“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI SUKSES !
BAB 25
Tiga hari berlalu, Tama kembali ke aktifitasnya, kerjaan di kantornya sangat menumpuk dan itu membuat kepalanya terasa sakit.
Beruntung dia memiliki Selin yang cekatan. Maka pekerjaan Tama tidak terasa berat.
Ponsel Tama bergetar di atas meja kerjanya.
Selin, yang sedang tenggelam dalam laporan, sekadar melirik.
“Pesan penting, Tam?” tanyanya, nada suaranya tenang tapi penasaran.
Tama membuka pesan itu dan sudut bibirnya tersenyum tipis.
“Dari orang lama,” gumamnya. Ia menekan tombol play pada voice note.
Suara pria itu keluar, riang dan penuh tawa.
“Bro! Jangan bilang kau lupa aku wisuda. Swiss. Kau wajib datang. Kalau tidak, aku anggap kau bukan sahabatku lagi!”
Tama tertawa kecil, mengenang masa lalu.
“Ah, kau ini Gery,” ujarnya pelan, seolah meredam kegembiraannya sendiri.
Selin yang tadinya tenang, mendadak terhenti. Jantungnya berdebar lebih kencang.
Nama itu… begitu akrab,
begitu menohok hatinya.
Gerry.
Cinta pertamanya.
Setelah membicarakan rincian perjalanannya, Tama menutup panggilan. Ia menatap Selin, matanya bersinar penuh antisipasi.
“Jadi… kamu mau ikut?” tanyanya, sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
“Tidak tau.” jawab Selin tanpa ragu, meski hatinya sedikit bergetar.
“Aku akan pergi dengan Alisya,” tambahnya, matanya tetap menatap layar komputer, berusaha menjaga ketenangan.
Selin mengangguk pelan, berusaha menenangkan diri.
“Kalau begitu akusiapkan jadwal penerbangannya.”
Suaranya terdengar biasa saja, tapi ketika ia berbalik, tangan Selin gemetar tanpa sadar.
Rasanya seperti waktu berhenti sejenak. Ia belum pernah melihat Gerry lagi sejak 2 tahun lalu
dan bayangan kenangan lama tiba-tiba muncul dengan jelas.
Jantungnya berdebar, campuran antara rindu, cemas, dan penasaran.
“Sein?”
Langkah si cantik itu terhenti, dia membalikan badan menatap Tama yang tengah tersenyum.
“Ikutlah denganku,”
“Tapi Tam?”
Tama memotong ucapannya.
“Aku tau kamu merindukannya, tidak masalah, dia menghubungimu juga kan?”
Selin menganggukan kepalanya.
“Pesan 6 tiket, kita kan pergi bersama.”
Selin mengangguk rupanya Bosnya ini sudah bisa menebak isi hatinya.
-----
Sore itu, hujan rintik membasahi Jakarta. Tama melangkah masuk ke rumah dengan langkah ringan. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal menjadi pusat perhatian. Alisya, yang sedang asyik membaca buku di sofa, mendongak.
"sayang, aku punya sesuatu," ujar Tama sambil duduk di samping istrinya.
Ia mengeluarkan dua lembar tiket pesawat.
Alisya mengerutkan kening.
"Swiss? Mas, bukannya jadwal kerjamu lagi padat?"
Tama tersenyum lebar.
"Ini bukan soal kerja, sayang. Ini soal Gery. Dan aku sudah mengatur semuanya. Bayu, Argo, Gani, bahkan Sein... mereka semua ikut. Aku ingin orang-orang terpenting dalam hidupku ada di sana saat Gery mencapai impiannya."
Alisya terdiam, lalu tersenyum haru. Suaminya itu sudah menceritakan soal Gery, bahkan kedekatan sahabatnya itu dengan asistennya. Alisya kini tau Hanya Sosok Gery yang bisa mencairkan sikap dingin Selin, tentu saja Alisya sangat penasaran dengan sosok yang bernama Gery itu.
"Kamu benar-benar sahabat yang luar biasa, Mas. Tapi... Selin? Kamu yakin dia mau ikut setelah dua tahun mereka 'puasa' komunikasi?"
"Itu bagian dari rencanaku," bisik Tama penuh arti.
“Jahil ya kamu Mas.”
Tama tersenyum isi kepalanya sudah bisa merancang apa yang akan dia lakukan setiba disana.
-----
Bandara Zurich menyambut mereka dengan suhu 5°C.
Rombongan kecil itu tampak kontras, Bayu dan Gani sibuk bertengkar soal siapa yang harus membawa koper paling berat, sementara Argo hanya menggelengkan kepala sambil terus memantau GPS.
Selin berjalan paling belakang. Mantel wol hitam panjangnya membungkus tubuhnya yang ramping.
Wajahnya yang cantik tampak kaku, sedingin udara Swiss.
Tama menghampirinya saat mereka menunggu jemputan.
"Masih marah karena aku memaksamu ikut?" tanya Tama lembut.
Selin membuang muka ke arah pegunungan Alpen yang terlihat di kejauhan. Memang sebelum berangkat Tama dan Selin semapat bedebat, si cantik itu awalnya enggan ikut sampai akhirnya setuju.
"Aku cuma nggak suka kejutan, Tam. Lagipula, dia mungkin sudah lupa padaku."
