valerie dengan satu sentakan kasar ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Valerie, menghirup aroma tubuh istrinya dengan rakus.
"Malam ini, di ruangan ini... tidak ada lagi bayangan. Hanya ada kau yang nyata," bisik Jerome. Ia mengangkat tubuh Valerie, membaringkannya di atas meja marmer hitam di tengah ruangan—tepat di bawah cahaya lampu remang yang menyorot ke arah altar.
"Jerome... kau begitu panas," desis Valerie saat tangan Jerome mulai menelusup ke balik gaunnya dengan penuh tuntutan.
"Aku terbakar selama puluhan tahun, Valerie! Kau tidak tahu betapa seringnya aku membayangkan saat-saat ini di ruangan sunyi ini!" Jerome menatap mata Valerie, memegang kedua tangannya di atas kepala. "Aku ingin kau merasakan setiap inci dari rasa sakit dan pemujaanku. Aku ingin kau tahu bahwa kau adalah satu-satunya alasan jantungku masih berdetak."
Jerome mencium Valerie dengan gairah yang meluap-luap, sebuah ciuman yang menuntut segalanya—napas, jiwa, dan raga. Tangannya bergerak dengan posesif yang liar, menyapu setiap lekuk tubuh Valerie seolah ia sedang mengklaim kembali harta karun yang telah hilang selama dua kehidupan.
"Katakan namaku, Val," perintah Jerome di sela napasnya yang memburu. "Katakan bahwa kau milikku, bukan milik masa lalu, bukan milik Aiden, tapi milik Iblis yang memujamu ini."
"Aku milikmu, Jerome... selalu milikmu," bisik Valerie dengan suara parau, ia menarik Jerome lebih dekat, merasakan resonansi Lara Manunggal yang meledak-ledak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Jerome mengirimkan arus listrik yang membuatnya melupakan segalanya kecuali pria di hadapannya.
Di dalam tabernakel itu, di bawah tatapan ribuan sketsa wajahnya sendiri di dinding, Valerie menyerahkan dirinya sepenuhnya. Jerome meluapkan seluruh gairah yang telah ia simpan selama puluhan tahun kesendiriannya. Penyatuan mereka malam itu bukan sekadar nafsu, melainkan sebuah ritual penebusan atas sumpah berdarah yang pernah Jerome ucapkan di dalam peti mati.
"Kau adalah tuhan yang kusembah, Valerie," desis Jerome saat ia membenamkan dirinya lebih dalam ke dalam dekapan istrinya. "Jangan pernah berani pergi lagi. Karena jika kau pergi, aku akan menghancurkan dunia ini agar kita bisa bertemu lagi di neraka yang sama."
Melalui ikatan batin mereka, Valerie bisa merasakan kepuasan Jerome yang luar biasa—sebuah kelegaan yang begitu dalam seolah lubang besar di hati pria itu akhirnya tertutup rapat. Mereka saling memacu dalam irama yang penuh pemujaan, mengubah ruangan yang dulunya sunyi dan penuh kesedihan menjadi saksi bisu atas kemenangan cinta yang obsesif.
...****************...