Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Setelah bermeditasi beberapa jam.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu memecah keheningan. Xu Hao tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa yang datang. Ia sudah merasakan kehadiran mereka dari kejauhan meskipun sedang bermeditasi.
Tangannya mengibas pelan. Pintu kayu itu terbuka dengan sendirinya.
Tiga sosok masuk. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji. Mereka berjalan dengan langkah hati-hati, lalu duduk bersila di lantai di hadapan Xu Hao. Wajah mereka penuh hormat, bahkan sedikit takut.
"Maaf senior jika kami mengganggu," kata Mei Mei pelan.
Xu Hao membuka matanya. Ia menatap mereka bertiga dengan tatapan tajam.
"Berhenti memanggilku senior. Kalian bahkan lebih kuat dariku. Apa kalian ingin mengolok-olokku?"
Jin Bao dan Jin Yuji langsung menggeleng keras. Wajah mereka pucat.
"Tidak senior! Kami tidak berani!" seru Jin Bao cepat.
Jin Yuji menambahkan, "Dan kami tahu, jika senior sangat kuat di tingkat itu. Bahkan jika kami mencoba menyerangmu, hanya akan ada kematian. Kami bisa merasakannya."
Mei Mei mengangguk setuju. Matanya tulus, tidak ada kebohongan di sana.
Xu Hao diam sejenak. Ia tidak ingin memperpanjang masalah soal panggilan. Yang lebih penting, kenapa mereka datang lagi.
"Baiklah. Sekarang katakan kenapa kalian menemuiku. Sudah kubilang aku tidak akan bergabung pada faksi mana pun."
Ketiganya menggeleng lagi. Kali ini Mei Mei yang berbicara.
"Senior, izinkan kami ikut bersama senior menuju Alam tingkat Tiga. Senior tenang saja, kami berjanji tidak akan menyusahkan senior."
Xu Hao menatap mereka tajam. Matanya seperti pisau yang siap menusuk.
Ketiganya menelan ludah bersamaan. Keringat dingin mulai membasahi dahi mereka. Tekanan dari tatapan Xu Hao membuat mereka hampir sulit bernafas.
Xu Hao tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan. "Apa kalian yakin bisa melewati ujian yang disebutkan Nenek itu? Dan berikan alasan kenapa aku harus membawa kalian."
Mei Mei menarik nafas dalam, mencoba tenang. Ia menjawab dengan suara bergetar sedikit, "Tentang ujian itu, kami yakin bisa melewatinya. Karena tujuh ribu tahun lalu, Nenek Yi pernah ke Alam Tiga untuk urusan penting. Dan kami diberi tahu cara melewati setiap rintangannya. Karena itu, senior pasti terbantu dengan keberadaan kami. Kami bisa memandu jalan."
Xu Hao merenung sejenak. Informasi itu berguna. Jalan alternatif menuju Alam Tiga pasti penuh bahaya. Memiliki pemandu yang tahu jalannya akan sangat membantu.
"Setelah itu?" tanyanya lagi.
Jin Yuji menjawab, "Setelah sampai di Alam Tiga, kami ingin bertemu seseorang. Dia juga orang sesat seperti kami. Seribu tahun lalu dia naik ke Alam Dewa dan sempat bertemu Nenek Yi. Nenek menyuruh kami mencarinya di sana."
Jin Bao menambahkan dengan antusias, matanya berbinar, "Itu benar senior! Kuharap senior tidak tersinggung. Aku bisa merasakan, jika pria itu jauh lebih kuat dari senior jika di tingkat yang sama!"
Plak!
Mei Mei langsung memukul lalu mencubit paha Jin Bao keras. Jin Bao meringis kesakitan, tapi tidak berani bersuara.
Xu Hao mengangkat tangannya, menghentikan mereka. Ia bertanya, "Siapa pria itu?"
Ketiganya menjawab serempak, "Lumo."
Xu Hao terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat, tapi nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya. Mungkin memang bukan orang yang dia kenal.
Xu Hao menghela nafas. "Baiklah. Jika ingin ikut bersamaku, besok kita akan berangkat menuju tempat ujian."
Ketiganya berseri-seri. Wajah mereka bersinar bahagia.
Tapi Mei Mei segera mengingatkan, "Tapi senior, perjalanan ke sana sangat jauh. Dari sini, dengan kecepatan Raja Dewa sekalipun, akan sampai dua bulan. Jadi..."
Xu Hao memotong, "Tidak masalah. Kita tidak perlu terburu-buru sampai kesana. Dan kita perlu meningkatkan kultivasi di sepanjang perjalanan."
Jin Bao langsung memukul meja kecil di sampingnya. Bunyi keras terdengar, meja itu hampir rubuh.
"Itu maksud kami senior!!"
Mei Mei langsung mencubit pinggangnya lagi, kali ini lebih keras. Jin Bao meringis, tapi tetap tersenyum bangga.
Xu Hao menghela nafas melihat tingkah mereka. "Kalau begitu, kembalilah ke markas kalian."
