Nova lisma, gadis desa yang tiba-tiba mendapat sistem keberuntungan, tentu saja terkejut. namun, dia langsung memanfaatkan semuanya. dan dia yang mengupayakan untuk kuliah, benar-benar memanfaatkan sistem tersebut.
dia mengumpulkan modal dari hadiah sistem, dan kemudian perlahan membuka usahanya sendiri.
sementara, setelah dirinya mendapatkan sistem, dia pun jadi melupakan kebiasaannya yang selalu menempel pada seorang laki-laki yang merupakan seniornya. Julian.
lalu bagaimanakah selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. isi surat
masih di rumah Ibu Isma.
Ibu Isma pun langsung meletakkan amplop dan handphone itu terlebih dahulu. kemudian langsung mengangkat karton yang berisi buah-buahan yang beratnya cukup lumayan.
ketika dirinya baru saja berhasil memindahkan karton tersebut ke dalam rumah, anak pertamanya Iqbal, datang dengan baju lengkapnya. ya, hari ini Iqbal dan ayahnya akan pergi membersihkan ladang Pak RT kembali.
"assalamualaikum Bu.."
"Iya nak. waalaikumsalam."
"Apa itu Bu..?" tanya Iqbal.
"oh, ini nak.. ini kiriman dari adikmu. katanya sih ini buah-buahan.." jawab Ibu Isma. mendengar itu, kening Iqbal berkerut.
"itu kiriman Nova Bu? dari mana Nova dapat uang ? kenapa dia memilih untuk mengirimkan kita. seharusnya dia lebih fokuskan uang itu untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari." ujar Iqbal dengan wajah datarnya. bukan tidak mau dan tidak senang menerima pemberian adiknya, hanya saja, lebih manfaat lagi apabila Nova memegang uang.
"katanya sih, adikmu kerja paruh waktu. setelah kuliah dia langsung pergi pekerjaan. katanya, ini adalah bonus yang diberikan oleh atasannya. sementara, untuk kosannya sendiri sudah dibayar lunas. uang kuliah pun sudah Iya sisihkan.. makanya, Adik kamu mengirimkan ini ke kampung. dia juga mengirimkan handphone, agar kita lebih mudah menghubunginya." tutur Ibu Isma menjelaskan kepada anak pertamanya itu.
Iqbal yang mendengar penuturan itu menganggukkan kepalanya. Kemarin, dia juga sudah Dengar, bagaimana seli memarahinya ibunya, karena menelpon adiknya.
Iqbal juga merasa kasihan kepada kedua orang tuanya. karena kemiskinan mereka ini, bahkan anak kecil saja yang bau kencur tega memarahi kedua orang tuanya, tambahkan kehilangan kehormatan mereka.
"oh begitu.. Ya udah deh bu nggak apa-apa. Aku hanya ingin yang terbaik aja untuk Nova. seandainya, uang itu bermanfaat untuknya. seharusnya dia gunakan untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari saja. karena, kita belum tentu bisa mendapatkan uang untuk mengirimnya." tutur Iqbal yang akhirnya menormalkan ekspresinya.
tak lama, pak Rusman pun keluar. Tampaknya, pak Rusman tadi baru dari kamar mandi.
"eh, kamu sudah datang nak..?" ujar pak Rusman kepada Ikbal.
"jangan berangkat dulu.. ada yang ingin Ibu katakan." tutur Ibu Isma dengan cepat. sementara Pak Rusman, suaminya yang sudah mencoba untuk mengangkat keranjang lapuknya langsung berhenti.
"ada apa Bu..?" tanya Pak Rusman. begitu pula dengan Iqbal.
"ayo. bapak sama Iqbal masuk dulu." ucapnya lagi. mendengar itu, keduanya pun langsung menurut. Iqbal pun langsung menurunkan keranjang yang ada di punggungnya. begitu pula dengan pak Rusman.
setibanya mereka di dalam, Ibu Isma pun mengeluarkan handphone dan amplop yang dititipkan oleh Nova kepada Nia.
"apa ini bu.?" tanya Iqbal.
"iya Bu. ada apa..?" tanya Pak Rusman. Ibu Isma pun menghela nafasnya.
"begini Pak. ini adalah uang di dalamnya. sebentar ya, ibu buka dulu. katanya di dalamnya juga ada surat dari Nova." mendengar itu, pak Rusman dan Iqbal pun saling memandang.
amplop itu terlihat sangat tebal. dan kalau di dalamnya beneran uang, maka pasti nominal uangnya tidaklah sedikit.
