Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Perjamuan Pengkhianat
Kabut asap buatan Jatmika masih menyelimuti rawa Segoro Wedhi, memberikan perlindungan visual yang sempurna, namun di dalam markas, suasana terasa mencekam. Peringatan dari Yusuf tentang adanya surat dari pendopo kabupaten terus berdengung di telinga Jatmika.
Ia duduk di atas peti kayu, berpura-pura sedang memeriksa rangkaian Merkuri Fulminat untuk ranjau berikutnya. Namun, matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pengikutnya. Suro sibuk mengumpulkan tim pemukul, Darman sedang membagi jatah nasi jagung, dan para nelayan lainnya tampak bersemangat setelah melihat balon udara Belanda terombang-ambing seperti layangan putus.
"Jatmika," suara lembut Pak Sahid memecah lamunannya. "Kamu tidak ikut makan? Darman membawakan ikan bakar dari sungai."
Jatmika menatap ayahnya. Pria tua itu tampak tulus. Tapi di masa perang, ketulusan bisa menjadi topeng yang paling sempurna. "Sebentar lagi, Pak. Aku harus memastikan pemicu ini stabil."
Jatmika teringat prinsip Audit Logistik. Jika ada pengkhianat, dia pasti butuh cara untuk berkomunikasi keluar. Di rawa ini, hanya ada tiga jalur keluar yang dijaga ketat. Kecuali... jalur air yang paling dalam.
"Suro! Kemari sebentar," panggil Jatmika pelan.
Suro mendekat dengan wajah serius. "Ada apa, Raden?"
"Aku butuh kamu memeriksa semua sampan di dermaga belakang. Cari sampan yang dasarnya masih basah, atau yang dayungnya ditaruh tidak pada tempatnya. Dan periksa kantong setiap orang yang pergi mengambil air satu jam terakhir."
Suro mengangguk mengerti. Tanpa banyak bicara, ia bergerak seperti hantu di antara pepohonan bakau.
Tak sampai lima belas menit, Suro kembali dengan menyeret seorang pria muda bernama Karto. Karto adalah salah satu pemuda desa yang rumahnya ikut terbakar. Wajahnya pucat pasi, dan di tangannya terdapat sebuah bumbung bambu kecil yang berisi secarik kertas.
"Aku menemukannya sedang mencoba menghanyutkan ini di arus sungai yang mengarah ke pos penjagaan Belanda," geram Suro sambil melemparkan bumbung itu ke depan Jatmika.
Jatmika membuka kertas itu. Isinya singkat namun mematikan: "Balon gagal karena asap. Besok mereka akan menyerang gudang suplai di perbatasan utara. Cegat mereka di Jembatan Merah."
Seluruh markas mendadak hening. Darman dan yang lainnya mengepung Karto dengan wajah penuh amarah.
"Kenapa, Karto?" tanya Jatmika dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan. "Kami memberimu makan, memberimu perlindungan. Kenapa kamu menjual nyawa teman-temanmu sendiri?"
Karto jatuh bersimpuh, air matanya tumpah. "Istriku... dia ditangkap Mandor Kromo. Mereka bilang kalau aku tidak memberi info, dia akan dikirim ke rumah bordil di Batavia! Aku tidak punya pilihan, Jatmika!"
Amarah warga meledak. "Bunuh dia! Pengkhianat!" teriak salah satu nelayan sambil mencabut goloknya.
"Diam!" bentak Jatmika. Suaranya yang menggelegar membuat semua orang terkesiap. "Kematian Karto tidak akan mengembalikan informasi yang sudah dia bocorkan atau menyelamatkan istrinya."
Jatmika berdiri, menatap kertas itu dengan dingin. Otaknya yang terbiasa dengan simulasi kegagalan sistem mulai bekerja.
"Belanda ingin kita di Jembatan Merah? Baik. Kita akan memberi mereka Jembatan Merah," ucap Jatmika dengan kilatan mata yang berbahaya.
"Tapi itu jebakan, Jatmika! Mereka akan membantai kita di sana!" seru Darman.
"Hanya jika kita benar-benar ada di sana," balas Jatmika. "Suro, kita ubah rencana. Kita tidak akan menyerang gudang suplai. Kita akan menggunakan bocoran informasi ini untuk melakukan Serangan Umpan."
Jatmika mengambil arang dan menggambar skema baru. "Kita akan membuat manekin-manekin dari jerami, memakaikan mereka caping dan baju lurik, lalu menempatkan mereka di sekitar Jembatan Merah. Kita akan pasang obor-obor yang dijaga oleh mekanisme tali agar terlihat seperti ada pergerakan orang."
"Lalu kita?" tanya Suro penasaran.
"Saat seluruh pasukan elit Marsose dan Kapten Van De Berg terkonsentrasi di Jembatan Merah untuk menjebak 'bayangan' kita, kita akan menyerang sasaran yang paling tidak mereka duga: Gudang Bubuk Mesiu di Benteng Kendal."
Orang-orang di markas terkesiap. Menyerang benteng? Itu gila.
"Mereka pikir kita hanya gerombolan nelayan yang pintar sabotase kereta," Jatmika melanjutkan. "Mereka tidak menyangka kita punya keberanian untuk mengetuk pintu rumah mereka. Tanpa bubuk mesiu di benteng itu, meriam-meriam kapal mereka di pantai hanya akan jadi pajangan besi tua."
Jatmika mendekati Karto yang masih gemetar. "Karto, kamu akan tetap mengirim surat ini. Tapi tambahkan satu baris: 'Mereka akan menyerang tepat tengah malam saat bulan tertutup awan'. Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk menebus kesalahan. Jika istri dan anakmu ingin selamat, lakukan ini dengan sempurna."
Malam itu, di bawah instruksi Jatmika, Serikat Bayangan mulai memproduksi Bom Molotov primitif menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan getah karet agar apinya menempel dan sulit dipadamkan. Jatmika juga menyiapkan beberapa tabung besi berisi paku-paku berkarat yang akan diledakkan menggunakan pemicu sumbu mesiu murni miliknya.
Kapten Van De Berg di kantornya menerima surat dari Karto beberapa jam kemudian. Ia tersenyum tipis, menyesap kopinya dengan tenang. "Akhirnya, tikus-tikus itu keluar dari lubangnya. Siapkan seluruh pasukan di Jembatan Merah. Jangan sisakan satu pun hidup-hidup."
Van De Berg tidak menyadari bahwa ia baru saja memakan umpan dari seorang pria yang hidup di masa di mana perang adalah soal data dan pengalihan, bukan sekadar adu otot.
Fajar hampir menyingsing ketika Jatmika berdiri di pinggir rawa, menatap ke arah Benteng Kendal yang terlihat kokoh di kejauhan.
"Malam ini," bisik Jatmika, "sejarah akan mencatat bahwa raksasa bisa tumbang oleh kerikil kecil yang tahu di mana harus menghantam."