NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Jempol yang Gemetar

## Bab 6: Jempol yang Gemetar

Malam di Tanjungbalai selalu terasa lebih lembap, terutama jika kau tinggal di rumah yang jaraknya hanya beberapa lemparan batu dari aliran Sungai Asahan. Aroma air payau dan sisa-sisa bau ikan dari gudang-gudang di pinggir dermaga terbawa angin, menyelinap masuk melalui celah ventilasi kamar Rafi. Namun, bukan aroma itu yang membuat napas Rafi terasa sesak malam ini.

Ia berbaring telentang di atas kasur tipisnya, namun matanya terpaku pada layar ponsel Android yang retak di sudutnya. Layar itu menyala terang di tengah kegelapan kamar, menampilkan antarmuka aplikasi WhatsApp. Di sana, di barisan paling atas hasil pencarian, tertera satu nama yang sanggup membuat kerja jantungnya lebih berat daripada saat ia harus lari keliling lapangan bola sekolah.

**Nisa SMK**

Rafi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah garam dari bekal nasi siangnya tadi masih menempel di sana. Tangannya yang memegang ponsel terasa dingin. Ia tahu, secara logis, ia sudah memiliki segalanya untuk memulai. Uang 315 ribu sudah aman di bawah selotip hitam celengan ayamnya. Sepatu ketsnya sudah tidak lagi berbunyi *klepak-klepak* berkat lem sepuluh ribu. Rencana biaya sudah disusun sampai ke angka rupiah terkecil.

Semua sistem sudah *ready*. Namun, ada satu kendala teknis yang tidak bisa diselesaikan dengan uang atau logika: nyali.

Ia menyentuh foto profil Nisa. Lingkaran kecil itu membesar, menampilkan sosok gadis dengan kerudung putih dan seragam SMK Bisnis yang sedang tersenyum tipis ke arah kamera. Latar belakang fotonya hanya dinding sekolah yang biasa, tapi bagi Rafi, foto itu memiliki resolusi kebahagiaan yang tak terhingga.

Rafi memperhatikan setiap detail dalam foto itu. Ia melihat pantulan cahaya di mata Nisa, lalu beralih menatap pantulan dirinya sendiri pada bagian layar ponsel yang gelap. Kontras itu menghantamnya secara skeptis.

*Apa yang sedang kulakukan?* pikirnya. *Aku hanyalah anak SMA 3 yang menghabiskan sebulan hanya untuk bisa makan di food court Irian. Apakah cowok seperti aku pantas masuk ke dalam radar gadis sepertinya?*

Rafi mematikan layar ponselnya. Kegelapan menyergap. Ia meletakkan ponsel itu di dadanya, merasakan getaran jantungnya sendiri yang berpacu. Di luar, suara motor dengan knalpot brong melintas, meraung-raung di jalanan Tanjungbalai yang sunyi, seolah mengejek keraguannya.

"Cuma chat, Rafi. Cuma ketik 'Halo'," bisiknya pada langit-langit kamar yang kusam.

Lima menit berlalu. Ia menyalakan ponselnya lagi.

Ia kembali membuka profil Nisa. Kali ini ia memeriksa status "Last Seen" atau *Terakhir Dilihat*.

*Terakhir dilihat hari ini pukul 19.45.*

Sekarang pukul 20.15. Artinya, Nisa baru saja meletakkan ponselnya, atau mungkin sedang melakukan hal lain. Secara analitis, ini adalah waktu yang tepat. Biasanya, remaja di Tanjungbalai jam segini sedang bersantai setelah makan malam, mungkin sambil menonton televisi atau sekadar *scrolling* TikTok.

Rafi menyentuh kolom pesan. Papan ketik muncul, menutupi separuh foto Nisa. Jempol kanannya menggantung di atas huruf 'P'.

Di lingkungan sekolahnya, mengirim "P" adalah hal biasa. Tapi bagi Rafi, itu terasa sangat kasar. Nisa bukan Dika yang bisa ia sapa dengan sembarangan. Tapi jika ia mengetik "Assalamualaikum", apakah itu tidak terdengar terlalu formal atau kaku? Bagaimana jika Nisa menganggapnya sebagai orang yang ingin meminjam uang atau menanyakan tugas yang sudah basi?

Jempolnya gemetar. Ia bisa melihat getaran halus itu pada bayangan jempolnya di layar. Ini bukan sekadar mengetik pesan; ini adalah transmisi harga diri. Jika pesan ini dikirim dan diabaikan, maka semua investasi nasi garamnya selama sebulan akan terasa sia-sia. Secara ekonomi, ia tidak rugi apa-apa jika ditolak sekarang, tapi secara mental, itu adalah kebangkrutan total.

Ia mencoba mengetik: *Hai Nis, lagi apa?*

Lalu ia menghapusnya. *Terlalu sok akrab,* pikirnya.

Ia mencoba lagi: *Nis, sibuk nggak?*

Hapus lagi. *Kalau dia bilang sibuk, aku harus balas apa? Mati kutu.*

Rafi mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada dinding. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya meski kipas angin kecil sedang menyala. Ia mulai melakukan observasi lingkungan digital. Ia melihat status WhatsApp Nisa yang baru saja diunggah sepuluh menit lalu. Sebuah foto piring berisi martabak telur dengan *caption*: "Laper malam-malam."

