NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pagi di desa itu terasa terlalu cepat datang.

Langit masih pucat ketika Nick sudah berdiri di luar rumah singgah tempat ia menginap. Mobil hitamnya terparkir rapi, mengilap di bawah sisa embun.

Semalam seharusnya menjadi malam terakhirnya di desa itu. Ia seharusnya sudah berada di kota pagi ini dan kembali ke ritme hidupnya yang teratur.

Bukan berdiri dengan status baru yang bahkan belum sempat ia cerna.

Di dalam rumah sederhana itu, Tessa duduk di tepi ranjang kayu. Gaun compang-campingnya sudah diganti dengan pakaian pinjaman dari salah satu warga desa. Rambutnya masih kusut, wajahnya pucat.

Suara ketukan terdengar.

“Berangkat sekarang,” suara pria itu datar dari luar pintu.

Tessa berdiri pelan dan membuka pintu.

Mata mereka bertemu sesaat. Pagi membuat wajah pria itu terlihat lebih jelas dibanding semalam. Garis rahangnya tegas. Tatapannya dingin, tapi tidak liar.

Beberapa detik mereka hanya saling memandang.

“Kita akan menikah,” ucap pria itu akhirnya, seolah sedang mengingatkan fakta. “Dan kita bahkan belum saling kenal.”

Tessa terdiam.

Ia hampir lupa bahwa orang di depannya bukan sekadar seseorang yang berhenti di jalan semalam.

Setelah hari ini, secara hukum, ia akan menjadi suaminya.

“Namamu?” tanyanya singkat.

Pertanyaan itu terdengar aneh, diucapkan menjelang pernikahan.

“Tessa,” jawabnya pelan.

Pria itu mengangguk kecil. Mengulangnya seolah memastikan.

“Tessa.”

Ada jeda sebentar,

“Nickolas Fernandez.”

Tessa sedikit mengangkat wajahnya. Nama itu terdengar mahal. Terlalu jauh dari dunia hutan dan desa kecil ini.

“Panggil saja nick,” lanjutnya. “Kamu tidak perlu memanggil saya ‘Pak’ atau apa pun. Kita… sudah cukup dipaksa oleh keadaan.”

Tessa menatapnya beberapa detik.

“Baik, Nick.”

Nama itu terasa asing di lidahnya.

Nick memperhatikan cara ia mengucapkannya, lalu berkata datar, “Untuk sementara, di depan warga, kita tidak perlu terlihat seperti musuh.”

Tessa mengangguk pelan. “Saya tidak berniat membuat masalah.”

“Bagus.”

Hening kembali turun.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak semalam, Nick bertanya sesuatu yang tidak berkaitan dengan prosedur.

“Kamu yakin?”

Pertanyaan itu bukan tentang pernikahan. Tapi tentang kesediaan menghadapi konsekuensinya.

Tessa menatap lurus ke depan.

“Saya tidak punya pilihan.”

Jawaban itu membuat rahang Nick mengeras sedikit.

“Baik,” katanya singkat.

Dari luar terdengar suara warga memanggil.

Nick mundur satu langkah, memberi ruang.

“Setelah ini, apa pun yang terjadi, kita selesaikan cepat.”

Tessa menarik napas dalam.

“Cepat atau lambat, tetap saja terjadi.”

Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang berubah di tatapan Nick. Bukan simpati. Bukan juga kekesalan.

Hanya kesadaran bahwa perempuan ini tidak selemah yang terlihat.

“Berangkat,” katanya akhirnya.

Dan untuk pertama kalinya, mereka berjalan berdampingan, bukan sebagai penyelamat dan korban, bukan sebagai terdakwa dan saksi.

Tapi sebagai dua orang asing yang akan diikat oleh satu kalimat.

Warga desa sudah berkumpul di luar. Bukan untuk mengantar dengan hangat, tapi memastikan semuanya berjalan “sesuai aturan”.

Akad dilakukan singkat di rumah kepala desa.

Tanpa hiasan. Tanpa senyum. Tanpa keluarga.

Hanya saksi, tanda tangan, dan satu kalimat yang mengikat dua orang asing.

Selesai.

Nick menerima buku nikah itu tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak melihat isinya lama-lama sebelum memasukkannya ke dalam map hitam bersama dokumen proyeknya.

Baginya, itu hanya tambahan administrasi yang harus diselesaikan nanti.

Mobil melaju meninggalkan desa.

Tessa duduk di kursi penumpang, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia belum pernah duduk di mobil semewah ini sebelumnya. Bau kulit dan pendingin ruangan terasa asing.

Nick menyetir tanpa melihatnya.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi.

“Setelah sampai kota, saya akan mengantar kamu ke tempat tinggalmu,” ucapnya akhirnya. Suaranya tenang, seperti sedang membahas jadwal rapat.

Tessa menoleh sedikit. “Lalu?”

“Saya akan mengurus perceraian.”

Kalimat itu keluar tanpa beban.

Tessa menunduk lagi. Tidak terkejut. Tidak kecewa.

Sejak awal ia memang tahu ini bukan pernikahan yang diinginkan siapa pun.

