Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hidup yang berwarna
Pagi hari, Ishani bangun dengan tubuh yang lebih segar. Aroma bawang putih dan mentega menyusup ke inderanya. Hangat. Familiar.
Ia turun perlahan dari tempat tidur, menduga Bu Maura sedang memasak seperti biasa. Langkahnya pelan menuju dapur. Dan ia berhenti.
Langit.
Pria itu berdiri membelakanginya, mengenakan kaos rumahan, lengan digulung sampai siku, gerakannya cekatan.
Pemandangan itu terasa asing.
Biru tidak pernah memasak.
Mereka lebih sering memesan makanan online daripada repot di dapur.
“Sudah bangun?” tanya Langit tanpa menoleh. Seolah ia tahu sejak tadi Ishani berdiri di sana. “Duduk.”
Ishani menarik kursi, duduk tepat berhadapan dengannya.
“Harusnya kamu nggak perlu ke sini. Aku yang mau antar ke kamar.”
“Aku pegal tiduran terus.”
Langit tidak menanggapi. Hanya suara wajan dan spatula yang terdengar.
Ishani mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.
Sepi.
“Ibu sama Ilham ke mana? Belum bangun?”
“Sudah pulang.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu pendek.
Ishani mengerutkan dahi.
“Kenapa? Bukannya Ibu mau beberapa minggu di sini?”
Langit terdiam sepersekian detik sebelum membalikkan nasi di wajan.
“Mana aku tahu…” ia tertawa kecil. Getir. “Tanya aja langsung.”
Nada itu bukan nada orang yang tidak peduli. Itu nada orang yang tahu alasan sebenarnya, tapi tidak ingin membahasnya.
Langit menyendok nasi goreng seafood ke piring. Aroma udang dan lada hitam memenuhi ruangan. Ia menaruh piring itu di depan Ishani. “Makan.”
Tanpa menunggu respons, ia menghilang ke kamar mandi.
Ishani menatap piring itu lama.
Hangat. Rapi. Tidak asal-asalan.
Seseorang yang tidak peduli tidak akan memasak serapi ini.
Setelah sarapan, Ishani kembali ke kamar.
Ia mengambil ponselnya. Satu pesan belum terbaca. Dari Bu Maura. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membuka pesan itu perlahan.
“Maafkan Ibu tidak bisa tinggal lama. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Ibu. Jangan memendam sendiri.”
Ishani mengerutkan dahi. Kalimat itu terasa… ganjil. Seperti bukan hanya tentang kehamilan. Tangannya menggulir layar ke atas. Terlihat pesan semalam yang belum sempat ia baca.
“Ibu pulang bukan karena tidak setuju. Ibu pulang karena setiap sudut rumah ini mengingatkan ibu pada dua anak yang pernah utuh. Sekarang satu sudah tidak ada… dan satu lagi sedang memaksakan diri menjadi kuat.”
Ishani terdiam. Rumah itu. Bukan tentang Langit. Bukan tentang dirinya. Tentang rumah itu.
Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air mengalir. Ada sesuatu yang tidak diceritakan kepadanya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya dirinya yang sedang menahan sesuatu.
Ishani lalu membalas pesan itu.
“Ibu baik-baik saja?”
Centang biru, tapi tidak ada balasan.
Ia melempar ponsel itu ke kasur, lalu merebahkan diri.
Tok tok tok…
“Shani…”
Ishani cepat-cepat merapikan pakaiannya. “Iya, Kak. Buka aja.”
Kepala Langit menyembul dari balik pintu.
“Sudah minum obat?”
Ishani mengangguk.
“Vitaminnya?”
Mengangguk lagi.
“Aku mau kamu pilih perawat. Aku tidak bisa memutuskan.”
“Perawat?”
Langit melangkah masuk, tetap menjaga jarak aman. Ia membawa iPad.
“Untuk menemanimu. Mulai dari sekarang, aku akan bekerja dari rumah tapi sesekali aku harus keluar. Harus ada orang yang jagain kamu.”
“Kerja?” Ishani mengernyit.
“Iya, kamu pikir aku pengangguran?” Langit memasukkan satu tangannya dalam saku celana.
“Eh… Aku gak bilang apa-apa.”
“Tapi nadanya seperti menuduh.”
Ishani membetulkan posisi duduknya. Menatap lurus ke arah manik Langit. “Itu cuma perasaan Kakak aja.”
Ishani mempertahankan tatapan dengan Langit untuk beberapa saat. Keduanya kemudian saling memalingkan wajah, sama-sama mengalah.
Langit menarik kursi meja rias dan duduk di samping tempat tidur. Ia menggeser layar. “Ada tiga kandidat. Aku udah baca profilnya tiga kali.”
