Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kinan berdiri mematung di tengah kerumunan pasar yang mulai berbisik-bisik.
Tatapan orang-orang di sekitarnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya.
Kejadian tadi—pelukan kasar mantan pelanggannya dan amarah Adnan—seolah menariknya kembali ke kubangan lumpur yang ingin ia lupakan.
"Lepaskan aku, Mas..." bisik Kinan serak, suaranya nyaris hilang ditelan kebisingan pasar.
Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Adnan.
"Tolong, ikhlaskan aku pergi. Lihat sendiri, kan? Sampah akan tetap menjadi sampah. Aku hanya akan mengotori nama baikmu, merusak martabatmu sebagai Ustadz."
Air mata Kinan luruh lebih deras. Ia merasa dunia malam akan selalu membuntutinya, tak peduli sejauh mana ia berlari.
Ia tidak sanggup melihat tangan Adnan yang biasanya memegang kitab, kini harus mengepal dan memukul orang demi wanita hina seperti dirinya.
"Aku tidak pantas untukmu, Mas. Pulanglah sendiri. Biarkan aku hilang saja," isak Kinan lagi, tubuhnya lemas hingga ia nyaris bersimpuh di aspal.
Namun, Adnan tidak melepaskannya. Alih-alih menjauh karena malu, Adnan justru mempererat genggamannya.
Ia menarik Kinan ke dalam pelukannya dan menghalangi pandangan orang-orang yang menonton mereka.
"Kinan, tatap Mas," ucap Adnan dengan nada rendah namun sangat tegas.
"Mas tidak pernah menyesali apa pun yang terjadi hari ini. Kamu bukan sampah. Kamu adalah amanah yang Allah titipkan padaku."
Adnan menyeka air mata di pipi Kinan dengan ibu jarinya, mengabaikan bisikan orang-orang di sekitar mereka yang mulai mengenali Adnan sebagai putra Kyai Mansyur.
"Kita bicara di rumah saja ya, Sayang. Di sini bukan tempat yang tepat," bisik Adnan lembut, namun penuh penekanan.
Kata 'Sayang' itu meluncur begitu tulus, seolah ingin menegaskan status Kinan di hidupnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Kinan hanya terdiam, memeluk pinggang Adnan dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di punggung suaminya.
Ia merasa takut, namun di saat yang sama, ia merasakan kehangatan yang luar biasa dari punggung kokoh yang baru saja bertarung demi kehormatannya.
Sesampainya di gerbang pesantren, hari sudah mulai gelap.
Adnan memarkirkan motornya dengan tenang, lalu menuntun Kinan masuk ke dalam kamar mereka, melewati tatapan penuh tanya dari para santri yang masih terjaga.
Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan tatapan menghakimi dari dunia luar.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu kuning temaram itu, suasana terasa begitu berat.
Kinan langsung duduk di sudut ranjang, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.
Bahunya berguncang hebat karena tangisan yang tertahan sejak di pasar tadi.
"Kenapa Mas tidak biarkan aku pergi saja?" suara Kinan pecah, serak karena air mata.
"Mas lihat tadi? Dia memperlakukanku seperti barang. Dan selamanya akan begitu, Mas. Ke mana pun aku pergi, bayang-bayang itu akan selalu ada. Mas adalah Ustadz yang terhormat, tidak seharusnya tangan Mas berdarah karena membela wanita seperti aku!"
Adnan tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan menuju meja, meletakkan bungkusan mukena dan baju koko baru mereka dengan sangat hati-hati.
Kemudian, ia berlutut di lantai, tepat di depan Kinan yang sedang menunduk.
Ia tidak duduk di atas ranjang, melainkan merendahkan dirinya agar bisa menatap mata istrinya.
"Kinan, angkat wajahmu. Lihat Mas," ucap Adnan, suaranya rendah namun penuh wibawa yang menenangkan.
Kinan perlahan membuka tangannya, menatap Adnan dengan mata yang merah dan bengkak.
"Tangan Mas tidak kotor karena melindungi istrinya. Justru tangan Mas akan berdosa jika membiarkanmu dihina saat kamu sudah berada dalam lindunganku," Adnan meraih kedua tangan Kinan, menggenggamnya erat.
"Dengarkan Mas baik-baik. Masa lalumu itu seperti baju yang sudah koyak dan kotor. Semalam, saat kita menikah dan kamu berniat pulang, kamu sudah melepas baju itu. Kamu sudah membuangnya."
"Tapi orang-orang masih melihatku memakainya, Mas!" potong Kinan histeris.
