Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris
Pagi hari datang dengan kelembutan yang ironis.
Tio terbangun bukan karena suara burung, tapi karena rasa lapar yang luar biasa. Perutnya terasa seperti diremas-remas dari dalam, mengirim sinyal darurat ke seluruh tubuh. Ia membuka mata, dan untuk beberapa detik ia lupa di mana ia berada.
Langit-langit batu di atasnya, suara air terjun yang gemuruh, bau tanah basah—semuanya perlahan mengingatkan: ia masih di sini. Masih di dalam mimpi buruk ini.
Ia mencoba duduk. Tubuhnya protes. Semalaman ia tidur meringkuk di celah sempit, posisi yang tidak alami, tidak nyaman. Lehernya kaku, punggungnya pegal, pinggangnya seperti dipukul berulang kali. Setiap otot, setiap sendi, setiap tulang bergantian mengirim sinyal sakit.
Kaki kanan. Ia lupa sejenak, lalu ingat lagi ketika mencoba menggerakkannya. Rasa sakit yang familiar menyambarnya. Ia menunduk, membuka perban. Lukanya masih sama—bengkak, bernanah, merah kebiruan. Tidak lebih baik. Bahkan mungkin lebih buruk. Tapi ia tidak punya waktu untuk merawatnya sekarang.
Perut. Lapar. Ia menekan perutnya dengan tangan, merasakan bagaimana kulitnya langsung menyentuh tulang belakang. Hanya ada sedikit lemak tersisa. Tubuhnya mulai memakan otot-ototnya sendiri. Tangannya—ia memandangnya—kurus, tulang-tulangnya tampak jelas di bawah kulit yang kotor. Ia seperti melihat mayat hidup.
Tio menghela napas, mengumpulkan sisa kekuatan. Ia harus turun dari tempat ini. Harus keluar dari ceruk. Harus mencari jalan.
Perlahan, ia merangkak keluar dari celah. Tubuhnya oleng, keseimbangannya buruk karena kelaparan dan kelelahan. Tapi ia berhasil turun ke bagian ceruk yang lebih rendah, tempat api unggunnya semalam sebelum air naik.
Pemandangan di luar membuatnya berhenti sejenak.
Cerah. Pagi ini cerah. Matahari bersinar terang, menerobos celah-celah pepohonan, membuat uap air mengepul dari tanah basah. Langit biru bersih, tanpa awan. Setelah semalaman hujan badai, pagi ini seperti hadiah dari alam.
Ironis, pikirnya. Alam memberinya pemandangan indah di saat ia hampir mati.
---
Tio berdiri di mulut ceruk, memandangi tebing-tebing di sekitarnya. Air terjun masih jatuh dengan gemuruh, tapi debitnya sedikit berkurang. Kolam di bawah masih keruh, coklat karena lumpur. Tanah di sekitarnya becek, licin, penuh genangan.
Ia harus turun ke area yang lebih aman. Tapi untuk turun, ia harus melewati tepian yang licin itu.
Dengan tongkat bambu di tangan kanan, Tio mulai melangkah. Satu langkah dengan kaki kiri, tongkat menopang, kaki kanan diangkat. Satu langkah lagi. Perlahan, sentimeter demi sentimeter, ia menjauhi ceruk.
Tanah becek. Licin. Sepatu trekkingnya yang dulu kokoh, sekarang aus dan penuh lumpur. Daya cengkeramnya berkurang drastis.
Tio sadar akan bahaya ini. Ia berusaha lebih hati-hati. Memilih pijakan yang lebih kering. Menguji setiap langkah dengan tongkat.
Tapi kehati-hatian tidak cukup ketika tubuhnya sudah di ambang batas.
Di satu titik, ia harus melewati lereng kecil yang landai. Tanah di sana tampak lebih kering, tapi ternyata di bawah permukaan, tanah itu masih basah, licin seperti dilapisi sabun.
Kaki kiri Tio menginjak. Tanahnya terasa stabil. Ia memindahkan berat badan. Dan saat itulah terjadi.