“Dan, kakak belum bisa memutuskan?” nada Ishani menyindir tipis.
Langit mengangkat wajahnya. “Ini lebih sulit daripada milih asuransi.”
Ishani tertawa kecil.
Langit terpaku sesaat. Hangat. Ia cepat-cepat kembali fokus ke layar.
“Yang ini pengalaman bedrest,” Langit menunjukkan layarnya. “Tiga tahun di rumah sakit ibu dan anak.”
Mata bulat Ishani menatap layar. “Suaranya tenang nggak?”
“Di biodata tertulis?” Langit mengernyitkan dahi.
“Ya, siapa tahu ada catatan. ‘Suka ngomel', misalnya.”
Langit hampir tersenyum, tapi ditahannya. Ia melanjutkan ke kandidat berikutnya. “Kalau yang ini?”
Ishani membaca singkat, lalu menggeleng. “Aku nggak cocok.”
“Kenapa?”
“Dia kelihatannya terlalu rapi.”
Langit menghela napas kecil. “Shani… ini perawat.”
“Justru itu. Aku lagi hamil besar. Aku gak mau diomelin karena bantal dan kasur berantakan, belum mandi, malas nyisir—”
“Oke… oke.” Langit merasa jawaban Ishani masuk akal.
“Ini kandidat terakhir,” lanjutnya. “Usianya lebih matang. Review-nya bilang dia sabar. Dia bisa jaga malam juga.”
Ishani membaca lebih lama. “Kakak mau aku bangunin orang lain tiap malam?” Ia reflek bertanya. Karena sejak di rumah sakit, Langit yang selalu siaga tiap malam.
Keduanya terdiam.
Ishani sadar ia terpeleset.
“Kalau kamu nggak nyaman sama orang lain, aku yang bangun.”
Hening. Hanya suara AC.
“B-bukan begitu maksudku…,” Ishani menunduk. Malu.
“Jadi, mau pilih yang mana?” tanya Langit, memecah kecanggungan.
“Yang terakhir aja.”
“Oke.”
“Tapi, kalau di tengah jalan aku nggak cocok?”
Langit berdiri. “Kita cari yang lain.”
Langit melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya.
“Duh, kenapa keceplosan sih,” Ishani memukul mulutnya. “Kalau begini aku jadi malu… Arghhh,” menutup wajahnya dengan bantal.
**********
Sore harinya, perawat itu datang tepat waktu. Usianya akhir tiga puluhan. Dia terlihat tenang dan terkontrol. Langit lega melihatnya.
Perawat itu duduk di kursi ruang tamu, tas kerja rapi di pangkuannya.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Langit.
“Sama-sama, Pak.”
Perawat itu menoleh ke arah Ishani yang setengah duduk di sofa. Punggungnya disangga bantal.
“Nama saya Rina. Saya yang akan menemani ibu selama bedrest. Prioritas saya membuat ibu nyaman dan bayi aman,” jelasnya dengan nada profesional.
Ishani mengangguk. “Saya boleh tanya sesuatu… mungkin hal yang sepele?”
“Silakan.”
“Kalau saya bilang capek padahal baru bangun tidur, ibu marah?”
Langit mengangkat alisnya, menahan senyum mendengar pertanyaan polos Ishani.
“Tidak. Itu tandanya ibu butuh banyak istirahat.”
Langit mengetikkan sesuatu di ponsel, mengangguk-anggukan kepalanya. “Ini poin penting,” gumamnya terdengar oleh Ishani dan Bu Rina.
Bu Rina menoleh ke arah Langit. “Saya tidak banyak bicara. Tapi, kalau ada yang perlu diingatkan, saya akan sampaikan.”
“Saya lebih suka begitu,” balas Langit pelan.
“Termasuk soal makanan,” Bu Rina melanjutkan. “Saya akan batasi makanan yang bisa memicu kontraksi?”
Ishani menghela napas. “Makanan pedas?”
“Dibatasi.”
Langit tertawa pelan. Pasalnya, tadi siang ia sempat berdebat dengan Ishani yang ingin menambahkan saos di spagheti yang dibuatnya.
Ishani sontak menoleh, matanya membesar.
“Ehem…,” Langit menghentikan tawanya.
“Kalau ibu dan bapak tidak nyaman dengan cara saya bekerja, bisa bilang saja. Saya tidak akan tersinggung,” lanjut Bu Rina.
Langit mengangguk. “Kalau soal jaga malam?”
“Saya siap,” tegas Bu Rina. “Tapi biasanya, keluarga tetap terjaga. Ibu hamil besar biasanya akan lebih merasa aman kalau ada orang yang dikenalnya.”
