Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TENANG TAPI MURKA
Keesokan harinya, sudah jam 3 sore, Maya dan Juan sedang menunggu kedatangan Riko.
"Kamu yakin dia akan datang, sayang?" tanya Juan.
"Hmmm semoga saja dia datang" jawab Maya dengan gelisah.
"Melihat kegelisahan mu, sepertinya dia tidak datang" tebak Juan.
Maya memilih diam. Sudah jam 3 lebih 5 menit, Riko tidak kunjung datang.
"Aku tidak akan menunggu terlalu lama. Ayo kita pergi saja sebelum hujan" ajak Juan sambil berdiri.
Maya hanya menunjukkan wajah sendunya.
Baru saja beberapa langkah melangkah, ada suara keras yang terdengar.
"AKU TIDAK AKAN MEMINTA MAAF PADA ANAK REKTOR!!" teriak seseorang yang tidak lain adalah Riko.
Juan dan Maya pun menoleh kebelakang.
"Sudah kuduga dia akan seperti ini" ujar Juan.
Riko berlari dan berdiri dihadapan keduanya.
"Sorry, aku tidak akan meminta maaf untuk memperjuangkan cintaku" ucapnya lagi.
"Hahahahaa yasudah, aku juga tidak peduli jika pria miskin seperti mu mencintai tunanganku karena Maya tidak peduli dengan cinta orang miskin seperti ini. Lihatlah status kalian sangat berbeda" ujar Juan.
"Didunia ini kaya dan miskin sudah biasa, kawan. Keadilan tidak memandang kesenjangan itu. Seharusnya, cinta pun sama. Aku mencintai Maya bukan karena dia anak orang kaya tapi aku pria miskin yang rela mempertaruhkan hidupku demi cinta" sahut Riko.
"Hahahahahahha, astagaaa!!! Sudah miskin, gak tau malu. Sudahlah, aku lelah berhadapan denganmu. Nikmati saja waktu sebelum menjadi sarjana, karena kehidupan diluar sana lebih kejam bagi orang miskin sepertimu" ucap Juan lalu sambil menggandeng Maya pergi menjauh dari Riko.
"MAYAA!!! SAMPAI AKU MATI PUN, CINTAKU AKAN TETAP DI KAMU!!! INGAT ITUUU!!! HANYA AKU YANG BISA MENCINTAIMU SEPERTI INI!!" teriak Riko.
Juan tidak peduli dengan teriakan pria itu yang dianggap angin lalu tapi entah kenapa bagi Maya, Riko benar benar serius dengan ucapannya.
"Aku harap kamu tidak melakukan hal bodoh lainnya, Riko" batin Maya.
Riko memandang punggung Maya menjauh darinya bersama pria lain.
Puk!
Pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Sudahlah bro. Kamu itu kayak bumi dan langit sama Maya. Hidupmu harus diperjuangkan olehmu sendiri. Jangan memperjuangkan hidup orang kaya yang jelas jelas sudah tertata. Ingat bro keluargamu di desa memerlukan kesuksesan mu bukan cintamu" ucap Tito.
"Betul kata Tito. Sekarang kamu fokus buat cari kerja dan mendapatkan pengalaman. Buktikan bahwa kamu bisa sukses" sahut Iyan.
"Aku setuju dengan kedua teman kita bro. Kurang 2 minggu lagi yudisium dan kamu bisa langsung kerja di firma yang udah direkomendasikan oleh Pak Hermawan" ujar Leon.
Riko menghela nafas panjang.
"Tapi aku rasa cintaku ini benar benar dalam pada Maya. Entah kalian sebut obsesi atau apalah, aku sudah cinta mati" sahutnya.
"Yaelah, udah cinta mati susah dikasih tau. Mending kita ngopi aja keburu hujan" ajar Tito.
Mereka berempat pun pergi dari taman kampus.
.
2 minggu kemudian, acara yudisium fakultas hukum. Dari keempat sahabat, Tito, Iyan, Leon, dan Riko, hanya Riko yang bisa yudisium periode ini. Yang lain lanjut 1 semester.
Riko dan Maya yudisium bersama. Selama 2 minggu ini mereka tidak bertemu dan baru hari ini kembali bertemu. Keduanya menjadi mahasiswa beprestasi.
"Apa kabar?" tanya Riko.
"Baik" jawab singkat Maya.
"Wah makin cuek aja. Tapi aku tetap cinta" goda Riko karena mereka duduk bersebelahan sebelum dipanggil naik podium.
Maya diam saja.
"Kenapa sejak kedatangan pria yang jadi tunanganmu itu kamu terlihat berubah? Padahal satu tahun kita bisa dekat dan suka mengobrol" tanya Riko.
"Karena obsesimu menakutiku, Ko. Bayangkan saja, kamu membuat tunanganku babak belur di hadapanku" jawab Maya.
Riko tersenyum smirk dan melipat kedua tangannya di atas perut.
"Seharusnya aku bilang kalau sudah bertunangan, biar kamu bisa jaga jarak denganku" ujar Maya.
"Meskipun aku lebih awal tau kamu sudah bertunangan, aku tetap memperjuangkan cintamu Maya, aku tau kamu juga memiliki rasa kepadaku" sahut Riko.
"Dalam mimpi" balas Maya sengit.
Riko tertawa kecil.
"Ya dalam mimpiku yang indah lalu menjadi kenyataan" ucapnya.
Lalu nama keduanya dipanggil. Mereka dinyatakan lulus sebagai perwakilan satu angkatan jurusan Hukum untuk yudisium periode ini.
Setelah keluar dari aula Yudisium, Riko disambut heboh oleh teman temannya. Banyak yang menyukai Riko. Ya karena dia terkenal di kampus sebagai mahasiswa aktif orasi dan pintar.
