Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Tidak Tepat
Bab 13
Rama sudah siap berangkat, hari ini ia shift pagi dan ini masih jam 5. Kembali menguap lalu menggeleng pelan mengusir rasa kantuk. Memakai sepatu, jaket dan sarung tangannya.
Sudah menikmati teh hangat dan roti bakar yang disiapkan ibunya, meski tidak sampai habis. Ibunya memang selalu perhatian, bahkan sebelum ayahnya tiada.
“Kayaknya mendung Ram, itu masih gelap aja. Kamu nggak bawa jas hujan?”
“Bawa bu. Aku pake motor yang itu,” tunjuk Rama pada motor matic maxinya, tersenyum menatap motor sport yang kemarin membawa Gita.
“Ida ada hubungi kamu lagi?”
“Hm,” sahut Rama lalu menggeser motor dan menghidupkan mesinnya. “Nggak usah ditanggapi bu, nanti dipikir kasih harapan. Besar kepala mereka. Aku nggak tertarik, sudah ada yang lain di sini,” seru Rama menepuk dad4nya. “Calon mantu ibu yang unyu-unyu.”
“Anak mana Ram? Kerja di SM juga?”
Itulah masalahnya, anak siapa sebenarnya Gita. Meski ia pernah bertemu keluarga gadis itu.
“Bukan bu, masih kuliah dia.”
“Hah, serius kamu Ram?”
Rama tersenyum dan mengangguk. “Doain aja deh, biar cepet bisa dilamar.” Gegas memakai helm lalu mencium tangan ibunya. “Berangkat, bu.”
“Hati-hati kamu, jangan telat makan.”
Sebenarnya bukan hanya Ida yang kadang mengganggu ketenangan jiwa dan raga dengan predikat jomblonya. Ada saja anak gadis tetangga atau dari kampung sebelah yang caper atau sok sedang dekat dengannya. Bahkan pak RW pernah secara langsung mengusulkan putrinya untuk Rama pada Dedi dan Mira, tentu saja ditolak secara halus dengan alasan belum jodohnya Rama.
Tiba di parkiran motor, ia bertemu dengan Sapri yang juga baru datang.
“Woi, Sapri, my man,” seru Rama lalu merangkul kawannya itu meninggalkan parkiran. “Gemes banget gue pengen nyolek ginjal lo.”
Sapri terkekeh. “Yaelah Mas, hidup jangan terlalu serius.”
“Mulai pinter ngomong ya, nggak inget waktu di Singajaya lo manut aja kayak marmut.”
“Sesuai pepatah mas Rama dong, cinta bisa merubah seseorang begitu pula dengan Sapri.”
“Njirrr, bahasa lo.”
Sapri tergelak. Dari jauh mereka melihat Beni.
“Fix, nanti siang kita kumpul. DI kantin ya,” ujar Rama. “Gue buru-buru ada operasi bentar lagi.”
“No picture hoax,” teriak Beni sambil tertawa pada Rama yang berlari sambil melambaikan tangan.
***
Hampir jam makan siang, Rama baru saja rehat untuk minum dan menikmati snack. Sejak shiftnya mulai, dia sibuk di ruang operasi.
“Pahit bener mulut gue,” ujarnya.
“Ram, jangan kabur lo. Ini 5 ruang full tindakan semua. Bentar lagi ruang 4, caesar cito dan lo timnya. Pasien lagi otw ke sini.”
“Cari udara dulu mbak, sumpah pengap banget gue.”
“Jangan lama,” teriak koordinator yang bertugas di OK.
Rama membuka ponselnya, kali ini yang pertama disambangi room chat dengan Gita.
“Eh, si cinta nge-chat duluan.
...Cintaku...
Abang di SM?
Aku mau kesana,
mau lihat bayinya Kak Gilang
Lagi sibuk ya?
^^^Iya nih, baru cek hp^^^
^^^Bikin bayi mau nggak?^^^
^^^Ish, me sum^^^
^^^Aku lanjut tugas lagi ya^^^
Senyum enggan hilang dari wajah Rama, bahkan saat layar ponselnya sudah menggelap kembali. Bukan pertama kali merasakan jatuh cinta, tapi kali ini ia jatuh sejatuhnya dan menggila. Pun saat dekat dengan Yuli rasanya tidak begini. Debaran di dad4 seolah akan meledak hanya karena ulah jari saat berkirim pesan. Entah apa jadinya kalau mereka bertemu lagi, mungkin ia bisa gagal jantung.