Tanah di bawah kaki kirinya ambles. Bukan longsor besar, hanya sedikit meluncur. Tapi cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng ke kanan. Ia mencoba menancapkan tongkat untuk menahan. Tongkat tergelincir di permukaan licin.
Tubuhnya jatuh.
Bukan jatuh biasa. Tubuhnya tergelincir, meluncur di tanah becek, langsung menuju tepi jurang. Di bawah sana, 80 meter ke bawah, air terjun dan bebatuan tajam menunggu.
Tio berteriak. Bukan teriakan khas film horor—ini teriakan primitif, teriakan seseorang yang melihat kematian di depan mata.
Tangannya mencoba meraih apa saja. Akar, batu, tanah—apa saja. Tapi semuanya licin, basah, tidak ada yang bisa ditahan.
Lima meter dari tepi, kakinya yang cedera—kaki kanan—membentur batu kecil yang menonjol. Rasa sakit luar biasa langsung menjalar. Tapi benturan itu juga mengubah arah jatuhnya. Tubuhnya berputar, tidak lagi meluncur lurus ke jurang, tapi miring ke samping.
Tiga meter. Tangannya meraih lagi. Kali ini jari-jarinya menyentuh sesuatu—akar pohon yang menjuntai dari tebing. Ia menggenggamnya erat, sekuat tenaga.
Tubuhnya berhenti.
Tio tergantung di lereng licin, satu tangan memegang akar, tubuhnya setengah menggantung di atas jurang. Di bawah, air terjun gemuruh seolah menertawakannya.
---
Selama beberapa detik ia hanya bergelantungan di sana, tidak bisa bergerak. Napasnya memburu, jantungnya berdebar seperti mau meledak. Ia memandang ke bawah—80 meter, bebatuan tajam, air putih yang menghantam. Jika ia jatuh, tidak ada selamat. Mati seketika.
Gerak, Tio. Gerak!
Dengan sisa energi yang entah dari mana, ia mulai menarik tubuhnya. Tangan kirinya memegang akar. Tangan kanannya meraih ke atas, mencari pegangan lain. Tanah licin, tidak ada pijakan. Tapi ia menemukan tonjolan batu kecil—cukup untuk jari-jari.
Satu tarikan. Tubuhnya naik sedikit. Kaki kirinya mencoba mencari pijakan. Tidak ada. Hanya tanah licin yang terus meluncur.
Dua tarikan. Sekarang dadanya sudah mencapai tonjolan batu. Tapi tangannya mulai lemas. Otot-ototnya bergetar hebat.
Tiga tarikan. Ia hampir mencapai area yang lebih aman. Tapi tangan kanannya—yang memegang batu—terasa seperti terbakar. Luka-luka di telapak tangan terbuka kembali, darah bercampur lumpur.
Jangan lepas. Jangan lepas.
Empat tarikan. Akhirnya, dengan sentakan terakhir, Tio berhasil menarik seluruh tubuhnya ke area yang lebih datar. Ia berguling menjauhi tepi, lalu terbaring di tanah, terengah-engah, menangis.
Tangisnya pecah. Bukan tangis sedih—ini tangis lega, tangis syok, tangis kelegaan luar biasa bahwa ia masih hidup. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya berdarah. Kakinya—ia bahkan tidak berani memikirkannya.
Ia berbaring di sana cukup lama, membiarkan matahari pagi menghangatkan tubuhnya yang menggigil.
---
Setelah beberapa menit, Tio duduk perlahan. Ia memeriksa tangannya. Luka baru di telapak dan jari-jari—kulit terkoyak, darah mengering bercampur lumpur. Sakit, tapi tidak fatal. Ia membersihkannya dengan air dari botol, lalu membalutnya dengan sobekan kaos yang tersisa.
Sekarang kakinya. Ia menunduk, dan hatinya tenggelam.
Luka di pergelangan kaki kanan—yang sudah infeksi, yang sudah bernanah—kini bertambah parah. Benturan dengan batu tadi membuatnya robek lebih lebar. Darah mengalir bercampur nanah, membasahi perban lama. Tio bisa melihat jaringan di dalamnya—merah, basah, mengerikan.