Sedangkan Maya disambut dengan elegan dan romantis oleh Juan dengan dibawakan boquet bunga super besar. Teman temannya pun juga merayakan dengan mewah memberikan hadiah branded.
Maya dan Riko saling pandang dari kejauhan. Riko dengan senyum bangga sedangkan Maya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Maya tidak nyaman dengan obsesi cinta dari Riko. Semakin lama, perasaan pria itu semakin menganggu hatinya.
Juan mengajak teman teman Maya untuk makan di restauran mewah, merayakan bersama kelulusan.
Sedangkan Riko masih merasakan euforia bersama teman temannya dengan sederhana yaitu warkop andalan sebelah kampus.
Jam 4 sore hujan deras, guntur dan petir saling bersautan. Acara perayaan kelulusan sudah selesai. Riko harus segera ke cafe untuk bekerja.
Namun saat melalui jalan lumayan sepi dimana memang biasanya dia lewati untuk bekerja. Tiba tiba, ada beberapa orang turun dari motor dengan topeng diwajahnya.
Ada yang membawa tongkat.
Kira kira ada 4 motor yang menghalang jalan Riko. 8 orang yang menyergapnya.
Tanpa ada suara, Riko langsung diserbu tanpa ampun.
Bugh! Bugh! Bugh!
Meskipun dia bisa bela diri tapi kalau 1 lawan 8 gimana bisa menang.
Hujan deras membuat darah Riko mengalir bersamaan dengan air sungai yang mulai meluap.
Tubuhnya penuh luka dan mengalami pendarahan hebat. Mungkin ada bagian tubuhnya yang patah juga karena dia tidak bisa berdiri.
Setelah dirasa Riko tak sadarkan diri, 8 orang itu langsung pergi meninggalkannya di jalanan yang airnya sudah meninggi.
"Sudah beres, bos! Mungkin pria itu sudah hanyut terbawa arus sungai" ucap salah satu pria bertopeng yang menyerang Riko.
"Hahahahaaa mantap! Aku harap dia tidak berani lagi melawanku! Semoga saja dia tidak bangun dan menjadi korban tanpa identitas" sahut pria yang dipanggil bos itu.
"Apa yang kamu lalukan, Mas? Siapa yang jadi korban?" tiba tiba suara wanita terdengar dibelakang pria itu.
"Ma..Maya.." lirihnya dan langsung mematikan ponsel.
"Kamu melakukan sesuatu sama Riko?" tebak Maya.
Memang tunangannya ini sangat aneh. Selama 2 minggu tidak ada sikap yang menunjukkan amarahnya lagi kepada Riko setelah dibuat babak belur. Padahal Maya yakin jika Juan tidak semudah itu memaafkan orang lain.
"Hah? Ngapain aku melakukan sesuatu sama pria miskin itu? Toh dia udah lulus dan jadi sarjana, aku tidak peduli lagi dengan hidupnya selama kamu disisiku, sayang. Udah jangan bahas dia" ujar Juan sambil berusaha merengkuh Maya tapi ditolak.
Sekarang mereka berada di ruang tamu rumah keluarga Maya. Tadi Maya mengambilkan minum untuk Juan dan saat kembali mendengar Juan sedang menelepon seseorang didepan rumah.
"Jujur sama aku, kamu udah ngapain Riko?" tanya Maya lagi membuat Juan frustasi.
"Kamu itu kok gak percaya sama calon suami mu ini sih? Aku gak ngapa ngapain dia. Kenapa sih kamu peduli sama pria itu hah? Jangan bilanh kamu udah cinta sama dia sampek sepeduli ini?" serang Juan.
"Kamu mencurigakan, Mas. Jika terjadi apa apa dengan Riko, aku pastikan tidak akan menikah denganmu!" ancam Maya spontan membuat Juan terkejut.
"Apa kamu bilang? Kamu membatalkan pernikahan kita?" tanya Juan penuh penekanan.
"Ya. Aku tidak akan menikah dengan seseorang yang merencanakan percobaan pembunuhan kepada orang lain" jawab Maya serius.
"Hahahahahaaahaha...coba katakan ini kepada keluarga mu, mereka pasti tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Sudahlah, jika kamu marah hak jelas gini kepadaku, lebih baik aku pulang" ujar Juan.
Maya diam dan Juan pun kembali ke mobilnya lalu keluar kawasan rumah milik keluarga Maya.
Maya langsung mengambil ponselnya dan menelpon Riko, tidak ada jawaban. Dengan panik, menelpon Tito, sahabat Riko.
"To, kamu tau dimana Riko sekarang?" tanya Maya gelisah.
"Dia udah berangkat kerja. Kenapa May?" tanya Tito ikut penasaran.
"Buruan pastikan keberaaan Riko sekarang. Aku rasa tunanganku melakukan sesuatu padanya" jawab Maya.
"Hah?! Kamu serius?" tanya Tito tak percaya.
"Buruan cari Riko sekarang, aku minta tolong sama kamu. Kabarin aku kalau udah ketemu" jawab Maya.
Maya langsung mematikan ponselnya.
Saat ia masuk kedalam rumah, ia bertemu dengan ibunya.
"Kemana Juan, May? Cepet amat udah pulang?" tanya Ayu, ibu Maya.
"Nanti aku jelasin mom. Aku mau keluar dulu ya" jawab Maya dengan buru buru sambil mengambil tasnya.
Cup!
Maya tidak lupa mencium pipi ibunya sebelum pergi.
Ayu hanya bisa geleng geleng kepalanya.
"Mau nikah masih aja kayak anak kecil. Memang putri kecilku" gumamnya.
Maya langsung membawa mobilnya keluar rumah.