Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Arogansi Benua Tengah
Daun-daun keemasan bergemerisik pelan saat Li Jian menarik auranya sepenuhnya. Ia membaringkan Xiao Ling yang masih tidak sadarkan diri di balik akar raksasa pohon purba tersebut. Dengan satu jentikan jari, ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selapis tipis Qi Yin murni, tidak hanya untuk melindunginya dari himpitan energi spiritual Benua Tengah yang terlalu padat, tapi juga untuk menyembunyikan hawa kehidupannya dari deteksi musuh.
Li Jian berdiri menyandar pada batang pohon, menepuk sisa debu spasial dari jubahnya, dan menunggu.
Dari balik semak belukar yang bercahaya, muncullah lima sosok manusia. Tiga di antaranya memancarkan aura Puncak Kondensasi Qi (Tingkat Sembilan), dan dua pria paruh baya di sisi kiri-kanan memancarkan fluktuasi Bina Pondasi tahap awal.
Di tengah formasi pelindung itu, berdirilah seorang pemuda berusia awal dua puluhan, mengenakan jubah sutra hijau zamrud yang disulam dengan benang emas. Di tangannya terdapat sebuah kipas lipat dari bulu burung iblis. Kulitnya putih bersih, khas seseorang yang dibesarkan dengan pil dan eliksir terbaik tanpa pernah merasakan kerasnya dunia luar.
Pemuda itu mengibaskan kipasnya di depan hidung, menatap kawah berasap tempat Li Jian mendarat dengan raut wajah kecewa.
"Cih. Fluktuasi spasial yang begitu kuat, kupikir ada artefak kuno atau meteorit pusaka yang jatuh," gerutu pemuda itu, Tuan Muda dari Klan Lu. Matanya kemudian tertuju pada Li Jian yang berdiri santai di dekat pohon, mengenakan pakaian compang-camping bersimbah darah kering.
Tatapannya beralih ke Gerhana yang bertengger di punggung Li Jian, lalu ke cincin penyimpanan di jari pemuda tersebut. Senyum arogan perlahan terbentuk di bibirnya.
"Ternyata hanya sampah dari wilayah luar yang tersedot badai dimensi," ejek Tuan Muda Lu. Ia menoleh ke salah satu pengawalnya yang berada di ranah Kondensasi Qi. "Bunuh pengemis itu. Ambil pedang hitam dan cincinnya. Jika di dalamnya tidak ada batu spiritual tingkat menengah yang cukup untuk mengganti waktu berhargaku, potong lidahnya dan berikan pada anjing pelacak kita."
"Baik, Tuan Muda!"
Pengawal itu mencabut goloknya dan melesat ke arah Li Jian dengan kecepatan yang cukup mengesankan. Di wilayah asal Li Jian, kultivator Puncak Kondensasi Qi adalah tetua elit sekte. Di sini, mereka hanyalah anjing pesuruh.
Li Jian bahkan tidak mengubah posisinya yang bersandar. Matanya yang sedingin es abadi hanya menatap pengawal yang menerjang itu seperti menatap daun kering yang gugur.
Di dalam kepalanya, tawa Yueyin mengalun. "Udara di sini seratus kali lebih murni, tapi sampah tetaplah sampah. Fondasi mereka keropos karena terlalu banyak menelan pil murahan."
Tepat saat golok pengawal itu berjarak satu jengkal dari lehernya, Li Jian mengangkat tangan kanannya dengan santai dan menjentikkan jarinya ke udara.
TAK!
Setetes cairan Qi perak melesat dari ujung jarinya menembus udara. Itu bukan sihir yang rumit, melainkan murni kompresi mematikan dari Fondasi Teratai Bintang Es.
Tetesan perak itu menghantam dada sang pengawal. Tidak ada ledakan besar. Hanya suara krak yang sangat halus.
Langkah pengawal itu terhenti secara paksa. Ia menunduk menatap dadanya yang tiba-tiba berlubang. Sesaat kemudian, hawa Yin absolut merambat dari lubang tersebut, membekukan seluruh tubuhnya menjadi bongkahan es biru dalam satu tarikan napas.
Angin berhembus, dan patung es itu hancur berkeping-keping menjadi debu kristal merah yang berhamburan di atas tanah emas.
Keempat orang yang tersisa terbelalak. Tuan Muda Lu menghentikan kibasan kipasnya, wajahnya memucat. Membunuh ahli Puncak Kondensasi Qi hanya dengan satu jentikan jari tanpa fluktuasi teknik bela diri?
"Dia menyembunyikan kultivasinya!" teriak Tuan Muda Lu, mundur berlindung di balik dua pengawal Bina Pondasi-nya. "Paman Wu! Paman Zheng! Habisi dia! Jangan beri dia kesempatan!"