Ibu Isma pun langsung membuka amplop tersebut, dan langsung mendapati sepucuk surat serta satu gepuk uang di dalamnya.
Ibu Isma pun langsung berbinar matanya. dan dengan cepat dia mengeluarkan uang segepok itu. dan langsung membaca surat yang juga berada di dalam amplop tersebut.
"Apa isi surat itu Bu..?" tanya Iqbal. bukannya fokus pada uang yang barusan mereka dapatkan, mereka malah fokus pada isi surat dari Nova itu.
"sebentar.. Ibu baca dulu ya."
isi surat
assalamualaikum, bapak, ibu. Nova harap bapak dan ibu dalam keadaan sehat walafiat. bapak, ibu. ini Nova telah mengirimkan handphone dan uang sebanyak 10 juta rupiah. dan Nova mengharapkan, agar bapak dan Ibu melunasi hutang keluarga kita. di samping itu, aku juga meminta, agar bapak dan Ibu membuka rekening bank. agar Nova lebih mudah mengirimkan uang kepada bapak dan ibu.
bapak dan Ibu juga jangan lupa buatkan m-bankingnya. agar transaksinya jauh lebih mudah. di dalam handphone juga, sudah ada nomor Nova. kalau bapak dan ibu butuh sesuatu dan ingin mengobrol dengan Nova, gunakan handphone itu Dan jangan meminjam lagi ke tetangga. Dan kalau uangnya kurang untuk pembayaran hutang, bapak dan ibu bisa menghubungi Nova. Nanti, biar Nova kirimkan lagi. Tapi dengan syarat, harus membuka rekening.
Alhamdulillah. kondisi Nova saat ini baik-baik saja. sekolah Nova juga lancar. dan alhamdulillahnya lagi, Nova sudah memiliki pekerjaan dengan memanfaatkan media sosial. makanya, Nova bisa mendapatkan penghasilan yang lebih.
Jangan pikirkan Kalau Nova di sini sedang tidak baik-baik saja. dan Nova harap, uang ini bisa digunakan sebagaimana mestinya. oh ya, tak hanya bapak dan Ibu yang boleh buka rekening. tapi, suruh juga Kak Iqbal dan Kak Irfan untuk buka rekening masing-masing.
sampai disini dulu surat Nova. Nova harap, setelah mendapatkan handphone bisa menghubungi Nova dengan segera. tenang aja, setiap bulan insya Allah Nova akan Isi pulsanya.
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
kira-kira begitulah isi suratnya. Iqbal dan kedua orang tuanya yang mendengar isi surat itu langsung terdiam.
perlahan-lahan mata mereka pun tertuju pada segepuk uang, yang baru saja di kirimkan oleh Nova.
"pak.. jadi uang ini, dikirimkan Nova untuk kita membayar hutang pak. pasti Nova sudah tahu, kalau uang yang selama ini kita kirimkan selain dari hasil kerja keras, juga hasil ngutang." ucap Ibu Isma dengan pedih. begitupun pak Rusman dan Iqbal yang menundukkan kepala mereka.
"huf..!! kalau begitu tunggu apa lagi Pak. ayo cepat buka handphonenya dan kabari adik. hal ini harus dipastikan." ujar Iqbal lagi yang membuat kedua orang tuanya tersadar.
"oh iya nak betul. kalau begitu, kamu saja yang menghubungi adik. bapak dan Ibu masih kurang paham menggunakannya." tutur pak Rusman.
Ibu Isma pun langsung menyerahkan handphone yang masih berada dalam kotaknya itu kepada putranya. dan Iqbal yang memang pandai mengoperasikan handphone itu menerimanya.
dia membuka kotak handphone tersebut, dan seketika matanya berkaca-kaca saat melihat handphone baru yang sangat mulus berada di depan matanya.
dia teringat, gara-gara handphone orang tuanya kena marah dari Seli. dan sekarang, mereka sudah memiliki handphone sendiri. dan, Iqbal merasa sangat senang karena kedua orang tuanya tidak lagi ngemis-ngemis kepada orang lain.
sambil menghela nafas lega, Iqbal pun mengambil handphone itu dan menyalahkannya. setelah handphone itu menyala, dia kembali mengutak-atiknya dan lari ke aplikasi hijau. ketika ia membuka aplikasi hijau itu, dia hanya melihat satu nomor kontak saja. yaitu nomor adiknya.
"apa kita hubungi Adik sekarang pak? Bu ?" tanya Iqbal memastikan.
"Iya nak.. langsung hubungi saja."