NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Membalik Takdir

Pagi di kantor dimulai dengan tumpukan dokumen yang harus ditandatangani, namun pikiran Hana masih tertuju pada percakapannya dengan Baskara semalam. Gagasan untuk mengubah "penjara" lamanya menjadi sebuah tempat perlindungan bagi wanita lain memberikan energi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini bukan lagi soal karier atau uang, melainkan soal menebus waktu lima tahun yang hilang dengan sesuatu yang abadi.

Hana sedang menyesap kopi hitamnya saat Adrian masuk ke ruangannya. Pria itu tampak lebih segar dari biasanya, mengenakan kemeja biru muda yang pas dengan postur tubuhnya yang tegap.

"Baskara menelepon saya pagi ini," ujar Adrian sambil duduk di kursi depan meja Hana. "Dia bercerita tentang rencana lelang rumah itu. Hana, itu langkah yang sangat... berani. Kamu yakin ingin berhubungan lagi dengan tempat itu, meski secara anonim?"

Hana meletakkan cangkir kopinya. "Justru karena itu, Adrian. Saya ingin menghapus aura gelap di rumah itu. Saya ingin mengubah sejarahnya. Jika saya membiarkan rumah itu jatuh ke tangan orang lain, tempat itu hanya akan menjadi properti biasa. Tapi jika saya yang memegangnya, saya bisa memastikan tidak ada lagi tangisan di balik tembok-temboknya."

Adrian menatapnya dengan binar kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. "Kamu selalu punya cara untuk mengubah luka menjadi kekuatan. Saya sudah bicara dengan tim hukum pribadi saya. Kita bisa menggunakan yayasan sosial yang berafiliasi dengan perusahaan kita sebagai kedok untuk pembelian lelang tersebut. Dengan begitu, nama pribadimu tetap aman dan Aris tidak akan pernah tahu siapa pemilik barunya."

"Terima kasih, Adrian. Dukunganmu sangat berarti bagi saya," jawab Hana tulus.

Namun, pembicaraan hangat itu terputus oleh dering telepon internal di meja Hana. Itu dari bagian resepsionis.

"Bu Hana, ada kiriman bunga untuk Ibu. Cukup besar, tapi tidak ada nama pengirimnya di kartu," lapor suara di seberang telepon.

Hana mengernyit. "Bawa ke atas, Maya."

Beberapa menit kemudian, Maya masuk membawa sebuket besar bunga lily putih yang harum. Namun, saat Hana membuka kartu kecil yang terselip di antaranya, wajahnya yang tadi tenang berubah menjadi tegang. Tulisan di kartu itu rapi dan dicetak dengan tinta emas:

"Selamat atas kesuksesan proyek Vietnam. Namun, ingatlah bahwa di balik setiap manajer yang sukses, selalu ada rahasia yang terkubur dalam. Kita akan segera bertemu."

Adrian yang melihat perubahan ekspresi Hana segera menyambar kartu tersebut. "Siapa ini? Ancaman lagi?"

"Sepertinya begitu. Tapi ini berbeda dari gaya Aris atau keluarganya. Ini terlalu... berkelas," bisik Hana.

Adrian segera memanggil tim keamanan siber untuk memeriksa rekaman CCTV di area lobi saat pengantar bunga datang. Di saat yang sama, ia meminta Shinta untuk melacak toko bunga yang mengirimkan buket tersebut. Ketegangan kembali menyelimuti ruangan. Seolah-olah setiap kali Hana meraih satu puncak, ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menariknya jatuh ke jurang.

Sore harinya, Baskara datang dengan kabar mengenai proses lelang. "Pihak bank sudah menetapkan tanggal lelang, dua minggu dari sekarang. Nilai limitnya cukup rendah karena kondisi rumah yang agak terbengkalai. Saya sudah mendaftarkan entitas yayasan kita sebagai peserta."

Hana mendengarkan dengan saksama, namun pikirannya terbagi dengan ancaman bunga lily tadi. "Pak Baskara, apakah mungkin Aris punya musuh lain yang tahu tentang saya? Atau mungkin relasi bisnisnya dulu yang merasa saya ikut bertanggung jawab atas utang-utangnya?"

Baskara mengelus dagunya. "Bisa jadi, Bu Hana. Aris memiliki banyak utang tidak resmi. Tapi kartu itu menyebut tentang 'rahasia'. Apakah ada sesuatu dari masa lalu Anda yang bisa mereka gunakan?"

Hana menggeleng mantap. "Hidup saya selama lima tahun itu transparan. Hanya kerja, dapur, dan tekanan Aris. Tidak ada ruang untuk rahasia."

"Kalau begitu, ini mungkin gertakan untuk mengganggu fokus Anda menjelang kunjungan investor Singapura lusa," duga Baskara.

Dua hari kemudian, delegasi investor dari Singapura tiba. Hana memimpin kunjungan lapangan ke salah satu lokasi proyek properti mereka di pinggiran Jakarta yang akan menjadi model bagi proyek Vietnam. Ia tampil memukau dengan penjelasan teknis yang mendalam dan visi bisnis yang tajam.

Namun, di tengah-tengah jamuan makan siang resmi, seorang pelayan menghampiri Hana dan memberikan sebuah amplop kecil berwarna perak. "Dari tamu di meja pojok, Bu."

Hana menoleh ke arah meja pojok, namun tempat itu sudah kosong. Dengan jantung berdebar, ia membuka amplop itu di bawah meja. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama—foto mendiang ayahnya yang sedang berjabat tangan dengan seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta merah. Di belakang foto itu tertulis: "Ayahmu bukan orang suci yang kamu bayangkan. Mari bicara tentang masa lalu PT Anindita Jaya."

