NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - SEBELUM SEMUANYA HANCUR

Kamu mau mulai dari mana?

Tulisan itu diam di permukaan cermin. Tidak bergerak, tidak menghilang. Menunggu.

Lily berdiri di ambang pintu ruang itu. Satu kakinya masih di gudang, satu kakinya sudah menginjak lantai di dalam yang teksturnya berbeda, lebih halus, lebih hangat, seperti batu yang sudah lama kena matahari meski tidak ada matahari di sini.

Dia tidak menjawab.

Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena pertanyaan itu terasa seperti jebakan yang sopan. Seperti pertanyaan yang kalau kamu jawab terburu-buru, kamu akan menyesal dengan kata yang kamu pilih.

Lily menarik kakinya yang satu lagi masuk. Pintu di belakangnya menutup sendiri, pelan, tanpa bunyi.

Dia duduk di kursi kayu tua yang ada di depan meja cermin itu. Kayunya tidak berderit. Tidak berdebu. Seperti baru kemarin dipakai seseorang.

Cermin masih menampilkan pertanyaan yang sama.

"Aku mau tahu," kata Lily akhirnya. Suaranya terdengar aneh di ruangan ini ... tidak bergema, tidak flat, lebih seperti jatuh ke permukaan yang menyerap. "Dari mana semua ini mulai. Bukan cuma Dimas. Bukan cuma semalam."

Tulisan di cermin menghilang.

Lalu ... gambar.

Bukan video, bukan foto. Lebih seperti kenangan yang diletakkan di depan mata dengan resolusi yang terlalu tajam untuk nyaman dilihat.

Yang muncul pertama bukan Nindi.

Yang muncul pertama adalah Tante Sari.

Lily melihat perempuan itu seperti melihatnya untuk pertama kali. Bukan sebagai ibu tiri yang sudah tujuh tahun jadi bagian dari rumah ini, tapi sebagai orang asing yang masuk dengan rencana.

Di cermin itu, Lily melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat langsung. Saat malam-malam Tante Sari duduk di ruang kerja ayahnya, bukan untuk ngobrol biasa. Tante Sari membuka laci meja, membaca dokumen, memotret sesuatu dengan ponselnya. Wajahnya tenang dan terlatih, seperti wajah orang yang sudah tahu apa yang dicari sebelum masuk ke ruangan.

Lily mengerutkan dahi.

Gambar berganti.

Tante Sari di telepon, suaranya tidak terdengar tapi bibirnya bergerak dengan cepat. Di tangannya ada lembar dokumen yang Lily kenali, kop suratnya sama dengan surat-surat yang pernah dia lihat di meja ayahnya. Dokumen perusahaan.

Berganti lagi.

Ayah Lily dan Tante Sari duduk berhadapan di restoran yang Lily tidak pernah diajak ke sana. Bukan makan malam romantis... lebih seperti rapat. Tante Sari meletakkan sesuatu di atas meja. Amplop cokelat yang tebal.

Ayahnya membukanya. Membaca. Lalu wajahnya---

Lily ingat wajah ayahnya waktu dia kecil. Wajah yang hangat dan sedikit lelah tapi selalu punya ruang untuk senyum kalau Lily datang minta tanda tangan laporan sekolah. Wajah yang berubah setelah Mama meninggal jadi lebih tertutup, lebih jauh, tapi masih punya sedikit sisa hangat yang Lily selalu coba cari.

Di cermin itu, wajah ayahnya membaca isi amplop dan sisa hangat itu tidak ada.

Yang ada adalah ekspresi yang Lily tidak punya kata untuk menamakannya. Bukan takut. Bukan marah. Lebih seperti orang yang baru sadar dia sudah terlalu dalam di sesuatu dan memilih untuk melanjutkan tenggelam daripada repot-repot naik ke permukaan.

Gambar menghilang.

Cermin kembali bening, menampilkan wajah Lily sendiri.

Lily tidak bergerak cukup lama.

Pikirannya bekerja keras memproses apa yang baru saja dia lihat. Bukan satu pengkhianatan, tapi pengkhianatan yang berlapis, yang dimulai jauh sebelum Nindi datang dengan koper pink-nya, jauh sebelum Dimas di pasar dengan daun bawangnya, jauh sebelum malam tadi.

"Tante Sari yang mulai ini semua," kata Lily pelan. Bukan pertanyaan.

