Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Serigala Berbulu Domba
Lena yang berdiri tidak jauh dari sana langsung memotong dengan nada tertahan, “Pak Krisna, saya tidak ingin memperpanjang masalah. Mungkin saya yang salah paham.”
Raisa menoleh cepat. Ia bisa merasakan arah pembicaraan ini mulai bergeser.
Krisna mengamati keduanya. Ia tidak langsung berbicara.
“Lena bilang kamu merasa lebih dekat dengan Ezio, jadi kamu yang lebih pantas di sini.”
Raisa menghela napas pelan. “Saya memang sudah mengenal Ezio sejak beberapa hari ini, Mas. Tapi saya tidak pernah bilang lebih pantas. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan.”
“Pak, saya tidak apa-apa kok,” sela Lena lirih, menunduk. “Saya cuma takut kalau saya tidak dibutuhkan lagi.” Nada itu kembali lembut, nyaris rapuh.
Raisa terdiam. Ia sadar, semakin ia membela diri, semakin ia terlihat menyerang.
Krisna menatap Lena. “Saya sudah bilang tadi. Kalian berdua saya beri kesempatan satu bulan. Saya akan nilai sendiri.”
Raisa terkejut mendengarnya. “Satu bulan?”
“Iya,” jawab Krisna singkat.
Lena menunduk lebih dalam, menyembunyikan kilatan puas di matanya.
Raisa mengangguk pelan. “Baik, Mas. Saya ikut keputusannya.”
Krisna menatapnya lebih lama. Ia mencoba membaca sesuatu di wajah perempuan itu—keberatan? kecewa? Tapi yang ia temukan hanya ketenangan.
“Kamu tidak keberatan?” tanyanya lagi.
“Saya di sini untuk membantu Ezio,” jawab Raisa lembut. “Kalau memang harus dinilai, saya tidak masalah kok.”
Jawaban itu justru membuat hati Krisna terasa sedikit terguncang. Tidak ada ambisi dalam suara itu. Tidak ada keinginan merebut posisi. Hanya ketulusan yang samar tapi nyata.
“Baik,” ucapnya akhirnya.
Ia berbalik, melangkah keluar kamar.
Lena mengikuti di belakang, tapi sebelum keluar, ia sempat melirik Raisa. Tatapannya kini jelas penuh tantangan.
Begitu mereka meninggalkan kamar, Raisa kembali duduk di kursi. Tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tetap tenang, tapi dadanya bergetar pelan.
Satu bulan.
Itu bukan waktu yang singkat. Dan ia tahu, bukan hanya soal mengasuh anak yang akan diuji—melainkan juga ketahanan dirinya.
Di ruang keluarga, Lena mempercepat langkahnya menyamai Krisna.
“Terima kasih sudah adil, Pak,” ucapnya pelan.
“Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya,” jawab Krisna tanpa menoleh.
“Tentu, Pak. Saya juga begitu.”
Krisna berhenti mendadak. Ia menoleh.
“Kalau memang kamu yakin berpengalaman, buktikan saja.”
Lena tersenyum. “Saya akan membuktikan, Pak.”
Pria itu kembali berjalan. Tapi dalam hatinya, sesuatu masih mengganjal. Ucapan ibunya tadi siang kembali terngiang—tentang kedekatan, tentang ketenangan Ezio saat bersama Raisa.
Ia bukan pria bodoh. Ia tahu ketika seseorang bersandiwara, meski belum punya bukti.
Sementara itu, Lena sudah menyusun rencana.
Jika ia tidak bisa menjatuhkan Raisa lewat kata-kata, maka ia akan mencari celah lewat keadaan.
Di kamar tamu, Ezio masih tertidur. Raisa berdiri dan menarik selimut tipis hingga menutup kaki mungil bayi itu.
Ia tidak tahu badai apa yang sedang menunggu. Tapi satu hal yang ia yakini—ia tidak akan mundur hanya karena tekanan.
Di lorong, Lena berhenti sejenak sebelum masuk ke kamar kecil yang disediakan untuknya. Ia mengeluarkan ponsel dari tas.
“Sebulan ya,” gumamnya lirih.
Matanya menyipit.
“Baiklah, Raisa. Kita lihat siapa yang bertahan.”
Dan di ruang kerja kecil di sudut rumah, Krisna berdiri di depan jendela. Tangannya terlipat di dada, pandangannya jauh.
“Apakah aku sudah mengambil keputusan yang tepat?” batinnya bertanya.
