Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - SURAT DARI ORANG YANG SUDAH PERGI
'Firma yang sama dengan ayahnya.'
Lily berdiri di dapur dengan ponsel di tangan dan kalimat itu berputar di kepalanya mencari tempat untuk mendarat.
Ayahnya punya pengacara, itu bukan rahasia. Pak Wirawan, laki-laki bertubuh kurus dengan kacamata kotak yang sesekali datang ke rumah dengan map hitam dan wajah yang tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun. Lily pernah lihat dia dua atau tiga kali, selalu di ruang kerja ayahnya, selalu dengan pintu yang ditutup rapat.
Kalau firma Pak Wirawan yang mengakses arsip Mama di kantor Pak Syarif, artinya ayahnya tahu ada arsip itu. Dan kalau ayahnya tahu, berarti dia sudah tahu jauh lebih lama dari yang Lily kira.
Lily mengetik balas ke Hendra. [Pak Syarif amankan dulu semua dokumennya. Jangan ada yang bisa diakses lagi tanpa izin aku langsung.]
Balasan datang cepat: [Sudah. Beliau yang telepon karena langsung curiga. Dokumen fisiknya sudah dipindah.]
[Lampiran B juga?]
[Lampiran B ada di tempat yang berbeda. Aman.]
Lily menghela napas. Satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan malam ini.
Tapi satu hal lain muncul menggantikannya, kalau ayahnya sudah bergerak ke arah arsip Mama, artinya dia tahu Lily mulai mencari. Atau ada yang melaporkan.
Nindi yang semalam mengintip gudang.
Tante Sari yang siang tadi pergi ke salon atau ke tempat yang lain.
Dimas yang tadi menjawab dengan hati-hati.
Terlalu banyak kemungkinan, terlalu sedikit bukti. Lily menyimpan ponsel dan memutuskan satu hal: malam ini dia masuk ke gudang bukan untuk bertanya ke cermin. Malam ini dia mencari sesuatu yang konkret.
Jam sebelas malam, rumah sudah diam.
Lily menunggu dua puluh menit ekstra setelah lampu kamar terakhir mati, kamar ayahnya di lantai dua, sebelum turun dari kasurnya. Dia tidak menyalakan senter ponsel. Berjalan ke belakang dengan hafalan yang sudah menjadi otomatis.
Gudang. Pintu yang tidak terkunci. Kegelapan yang sudah familiar.
Tapi malam ini Lily tidak langsung ke pintu kecil di sudut belakang.
Dia berdiri di tengah gudang dan memindai ruangan dengan matanya yang sudah menyesuaikan diri dengan gelap. Kardus-kardus yang sebagian sudah dia singkirkan. Perabot rusak yang ditumpuk di sisi kiri. Rak kayu tua yang sebagian papannya sudah copot.
Ada sesuatu yang belum dia periksa.
Sudut kanan depan, tempat yang paling dekat dengan pintu gudang utama, yang paling tidak menarik karena paling kelihatan. Tempat yang paling mudah diabaikan justru karena terlalu terbuka.
Lily berjalan ke sana.
Di balik rak kayu tua yang papannya copot, di lantai yang berdebu, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini... kotak kayu kecil, tidak lebih besar dari kotak sepatu, dengan tutup yang terkancing dengan gembok kecil yang sudah berkarat separuh.
Lily berlutut di depannya.
Gembok itu tidak butuh kunci, karatnya sudah separuh memakan mekanismenya, dan dengan sedikit tekanan dari kedua ibu jarinya, gembok itu terbuka dengan bunyi yang mengejutkan untuk benda sekecil itu.
Lily membuka tutup kotak.
Di dalamnya, amplop putih kekuningan yang sudah lama. Pinggirnya sedikit melengkung ke atas, warnanya bukan putih bersih lagi. Di atasnya, dengan tulisan tangan yang rapi tapi jelas sudah ditulis oleh tangan yang tidak sepenuhnya stabil...
Untuk Lily, kalau kamu menemukan ini.
Lily membawa kotak itu ke sudut belakang.
Pintu kecil terbuka sebelum dia menyentuhnya malam ini, cahaya keemasan yang sudah mulai terasa seperti sesuatu yang Lily kenal, seperti lampu teras rumah yang selalu menyala saat kamu pulang terlambat.
Dia masuk. Duduk di kursi kayu. Meletakkan kotak di pahanya.
Amplop itu tidak disegel, mungkin lem-nya sudah tidak merekat setelah sekian lama. Lily membukanya dengan hati-hati, menarik keluar tiga lembar kertas yang dilipat jadi dua.
Tulisan tangan yang sama. Rapi, tapi ada getarannya, tulisan orang yang sedang menulis sesuatu penting sambil menahan banyak hal lain.
Lily mulai membaca.
Lily sayang,
Kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah menemukan ruang kecil di belakang gudang itu. Dan kalau kamu sudah menemukannya, berarti kamu sudah siap, meskipun kamu mungkin tidak merasa begitu.