Cermin tidak menjawab. Tapi permukaan bening itu beriak pelan seperti air yang disentuh ujung jari dan Lily mengambil itu sebagai iya.

"Dia butuh apa dari Ayah?"

Cermin beriak lagi. Lalu satu kata muncul, kecil di pojok kanan bawah.

Waktu.

Lily menatap kata itu.

Waktu. Bukan uang, bukan nama, bukan cinta. Waktu...

Dia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi dia simpan.

Yang muncul kemudian di cermin bukan gambar lagi ... tapi suara.

Suara Nindi, dari dua minggu lalu. Lily ingat konteksnya, Nindi sedang telepon di kamarnya, pintu tidak ditutup rapat, dan Lily lewat di lorong dengan nampan teh yang tidak diminta siapa-siapa tapi sudah jadi kebiasaan untuk disiapkan jam tiga sore.

Waktu itu Lily tidak sengaja dengar dan tidak berhenti untuk memperhatikan. Tapi sekarang di ruang ini, kata-kata yang dua minggu lalu masuk kuping kanan keluar kuping kiri itu terdengar ulang dengan jelas.

"Mas, tenang aja. Setelah nikah juga Lily pindah rumah sendiri kan? Kita lebih leluasa."

Jeda. Suara Dimas dari seberang, terlalu pelan untuk tertangkap.

"Iya aku tahu. Tapi ini yang terbaik. Kamu pikir aku suka situasi ini?" Nada Nindi berubah... lebih tajam, lebih asli. "Ini semua juga buat kita, Mas. Sabar dikit."

Suara itu berhenti.

Lily duduk di kursi kayu itu dengan napas yang tiba-tiba terasa pendek.

Ini yang terbaik. Buat kita.

Mereka sudah merencanakan ini. Bukan kejadian yang lepas kendali, bukan dua orang yang jatuh cinta dan tidak tahu harus bagaimana. Mereka merencanakan posisi mereka setelah pernikahan Lily dengan Dimas. Pernikahan yang rupanya tidak pernah dianggap serius oleh salah satu pihak yang terlibat.

Sesuatu di dada Lily yang tadi terasa seperti bara kecil mulai menyala dengan cara yang berbeda. Bukan meledak. Tapi stabil. Konsisten. Seperti kompor yang baru dinyalakan dan apinya diatur di ukuran yang tepat untuk memasak sesuatu dalam waktu lama.

Dia tidak menangis.

Sudah tidak ada yang mau keluar dari sana.

Yang ada hanya kejernihan yang aneh. Jenis jernih yang datang setelah semua ilusi rontok dan yang tersisa cuma kenyataan dalam bentuk paling telanjangnya.

Kenyataan pertama, Dimas tidak pernah mencintai Lily dengan cara yang adil. Mungkin ada perasaan, tapi perasaan yang tidak pernah dia prioritaskan, tidak pernah dia bela, dan tidak pernah dia jujurkan.

Kenyataan kedua, Nindi bukan sekadar saudara tiri yang kebetulan jatuh cinta pada orang yang sama. Nindi memilih Dimas dengan sadar, dan memilih untuk tidak peduli dengan apa yang dia lakukan pada Lily ... juga dengan sadar.

Kenyataan ketiga, dan ini yang paling berat, ayahnya tahu lebih banyak dari yang dia pernah akui. Dan dia memilih diam.

Lily menarik napas panjang.

"Aku perlu tahu soal warisan Mama," katanya ke cermin.

Cermin beriak.

Lalu di permukaannya muncul sesuatu yang membuat Lily menegakkan punggungnya. Sebuah nama yang tidak dia kenal, ditulis dengan tulisan tangan yang sama sekali berbeda dari tulisan yang tadi. Lebih tua. Lebih lelah. Tapi jelas.

Nama itu nama perempuan. Dan di bawah nama itu, satu baris kalimat.

Dia pernah di sini juga. Di gudang yang sama.

Lily menatap nama itu lama.

"Siapa dia?"

Cermin tidak menjawab dengan kata. Hanya menampilkan satu gambar terakhir sebelum cahaya di ruang itu mulai meredup. Seorang perempuan tua yang berdiri di depan pintu kecil yang sama dengan punggung tegak dan mata yang tidak sedang menangis.

Wajahnya...

Wajahnya seperti wajah Mama.

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!