Angin sore berhembus, menggerakkan tirai.
Sementara di kamar tamu, Raisa duduk dalam diam, menatap Ezio yang terlelap, tanpa tahu bahwa satu bulan ke depan bukan sekadar soal pengasuhan—melainkan tentang kepercayaan, harga diri, dan hati yang terobsesi.
***
Raisa terkekeh pelan ketika mengingat kembali keputusan Krisna barusan.
Sebulan.
Pria itu akan menilai mereka berdua selama satu bulan penuh.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti kompetisi yang menegangkan. Tapi bagi Raisa, hal itu tidak terlalu membebani. Ia datang bukan untuk merebut posisi siapa pun. Ia bekerja untuk mengurus Ezio—hanya itu. Dan soal penilaian? Ia tak pernah takut dinilai selama ia bekerja dengan hati.
Ia memang tipe perempuan yang ringan tangan. Tidak pernah pilih-pilih pekerjaan. Menyapu, mencuci, memasak, menenangkan anak, bahkan membantu bebenah rumah—semua bisa ia lakukan tanpa banyak mengeluh. Sejak kecil ia sudah terbiasa mandiri. Jadi, ujian satu bulan itu tidak membuatnya gentar.
Yang membuatnya geli justru fitnahan Lena tadi.
Meminta mundur?
Mengaku lebih pantas?
Raisa kembali terkekeh pelan sambil duduk di kursi dekat ranjang. Ia menggeleng kecil. Sungguh, imajinasi Lena cukup kreatif.
“Lucu juga,” gumamnya lirih.
Namun, di balik senyum tipisnya, ada kewaspadaan yang perlahan tumbuh. Ia memang tidak peduli dengan drama murahan. Tapi ia juga bukan tipe perempuan yang rela diinjak-injak begitu saja.
Ia bisa diam, tapi bukan berarti bodoh.
Pintu kamar tamu terbuka tanpa diketuk.
Lena masuk dengan langkah santai, lalu langsung duduk di kursi yang tadi ditempati Raisa. Ia menyilangkan kaki dengan anggun, lalu mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.
Sementara itu, Ezio masih tertidur pulas di atas ranjang. Napasnya teratur, pipinya yang kemerahan karena demam terlihat lebih tenang dibanding tadi.
Krisna sudah kembali ke ruang kerjanya beberapa menit lalu. Suasana di kamar tamu kini hanya menyisakan dua perempuan itu—dan bayi yang sedang terlelap.
Lena melirik Raisa sekilas sebelum berbicara.
“Sebaiknya kamu ke dapur menyiapkan bubur Ezio,” katanya ringan, seolah sedang berbicara pada asisten pribadinya. “Sekalian kamu bawa baju kotor ke belakang. Kalau bisa dicuci sekalian. Ezio saya yang jagain.”
Nada suaranya tenang, tapi penuh perintah.
Raisa yang sedang berdiri di dekat ranjang hanya mengangkat satu alisnya. Ia menatap Lena beberapa detik tanpa menjawab.
Memang benar, Ezio sedang tertidur. Dan Krisna tidak ada di sekitar. Lena jelas memanfaatkan situasi.
Raisa tersenyum miring.
Tanpa membalas dengan nada tinggi, ia menjawab pelan, “Kalau begitu, saya titip Ezio. Jangan sampai menangis lagi, dia sedang demam. Dan seharusnya tahu apa yang harus dilakukan.”
Kalimat itu terdengar halus, tapi sarat makna.
Lena langsung menurunkan ponselnya. Matanya menyipit.
“Eh, kamu tuh masih kecil ya,” katanya dengan nada sedikit meninggi. “Nggak perlu ngasih tahu apa yang harus saya lakukan. Sekarang kamu kerjakan apa yang saya perintahkan!”
Perintah.
Bukan permintaan.
Raisa kembali terkekeh pelan. Kali ini lebih jelas.
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Lena.
“Saya pikir Mbak Lena perempuan yang lemah lembut sesuai dengan parasnya yang ayu,” ucapnya santai. “Ternyata serigala berbulu domba.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada setengah berbisik, “Ih, ngeri kali.”
Mata Lena membelalak. Wajahnya memerah seketika.
“Kamu—”
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, terdengar suara rengekan kecil dari atas ranjang.
“Eeh ... eeh ....”
Ezio bergerak gelisah. Kening mungilnya berkerut. Tangannya yang kecil mengibas selimut tipis yang menutup tubuhnya.
Raisa langsung berbalik tanpa pikir panjang.