Kedua pengawal paruh baya itu mencabut senjata mereka—sepasang pedang kembar dan sebuah tombak perak. Aura Bina Pondasi awal meledak dari tubuh mereka, menekan dedaunan di sekitar kawah hingga rata dengan tanah.
"Bocah kurang ajar, kau berani membunuh anggota Klan Lu Kota Angin Jatuh?!" bentak Paman Wu, sang pemegang pedang kembar.
Li Jian perlahan mendorong tubuhnya menjauh dari pohon. Ia melonggarkan otot lehernya hingga berbunyi gemeretak ringan.
"Benua Tengah rupanya tidak seseram yang kubayangkan," gumam Li Jian. Ia perlahan mengulurkan tangannya ke balik punggung, menggenggam gagang Gerhana.
Sring!
Saat pedang tumpul itu ditarik, udara di hutan purba itu mendadak anjlok puluhan derajat. Niat Pedang yang berumur ribuan tahun memancar dari bilahnya, bercampur dengan aura Bina Pondasi awal milik Li Jian yang murni dan menekan bagai lautan raksa.
Merasakan aura yang luar biasa padat itu, Paman Wu dan Paman Zheng bertukar pandang penuh kengerian. Aura pemuda di depan mereka berada di tahap yang sama dengan mereka, tapi mengapa tekanannya terasa seperti berhadapan dengan monster Inti Emas?!
"Serang bersamaan! Teknik Badai Pemotong Tulang!" teriak Paman Zheng.
Keduanya melesat maju. Angin puyuh raksasa yang terbuat dari ribuan bilah angin setajam silet tercipta dari kombinasi pedang dan tombak mereka, menyapu lurus untuk mencabik-cabik Li Jian menjadi serpihan daging. Ini adalah teknik tingkat menengah murni dari Benua Tengah.
Namun, Li Jian hanya mencibir. Ia tidak menghindar. Ia mengangkat Gerhana tinggi-tinggi dengan satu tangan.
"Hanya angin sepoi-sepoi," ucap Li Jian dingin.
Ia mengayunkan pedang berat itu secara horizontal, tidak menggunakan teknik apa pun selain murni tenaga fisik dan hantaman Niat Pedang.
BLAAAAAAR!
Benturan itu menciptakan ledakan kejut yang membelah tanah. Badai Pemotong Tulang kebanggaan kedua pengawal itu terbelah dua dan langsung membeku di udara, hancur menjadi serpihan es kosong.
Momentum ayunan Gerhana sama sekali tidak melambat. Bilah tumpulnya menghantam pedang kembar dan tombak perak milik kedua pengawal tersebut.
PRANG! KRAK!
Senjata spiritual tingkat menengah mereka patah seperti ranting kayu kering. Kekuatan setara gunung dari Gerhana menghantam dada Paman Wu dan Paman Zheng secara bersamaan. Keduanya memuntahkan pilar darah, tulang rusuk mereka remuk redam, dan tubuh mereka terlempar ke udara sebelum menghantam dua pohon emas raksasa hingga pohon tersebut tumbang.
Keduanya tewas seketika dengan organ dalam yang membeku total.
Keheningan yang mencekam turun ke atas hutan tersebut. Dua pengawal tingkat Bina Pondasi awal mati hanya dalam satu ayunan pedang tumpul.
Kipas bulu di tangan Tuan Muda Lu jatuh ke tanah. Kakinya kehilangan tenaga, membuatnya jatuh berlutut di atas tumpukan daun emas yang kini ternoda darah para pelayannya. Pemuda arogan itu gemetar hebat, air mata dan ingus mengalir di wajahnya yang ketakutan.
Li Jian berjalan pelan menghampirinya. Sepatu botnya menginjak daun-daun emas dengan suara kres, kres yang berirama layaknya detak jam kematian.
Ia berhenti tepat di hadapan Tuan Muda Lu, membiarkan ujung Gerhana yang dingin dan berdarah menyentuh pelan rahang pemuda itu, memaksanya mendongak.
"Aku orang baru di wilayah ini," bisik Li Jian, mata peraknya menatap menembus kedalaman jiwa sang Tuan Muda. "Satu pertanyaan untuk satu tarikan napas. Jika kau berbohong, aku akan membekukan darahmu dari dalam selama tiga hari sebelum membiarkanmu mati."
Tuan Muda Lu mengangguk panik, suaranya tercekat di tenggorokan. "T-Tanya... tanyakan apa saja, Tuanku! Ampuni nyawaku!"
Li Jian menyeringai. "Pertama, di mana Kota Angin Jatuh itu berada?"
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