"Gery bukan tipe pelupa, Sein. Kamu tahu itu lebih baik dari siapa pun," balas Tama telak.
“Ya kan hanya perkiraanku saja..”
“Jangan banyak mengira, kalau kamu tidak bergerak cepat, mau kalau dia di ambil bule disana hah?”
Selin memanyunkan bibir kesal dengan Tama, Alisya yang melihat itu tertawa.
“Sel, jangan tegang. Aku yakin kok Gery pasti mengharapkan kamu datang.”
“Berdoa saja ya Sya, aku saja tidak yakin.”
Entahlah.. Keadaan ini mampu membuat Selin keluar dari zona nyamannya, selin yang ketus, kaku dan dingin mendadak mencair, semua karena dia tau akan segera menjumpai kekasih hatinya.
----
Hari wisuda tiba. Gedung universitas tua di Zurich itu tampak megah dengan arsitektur gotik.
Ribuan orang berkumpul, namun mata Tama dan rombongannya hanya tertuju pada satu barisan.
Saat nama "Gery Aldebaran" dipanggil dengan predikat Summa Cum Laude, Bayu dan Gani bersorak paling keras hingga ditegur petugas keamanan.
Lalu Selin?
Ia hanya mematung.
Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia yang sedang berdiri di atas panggung itu.
“Kamu tidak berubah Ger, masih terlihat tampan.” Tampa sadar Selin berucap, untung saja hanya dia yang bisa mendengarnya.
Setelah acara selesai, di bawah pohon-pohon mapel yang mulai menguning, mereka menunggu.
Gery muncul dengan jubah wisudanya, memegang tabung ijazah. Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan sahabatnya.
"Kalian... beneran gila sampai ke sini?"
Gery tertawa, matanya berkaca-kaca saat memeluk Tama dan yang lainnya.
“kau tau bukan, seorang Tama tidak akan mengingkari janjinya.” Gery tersenyum menepuk pundak sahabatnya.
“Thanks bro!”
Pandangan Gery beralih menatap Wanita yang sedang bersama Tama, Alisya tersenyum.
“Hai Kak Gery, selamat atas kelulusanmu ya.”
“Haii Kakak ipar. Astaga cantik sekali.”
Gery tersenyum menggoda Tama, lelaki itu hanya diam mengamati wajah Istrinya yang menawan.
Semua tertawa, Gani dan Argo mundur sejenak memberikan ruang untuk seseorang menekat.
Seketika Tawa merekamereda saat matanya tertuju pada sosok di belakang Tama. Selin. Gadis itu berdiri kaku, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh.
“Sel, kamu baik-baik saja?” Selin tersenyum melalui ekor matanya gadis itu diam-diam memperhatikan Gery.
Tama memberikan isyarat pada yang lain untuk memberi ruang.
Ia menepuk bahu Gery dan berbisik,
"Selesaikan tugasmu, Bro."
Gery melangkah mendekat. Jarak satu meter terasa seperti satu kilometer bagi Selin.
"Dua tahun, Lin. Kamu masih sama. Masih suka pakai mantel hitam kalau lagi gugup."
"Jangan sok tahu. Aku cuma kedinginan."Jawabnya ketus.
si tampan itu tersenyum.
"Dulu aku janji, kan? Selesaikan S2 dulu, baru aku jemput kamu. Hari ini aku sudah selesaikan bagianku. Kamu... masih simpan bagianmu?"
mendengar itu pandangan Selin beralih menatap Gery.
"Aku hampir membuangnya, Gery. Kamu nggak tahu rasanya menunggu tanpa kepastian."Kesal sudah pasti tapi itu malah terlihat menggemaskan di mata Gery.
Gery mengangguk.
"Aku tahu. Makanya aku minta Tama membawamu ke sini. Aku nggak mau bicara lewat telepon lagi."
Gery mengulurkan tangan. Selin ragu sejenak, lalu perlahan menyambutnya. Genggaman tangan Gery yang hangat seolah mencairkan es yang selama ini membungku hati Selin.
Malamnya, mereka merayakan keberhasilan Gery di sebuah restoran dengan balkon yang menghadap langsung ke Danau Zurich. Musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan.
Gery berdiri, membungkuk sedikit, dan mengajak Selin berdansa. Di bawah sorot lampu temaram, mereka bergerak mengikuti irama.
"Lin," bisik Gery di telinga Selin saat mereka berputar pelan.
"Aku nggak mau janji lagi. Aku mau bukti.”
“Apa?” tanya Selin yang tak paham.
“Mulai malam ini, jangan panggil aku sahabat Tama lagi. Panggil aku... milikmu."
Selin tersenyum, sebuah senyum yang sangat langka, hanya Gery yang bisa menerbitkannya.
"Buktikan kalau kamu nggak akan bikin aku nunggu dua tahun lagi untuk hal selanjutnya."
Gary tertawa, menarik Selin ke dekapannya dan kemudian berbisik.
"Aku nggak akan bikin kamu nunggu. Karena mulai besok, kamu ikut aku kembali ke Jakarta sebagai pasanganku," jawab Gery mantap.
Di meja seberang, Alisya menyandarkan kepalanya di bahu Tama.
Bayu, Argo, dan Gani melakukan toast dengan jus apel mereka.
"Misi sukses," gumam Tama puas.
______
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya