NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Spekulasi Cerita Instagram Lala

Bab 22: Spekulasi Cerita Instagram Lala

Menit 23:50 merangkak maju dengan kelambatan yang menyiksa. Notifikasi Instagram itu (Bab 21) masih bertengger di bilah atas ponselku seperti hakim yang baru saja mengetukkan palu. "Lala baru saja membagikan cerita." Sederhana, namun di dalam kepala yang penuh dengan variabel ketidakpastian, kalimat itu meledak menjadi ribuan kemungkinan yang bersifat destruktif.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana fokus mataku mulai terbelah. Pupilku melebar dan mengecil secara ritmis, mencoba menangkap detail piksel pada ikon Instagram yang memicu dopamin sekaligus adrenalin. Aku tidak menekan notifikasi itu, namun otakku sudah melakukan simulasi rendering terhadap apa yang mungkin ada di balik lingkaran ungu tersebut.

Ini adalah fase yang kusebut sebagai Kecemburuan Mikro.

Dalam simulasi pertama di kepalaku, aku membayangkan sebuah foto candid. Lala memotret kerumunan Bundaran HI, namun di sudut bingkai, ada sosok laki-laki lain. Mungkin mantan kekasihnya dari zaman kuliah, atau teman kantor yang sering memberinya komentar "lucu" di setiap unggahan. Aku membedah bayangan itu: bagaimana jika laki-laki itu sedang tertawa bersamanya? Bagaimana jika tangan laki-laki itu tidak sengaja menyentuh bahunya dalam bingkai foto sepuluh detik tersebut?

Sensasi perih menjalar di lambungku—sebuah reaksi psikosomatik akibat peningkatan asam lambung yang dipicu oleh stres spekulatif.

"Arka, fokus," bisik nuraniku, namun logikaku sudah terlanjur terseret ke simulasi kedua.

Bagaimana jika itu adalah foto selfie? Lala dengan latar belakang kembang api yang mulai pecah di langit Jakarta. Dia tampak cantik, terlalu cantik untuk sekadar menjadi "sahabat" laki-laki pengecut yang bahkan butuh lima belas bab untuk mengetik satu huruf 'L'. Dan yang paling menyakitkan dari spekulasi ini bukanlah kecantikannya, melainkan caption-nya.

Apa yang dia tulis di sana? “Malam yang indah dengan orang-orang tersayang”? Atau lebih spesifik, “Ready for 2026 with new hope”? Kata "Harapan baru" dalam kamus paranoia pria jomblo sering kali berarti "Orang baru".

Aku melirik Lala melalui sudut mataku (Bab 5). Dia sedang mematikan layar ponselnya, memasukkannya kembali ke dalam tas kecilnya dengan gerakan anggun yang membuatku merasa semakin tidak layak. Secara mikroskopis, aku memperhatikan sisa pendar cahaya di wajahnya.

Ada senyum tipis yang menggantung di bibirnya.

Senyum yang biasanya menjadi penenang bagiku, kini terasa seperti teka-teki silang yang tidak memiliki kunci jawaban.

Apakah dia baru saja mengunggah foto kami berdua?

Pikiran itu muncul seperti secercah harapan palsu.

Jika dia mengunggah foto kami, berarti dia bangga. Berarti aku memiliki posisi istimewa.

Namun, kecemburuan mikro segera memutarbalikkan narasi itu: “Bagaimana jika dia hanya menganggapku properti pendukung untuk menunjukkan bahwa dia tidak menghabiskan tahun baru sendirian?”

Analisis skeptisku (sesuai instruksi pada [2026-02-16]) segera bekerja. Tidak ada gunanya berspekulasi tanpa data objektif. Namun, masalahnya adalah media sosial dirancang khusus untuk membunuh objektivitas. Notifikasi itu adalah umpan, dan aku adalah ikan yang sudah separuh menelan kailnya.

Secara fisik, duniaku menyempit. Aku mengamati jempolku yang masih menggantung di atas huruf 'A' (Bab 21). Ada lapisan keringat tipis di permukaan kulitku yang membuat gesekan dengan udara terasa berbeda. Aku menyadari bahwa semakin lama aku menatap notifikasi itu tanpa membukanya, semakin liar spekulasi ini berkembang. Ketidaktahuan bukan lagi kebahagiaan; ketidaktahuan adalah laboratorium tempat ketakutan dikembangkan.