Aku tidak punya banyak waktu untuk menulis panjang-panjang. Jadi aku akan langsung.
Namaku Wulan. Aku ibumu. Dan ada hal-hal yang tidak sempat aku ceritakan kepadamu sebelum aku pergi.
Lily berhenti membaca sebentar.
Tangannya tidak gemetar tapi di dadanya ada sesuatu yang tiba-tiba sangat penuh dan sangat sesak sekaligus, seperti ruangan yang terlalu banyak furnitur dan tidak cukup udara.
Dia lanjutkan.
Pertama, ayahmu bukan orang jahat. Dia orang yang lemah. Ada bedanya. Orang jahat memilih menyakitimu. Orang lemah membiarkan kamu disakiti karena tidak mau repot membela kamu. Keduanya menyakitimu, tapi kamu perlu tahu bedanya supaya kamu tidak menghabiskan energi untuk membenci yang salah.
Kedua, ada perempuan yang masuk ke hidupnya setelah aku pergi. Aku tidak bisa cerita banyak karena aku tidak tahu siapa tepatnya. Tapi aku tahu akan ada seseorang. Ada orang-orang yang menunggu aku pergi supaya mereka bisa masuk. Itu bukan paranoia ... itu yang aku lihat dari cara mereka bergerak sebelum aku sakit.
Ketiga dan ini yang paling penting, ada harta atas namamu yang dititipkan ke adikku, Hendra. Kamu mungkin tidak kenal dia, aku sengaja jauhkan kalian supaya kamu aman selama kecil. Tapi dia tahu cara menemukanmu kalau waktunya tiba. Percayai dia. Dia satu-satunya dari keluargaku yang tidak punya agenda lain.
Lily mengangkat wajah sebentar. Menarik napas.
Hendra. Mama menyebut Hendra.
Dia lanjutkan ke halaman kedua.
Tentang ruang di belakang gudang itu, aku tidak bisa menjelaskan apa yang ada di sana karena aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti. Yang aku tahu, ibuku menemukannya dulu. Lalu aku. Sekarang kamu.
Ruang itu tidak memberikan kekuatan dari luar. Ia hanya menunjukkan yang sudah ada di dalam kamu ... lebih jelas, lebih tajam, tanpa semua lapisan rasa takut yang biasanya menutupinya. Kamu tidak perlu percaya itu. Kamu hanya perlu masuk dan duduk diam cukup lama.
Yang terakhir---
Aku minta maaf.
Bukan karena pergi, aku tidak memilih itu. Tapi karena sebelum pergi, aku tidak pernah mengajarimu cara marah dengan benar. Aku mengajarimu sabar. Aku mengajarimu diam. Aku mengajarimu bertahan. Tapi aku lupa mengajarimu bahwa ada saatnya bertahan bukan lagi hal yang tepat, ada saatnya kamu harus berdiri dan mengambil langkah.
Waktunya itu sekarang, Lily. Kalau kamu sudah sampai di sini, berarti waktunya sekarang.
Aku mencintaimu lebih dari yang bisa aku tulis di kertas tiga lembar.
Mama
Lily melipat surat itu kembali dengan gerakan yang lambat dan sangat hati-hati, seperti kalau dia terlalu cepat, sesuatu di dalamnya akan rusak.
Dia memasukkannya ke amplop. Memasukkan amplop ke dalam kotak. Menutup tutupnya.
Di dalam dadanya ada yang pecah dan ada yang sekaligus menyatu ... dua hal yang tidak seharusnya terjadi pada waktu yang sama tapi ternyata bisa.
Dia tidak menangis. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ada yang mau keluar. Yang ada hanya keheningan yang berat dan hangat sekaligus, seperti selimut yang terlalu tebal untuk cuaca ini tapi kamu tetap tidak mau melepasnya.
Cermin di depannya beriak pelan.
Tidak menampilkan gambar. Tidak menampilkan kalimat.
Hanya beriak, seperti ikut merasakan sesuatu.
Lily meletakkan tangannya di permukaan meja, di sebelah kotak kecil itu, dan duduk dalam diam yang tidak perlu diisi dengan apa-apa.
Beberapa menit berlalu.
Lalu Lily mengambil ponselnya dan mengetik ke Hendra, [Aku menemukan surat dari Mama. Di dalam gudang. Dia menyebutmu.]
Tiga titik muncul. Lama. Lebih lama dari biasanya. Lalu, [Aku tahu soal surat itu. Beliau yang bilang ke aku sebelum pergi. Lily, ada satu hal lagi yang belum aku ceritakan. Soal kenapa ibumu sakit.]
Lily menatap layar ponselnya.
[Katanya serangan jantung.]
Balasan Hendra tidak langsung datang. Ketika datang, hanya empat kata, [Itu yang dibilang ayahmu.]