Langit memandangi Ishani. Dahinya berkerut.
Ishani yang merasa ditatap Langit, menunduk. Pipinya bersemu merah.
Bu Rina melihat mereka bergantian, lalu berkata ringan, “Tenang saja, Pak. Saya jaga medisnya. Bapak jaga paniknya.”
Langit mengangguk. Tatapannya sempat berhenti pada Ishani sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Wawancara ditutup tanpa banyak basa-basi. Bu Rina pamit.
“Gimana?” tanya Langit.
“Aku suka dia. Kalau kakak?” Mata Ishani berkedip melihat Langit.
Langit memalingkan wajahnya. “Aku juga. Segera aku urus administrasinya,” ia pergi ke dapur.
“Setidaknya, aku seharian nggak berduaan sama Kak Langit,” bisik Ishani, bernapas lega. Ia menyalakan TV.
Langit berdiri di dapur lebih lama dari seharusnya. Padahal tak ada yang dilakukan. Gelas di tangannya penuh, tapi ia tidak meminumnya. Ia malah menatap air bening itu seperti sedang menatap pikirannya sendiri. Diam tapi berisik.
Terdengar suara tawa Ishani dari ruang tengah.
Langit memejamkan matanya. Terlalu hangat.
“Lo cuma jaga mereka, Lang,” gumamnya pelan.
Ia berjanji untuk menjaga. Bukan untuk memiliki. Untuk berdiri di sisi, bukan untuk mengisi tempat yang kosong.
“Mereka punya Biru…” Langit mengulang kalimat itu seperti doa. Atau hukuman.
Teeet... teeet
Bunyi bel pintu menghentikan lamunan Langit .
“Diam! Duduk aja, jangan bangun!” perintahnya pada Ishani yang hendak berdiri.
Ia membuka pintu.
Di depan, berdiri pria muda. Tubuhnya tegap dan tinggi.
“Maaf, Pak... lama. Saya pikir bapak di apartemen. Ini rumah siapa?” ucap pria itu.
“Kamu bawa yang saya pinta?”
“Iya, Pak. Ada di mobil.”
Beberapa kotak dokumen di bawa masuk.
“Taruh di meja...,” perintah Langit.
Pria itu berhenti ketika melihat Ishani di sofa.
“Siapa...?” tanyanya pelan.
Langit menoleh. “Ini calon istri dan anakku,” ucapnya ringan.
Waktu seperti berhenti.
Mata Ishani membulat sempurna. Pria itu juga.
“Halo... saya Bimo, asistennya Pak Langit.”
“Ishani,” jawab Ishani pelan.
“Bimo! Dokumennya!”
“I-iya, Pak.”
Beberapa saat kemudian, semua dokumen sudah tertata rapi di atas meja. Bimo pamit.
“Bim,” suara Langit berubah tegas. “Apa yang kamu lihat dan dengar di sini, tidak keluar dari rumah ini!”
“Siap, Pak.”
Pintu tertutup.
Langit berbalik, langsung disambut dengan tatapan tajam Ishani.
“Kenapa?”
“Kak Langit ngapain ngenalin aku sebagai calon istri?”
“Emangnya bukan?”
“Aku belum bilang setuju,” Ishani menggertak giginya menahan marah.
Langit menyilangkan tangan di dada. “Aku sudah bilang, setelah masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu. Dan bayi dalam perutmu akan jadi anakku.”
“Aku tidak bilang aku mau.”
“Kamu di rumahku, Shani. Aku anggap itu persetujuan.”
Sunyi.
Tangan Ishani meremas bajunya.
"Aku di sini karena...,"
Ia terdiam.
Langit mendekat satu langkah. “Karena apa...?” kali ini ia berani menatap langsung ke dalam mata Ishani.
“Aku bukan amanah yang bisa Kakak klaim seenaknya.”
Kalimat itu membuat Langit mematung. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya balasan.
Ishani masuk ke dalam kamar.
Brugh. Ceklek.
Tok tok tok.
Langit mengetuk pintu. "Jangan dikunci Shani, kalau ada apa-a--,"
Ceklek.
Kunci diputar dari dalam.
Langit terdiam di depan pintu beberapa detik. Senyumnya tipis. Bukan karena menang. Bukan juga karena marah. Lebih pada seseorang yang sadar kalau hidupnya tidak lagi sunyi.
“Gue bikin dia marah lagi,” gumamnya pelan.
Namun kali ini, dadanya tidak terasa kosong. Rumah yang terlalu hening itu kini dipenuhi suara bantahan, tawa, langkah kaki, dan pintu yang dibanting. Dan… entah kenapa, Langit tidak ingin semuanya kembali sepi.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!