Tangan Hana gemetar. Ayahnya adalah pahlawannya, alasannya untuk tetap tegak berdiri. PT Anindita Jaya adalah perusahaan konstruksi kecil milik ayahnya yang bangkrut sesaat sebelum ayahnya meninggal. Hana selalu percaya kebangkrutan itu murni karena persaingan bisnis yang kejam.

Setelah acara selesai, Hana segera menarik Adrian ke sudut yang sepi. Ia menunjukkan foto itu.

"Siapa yang melakukan ini, Adrian? Siapa yang berani membawa-bawa nama Ayah?" suara Hana bergetar karena emosi.

Adrian memeriksa foto itu dengan saksama. "PT Anindita Jaya... saya pernah mendengar nama itu di arsip lama perusahaan ayah saya. Hana, sepertinya ini bukan lagi tentang Aris. Ini adalah serangan dari masa lalu yang lebih dalam. Ada seseorang yang ingin menggali luka lama keluargamu."

"Saya harus tahu kebenarannya, Adrian. Jika Ayah melakukan kesalahan, saya ingin tahu. Tapi jika ini adalah fitnah untuk menjatuhkan saya melalui nama Ayah, saya tidak akan tinggal diam," tegas Hana.

Malam itu, Hana tidak pulang ke apartemen. Ia pergi ke gudang penyimpanan barang-barang lama milik keluarganya di rumah ibunya di pinggiran kota. Di sana, di antara debu dan kardus yang menguning, ia mencari berkas-berkas lama PT Anindita Jaya.

Ibunya, yang sudah tampak sangat sepuh, menghampiri Hana dengan tatapan cemas. "Kenapa mencari itu lagi, Hana? Bukankah semuanya sudah selesai saat Ayah pergi?"

"Ada yang mengungkit ini lagi, Bu. Ada yang bilang Ayah bukan orang seperti yang Hana bayangkan," ujar Hana sambil terus membongkar kotak.

Ibunya menghela napas panjang, lalu duduk di sebuah kursi tua. "Ayahmu adalah orang baik, Hana. Tapi bisnis konstruksi di masa itu sangatlah kotor. Ayahmu terjebak dalam sebuah konsorsium yang dipimpin oleh seorang pria licik. Saat proyek itu bermasalah, pria itu melarikan diri dan membiarkan Ayahmu menanggung semua beban utang dan tuduhan korupsi sendirian. Itulah yang membuat Ayahmu jatuh sakit dan meninggal."

Hana terhenti. "Siapa nama pria itu, Bu?"

"Namanya... Gunawan Wijaya. Tapi dia dikabarkan sudah meninggal dalam kecelakaan di luar negeri sepuluh tahun lalu."

Hana terdiam. Gunawan Wijaya. Nama itu terasa asing namun sangat mengganggu. Ia segera menelepon Shinta dan meminta pelacakan nama Gunawan Wijaya.

Beberapa jam kemudian, Shinta mengirimkan data yang mengejutkan. Gunawan Wijaya memang dilaporkan meninggal, namun ia memiliki seorang anak laki-laki yang kini menjadi salah satu pesaing bisnis utama di industri properti, yang perusahaannya kalah dalam tender proyek Vietnam melawan perusahaan Hana.

"Namanya Victor Wijaya," suara Shinta di telepon terdengar cemas. "Dan Bu Hana... Victor Wijaya adalah orang yang sama yang belakangan ini sering terlihat bersama pengacara Aris."

Hana memejamkan mata. Sekarang semuanya menjadi jelas. Ini bukan lagi sekadar dendam mantan suami yang kalah. Ini adalah aliansi antara masa lalu yang pahit dan kecemburuan bisnis yang tajam. Aris memberikan informasi pribadi tentang Hana, sementara Victor memberikan sumber daya untuk menghancurkan reputasi Hana dari dalam.

"Jadi ini perang dua arah," bisik Hana.

Ia berdiri di tengah gudang tua itu, dikelilingi oleh kenangan masa kecilnya. Aris ingin uangnya, dan Victor ingin kehancurannya sebagai bentuk balas dendam atas kekalahan tender, sekaligus menutup rapat kejahatan ayahnya di masa lalu dengan cara menyerang balik nama baik ayah Hana.

"Ayah... Hana tidak akan membiarkan mereka menodai namamu," janji Hana dalam hati.

Ia kembali ke Jakarta dengan tekad yang lebih bulat. Besok adalah hari lelang rumah lamanya. Ia akan memenangkan rumah itu, menjadikannya simbol kebangkitan, dan kemudian ia akan menghadapi Victor Wijaya dengan segala bukti yang ia miliki.

Sabar Hana mungkin sudah habis, tapi kecerdikan dan keberaniannya baru saja mencapai puncaknya. Ia tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu merusak masa depannya. Dengan Adrian di sisinya dan kebenaran sebagai senjatanya, Hana bersiap untuk langkah skakmat terakhir bagi mereka yang berani mengusik kedamaiannya.

Malam semakin larut, namun Hana terus terjaga. Ia menyusun strategi, bukan sebagai korban, melainkan sebagai seorang pejuang. Di bawah lampu meja yang temaram, ia menuliskan sebuah rencana besar. Ia akan mengundang Victor Wijaya dalam acara peresmian proyek Vietnam, dan di sana, di depan semua investor, ia akan membuka tabir gelap yang selama ini disembunyikan keluarga Wijaya.

Perjalanan Hana Anindita telah sampai pada titik di mana ia tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga membersihkan nama baik keluarganya. Dan ia tahu, ia akan menang.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!