Ketiganya menggeleng. Mei Mei menjelaskan, "Kami sudah berpamitan dengan Nenek Yi dan yang lainnya. Jadi kami tidak perlu kembali. Kami akan menginap di sini."
Xu Hao mengerutkan kening. "Ada masalah?"
"Tidak ada," jawab Mei Mei cepat. "Justru kami pergi untuk menemui Senior Lumo, itu karena perintah Nenek Yi. Jadi setelah pamit, kami langsung ke sini."
Xu Hao mengerti. Nenek Yi sengaja mengirim mereka untuk bergabung dengannya. Mungkin untuk membantu, atau mungkin untuk mengawasi. Tapi tidak masalah. Yang penting mereka berguna.
"Ya sudah. Sekarang istirahatlah. Besok kita berangkat."
Ketiganya mengangguk. Mereka bangkit dan menuju ranjang.
Xu Hao melihat mereka bertiga hampir berebut ranjang. Jin Bao dan Jin Yuji saling dorong, ingin merebut posisi tidur. Mei Mei berdiri di samping, bingung harus bagaimana.
Xu Hao berdehem keras. "Jin Bao... Jin Yuji. Kalian bermeditasi saja. Biarkan Mei Mei tidur di ranjang. Mengalah pada wanita adalah kewajiban, jika itu hal-hal sepele."
Jin Bao dan Jin Yuji berhenti. Mereka menoleh, lalu tersenyum malu-malu.
"Baiklah senior, kami mengerti," kata Jin Bao.
Mereka berdua segera mencari tempat. Jin Bao duduk bersila di lantai dekat jendela. Sesekali tangannya memegang otot lengannya, lalu tersenyum puas. Seolah dialah manifestasi otot sejati.
Jin Yuji memilih sudut ruangan yang agak gelap. Ia mengeluarkan dua patung dari cincin penyimpanannya. Patung-patung itu terbuat dari batu giok, diukir dengan sangat detail. Dan yang membuat Xu Hao hampir muntah darah adalah pose patung itu. Keduanya wanita, dengan tubuh sedikit membungkuk, dan bagian belakangnya menonjol menantang. Pose yang sangat tidak senonoh.
Jin Yuji meletakkan patung itu di meja rendah. Lalu ia duduk bersila, menatap bagian belakang patung dengan mata sangat serius. Matanya menyipit, alisnya berkerut, seperti seorang peneliti yang sedang mengamati spesimen langka.
Mei Mei yang sudah merebahkan diri di ranjang berbicara dengan suara lembut, "Maaf jika tindakan mereka membuat senior tidak nyaman. Tapi Jin Yuji hanya suka menatap bokong patung saja, bukan gadis asli. Karena Nenek Yi pernah memukulinya dulu akibat mengamati bokong gadis sungguhan di pasar."
Xu Hao mengangguk, lalu menghela nafas panjang. Ia memejamkan mata dan kembali bermeditasi.
Ia memilih untuk tidak memusingkan tingkah aneh dua pria itu. Yang penting mereka berguna untuk perjalanan ke Alam Tiga. Sisanya, anggap saja angin lalu.
Di luar penginapan, malam semakin larut. Lentera-lentera di jalan mulai padam satu per satu. Toko-toko tutup. Hanya beberapa warung malam yang masih buka, melayani beberapa pengunjung yang duduk termenung.
Namun di atas atap-atap bangunan di sekitar penginapan, bayangan-bayangan bergerak pelan. Sekitar belasan orang bersembunyi di balik cerobong, di balik bubungan atap, di balik bayangan gedung-gedung tinggi. Mata mereka semua tertuju pada satu titik.
Penginapan Istirahat Abadi.
Di atap sebuah toko kain, tiga bayangan berbisik.
"Kau yakin target ada di dalam?"
"Pasti. Aku lihat sendiri dia masuk. Tidak keluar lagi."
"Laporkan pada pimpinan!"
"Sudah. Aman terkendali."
Di atap lain, sesosok bayangan duduk bersila. Matanya terpejam, tapi indra jiwanya menyebar luas, mengamati setiap pergerakan di sekitar penginapan. Ia adalah seorang Raja Dewa bintang satu. Pemimpin kelompok malam ini.
Ia membuka matanya. Senyum tipis terukir di bibir.
"Menarik. Dewa Langit bintang satu yang bisa menghancurkan Formasi Seribu Pembunuh dengan tekanan saja. Sangat kuat dan mendominasi."
Di sampingnya, seorang bawahan berbisik, "Apa kita serang sekarang, Tuan?"
Raja Dewa itu menggeleng. "Tidak. Kita tunggu saja, dan biarkan dia lengah. Atau biarkan dia keluar kota besok. Di luar kota, kita akan lebih mudah bergerak."
"Baik, Tuan."
Bayangan-bayangan itu terus mengawasi, menunggu saat yang tepat. Malam semakin larut, dan di dalam penginapan, Xu Hao duduk bermeditasi dengan tenang.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"