“Ya ampun neng cinta, bikin gemes pengen peluk.”
“Rama!!”
“Iya,” sahutnya. Mengembalikan ponsel ke dalam loker.
Tindakan operasi kali ini agak berbeda, suami pasien ikut mendampingi. Rama bersama dokter anestesi siap mengawali tindakan. Dahinya mengernyit mendapati pria yang mendampingi pasien itu mirip dengan … Gita.
“Kakaknya Neng cinta,” batin Rama. Berarti maksud melihat baby tuh ini.
“Ibu sebutkan nama dan tanggal lahir ya,” seru Rama.
“Maira Clarisa. Jakarta ….”
Rama mendekat dan membantu pasien untuk duduk. “Maaf ya, mau sunt1k anestesi. Ibu jangan bergerak dulu.”
Satu jam setengah tindakan pun selesai, Rama membawa pasien ke ruang observasi. Jam kerjanya sudah selesai, tinggal mengantar pasien ke kamar dan tugasnya hari ini berakhir.
“Dok, udah bisa operan?” tanya Rama.
“Udah. Hubungi kamar rawat inapnya gih.”
Ternyata yang datang malah Lisa mendorong bed pasien.
“Astaga, nggak ada yang lain apa,” keluh Rama.
“Pada sibuk. Aku udah feeling ada kamu, bantuin sampai kamar ya,” pinta Lisa dijawab Rama dengan anggukan.
“Sa, ini iparnya Gita,” bisik Rama saat pasien dipindah bed.
“Hah, serius? Kok, bisa kebetulan terus ya. Fix, kalian memang jodoh. Dia ada di luar dong?”
“Kalau itu gue nggak tahu, tapi kalau bener ada mau gua ajak melipir. Kangen gue.”
“Ish, lebay banget.”
Rama tergelak. “Ayo, udah nggak sabar pengen lihat bebeb.”
Lisa membuka pintu lebar-lebar. “Keluarga Ibu Maira.”
“Iya, sus.”
“Ibu Maira mau kita antar ke kamar ya,” ujar Lisa lagi.
“Jangan ditarik Sa, biar gue yang dorong,” ujar Rama mengingat adiknya itu sedang mengandung.
Gilang mengambil peran ikut menarik bed di mana istrinya berbaring. “Sabar ya, kita ke kamar.”
Lisa mengu-lum senyum, begitu pun dengan Rama saat melihat Gita ada di sana.
“Tuh lihat perjuangan melahirkan, makanya jangan ngelawan sama mama,” ujar Mada pada adik bungsunya.
“Ih, nggak jelas. Kak, aku udah lihat bayi kalian loh. Cantik kayak aku.”
“Moga nggak manja kayak kamu,” ejek Mada lagi.
“Kak Mada rese, ngapain coba ada si ini..”
Mada dan Gita mengekor di belakang Rama. Mada menggoda Gita membuat gadis itu mendahului langkahnya sejajar dengan Rama dan sempat saling curi pandang.
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Lisa Kanaya : So Sweet banget, nggak kuat aku 😍
Yuli Imut : Apaan sih bumil, gaje deh. Dokter Oka ‘kan emang rajanya bucin
Lisa Kanaya : Bukan, aku lagi bahas Rama
Beni Ganteng : No picture hoax
Lisa Kanaya : Serius bang, tadi ada pasien ternyata keluarganya Gita. Rama sama Gita jalan bersisian gitu, saling lirik. Sumpah nggak kuat pengen ketawa
S4pri : Mas Rama nggak memperkenalkan diri sama keluarganya Gita?
Beni Ganteng : Mana berani dia, hoax pokoknya hoax
Lisa Kanaya : Selamat berjuang Ram, kelihatan banget Gita jadi kesayangan keluarga itu
Rama P. : Bang Beni belum pernah kena timpuk sendal gue ya. Situasinya nggak tepat, iya kali perut orang lagi dibuka terus gue ngenalin diri pengen deket sama adiknya. Yang jelas sekarang gue lagi … jatuh cinta berjuta rasanya. Kagak usah pake picture, gue janjian sama neng cinta di café SM. Lo pada liat pake kaca mata kuda ya pastikan sendiri lope-lope antara gue sama Gita
Yuli Imut : Otw
S4pri : Meluncur
Beni Ganteng : Ayo, kita bubarin
b : Kampreeet, musnah aja kalean
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....