Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pukul 05.00 WITA. Langit Uluwatu masih berselimut warna biru gelap yang dingin saat ponsel di atas nakas Alana bergetar pelan. Alana yang memang tidak bisa tidur nyenyak segera menyambar ponselnya. Di layar, muncul sebuah notifikasi pesan yang masuk tepat saat pesawat yang ditumpangi Pradipta bersiap lepas landas.
Pradipta:
*"Aku baru saja duduk di kursi pesawat. Sebentar lagi sinyalku hilang, tapi aku ingin mengirimkan ini sebelum aku berada di atas awan
Jangan biarkan suara ibumu pagi ini merusak matahari Bali yang indah itu. Kamu bukan mesin ATM, Alana. Kamu adalah wanita hebat yang aku kenal. Fokuslah pada pondasi proyekmu, dan biarkan aku yang memikirkan cara untuk menjadi pondasi bagi hatimu yang sedang lelah.
Tunggu kabarku saat aku mendarat di Jakarta. Ingat janji kita: jangan bangun tembok itu lagi."*
Alana membaca pesan itu berulang kali. Setiap kata yang diketik Pradipta terasa seperti pelukan hangat yang melindunginya dari dinginnya pagi. Ia bisa membayangkan wajah tegas Pradipta yang menatap layar ponsel di dalam kabin pesawat, mengetik kalimat-kalimat itu hanya untuk memastikan Alana tidak merasa sendirian saat terbangun.
Air mata Alana jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia merasa dihargai. Ia merasa dilihat sebagai manusia, bukan sebagai angka-angka rupiah yang selama ini dituntut ibunya.
Alana segera mengetik balasan singkat sebelum tanda "pesawat" muncul di profil Pradipta:
Alana: Hati-hati di jalan, Dipta.
Setelah mengirim pesan itu, Alana beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menuju balkon hotel, menatap ufuk timur di mana semburat jingga mulai muncul. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Alana merasa ia punya kekuatan untuk menghadapi dunia—bukan karena ia harus, tapi karena ia tahu ia harus kuat demi dirinya sendiri
Ketenangan Alana di balkon hotel hancur seketika saat ponselnya menjerit lagi. Nama "Ibu" menyala di layar, seolah tidak memberikan ruang bagi Alana untuk sekadar menghirup udara pagi dengan tenang.
"Alana! Kamu dengar Ibu tidak? Rian mengurung diri di kamar, dia tidak mau makan kalau motornya tidak balik! Kamu mau adikmu mati kelaparan?" Suara ibunya terdengar histeris, jauh lebih menuntut daripada kemarin. "Uang tebusannya hanya sepuluh juta, Alana! Bagi kamu itu kecil, tapi bagi harga diri keluarga kita itu segalanya!"
Alana memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram besi balkon hingga buku jarinya memutih. Kata-kata Pradipta tentang "dunia tidak akan kiamat jika berhenti jadi pahlawan" terngiang di kepalanya, namun tekanan batin yang dibangun ibunya selama puluhan tahun terasa jauh lebih menyesakkan. Ia merasa lelah. Sangat lelah untuk terus berdebat di pagi buta.
"Cukup, Bu. Cukup," potong Alana dengan suara parau. "Alana akan kirim uangnya sekarang. Tapi tolong, jangan telepon Alana lagi hari ini. Alana punya pekerjaan besar yang harus diselesaikan."
"Nah, begitu dong! Itu baru anak kebanggaan Ibu. Cepat ya, kasihan Rian sudah menangis terus," sahut ibunya, nada suaranya berubah manis dalam sekejap begitu permintaannya dikabulkan.
Klik.
Alana menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Dengan jemari yang gemetar, ia membuka aplikasi perbankan dan melakukan transfer sepuluh juta rupiah ke rekening ibunya. Saldonya berkurang, dan bersamaan dengan itu, harga dirinya pun terasa ikut terkikis. Ia merasa kalah. Ia baru saja kembali menjadi "mesin ATM" yang ia benci, tepat setelah Pradipta mencoba menguatkannya.
"Maaf, Dipta... aku belum sekuat itu," bisik Alana pedih.
Ia menyeka air matanya dengan kasar, lalu segera bersiap menuju lokasi proyek. Ia tidak ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut. Ia harus menenggelamkan diri dalam pekerjaan agar rasa bersalah dan sesak di dadanya menghilang. Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa dengan mengirim uang itu, ia baru saja memberi makan monster yang akan kembali meminta lebih banyak di kemudian hari.