NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Doni merebut struk itu dari tangan Kyara dan meremasnya tanpa ragu. Kertas tipis itu langsung kusut di genggamannya. "Ini tuh struk belanjaannya temenku!" bentaknya cepat. "Dia mau ngasih hadiah kejutan buat istrinya. Jadi struknya dikasih ke aku supaya nggak ketahuan! Dan barangnya ia sembunyikan di bagasi mobilnya!" Nada suaranya meninggi, bukan seperti orang yang menjelaskan, melainkan seperti orang yang tersudut.

Kyara menatap wajah suaminya lekat-lekat. Mencari celah. Mencari tanda kejujuran. Dan tak ia temukan.

"Udah deh," lanjut Doni ketus. "Kamu nggak usah nanya-nanya hal nggak penting kayak gini. Minggir, aku mau mandi!" Ia berdiri kasar, melewati Kyara begitu saja. Kancing kemejanya dibuka dengan gerakan cepat dan tak sabar. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah menuju kamar mandi.

Namun satu hal membuat dada Kyara kembali mengencang. Ponsel itu masih ada di tangan Doni. "Katanya mau mandi, tapi kenapa harus bawa ponsel segala?!" teriak Kyara, kali ini tak lagi menahan diri.

Langkah Doni terhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Ia membeku sesaat, lalu perlahan membalikkan badan. Lalu berjalan menghampiri Kyara. Tatapannya tajam. Dingin. Mengancam. "Suka-suka akulah. HP-HP aku," balasnya kasar. "Mending kamu buruan pergi ke dapur. Siapin makan malam, dan hidupkan tuh lampu. Biar rumah ini nggak gelap kayak di kuburan!"

Dada Kyara naik turun. Biasanya, di titik ini, ia akan diam. Menelan semua kata-kata kasar itu. Berjalan turun ke dapur tanpa suara. Namun entah dari mana keberanian itu datang malam ini. "Udah, Mas. Udah dari tadi aku masak," jawabnya, suaranya bergetar tapi tegas. "Aku udah kerja kayak kuda dari tadi pagi."

Sunyi.

Doni menatapnya tak percaya. Untuk pertama kalinya, Kyara melawan. "Wah ..." Doni bertepuk tangan pelan. "Udah berani melawan ya kamu sekarang." Tepukan itu terdengar seperti tamparan.

Kyara tidak mundur. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahannya. "Mas ... tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku?" suaranya mulai pecah. "Aku ini istrimu, bukan seorang babu." Kalimat itu meluncur seperti sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan.

Doni tertawa pendek, tanpa humor. "Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku," katanya dingin, "Lebih baik kau keluar dari rumah ini!" Kyara tercekat. "Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus selalu mendengar ocehanmu!" lanjut Doni, suaranya semakin keras. "Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Tiba-tiba ia meraih bantal di atas ranjang dan melemparkannya keras ke arah Kyara. Bantal itu menghantam wajah istrinya sebelum jatuh ke lantai.

Kyara terhuyung setengah langkah. Sunyi kembali menggantung di udara. Hanya napas mereka yang terdengar kasar.

Perlahan, Kyara menegakkan tubuhnya. Dan ia tersenyum getir. "Jika aku istri pembangkang," ucapnya pelan namun jelas, "Berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab."

"Kyaraaa!" Bentakan Doni menggema di kamar. "Kurang ajar kau!" Doni menudingkan telunjuknya ke wajah Kyara.

Kyara menatapnya lurus. Tak lagi menghindar. "Kamu memang suami yang tidak bertanggung jawab, Mas," ulangnya, kali ini lebih tegas. "Sudah hampir lima tahun kamu nggak pernah lagi memberikan nafkah lahir ke aku, Mas." Wajah Doni memerah. "Hanya struk gajimu saja yang aku terima selama lima tahun ini," lanjut Kyara, suaranya kini bergetar oleh emosi yang membuncah. "Uangnya ... entah kamu gunakan untuk apa?!"

Ia mengingat dengan jelas. Awal pernikahan mereka tak seperti ini. Dulu Doni menyerahkan gajinya setiap bulan. Dulu mereka masih duduk bersama membahas kebutuhan rumah tangga. Dan Doni selalu membelikan apa pun yang ia minta. Namun lima tahun terakhir ... semuanya berubah.