Aku mulai membedah fenomena ini dari sudut pandang sosiologi digital. Di era ini, sebuah "Story" berdurasi lima belas detik bisa menghancurkan stabilitas mental seseorang selama berjam-jam. Kita tidak lagi berkomunikasi melalui kata-kata, tapi melalui fragmen visual yang sengaja dikurasi untuk menciptakan impresi tertentu.

Apakah Lala sedang melakukan kurasi terhadap perasaanku?

Apakah unggahan itu adalah ujian untuk melihat apakah aku akan memberikan 'Love' secara cepat?

Paranoia ini mulai mengganggu fungsi motorik halusku. Aku merasakan otot extensor indicis di jari telunjukku menegang. Aku ingin membuka Instagram, tapi aku juga takut menghadapi kenyataan di dalamnya. Jika kenyataannya tidak sesuai ekspektasi, aku akan kehilangan sisa keberanian untuk menyelesaikan pesan WhatsApp ini.

Aku menatap huruf 'L' di layar. Huruf itu kini

tampak seperti tanda kekalahan. Sebuah simbol dari pria yang terlalu banyak berpikir hingga kehilangan momen untuk bertindak.

"Arka, kok kamu gemetaran?"

Suara Lala memotong sirkuit spekulasiku.

Suaranya tidak lagi jenaka seperti di Bab 21; ada nada kekhawatiran yang tulus di sana. Dia mendekat, aroma parfum vanilanya yang bercampur dengan bau asap kembang api (Bab 2) merayapi indera penciumanku. Jarak kami sekarang mungkin hanya dua puluh sentimeter.

"Aku... aku cuma lagi mikir," jawabku, mencoba mempertahankan nada objektif namun gagal total.

"Mikirin apa? Skripsi? Atau... pengumuman dosen?"

Aku meringis dalam hati. Dia masih menganggapku sebagai mahasiswa yang hanya punya beban akademik (Bab 19). Dia tidak tahu bahwa saat ini aku sedang bertarung melawan sebuah ikon kamera kecil di bilah notifikasi ponselku.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan pantulan diriku di layar ponsel yang sedang meredup.

Wajahku tampak pucat, dengan kantung mata yang menekankan kelelahan mental selama tiga menit terakhir. Aku terlihat seperti seseorang yang sedang mengalami krisis eksistensial karena sebuah aplikasi.

Cukup.

Aku harus mengakhiri spekulasi ini. Instruksi pada [2026-02-16] mengingatkanku untuk bersikap skeptis namun konstruktif. Berspekulasi tentang isi story Lala tanpa membukanya adalah tindakan tidak logis dan membuang energi. Jika aku memang ingin tahu, aku harus membukanya. Jika aku tidak berani membukanya, aku harus mengabaikannya sepenuhnya.

Namun, di detik ke-30 pada menit 23:50, aku menyadari satu hal yang lebih menakutkan: Aku tidak punya kendali.

Dunia digital Lala adalah wilayah kedaulatannya.

Apa pun yang dia unggah, dengan siapa pun dia merayakannya, adalah haknya. Kecemburuanku adalah manifestasi dari rasa memiliki yang belum memiliki legalitas. Aku tidak punya hak untuk cemburu sebelum aku mengirimkan pesan ini.

Spekulasi ini harus mati agar pengakuan ini bisa lahir.

Aku mengalihkan pandanganku dari bilah notifikasi Instagram. Dengan gerakan yang dipaksakan, aku memfokuskan kembali mataku pada kursor yang berkedip di samping huruf 'L'.

Aku harus membunuh gangguan ini sebelum ia membunuhku.

Keputusan telah diambil. Aku tidak akan membuka Instagram. Aku tidak akan membiarkan spekulasi menghancurkan draf "L-A-L-A" yang sedang kubangun. Aku harus membersihkan layar ponselku dari semua polusi digital ini.

Aku menggerakkan jariku menuju menu navigasi

atas. Aku harus mematikan semua ini. Aku harus masuk ke dalam mode di mana hanya ada aku, Lala, dan satu baris pesan yang menentukan masa depan kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!