Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang
Kabut tipis menyelimuti perbatasan barat Imperial Agartha. Tanah bergetar pelan oleh derap ratusan kuda dan langkah prajurit bersenjata. Udara dingin menusuk paru-paru, bercampur bau besi, dan kulit pelindung.
Di barisan terdepan, tiga pangeran berdiri sejajar di atas kuda masing-masing. Pangeran Lian berada di tengah dengan punggung tegak, pandangannya lurus ke hamparan tanah musuh. Di sisi kanannya, Pangeran Leo menggenggam pedang, rahangnya mengeras menahan gejolak darah muda. Di sisi kiri, Pangeran Evan duduk kaku di atas pelana, wajahnya tenang namun matanya gelap oleh pikiran yang bergejolak.
Barisan prajurit Agartha membentang rapat di belakang mereka hingga ke batas wilayah pertahanan. Perisai saling bersentuhan, ujung tombak berkilat tertimpa cahaya matahari yang baru merekah.
Pangeran Lian perlahan mengangkat pedangnya tinggi ke udara. Logamnya menangkap cahaya, memantulkannya seperti nyala api.
“Prajurit Imperial Agartha!” serunya. Suaranya menggema menembus sanubari. “Kita menginjak tanah yang ingin direbut, dan di belakang kita ada rumah rakyat yang harus dilindungi.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke setiap dada.
“Kita tidak berdiri sebagai individu, kita berdiri sebagai satu tubuh dan satu kehendak!”
Pedangnya menunjuk ke depan.
“Bersatulah! Agar Imperial Agartha tetap berdiri tegak!”
Napas prajurit mulai memburu.
“Hidup dan mati di medan ini bukanlah akhir,” lanjut Lian lantang, “melainkan kehormatan yang akan dikenang sejarah! Nama kalian akan tercatat sebagai kesatria yang tidak mundur!”
Sorak meledak seperti petir yang bersahutan.
“HIDUP PANGERAN AURELIAN!"
"HIDUP IMPERIAL AGARTHA!”
“HIDUP IMPERIAL AGARTHA!”
“HIDUP IMPERIAL AGARTHA!”
Batas wilayah pertahanan Agartha roboh dengan dentuman menggelegar. Tanah bergetar ketika gerbang batu runtuh, debu dan serpihan beterbangan ke udara. Dari balik kabut abu, pasukan Kingdom Conqueror mengalir seperti banjir hitam yang tak terhitung jumlahnya, menutup cakrawala dengan baju zirah gelap dan sorot mata penuh haus darah.
Namun tiga pangeran di barisan depan tidak mundur selangkah pun. Tombak diangkat, perisai dipukul, dan derap kuda mulai bergerak serentak.
Pangeran Lian mengangkat pedangnya tinggi.
“Serang!”
Teriakannya menggema, membelah udara seperti petir.
“Serang!” sahut ribuan prajurit Agartha serempak.
Dua pasukan bertabrakan dalam kekacauan membabi buta. Pedang beradu dengan kapak, tombak menembus perisai, teriakan kesakitan bercampur raungan kemarahan. Darah menyiram tanah, licin dan panas, membuat setiap langkah menjadi pertaruhan hidup dan mati.
Pangeran Lian berada di tengah pusaran. Pedangnya bergerak cepat dan presisi. Setiap tebasan memutus napas, setiap langkah membuka celah bagi prajurit di belakangnya.
Pangeran Leo bertarung seperti badai yang dilepaskan. Ia menerjang tanpa ragu, menebas musuh demi musuh, gerakannya liar namun terarah. Nafasnya memburu, lengannya pegal, namun matanya tetap menyala.
Tak jauh dari mereka, Pangeran Evan juga bertarung habis-habisan. Tak ada keraguan di ayunan pedangnya hanya tekad keras, seolah ia ingin menenggelamkan rasa malu dan ketakutannya dalam darah musuh.
Di tengah peperangan itu, mata Pangeran Leo menangkap sesuatu. Pasukan Kingdom Conqueror mulai terbelah menjadi dua formasi. Satu menekan barisan depan, sementara yang lain bergerak memutar arah, jelas menuju jalur istana Imperial Agartha.
Jantung Leo berdegup keras.
“Kakak!” serunya panik.
“Fokus, Leo!” bentak Pangeran Lian tanpa menoleh.
Ia paham sepenuhnya apa yang terjadi. Namun di medan perang, satu detik lengah berarti kematian.