Ia memandangi kakinya, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa berpikir. Pikirannya kosong. Tubuhnya sudah di ambang batas. Luka baru di tangan. Luka lama di kaki makin parah. Tidak ada makanan. Tidak ada harapan.
Aku akan mati di sini.
Pikiran itu datang begitu saja, jernih, tanpa histeria. Seperti fakta yang harus ia terima.
---
Saat ia duduk di sana, memandangi lukanya, dari sudut mata ia melihat sesuatu.
Bayangan.
Di kejauhan, di balik pepohonan di seberang sungai, sesosok bayangan hitam berdiri. Diam. Menghadap ke arahnya. Seperti biasa.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Bayangan itu tidak hanya diam. Ia seperti... menunggu. Menunggu Tio menyerah. Menunggu Tio jatuh. Menunggu Tio mati.
Dan tiba-tiba, kemarahan meledak di dalam diri Tio.
Bukan kemarahan pada bayangan itu. Tapi kemarahan pada dirinya sendiri. Pada situasi ini. Pada dunia yang membiarkannya menderita.
Tidak. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan mati di sini. Bukan hari ini. Bukan sekarang.
Dengan seluruh sisa energi yang ada, Tio bangkit. Ia memungut tongkat bambunya yang jatuh beberapa meter di atas. Lalu perlahan, dengan langkah hati-hati, ia menjauhi tepi jurang. Menjauhi air terjun. Menjauhi bayangan itu.
Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi. Tapi ia tahu ia harus pergi dari sini. Jauh dari tepi yang nyaris membunuhnya.
---
Tio berjalan menjauhi air terjun, menyusuri lereng yang lebih landai. Ia memilih jalur yang memutar, menghindari area licin di dekat tebing. Lambat, sangat lambat, tapi setidaknya ia menjauh.
Sesekali ia menoleh ke belakang. Bayangan itu masih di sana, masih menonton. Tapi jaraknya semakin jauh. Dan semakin jauh, semakin kecil, hingga akhirnya menghilang di antara pepohonan.
Tio terus berjalan. Tubuhnya menjerit minta berhenti, tapi ia memaksa terus. Sampai akhirnya, setelah setengah jam, ia menemukan tempat yang cukup aman—sebuah pangkal pohon besar di lereng yang relatif datar. Ia duduk di sana, bersandar di batang pohon, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia membiarkan dirinya menangis lagi.
Bukan tangis histeris. Tangis hening. Air mata mengalir di pipinya yang kotor, meninggalkan jejak bersih di kulit yang tertutup debu dan lumpur. Ia menangis untuk semua yang telah ia alami. Untuk rasa sakit yang tak kunjung reda. Untuk harapan yang terus memudar. Untuk ibunya, yang mungkin tidak akan pernah tahu di mana anaknya berakhir.
Di tangannya, jurnal kecil. Dengan pensil patah, ia menulis:
"Hari ke... aku tak tahu lagi. Mungkin 9, mungkin 10. Aku hampir mati tadi pagi. Jatuh ke jurang 80 meter. Tapi akar pohon menyelamatkanku. Atau mungkin Tuhan masih memberiku kesempatan. Tapi untuk apa? Lukaku semakin parah. Tidak ada makanan. Tidak ada jalan keluar. Bayangan itu masih mengikutiku. Aku lelah. Sangat lelah. Tapi aku masih di sini. Masih hidup. Masih berusaha. Ibu... kalau aku tidak pulang, tolong ingat bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu."
Ia menutup jurnal, menyimpannya. Lalu memandang langit yang cerah, burung-burung yang beterbangan, alam yang indah di sekitarnya.
Ironis. Alam begitu indah, tapi begitu kejam.
Tio menarik napas panjang, lalu berdiri. Tubuhnya sakit semua, tapi ia harus terus bergerak. Mencari jalan keluar. Mencari makanan. Mencari harapan.
Perlahan, ia melanjutkan perjalanan. Meninggalkan air terjun di belakang, meninggalkan bayangan-bayangan itu—setidaknya untuk sementara.
Di depan, hutan masih terbentang luas. Entah apa yang menantinya.
Tapi selama masih bisa berjalan, ia akan terus berjalan.
Sampai mati. Atau sampai pulang.