"Martabak telur," gumam Rafi.

Otaknya yang terbiasa menghitung biaya langsung bekerja. Martabak telur di simpang jalan biasanya harganya 15 ribu atau 20 ribu. Nisa bisa membelinya dengan mudah. Sementara ia? Ia bahkan harus berpikir dua kali hanya untuk membeli es lilin di depan sekolah. Rasa mindernya kembali merayap, mencoba melumpuhkan jempolnya.

Tiba-tiba, jantung Rafi seolah berhenti berdetak. Di bagian atas layar, di bawah nama Nisa, muncul tulisan hijau: **Online**.

Rafi panik. Ia hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia merasa seolah Nisa bisa melihatnya melalui kamera depan, seolah Nisa tahu ada seorang cowok yang sedang menatap profilnya selama 30 menit tanpa berani menyapa. Secara impulsif, Rafi menutup aplikasi WhatsApp dan melempar ponselnya ke ujung kasur.

Ia bangkit dan berjalan menuju jendela kamar yang tertutup jeruji besi. Di luar, lampu jalan yang remang-remang menerangi genangan air sisa hujan sore tadi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memasukkan udara Tanjungbalai yang berat ke paru-parunya.

"Kau bukan pengecut, Rafi. Kau punya 315 ribu. Kau punya rencana," ia mencoba membangun rigoritas mentalnya kembali.

Dunia luar tidak peduli pada ketakutannya. Masyarakat Tanjungbalai akan tetap bergerak besok pagi; nelayan akan tetap melaut, pedagang di Pajak akan tetap berteriak, dan Nisa akan tetap cantik. Satu-satunya variabel yang bisa diubah adalah tindakannya malam ini.

Ia kembali ke kasur. Ponselnya masih di sana, diam, namun memancarkan daya tarik yang mematikan. Ia mengambilnya dengan gerakan yang lebih mantap, meski hatinya masih berdesir.

Ia membuka kembali *chat* Nisa. Tulisan **Online** itu sudah hilang, berganti dengan jam terakhir dilihat. Ada rasa lega sekaligus kecewa yang aneh.

Rafi menatap layar itu lagi. Tiga puluh menit telah terbuang hanya untuk menatap sebuah foto. Secara efisiensi waktu, ini adalah bencana. Secara emosional, ini adalah penyiksaan. Namun bagi Rafi, tiga puluh menit ini adalah ritual pembersihan diri dari rasa takut.

Ia memosisikan jempolnya kembali. Kali ini, ia tidak akan menghapus apa yang ia ketik. Ia akan menggunakan pendekatan paling standar namun aman. Pendekatan yang secara logis memberikan ruang bagi Nisa untuk membalas tanpa merasa tertekan.

Ia mulai mengetik huruf demi huruf.

*N... i... s...*

Jempolnya berhenti lagi. Ia melihat retakan di layar ponselnya tepat membelah huruf 'S'. Ia teringat bagaimana ia mendapatkan retakan itu; saat ia terjatuh karena mengejar angkot demi menghemat uang lima ribu rupiah. Retakan itu adalah saksi perjuangannya.

"Demi Kisaran," bisik Rafi.

Ia melanjutkan ketikannya. Sebuah kalimat pendek. Sederhana. Tanpa hiasan. Sebuah kalimat yang telah ia godok di kepalanya selama berjam-jam, melewati sensor logika dan ketakutan sosialnya.

Layar ponsel itu masih memancarkan cahaya biru yang kini terasa lebih dingin. Di sudut kanan bawah, ikon pesawat kertas hijau seolah menantangnya untuk ditekan. Rafi memejamkan mata sejenak, membayangkan rute bus menuju Kisaran, membayangkan eskalator di Irian, dan membayangkan dirinya berdiri tegak dengan sepatu yang sudah dilem kuat.

Ia membuka mata. Dengan satu sentuhan cepat, hampir seperti gerakan refleks yang tak sadar, jempolnya yang gemetar itu akhirnya mendarat di ikon kirim.

*Ting.*

Bunyi notifikasi terkirim itu terdengar seperti ledakan granat di telinga Rafi. Ia segera membalikkan ponselnya di atas kasur, seolah-olah benda itu baru saja mengeluarkan radiasi berbahaya.

Babak persiapan ekonomi sudah berakhir. Sekarang, ia baru saja memasuki labirin ketidakpastian digital. Pesan itu sudah meluncur melalui sinyal yang tidak stabil di langit Tanjungbalai, menuju server di belahan dunia lain, dan akan mendarat di genggaman Nisa.

Rafi meringkuk di bawah selimut tipisnya, membiarkan kegelapan men pikirannya tetap terang benderang, terjaga oleh satu pertanyaan yang akan menghantuinya sepanjang malam: *Apakah dia akan membalas?*

Jam dinding berdetak. *Tik. Tok. Tik. Tok.* Setiap detikan terasa seperti satu langkah mundur dalam waktu yang melambat secara menyiksa.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!