Pangeran Leo menggertakkan gigi, menahan dorongan untuk berpaling. Ia kembali fokus, mengayunkan pedangnya tanpa henti, menebas siapa pun yang mencoba menembus barisan.
“Pasukan B, sekarang!” perintah Pangeran Lian lantang.
Mereka boleh kalah dalam jumlah, namun tidak dalam strategi. Dari belakang barisan penyerang pertama, Pasukan B muncul. Prajurit berkuda berdiri tegap di atas pelana, menarik busur serempak. Hujan panah melesat di udara.
Anak-anak panah menancap brutal di barisan depan Kingdom Conqueror. Formasi musuh goyah, langkah mereka terhenti, jeritan kesakitan pecah di mana-mana. Barisan penyerang lumpuh, menumpuk di tanah seperti dinding tubuh yang roboh.
Sorak semangat meledak dari pihak Agartha. Semangat prajurit berkibar lebih tinggi, menggusur rasa takut yang sempat menyelinap.
Pangeran Lian tidak memberi jeda. Ia terus mengayunkan pedangnya, maju selangkah demi selangkah, memaksa medan perang tunduk pada kehendaknya. Namun jauh di belakang, bayangan pasukan yang memutar arah masih bergerak. Iat ahu perang ini masih jauh dari puncaknya.
Pasukan Kingdom Conqueror datang tanpa henti. Di balik barisan infanteri mereka, mesin-mesin raksasa didorong maju. Catapult, teknologi perang dari Benua Barat yang belum pernah disaksikan Agartha. Rangka kayu besar dengan lengan pemukul panjang, tali-tali tebal berderit saat ditarik. Di dalam wadahnya, bukan batu biasa, melainkan bahan pembakar lengket yang menyala bahkan sebelum dilontarkan.
“Catapult!” teriak seorang prajurit Agartha panik.
Terlambat… lengan mesin berayun.
Bola-bola api meluncur ke udara, jatuh menghantam tanah Agartha dengan ledakan keras. Api menyebar, menelan perisai, membakar kain zirah, menjilat kulit. Prajurit berteriak, kuda meringkik ketakutan.
Barisan Agartha tertekan mundur. Formasi mulai goyah. Sebuah anak panah melesat cepat, nyaris tak terlihat menuju leher Pangeran Evan.
Clang!
Pangeran Leo menoleh sekilas dan mengayunkan pedangnya tepat waktu. Panah itu terpental, patah di udara. Mata Pangeran Evan dan Pangeran Leo bersinggungan sesaat. Namun tak ada kata, hanya perlindungan karena keduanya berada di tim yang sama.
Leo langsung kembali bertarung, menebas musuh di depannya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun Pangeran Evan kehilangan fokus. Tangannya gemetar sesaat di gagang pedang.
Haruskah aku melakukan tugas dari ibunda? batinnya ragu. Tidak… tidak… aku tidak mau menjadi pangeran terbuang. Tahta itu milikku.
“Jangan gentar!” teriak Pangeran Lian lantang, suaranya menembus hiruk-pikuk perang. “Berdiri! Bertahan! Jangan biarkan tanah ini diinjak lebih jauh!”
Deru baru terdengar dari belakang. Pasukan tambahan Agartha menerobos medan perang. Kaisar Lexus memimpin langsung di barisan depan. Gerakannya tajam dan mematikan, belatinya menyelinap di sela zirah musuh, pedangnya menebas tanpa ragu. Setiap serangan efisien, tanpa gerakan sia-sia.
Anastasia bertarung seperti bayangan hidup di sisinya. Belati di tangannya bergerak cepat dan presisi, memotong tendon, menusuk titik vital, mundur sebelum musuh sempat menyadari mereka telah mati.
Pasukan Agartha kembali bangkit. Sorak perang menggema kuat. Formasi Kingdom Conqueror mulai runtuh, terdesak mundur oleh serangan brutal dan terkoordinasi.
Pangeran Lian dan Pangeran Leo menyadari kedatangan ayahanda dan ibundanya. Lian tidak menoleh, namun sudut bibirnya menyeringai. Kekuatannya telah datang.
Kingdom Conqueror ditekan mundur, langkah mereka kacau. Dan di tengah kekacauan itu, Pangeran Evan menyeringai tipis. Ia berpikir kemenangan akan segera datang. Sudah waktunya ia melakukan sesuatu yang akan membuatnya pulang dengan dagu terangkat, memberitakan kemenangan ini pada seluruh rakyat Agartha.
Kepercayaan rakyat akan berpihak padanya. Namanya akan dielu-elukan sebagai calon kaisar di masa depan.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author