Ia mendekati ranjang, menunduk, dan menepuk lembut punggung bayi itu.
“Sstt ... sstt ... bobo lagi ya, Dek,” bisiknya lembut. “Kakak tinggal dulu ya, mau masak makanan buat dede dulu.”
Tangannya mengusap pelan dada Ezio, ritmis dan penuh ketenangan.
Lena hanya berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan dengan rahang mengeras.
Ezio masih merengek pelan, matanya belum terbuka sepenuhnya. Raisa menggeser bantal sedikit, memastikan posisi kepala bayi itu nyaman. Jemarinya menyentuh dahi Ezio, merasakan suhu tubuhnya.
Masih hangat.
Raisa menunduk sedikit lebih dekat, suaranya merendah penuh kasih.
“Dede kuat ya ... nanti habis bangun makan bubur, terus minum obat, biar cepat sembuh.”
Rengekan itu perlahan mereda. Nafas Ezio kembali teratur.
Lena menggertakkan giginya pelan.
Ia tahu betul, momen seperti ini yang membuat Krisna ragu. Kedekatan alami itu. Ketulusan yang tak dibuat-buat.
Namun ia tidak boleh kalah.
“Sudah tidur lagi?” tanyanya, berusaha terdengar netral.
Raisa tidak menoleh. “Hampir.”
Beberapa detik berlalu dalam hening yang tegang. Raisa berdiri tegak kembali, lalu menoleh ke arah Lena.
“Saya ke dapur,” katanya singkat.
Lena menyilangkan tangan di dada. “Cepat. Jangan lama-lama.”
Raisa menatapnya sebentar. Tatapan itu tidak tajam, tidak juga marah. Hanya datar—tapi cukup untuk membuat Lena merasa tidak nyaman.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raisa mengambil keranjang kecil berisi pakaian kotor Ezio yang terletak di sudut kamar. Ia mengangkatnya dengan satu tangan, lalu melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali ke arah ranjang.
“Jangan sampai dia menangis lama,” ucapnya pelan namun tegas. “Demamnya belum turun sepenuhnya.”
Lena mendengus kecil. “Kamu pikir saya tidak tahu?”
Raisa hanya tersenyum tipis, lalu melangkah keluar kamar.
Begitu pintu tertutup, Lena berdiri diam beberapa detik.
Tatapannya beralih pada Ezio yang tertidur.
Ia mendekat perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur hendak menyentuh pipi bayi itu, namun terhenti di udara.
Dalam hatinya, ada campuran rasa kesal dan tidak nyaman.
Raisa memang tidak terlihat agresif. Tapi sikapnya yang santai, yang seolah tidak terpengaruh provokasi, justru membuat Lena semakin tersulut.
Ia tidak suka merasa diabaikan.
Sementara itu, di lorong menuju dapur, Raisa berjalan dengan langkah tenang. Keranjang pakaian berada di tangan kirinya. Tangannya yang lain mengusap pelan dahinya sendiri.
Ia tersenyum kecil.
“Serigala berbulu domba,” gumamnya pelan, mengingat kalimatnya sendiri tadi.
Ia tidak menyesal mengatakannya.
Namun dalam hatinya, ia sadar—pertarungan ini baru saja dimulai.
Di dalam kamar, Ezio kembali mengeluarkan suara kecil.
Lena menunduk cepat.
“Sudah ... sudah,” katanya agak tergesa, mencoba menepuk-nepuk pelan seperti yang dilakukan Raisa tadi.
Namun tepukan itu terasa kaku.
Ezio kembali merengek sedikit lebih keras.
Dan suasana kamar tamu mendadak terasa lebih tegang, meski suara yang terdengar hanya bisikan dan napas kecil seorang bayi yang belum sepenuhnya terlelap.
Bersambung ... ✍️
Takut aja Lena kerjasama dg Wirda untuk menyerang Raisa. Walaupun mereka punya misi yang sama untuk mendapatkan cinta Krisna. Bakal rame ini konfliknya,,, Ezio bantuin kak Raisa ya. TOS dulu kita Dek Ezio.🫸🫷🍻
dan ga merasa paling hebat tetapi survey membuktikan bisa jaga Anak ,,,bisa bikin kopi enak dan nasgor nya enak cocok di lidah penikmat nya,,, kenapa orang pada iri
sama Raisa karena ga muluk,,,Mas sabar ngadepi calon ular betina belum tentu sayang sama putramu seperti itu,,,jadi tukang ngepel,,,