"Itu karena mereka buta, Kinan. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Tapi Allah melihat hatimu yang sekarang. Mas juga melihatmu yang sekarang," Adnan tersenyum tipis, jemarinya mengusap air mata yang kembali luruh di pipi Kinan.
"Masa lalumu sudah selesai. Lembarannya sudah tertutup dan disegel oleh rahmat Tuhan. Jika ada orang dari masa lalumu datang lagi, mereka bukan datang untuk menarikmu kembali, tapi mereka adalah ujian untuk melihat seberapa kuat kamu memegang tangan Mas."
Adnan mengambil bungkusan plastik hitam berisi baju koko seharga tiga puluh lima ribu yang dibelikan Kinan tadi. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kamu lihat baju ini? Bagi orang lain, ini mungkin baju murah. Tapi bagiku, ini adalah bukti bahwa kamu ingin menjadi orang baru. Kamu memberikan harta terakhirmu untuk menyenangkan suamimu. Apakah wanita 'kotor' punya hati selembut ini? Tidak, Kinan. Kamu adalah Kinan ku yang baru."
Kinan terdiam, napasnya mulai teratur. Kata-kata Adnan meresap ke dalam dadanya seperti air dingin yang memadamkan api.
"Mas benar-benar tidak malu memilikiku?" tanya Kinan ragu.
"Malu?" Adnan terkekeh pelan sambil menggeleng.
"Aku justru bangga. Aku bangga memiliki istri yang berani melawan dunianya demi mencari Tuhannya. Sekarang, hapus air matamu. Mas mau pakai baju koko pemberianmu ini, lalu kita belajar gerakan sholat pertama kita. Mau?"
Kinan perlahan menganggukkan kepalanya, sebuah senyum haru mulai merekah di tengah sisa tangisnya.
Adnan membimbing Kinan bangkit dari tempat tidur.
Langkah Kinan masih sedikit goyah, namun pegangan tangan Adnan di lengannya memberikan kekuatan yang lebih dari sekadar tumpuan fisik.
Mereka melangkah menuju kamar mandi di sudut ruangan.
"Kinan, sebelum kita memulai sujud pertama, bersihkanlah dirimu sebersih mungkin. Kamu harus mandi besar dan berwudhu agar hatimu juga merasa lapang," ucap Adnan lembut.
Di dalam kamar mandi yang sederhana namun resik itu, Adnan mulai mengajari Kinan cara mengambil air wudhu.
Ia memandu setiap gerakan dengan sabar—mulai dari membasuh telapak tangan, berkumur, hingga membasuh kaki.
Kinan mengikuti setiap instruksi dengan khidmat, merasakan dinginnya air meresap ke pori-porinya, seolah setiap tetesan itu melunturkan beban dosa yang selama ini menghimpitnya.
Setelah wudhu selesai, Adnan menyiapkan air hangat di dalam bak kayu.
Dengan penuh kasih sayang dan tanpa sedikit pun tatapan rendah, ia membantu istrinya membersihkan diri secara menyeluruh.
Adnan meraih gayung, lalu perlahan menyiramkan air ke bahu Kinan.
Ia mengusap rambut hitam istrinya yang panjang, membersihkannya dari sisa-sisa debu pasar dan kepedihan masa lalu.
Air mengalir membasahi seluruh tubuh Kinan, menciptakan suasana sunyi yang sakral.
Namun, saat air membasahi punggung dan pundak itu, gerakan tangan Adnan mendadak melambat. Matanya terpaku pada sosok di depannya.
Adnan menatap tubuh istrinya yang sangat kurus.
Tulang selangkanya menonjol tajam, dan tulang rusuknya terlihat jelas di balik kulit yang pucat.
Ia bisa merasakan betapa rapuhnya raga wanita ini.
Tubuh itu menceritakan kisah yang tidak pernah terucap: kisah tentang kelaparan, tekanan batin, dan betapa kerasnya hidup di jalanan yang telah menggerogoti kesehatannya.
Hati Adnan berdenyut nyeri. Ia merasa bersalah karena tidak menemukan Kinan lebih awal.
Di balik kecantikan wajahnya, tubuh Kinan adalah saksi bisu betapa ia telah berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup.
"Kinan, mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang menyakitimu. Mas akan memastikan kamu kembali sehat, kembali kuat."
Kinan hanya bisa memejamkan mata, membiarkan suaminya merawatnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tubuhnya bukan lagi objek untuk dipamerkan atau dijual, melainkan sebuah amanah yang dijaga dengan penuh kehormatan oleh seorang lelaki yang benar-benar mencintainya karena Allah.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