“Baik,” jawabnya pelan.

Jawaban itu membuat Nick melirik sekilas. Tidak ada drama. Tidak ada tangisan. Hanya penerimaan.

Aneh.

Perjalanan hampir empat jam terasa panjang.

Beberapa kali Tessa terdiam terlalu lama, pandangannya kosong ke luar jendela. Hutan berganti sawah. Sawah berganti jalan tol. Desa berubah menjadi kota.

Saat mobil berhenti di lampu merah, suara klakson keras dari belakang membuat Tessa refleks menutup telinga dan menunduk tiba-tiba.

Napasnya memburu.

Nick menoleh cepat.

“Tenang,” katanya singkat.

Tessa langsung menarik diri, menyadari reaksinya berlebihan. “Maaf.”

Nick tidak bertanya. Tapi ia melihat sesuatu di wajah gadis itu, ketakutan yang bukan karena suara klakson.

Ia kembali fokus ke jalan.

Namun untuk pertama kalinya sejak semalam, pikirannya tidak sepenuhnya tentang jadwal rapat di kantor pusat.

Kota akhirnya menyambut mereka dengan gedung-gedung tinggi dan lalu lintas padat.

“Alamatmu,” ucap Nick.

Tessa menyebutkan alamat kosnya pelan.

Mobil memasuki gang sempit yang kontras dengan bodi kendaraan mahal itu. Beberapa penghuni kos melirik heran dari teras.

Nick mematikan mesin dan turun lebih dulu,

Ia menatap bangunan tiga lantai bercat pudar itu.

“Ini tempat tinggalmu?”

“Iya.”

Tidak ada rasa meremehkan di wajahnya. Hanya pengamatan singkat.

Nick mengeluarkan dompetnya, lalu berhenti. Ia menatap Tessa.

“Apakah kamu aman di sini?”

Pertanyaan itu terdengar praktis, bukan peduli.

Tessa mengangguk. “Saya sudah tinggal di sini dua tahun.”

Nick mengeluarkan kartu nama hitam dengan emboss perak dan menyerahkannya.

“Pengacaraku akan menghubungimu dalam beberapa hari. Jangan khawatir. Semua biaya akan saya tanggung.”

Tessa menerima kartu itu tanpa melihat detailnya.

Hening sejenak.

“Terima kasih… sudah menolong saya,” ucap Tessa pelan.

Nick terdiam beberapa detik.

“Itu keputusan rasional,” jawabnya akhirnya.

“Bukan kebaikan.”

Kalimat itu dingin. Tapi jujur.

Ia membuka pintu mobilnya, lalu kembali menghadap gadis dibelakangnya,

“Tessa.”

Gadis itu mendongak.

“Kita tidak perlu menghubungi satu sama lain kecuali soal administrasi.”

Sebuah batas ditarik jelas.

Tessa mengangguk lagi.

Nick masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan pergi tanpa menoleh.

Tessa berdiri di depan kosnya sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangan.

Baru setelah suara mesin menghilang, ia menyadari satu hal,

Dalam dua puluh empat jam terakhir, ia dikejar, hampir direnggut kehormatannya, dinikahkan, dan ditinggalkan.

Ia menggenggam kartu nama di tangannya.

Nickolas Fernandez Adhitama.

CEO Adhitama Group.

Nama yang terasa sangat jauh dari dunianya.

Tessa menarik napas panjang dan melangkah masuk ke kos.

Ia tidak tahu bahwa kebohongan kecil yang akan diucapkan Nick beberapa hari lagi… akan kembali menyeret mereka ke dalam ikatan yang belum benar-benar selesai.

1
Nur Halida
cieeee nick mulai romantis2an🤭🤭
itsmecancer: hihii... baru permulaan nihh, hati hati looh... nanti nick makin bikin hati meleleh 🤭❤️
total 1 replies
Nur Halida
ada ya anak dan ayah kek gitu kalo ketemu yg di bicaraka saham proyek bisnis dan persaingan .. ngeri2 sedap😁😁
Nur Halida
hufffttt😮‍💨
capek banget keknya jadi tessa
Nur Halida
repot banhet ya jadi horang kaya🤭🤭🤭
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
Nur Halida
semangat tessa😍😍😍
itsmecancer: makasih sudah semangatin tessa 💪❤️
total 1 replies
Nur Halida
tessa kamu harus belajar dan percaya diri berada sejajar dg nick. .dan kamu pasti bisa
Nur Halida
ternyata nick berwatak keras tapi aku suka😁
Nur Halida: pasti entar nick jadi bucin ke tessa dan aku gak sabar nunggu nick yg bucin .. pasti lucu🤭
total 2 replies
Nur Halida
nick baik banget sihh😍😍😍
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna
itsmecancer: wahh ... nick tuh emang pinter bikin baper pembaca 🤭, ditunggu kelanjutannya ya 👌🏻
total 1 replies
Bunga
tegang
Bunga
rasanya dikit banget thor
Bunga
suka
itsmecancer: wah makasih kak, dukunganmu berharga buat author ☺️
total 1 replies
Bunga
lanjut thor😍
itsmecancer: ditunggu ya ☺️👌🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!