Doni jadi perhitungan. Tak lagi memberinya uang bulanan. Jika Kyara bertanya soal gaji, Doni selalu mengalihkan pembicaraan. Dan ternyata akhir-akhir ini ia mengetahui satu fakta pahit, bahwa Doni, lelaki yang ia cintai ... lebih memilih memberikan uang gajinya kepada ibunya, ketimbang kepada dirinya.

"Kyara!" Doni melangkah maju satu langkah. Tangannya terangkat. Seketika, waktu pun terasa seperti melambat. Dada lelaki berambut cepak itu kembang-kempis.

Kyara melihat telapak tangan itu menggantung di udara. Telapak tangan yang dulu pernah menggenggam tangannya dengan lembut saat ijab kabul. Telapak tangan yang dulu mengusap rambutnya penuh kasih. Telapak tangan yang selalu ia pegang ketika tidur, tapi kini telapak tangan itu terangkat untuk memukulnya.

Dada Kyara sesak. Namun ia tidak mundur. "Tampar saja sekalian, Mas," katanya lirih tapi mantap. "Biar sakit hatiku lengkap. Biar kamu puas!"

Doni terdiam sepersekian detik. Tangannya masih menggantung di udara, gemetar oleh amarah. "Kau ini benar-benar keterlaluan!" geramnya sambil menurunkan tangan itu dengan kasar.

"Keterlaluan?" Kyara tertawa kecil, pahit. "Kau yang lebih keterlaluan, Mas! Kau selalu menyuruhku membantu Mama di rumah makan tanpa digaji sedikitpun! Hanya sepuluh ribu rupiah yang ibumu berikan untukku. Sepuluh ribu rupiah, Mas." Air mata akhirnya jatuh juga, tapi ia tak mengusapnya. "Aku bekerja banting tulang untuk berbakti kepadamu dan juga keluargamu. Dari pagi hingga malam hari ... tapi apa yang kudapatkan darimu dan keluargamu?" Dada Kyara kembang kempis. "Kau malah mengatakan jika aku adalah istri yang pembangkang, dan Ibumu ... malah sering memarahiku. Mengata-ngatai aku sebagai istri yang tidak berguna, pemalas, lelet, jorok dan hanya numpang hidup padamu!"

Doni mengepalkan tangan. Bibirnya bersiap terbuka, tapi suara Kyara kembali menggema. "Kalian bertiga tak pernah menghargai apa yang aku lakukan. Kalian tak pernah menganggap aku ada. Kalian semua selalu menyepelekanku!" Kyara menjerit tak terkendali. Sakit hatinya sudah mencapai batas. "Mana janjimu dulu Mas? Dulu kau berjanji akan selalu membuatku bahagia. Akan selalu ada si sisiku. Akan menemaniku sampai maut memisahkan? Mana Mas, mana janjimu itu?" Suara Kyara berubah pelan. "Bahkan sebelum maut memisahkan pun ... kau sudah tak peduli lagi padaku! Kau ... lebih peduli pada gawaimu itu! Setiap waktu selalu kau pandangi. Seolah di dalam ponsel itu ... ada foto wanita lain yang kau cintai!" Ucapan berhasil membuat emosi Doni membuncah.

"Cukup Kyara!" bentak Doni menggelegar, bagai petir menyambar di siang bolong. "Mulutmu sudah sangat lancang! Kau tidak pantas berkata seperti itu terhadapku dan juga keluargaku! Kau juga tidak sepatutnya mencurigaiku seperti itu! Aku tidak punya wanita idaman lain!" pungkasnya sambil mengepalkan tangan.

"Lalu untuk siapa pakaian dalam dan lingerie merah itu?!" Kyara kembali membahas tentang struk pembelian itu. Karena sesungguhnya ... ia tidak percaya pada jawaban yang tadi diucapkan suaminya.

"Apakah kau tuli?!" Doni menoyor kepala Kyara. "Sudah kubilang ... kalau itu struk milik rekan kerjaku!" Ia berteriak tepat di wajah istrinya yang penuh air mata.

Kyara membalas dengan teriakan juga. "Telepon rekan kerjamu itu sekarang juga! Aku ingin memastikannya. Aku ingin menanyakan kepadanya!"

"Kau!" Napas Doni tiba-tiba memburu. Matanya berkilat tajam. Lalu dengan gerakan cepat, ia mendorong tubuh Kyara hingga terjerembab jatuh ke lantai. "Setan!"

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!